
Kei POV begin. Malam ini, saat tengah asyik menikmati minumanku, aku melihat Putri yang baru saja memasuki club. Sekali lagi, aku terpana melihatnya. Semenjak menolak lamaranku, dia tidak pernah mau menemuiku.
Semakin hari, dia semakin cantik saja dan kenapa setelah melahirkan dia malah semakin tampak menggoda saja! Tunggu! Kenapa dia memakai baju seseksi itu? Apa dia ingin menggoda seseorang?
Sebelum ia melihatku, aku sengaja menyuruh Jennie untuk duduk di pangkuanku dan ketika Putri melihat keberadaanku di sini, dia menatapku. Bingo! I got you!
Aku pun tersenyum sinis padanya sambil memeluk Jennie, sengaja membuatnya cemburu, tapi setelah itu, kulihat Putri berjalan ke arah dance floor, sambil terus menatapku. Aku pikir, ini kesempatanku membuatnya cemburu.
Kucium pipi Jennie lalu kulemparkan lagi senyum sinisku padanya. Putri terlihat kesal. Aku tahu, dia masih mencintaiku. Dia hanya pura-pura membenciku. Jujurlah, Put dan memohonlah padaku untuk kembali!
Aku menatapnya lagi. Kali ini, Putri menyibakan rambutnya, memperlihatkan leher jenjangnya itu. Ah, shit! Kalau boleh jujur, aku rindu mengecap leher indahnya yang harum itu.
Tak sampai di situ saja, Putri mulai menggoyangkan tubuhnya eksotis dan aku benci saat pria-pria di sini memandangnya seperti predator yang ingin memangsanya. Gila! Kau gila Putri! Andai saja kau istriku, aku tidak akan mengizinkanmu pergi clubbing!
Aku semakin marah saat ada pria yang menghampirinya dan mencium tangannya. Sialan! Kutarik Jennie untuk menemaniku di lantai dansa. Aku ingin kau melihatnya, Put! Aku juga punya wanita lain.
Apa-apaan itu! Putri menarik tubuh pria itu? Aku tidak mau kalah. Aku memeluk Jennie dan aku tersenyum saat melihat wajah Putri yang terlihat sedih, api lagi-lagi aku emosi, saat kulihat pria itu memeluknya bahkan mencium keningnya. Hatiku pun terbakar api cemburu.
Tanpa pikir panjang, kucium bibir Jennie di hadapannya, tapi setelah aku selesai mencium Jenni, aku sudah tidak menemukan Putri di sana. Aku kehilanganku wanita yang kucintai itu, lagi.
Aku pun mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, mencarinya, tapi nihil. Aku tidak menemukannya dan entah mengapa, hatiku terasa hampa lagi.
Beberapa saat kemudian, akhirnya atensiku tertuju pada punggungnya yang kutemukan di ambang pintu. Aku pun mengejarnya, tapi terlambat, Putri menghilang bersama laju mobilnya. Kei POV end.
***
Back to Sasa & Jimmy. "Coba kau perhatikan apa yang dilakukan Kak Kei setelah ini pada wanita itu!" suruh Sasa pada Jimmy. Jimmy pun menuruti perintah Sasa. Ia memperhatikan Kei yang baru saja kembali setelah berlari mengejar Putri.
Jimmy mengerutkan dahinya saat melihat Kei memberikan sejumlah uang yang banyak pada Jennie. "Dan Kak Kei pasti berkata seperti ini... Nona, ini bayaranmu... dan ingat, setelah ini jangan mendekatiku lagi, apalagi menyentuhku... kalau tidak, aku akan melenyapkanmu!" ujar Sasa tertawa setelahnya.
__ADS_1
Jimmy menolehkan wajahnya pada Sasa, "Jadi, wanita itu hanya..." ucap Jimmy terhenti. Sasa mengangguk, "Dan satu lagi penyakit rahasia Kei yang tidak diketahui Putri!" bisik Sasa.
"Hah! Dia punya penyakit lain?" tanya Jimmy terkejut. "Sebenarnya aku tidak tahu itu penyakit atau kelainan, tapi yang jelas, Kei itu alergi pada wanita, mau wanita itu bugil di depannya sekali pun, ia tidak akan peduli. Hanya Putri yang bisa membangunkannya!" kata Sasa tertawa di akhir kalimat.
"Bukankah dia bodoh? Sudah tahu tubuhnya hanya bereaksi pada Putri, tapi tetap saja pura-pura dengan wanita lain, hanya untuk membuat Putri cemburu agar kembali mengejarnya. Padahal sudah berapa kali aku katakan, wanita itu maunya dikejar bukan malah mengejar. Pasti sekarang, sepupuku itu akan pulang ke rumah dan menyucikan tubuhnya berjam-jam di kamar mandi," ucap Sasa yakin.
***
Keesokan harinya, Putri baru saja selesai menidurkan si kembar ketika ponselnya berdering. "Halo!" sapa Putri. "Ini aku, Jimmy. Apa hari ini kau sibuk?" sapa Jimmy. "Tidak. Kenapa?" jawab Putri.
"Bisakah besok kau datang ke kantor ayahku?" ajak Jimmy. "Untuk apa?" tanya Putri singkat. "Ada surat wasiat almarhum suamimu yang harus aku bacakan," jawab Jimmy. "Apa! Surat wasiat?" kata Putri terkejut. "Iya. Apa kau bisa?" tanya Jimmy lagi. "Baiklah. Aku akan ke sana. Terima kasih," jawab Putri.
***
Sementara itu di tempat lain, Kei yang sedang menyelesaikan sesi push up-nya dan tidak menghiraukan ponselnya yang terus berdering dari tadi.
Ada banyak panggilan tidak terjawab dari nomor tidak dikenal dan satu buah pesan, "Besok kami akan menyampaikan surat wasiat almarhum Tuan Vincent Adhitama di kantor hukum*** dengan alamat***. Tuan Kei Alexis Dexter diharapkan untuk hadir. Terima kasih. Tim hukum*** ." Kei mengerutkan dahinya membaca pesan itu, "Surat wasiat?" gumamnya.
***
Sudah hampir satu jam, Putri menunggu di ruangan Jimmy, tapi katanya ada satu orang lagi yang harus mereka tunggu. Saat pintu ruangan itu terbuka, Putri pun menoleh untuk melihat siapa yang mereka tunggu, "Kau!" ucapnya terkejut.
Putri lantas menolehkan wajahnya menatap Jimmy yang duduk di depannya, tapi Jimmy hanya membalasnya dengan tersenyum manis. "Jangan bilang...!" ucap Putri terpotong.
"Iya. Aku juga diminta untuk datang ke sini," sahut Kei santai dan langsung duduk di samping Putri. "Apa!" kata Putri masih tidak percaya. "Hei, tenanglah!" sela Jimmy.
"Jim, seharusnya kau katakan dulu padaku, jika orang ini juga datang. Lagipula, kenapa aku harus mendengarkan surat wasiat suamiku bersama orang ini?" tanya Putri kesal.
"Maaf, tapi surat wasiatnya harus dibacakan kepada kalian berdua bersamaan," jelas Jimmy seraya tersenyum kikuk. "Sepertinya, hari ini akan sulit!" pikir Jimmy.
__ADS_1
"Tunggu dulu! Bukankah kau pria yang kemarin malam bersama Putri di club?" tanya Kei tiba-tiba. Kei baru sadar setelah diam memperhatikan wajah Jimmy, "Jadi, kau pengacaranya?" tanyanya.
"Iya, aku pengacaranya. Kenalkan, aku Jimmy Subrata," kata Jimmy memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya, tapi Kei tidak membalasnya. Kei hanya diam menatap tajam Jimmy, tidak sudi rasanya ia harus menerima uluran tangan itu.
Rasanya, semakin cemburu jika Kei memikirkan kalau Putri dan Jimmy akan sering berhubungan, walaupun hanya sebatas klien dan pengacaranya, apalagi kalau lama-lama mereka saling menyukai, "Kalau saja Putri istriku, akan kuganti pengacaranya! Harus pengacara wanita!" ucapnya dalam hati.
Jimmy terpaksa menarik kembali tangannya, tapi tetap tersenyum, mencoba seprofesional mungkin, padahal "Kurang ajar! Kekanak-kanakan sekali dia," umpatnya dalam hati.
"Tapi tetap saja ini salah! Tidak seharusnya seperti ini," protes Putri yang masih tidak terima harus mendengarkan surat wasiat Vincent bersama Kei.
"Sudahlah. Kita dengarkan saja dulu apa yang mau disampaikan. Dia 'kan pengacaramu, kenapa kau marah-marah seperti ini?" kata Kei yang juga mulai emosi gara-gara cemburu butanya.
"Aku marah karena harus bertemu denganmu! Bukankah sudah kukatakan jangan temui aku lagi! Kenapa juga aku harus mendengarkan surat wasiat suamiku bersamamu!" ucap Putri sinis, meluapkan amarahnya di depan Kei.
Kei melipatkan tangannya di dadanya dan menarik nafas dalam, "Iya, tapi aku juga tidak tahu kenapa aku dipanggil ke sini. Jadi, kau diamlah! Segera dengarkan dia dan akhiri ini secepatnya," ucapnya dengan santai, "Pengacara, silahkan lanjutkan," katanya.
"Tidak!" kata Putri seraya menatap tajam Kei. Kei yang kesal juga membalas tatapan tajam Putri. "Ehm, Permisi! Maaf, Tuan Dexter dan Nyonya Adhitama..." ucap Jimmy menyela. Putri dan Kei pun menoleh pada Jimmy bersamaan. "Bisakah saya memulainya?" tanya Jimmy seraya tersenyum.
"Silahkan. Maaf, jika kami ribut karena dia memang selalu menghindar seperti ini jika bertemu denganku," jawab Kei santai seraya menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.
"Apa kau bilang! Menghindar?" tanya Putri yang kembali mengeluarkan tanduknya, "bukannya dari awal kau yang menghindariku?" katanya tidak terima.
"Apa katamu! Untuk apa aku menghindarimu? Kapan? Di mana? Hah!" sahut Kei juga tidak kalah emosi. "Sepertinya, lama-lama kau juga lupa ingatan!" sindir putri dengan tersenyum sinis. "Kau! Apa..." ucap Kei terpotong.
Brakk! Jimmy menggebrak meja seraya berdiri membuat suasana yang tadinya ribut menjadi hening seketika, "Tuan Dexter... Nyonya Adhitama..." sebutnya dengan suara yang terdengar menakutkan karena juga sudah mulai emosi melihat pertengkaran dua orang yang kekanak-kanakan di depannya ini.
"Ya?" sahut Kei dan Putri bersamaan. "Tolong tenanglah, saya mohon! Bisa kita lanjutkan?" ucap Jimmy seraya duduk kembali dengan senyuman yang dipaksakan. "Maaf..." ucap Putri menundukan wajahnya karena malu. Kei hanya diam mengunci mulutnya, tidak ingin memulai masalah lagi.
"Kalian berdua pasti sibuk, jadi kita akan menyelesaikan ini dengan cepat. Pertama-tama, silahkan baca surat wasiatnya terlebih dahulu!" ucap Jimmy seraya menyerahkan surat wasiat yang sudah di fotokopi kepada mereka masing-masing. Putri dan Kei pun mulai membacanya.
__ADS_1