
"Hai, sayang! Kau sudah sampai?" sapa Kei yang terlihat sangat tampan dengan setelan kemeja hitamnya saat perlahan, Putri membuka pintu kamar hotel yang Kei maksud itu.
Bukan hanya penampilan tampan Kei itu yang membuat Putri terpana, melainkan desain kamar hotel yang begitu mewah ditambah dekorasi romantis makan malam idamannya, benar-benar di depan mata, "Luar biasa! Ini pasti mahal!" pikir Putri tidak henti-hentinya takjub.
"Bagaimana, sayang suka? Papah yang mengaturnya untuk kita," ucap Kei. Putri mengangguk antusias. Kei pun menghampiri Putri, lalu mencium pipinya sekilas, "happy anniversary, sayangku," ucapnya mesra.
"Happy anniversary too," balas Putri tersenyum begitu cantik. "Kemarilah! Aku punya sesuatu untukmu," ajak Kei seraya menarik tangan Putri menuju meja yang menghadap langsung ke pemandangan di luar kamar.
"Karena sayang suka coklat, jadi aku membuatkannya khusus untukmu," lanjut Kei seraya menggandeng tangan Putri. "Sayang membuat coklat?" tanya Putri tidak percaya.
"Iya. Walaupun bentuknya jelek, tapi rasanya enak. Tenanglah, tadi aku sudah mencicipinya. Jadi, aku harap sayang menyukainya," jawab Kei.
"Duduklah!" pinta Kei seraya mempersilahkan Putri duduk dengan menarikkan kursi untuknya sesampainya mereka di meja itu, lalu Kei pun membuka tutup piring di depan Putri.
Putri menutup mulutnya dengan kedua tangannya, speechless, saat melihat betapa imutnya coklat di depannya itu, bahkan rasanya ia tidak akan sanggup memakannya dan tulisan "will you marry me" itu yang benar-benar terasa manis serta melelahkan hatinya.
"Bagaimana? Suka?" tanya Kei yang berdiri di samping Putri dengan tersenyum begitu tampan. Putri tidak mampu menjawabnya lagi. Ia langsung berdiri dan memeluk Kei dengan erat, kemudian menyadarkan kepalanya di dada Kei. Kei pun balas memeluk gadisnya itu.
Deg! Deg! Deg! "Sayang, kenapa detak jantungmu begitu cepat?" tanya Putri yang sempat terpaku saat mendengar detak suara jantung milik Kei. "Detaknya terdengar aneh," pikir Putri. Kei hanya diam tidak menjawabnya. Putri pun berpikir, saat ini, dialah yang harus memberikan jawaban pada Kei.
"I say yes," ucap Putri pada akhirnya dan semakin mempererat pelukannya, sedangkan atensi Kei hanya tertuju pada ranjang king size yang terdapat di kamar super mewah itu.
Karena Kei masih diam saja dan tidak menghiraukannya dari tadi, Putri pun menggosok-gosokan wajahnya di dada bidang Kei dengan gemas. "Apa yang sayang lakukan? Kenapa sayang jadi manja seperti ini?" tanya Kei.
"Hmm? Apa itu salah?" tanya Putri balik tanpa melepaskan pelukannya. "Apa sayang sadar? Sayang membuatku ingin melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan. Sesuatu yang aneh-aneh!" ucap Kei tiba-tiba.
"Hah?" kata Putri seraya melepaskan pelukannya dan mulai melangkah mundur, tapi dengan cepat, Kei mengangkat tubuh Putri di bahunya. "Sepertinya, sayang benar-benar berniat menggodaku!" ucap Kei.
Kei membaringkan Putri di atas ranjang, menindihnya dan mulai menciumnya. Ciuman yang lama hingga Putri mencengkeram kuat ujung kerah kemeja Kei, lalu memukul-mukul dada Kei.
"Ada apa?" tanya Kei saat melepaskan tautannya. "Aku tidak bisa bernafas," sahut Putri. "Baiklah," ucap Kei, tapi kembali mencium bibir manis itu. Kali ini, dengan begitu lembut, bahkan Kei menyusupkan satu tangannya di bawah tengkuk Putri untuk memperdalam ciumannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku suka ciumannya, tapi ini berlebihan! Jika dulu aku memintanya berhenti, apa sekarang aku juga bisa memintanya berhenti? Apa dia tidak akan marah? Bagaimana jika dia marah dan meninggalkanku?" batin Putri pun mulai resah.
Cupp! Satu kecupan hangat mendarat di kening Putri. "Apa yang sayang pikirkan, sampai sayang melamun seperti itu?" tanya Kei. "Tidak. Tidak ada." jawab Putri gelagapan.
"Bangunlah! Sebentar lagi makanannya datang. Tapi ingat, jangan menempel lagi padaku seperti tadi! Aku juga manusia biasa. Maaf, jika tadi aku tidak bisa menahan diri. Tenanglah, aku tidak berniat melakukannya sekarang. Aku tidak ingin membuat sayang tidak bisa berjalan saat pesta besok," jelas Kei santai.
"Ti-tidak bisa berjalan?" tanya Putri terbata karena tiba-tiba merasa takut mendengar kalimat terakhir Kei. "Dasar! Apa baru sekarang sayang merasa takut?" kata Kei seraya menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Sayang, setelah pesta pernikahan kita, kau harus bersiap!" ucap Kei lagi dengan smirk-nya. "Bersiap?" tanya Putri dengan ekspresinya yang semakin takut.
"Iya, bersiaplah karena aku tidak akan menahan diri lagi dan aku bisa saja akan melakukannya kapan pun aku mau!" ucap Kei seraya mengedipkan sebelah matanya nakal pada Putri, membuatnya menelan kasar air liurnya.
***
Sebulan kemudian, sampailah hari pernikahan Putri dan Kei. Atas permintaan dari pihak mempelai pria, pesta hanya di adakan secara singkat dan dengan hanya dihadiri orang terdekat dari kedua belah pihak.
Pesta yang membahagiakan untuk sepasang kekasih dan kedua belah pihak keluarga, tapi tidak untuk seseorang yang hanya duduk diam memperhatikan Kei yang menyematkan cincin berbentuk separuh hati dengan sebuah berlian indah di tengahnya, di jari wanita yang ia cintai.
Begitu pula, Putri yang menyematkan cincin dengan bentuk yang sama di tangan Kei yang sudah resmi menjadi suaminya, sepasang cincin yang jika disatukan akan membentuk sebuah hati yang utuh.
Vincent menatap sayu Putri yang hari ini begitu cantik dengan gaun pengantinnya, bahkan saat pertama melihat Putri yang masuk ke dalam ruangan pesta tadi, Vincent sampai melepaskan gelas yang sedang ia pegang hingga pecah.
Vincent tidak pernah menyangka bahwa bocah tengil itu akan berubah secantik ini. Bagaimana tidak? Selama ini, Putri hanyalah gadis polos tanpa make up dengan penampilan yang selalu sederhana, tapi sekarang yang berdiri di hadapannya adalah wanita cantik dengan pulasan make up yang membuatnya tampak semakin cantik mempesona.
Dengan gaun pengantin yang sedikit terkesan seksi, ditambah senyum menawannya yang selalu mengembang bahagia, sungguh berhasil membuat jantung Vincent berdebar dengan sangat kencang.
"Andai saja, akulah yang berdiri di sana menyematkan cincin itu untuk Putri," pikir Vincent, tapi lamunannya buyar saat seseorang menepuk bahunya.
"Hai, kau Vincent, 'kan? Apa kabar? Long time no see," sapa wanita cantik itu seraya tersenyum manis pada Vincent. "Sa-Sasa?" tanya Vincent ragu.
***
Sudah dua hari setelah pesta pernikahan, Kei kembali jatuh sakit. Kata dokter, karena Kei kelelahan saat beberapa hari ini, jadi daya tahan tubuhnya berkurang dan tubuhnya drop.
Sepasang pengantin baru ini harus tidur terpisah, bahkan mereka belum melakukan malam pertama seperti pengantin lainnya karena setelah pesta pernikahan selesai, Kei jatuh pingsan dan dibawa pulang ke kediaman Dexter oleh Agust, sedangkan Putri tidak diizinkan untuk ikut serta.
Sebenarnya, selama ini ada yang mengganjal di hati Putri, "Apa sebenarnya penyakit Kei? Ia sudah sangat sering jatuh sakit!" ucapnya dalam hati, tapi setiap kali ia menanyakannya, Kei selalu menjawab hanya kelelahan akibat daya tahan tubuhnya yang lemah.
Putri hampir tidak mempercayainya karena selama ini Kei tidak seperti orang dengan daya tahan tubuh yang lemah. Kei memiliki tubuh yang sehat dan rajin berolahraga, bahkan walaupun belum pernah melihat langsung, Putri yakin suaminya itu memiliki tubuh yang bagus.
Hanya saja, wajah tampannya sewaktu-waktu bisa berubah pucat dengan keringat yang membasahi wajahnya dan saat itu terjadi, ia pasti langsung meminum obat yang selalu dibawanya ke mana pun itu.
Obat yang selama ini membuat Putri penasaran karena sekalipun, Kei tidak pernah mau memperlihatkannya dan Putri sekalipun, tidak pernah berhasil mendapatkannya.
Putri masuk ke kamar Kei, saat pelayan memberitahunya bahwa suaminya itu sedang tidur di kamarnya. Benar saja, pangeran tampan di istananya itu sedang tertidur pulas di ranjangnya.
"Wajahnya terlihat pucat! Sepertinya, tidurnya sangat nyenyak. Lebih baik aku tidak usah membangunkannya," gumam Putri yang memperhatikan wajah sang suami.
__ADS_1
"Eh!" tiba-tiba saja, mata Putri tertuju pada perut Kei yang terlihat dari balik piyamanya yang sedikit tersingkap karena kancing bawahnya yang terbuka.
"Nanti tambah masuk angin. Harus ditutup!" pikir Putri yang awalnya berniat membenarkan kembali piyama itu, tapi tangannya terhenti saat atensinya menangkap susunan bertingkat otot-otot perut yang terbentuk sempurna.
Glup! Putri menelan kasar air liurnya. Dengan cepat, Putri melepaskan piyama itu dari tangannya, tapi jarinya malah menyentuh otot berbentuk kotak-kotak seperti roti sobek itu.
Secepat kilat, Putri menarik kembali jarinya. Rasanya, saat ini ia benar-benar ingin berteriak, "Keras! Perutnya keras! Kenapa bisa sekeras itu?" pekik batin Putri.
Deg! Deg! Deg! Putri kembali menatap otot perut milik Kei, "Aku tahu tubuhnya kekar karena setiap kali memeluknya, aku bisa merasakannya, tapi aku tidak pernah menyangka akan sekeren ini. Apa aku boleh menyentuhnya lagi?" tanya Putri membatin.
Perlahan namun pasti, jari-jari Putri mulai membuka satu persatu kancing piyama yang Kei kenakan. Kemudian, jari-jarinya berjalan di atas perut sixpack itu, lalu tangan halus itu mulai meraba lembut setiap kotaknya, namun kemudian, plak!
Kei terbangun dengan terkejut saat merasakan sakit di perutnya akibat pukulan istrinya itu, "Sayang, kau! Kenapa kau memukulku?" tanya Kei dengan nafas tersengal, wajahnya tampak semakin pucat.
"Aku hanya gemas karena sayang tidak bangun-bangun," jawab Putri tanpa rasa bersalah sedikit pun. Kei meraih botol kecil di atas meja nakasnya, kemudian meminum obat yang ada di dalam botol itu.
Sadar akan Putri yang memperhatikan botol itu, Kei pun lantas memasukannya ke dalam saku celananya. Ingin sekali rasanya Putri merampas obat itu dari tangan Kei atau sekedar bertanya tentang obat itu, tapi sebelum ia bertanya, Kei terlebih dulu bertanya padanya.
"Apa sayang yang membuka bajuku?" tanya Kei yang baru memperhatikan kancing piyamanya yang terlepas seluruhnya. Dengan mata yang masih terasa berat, Kei bangun dan menghampiri Putri.
Kei berjalan dengan piyama yang terbuka. Putri pun kembali memperhatikan perut suaminya itu, kemudian atensinya beralih menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi membuka, menyentuh, meraba dan memukul otot-otot perut itu.
Seketika Putri membalikan badannya, "Apa yang sudah aku lakukan? Padahal aku tidak pernah peduli dengan tubuhnya. Ini pertama kali aku melihat tubuhnya. Ini aneh! Kenapa aku jadi penasaran? Aku menyentuhnya! Keras tapi juga lembut dan hangat!" pekik batin Putri.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Kei seraya memeluk Putri dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu Putri, membuat sang istri merinding seketika.
"A-aku hanya datang menjenguk," jawab Putri kikuk. Kei membalikan tubuh Putri agar menghadapnya, "Terima kasih, aku merindukanmu," ucapnya seraya tersenyum dan menatap lekat istrinya itu.
Melihat Putri yang memejamkan mata, Kei pun mencium bibir manis itu, tapi ada hal yang tidak biasa kali ini. Tangan Putri yang merayap perlahan di punggungnya, terus turun ke bawah sampai ke ujung piyama yang ia kenakan, hingga tangan itu menyusup ke dalam dan mulai meraba perut berototnya.
Kei membuka matanya dan menghentikan ciumannya, "Sayang, apa kau ingin melakukannya sekarang?" tanya Kei pelan. "Hmm? Apa?" tanya Putri lembut. "Kenapa tangan sayang sampai di situ?" tanya Kei seraya tersenyum.
"Hah!" pekik Putri yang baru menyadari posisi tangannya yang hampir masuk ke dalam celana suaminya. Dengan cepat, Putri pun menarik kembali tangannya, "Tidak! Aku tidak bermaksud seperti itu!" bantahnya dengan wajah memerah.
"Jangan bohong!" kata Kei seraya mendekatkan wajahnya, menelisik ekspresi sang istri yang malu-malu. Kei tersenyum lebar saat melihat wajah cantik istrinya yang merah padam.
"Gila! Aku sudah gila! Kenapa tanganku merabanya seperti tadi? Dasar tangan nakal! Kalau begini, bisa-bisa aku yang lebih dulu menyerangnya!" ucap Putri dalam hati dan semakin gelagapan.
"Tapi maaf, aku tidak bisa jika harus sekarang. Tubuhku masih lemah... Maaf juga, setelah kita menikah aku malah harus pulang ke rumah papah sendirian," ucap Kei dengan wajah bersalahnya.
__ADS_1
Putri tersenyum dan memeluk pria yang sudah menjadi suaminya itu dan berkata, "Tidak apa-apa. Aku mengerti papah begitu menyayangi sayang."