
"Semalaman aku berdebar seperti orang bodoh. Padahal selama ini hanya Kei yang bisa membuatku berdebar. Apa sekarang, aku berhenti mengharapkannya dan mulai memberi kesempatan untuk Vincent serta untuk diriku sendiri?" gumam Putri di depan meja kerjanya pagi ini.
"Pagi, cantik!" sapa Arjuna pagi ini. "Pagi, tampan!" sapa Putri balik. "Apa presdir belum datang?" tanya Arjuna yang melirik ke arah pintu ruangan atasannya itu.
"Belum. Sepertinya, hari ini presdir akan terlambat karena dia belum bangun saat aku berangkat tadi pagi," jawab Putri santai tanpa menyadari ucapannya.
"Hah? Dari mana kau tahu?" tanya Arjuna bingung. "Ah!" pekik kecil Putri seraya menutup mulutnya dengan tangannya, mulai panik menyadari kesalahannya.
"Aku mau membuat kopi, apa kau mau aku buatkan juga?" tawar Putri berusaha mengalihkan pembicaraan. "Tunggu dulu! Kalung itu... " kata Arjuna menatap curiga ke arah kalung yang dikenakan Putri.
"Ada apa dengan kalungku?" tanya Putri bingung dan menyentuh kalung emas putih berliontin hati itu, yang nyatanya memang pemberian Vincent sebagai hadiah ulang tahunnya dua bulan lalu.
"Semalam, aku melihat kalung itu di atas meja presdir dan saat aku bertanya itu kalung siapa, presdir bilang itu milik kekasihnya," jawab Arjuna semakin menatap curiga Putri dari balik kacamatanya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kembali bekerja!" ucap Vincent yang baru sampai. "Jun, ikut aku ke dalam!" perintah Vincent pada Arjuna dan sang asisten pun mengikuti perintah atasannya itu.
"Untung dia datang tepat waktu," ucap Putri menghela nafas lega. "Sekretaris Putri!" panggil Vincent yang kembali berdiri di depan Putri. "Ada apa Anda kembali?" tanya Putri.
"Kau meninggalkan tasmu di rumah," ucap Vincent seraya menyerahkan tas Putri. Sontak, beberapa karyawan yang kebetulan ada di dekat mereka pun menajamkan telinga mereka.
"Ah! Bagaimana aku bisa lupa? Tunggu! Apa Anda dari tadi membawanya dari pintu masuk sampai ke sini?" tanya Putri tidak percaya. Vincent tersenyum evil menjawabnya.
"Hah? Apa mereka melihatnya?" tanya Putri panik sambil berbisik pada Vincent. "Tentu saja mereka semua melihatnya. Bukankah aku selalu jadi pusat perhatian di kantor ini? Dan sekarang aku rasa, pusat perhatian itu akan beralih pada pemilik tas ini," jawab Vincent santai.
"Kenapa Anda melakukan itu? Bagaimana jika mereka salah paham?" ucap Putri dengan wajah cemberut. "Kau tidak usah khawatir karena mulai hari ini aku akan membuat semuanya jadi lebih jelas!" ucap Vincent seraya melangkah kembali ke ruang kerjanya.
Putri melongo mendengarnya, "Dia benar-benar sengaja melakukannya! Bagaimana ini? Di situasi seperti ini jangankan panik, aku malah sedikit berharap. Apa aku mulai menyukainya?" tanya Putri pada hatinya.
***
Dan benar saja, keributan pun terjadi di kantin karyawan saat jam istirahat, Putri merasa dirinya saat ini menjadi pusat alam semesta di kantin ini. Semua mata tertuju padanya! Mereka tampak berbisik sambil sesekali menatap ke arah Putri yang tengah menikmati makan siangnya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Rosalind yang merupakan salah satu primadona di kantor ini, selain Putri tentunya. Semua orang di kantor ini pun tahu kalau Rosalind sudah lama mengincar Vincent.
Putri menghela nafasnya. Sepertinya, ia sudah tahu kemana arah pembicaraan ini. "Jangan di sini. Tidak enak di lihat banyak orang," ujar Putri lembut.
__ADS_1
"Kenapa? Kau malu? Memangnya, kau tidak malu menyuruh presdir membawakan tasmu?" sindir Rosalind dengan kesal. "Bisakah kau pelankan dulu suaramu? Mereka semua mendengarnya," bujuk Putri masih berusaha menahan emosinya.
"Semua orang juga sudah tahu, kau menggoda presdir! Dasar genit!" ucap Rosalind sinis dan sengaja mengeraskan suaranya agar orang lain mendengarnya.
Putri menatap tajam Rosalind, "Sebaiknya kau bercermin dulu sebelum mengatakan kalimat itu padaku!" ucapnya seraya bangun dari duduknya. "Apa yang kau bilang!" bentak Rosalind seraya mendekati Putri karena tidak terima dengan perkataannya.
"Ck, bukannya kau yang genit dan selalu menggoda presdir!" ucap Putri yang juga melangkah maju mendekati Rosalind. "Kau!" bentak Rosalind tertahan penuh emosi.
"Iya! Aku menggoda Pak Vincent Adhitama! Lalu, apa urusannya denganmu? Memangnya, kau siapanya presdir? Sekretarisnya? Adiknya? Pacarnya? Tunangannya? Atau istrinya?" ucap Putri dengan gaya tengilnya, Putri semakin memojokkan Rosalind ke meja yang ada di belakangnya.
Suasana pun semakin ribut di sana. Semua orang bergerombol menantikan adegan perselisihan dua primadona kantor ini. Siapa tahu, akan dibumbui dengan adegan tampar-menampar atau jambak-menjambak rambut yang sudah siap akan mereka abadikan dengan kamera ponsel yang sudah standby di tangan masing-masing.
"Serius? Kapan?" suara khas nan seksi itu sontak membuat ruangan kantin menjadi hening seketika. Semua orang pun menoleh ke arah sumber suara.
"Kapan kau menggodaku? Kenapa aku sama sekali tidak tahu?" lanjut Vincent sambil berjalan membelah kerumunan itu, seperti keajaiban Nabi Musa yang membelah lautan.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Aduh, kenapa dia datang di saat seperti ini? Sekarang, aku harus bicara apa?" pikir Putri yang terdiam menatap langkah Vincent yang terus mendekatinya.
"Sekretaris Putri, kau tidak perlu menggodaku," ucap Vincent sesampainya di depan Putri dengan wajah datarnya. "Sa-saya tidak pernah melakukannya," sahut Putri dengan suara bergetar dan wajah yang tertunduk malu.
Atensi Vincent beralih menatap Rosalind yang tersenyum manis saat berhadapan dengan pria incarannya itu. "Karena kalian sudah berkumpul di sini, sekalian saja aku jelaskan," kata Vincent.
"Sekretaris Putri tidak pernah sekali pun menggodaku, tapi AKU SENDIRI yang menggodanya!" jelas Vincent dengan tatapan membunuh yang ia layangkan untuk Rosalind.
Deg! Wajah Putri merah padam seketika, sedangkan telinga semua orang yang ada di situ mendadak berdengung mendengarnya. Terlebih, Rosalind yang ternganga tidak percaya.
"Apa ada pertanyaan?" tanya Vincent dengan gaya khas presdir sadisnya. Para karyawan yang mengerti maksud perkataan atasannya yang berarti "bubar" itu pun kembali ke meja mereka masing-masing.
***
Flashback sebelum Vincent datang ke kantin, saat masih di ruangan presdir, "Saya sudah curiga sejak melihat kalung itu," ucap Arjuna penasaran.
Vincent tampak duduk di sofa seraya memijit keningnya dengan pelan karena sedari tadi Arjuna terus mendesaknya dengan pertanyaan seputar dirinya dan Putri.
"Kecurigaan saya benar, 'kan?" telisik Arjuna lagi. "Kau penasaran sekali, ya!" ucap Vincent sambil terkekeh. "Nyatakan saja! Saya yakin 100% Sekretaris Putri akan menerimanya," ucap Arjuna yakin.
__ADS_1
"Bukan seperti itu," ucap Vincent mendadak lesu. "Lalu seperti apa?" tanya Arjuna semakin penasaran dibuatnya. "Kalau kau ingin menyentuh adikmu sendiri, apa yang akan kau lakukan?" tanya Vincent dengan tatapan serius.
"A-apa maksud anda?" tanya Arjuna bingung, "apa anda menyukai adik anda sendiri?" tanyanya lagi. "Iya, aku menyukai adik yang bukan adikku," ujar Vincent seraya menghela nafasnya.
Arjuna semakin bingung dibuatnya. Dahinya berkerut memikirkan maksud atasannya itu. "Dia adik angkatku, bukan adik kandungku, tapi tetap saja aku takut orangtuaku tidak merestuiku," jelas Vincent yang melihat kerutan di dahi asisten pribadinya itu.
"Lalu, bagaimana dengan sekretaris Putri?" tanya Arjuna yang tidak mengerti sama sekali. "Dia, adikku!" jawab Vincent dengan nada pasrah. "Apa!" pekik Arjuna terkejut mendengarnya, "jadi, dia adik Anda?" katanya tidak percaya.
"Ah, aku gila! Menginginkan adikku sendiri!" ucap Vincent frustasi seraya menyapu kasar wajahnya. Tiba-tiba, ponsel Arjuna berdering. Ia pun menerima panggilan dari salah satu bawahannya. Tidak lama setelahnya, "Pak, sebaiknya Anda ke kantin sekarang!" saran Arjuna. flashback off.
***
Hari ini adalah hari minggu, Putri pun sibuk membantu bundanya di dapur membuat sarapan. Putri sedang memotong buah strawberry untuk pancake-nya saat Vincent datang dan langsung duduk di hadapannya.
"Apa hari ini kau ada rencana?" tanya Vincent. "Hah! Ti-tidak," jawab Putri yang tiba-tiba saja mulai gugup. Mendengarnya, Fajrin dan Jovita, kedua orang tua mereka pun memperhatikan keduanya sambil menguping.
"Bagaimana kalau hari ini kita kencan?" ajak Vincent tiba-tiba tanpa malu. "Ke-kencan?" jawab Putri gagap dengan jantung yang hampir melompat karena ajakan yang tidak pernah ia sangka itu, bahkan tangannya secara reflek memencet botol krim dengan kuat.
"Mau tidak?" tanya Vincent yang mengangkat alisnya seraya tersenyum manis. Putri yang melihatnya mendadak blank dibuatnya, "Apa-apaan ini!" ucap batin Putri.
Tanpa sadar, Putri menjilat jarinya sendiri yang terkena krim saat ia menyemprotkannya di atas pancake tadi. Kesadaran Putri kembali seketika saat menangkap kedua manik Vincent yang fokus menatap bibirnya.
Putri pun jadi serba salah, lalu mengambil potongan strawberry dengan jari yang dijilatnya tadi, tapi secepat kilat, Vincent merebut strawberry itu dari tangan Putri dan langsung memakannya.
"Manis!" ucap Vincent seraya menyeka ujung bibirnya yang terkena krim yang sama dengan yang Putri jilat tadi. Vincent sengaja melakukannya dengan gerakan yang terlihat sangat seksi menggoda.
Blush! Wajah Putri tiba-tiba terasa panas. Pasangan Adhitama pun sampai tercengang melihat kelakuan putranya itu. "V!" panggil Nyonya Adhitama lembut pada putranya itu.
Sepertinya, Jovita mulai menyadari perasaan putranya. "Bun, aku serius. Aku harap ayah dan bunda merestuinya," ucap Vincent langsung membungkam mulut kedua orang tuanya yang langsung tidak bisa berkata-kata lagi.
Putri menatap tajam Vincent. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan, "Apa tidak cukup dia mengumumkannya di depan seluruh karyawan dan sekarang di depan ayah dan bunda?" ucapnya dalam hati.
Vincent menatap balik Putri, tapi dengan tatapan yang sungguh lembut. "Iya, mulai sekarang aku tidak akan melepaskanmu," sahut Vincent dalam hati yang sudah bertekad mengejarku sampai bertekuk lutut menjadi istrinya.
Untuk beberapa saat suasana menjadi hening, hanya ada suara denting garpu, pisau makan dan piring yang saling beradu, hingga saat semuanya menyelesaikan sarapannya dan beranjak meninggalkan meja makan satu persatu.
__ADS_1
Vincent pun berjalan dengan lunglai menuju kamarnya. Inilah yang Vincent takutkan, orangtuanya yang menentang perasaannya. Langkahnya terhenti saat sang ayah menepuk bahunya, kemudian berjalan mendahuluinya, tapi sesaat kemudian senyum tampannya mengembang dengan indahnya saat ayahnya berkata, "Berjanjilah, kau tidak akan menyakiti Putri!"