
Aku sedang mengirim chat pada Putri, saat Vincent datang dan masuk ke kamarku. "Ada apa lagi dengan bocah aneh satu ini?" ucapku membatin.
Sahabatku ini benar-benar moody. Dia akan mengalami mood swing dalam sekejap, bahkan hanya untuk hal kecil yang tidak disukainya.
Aku mengikutinya ke ruang gaming-ku, "Tampaknya, ia sedang ingin bermain game," pikirku. Aku pun duduk di kursi gaming yang ada di samping Vincent karena ada dua komputer gaming yang biasa kami gunakan bersama.
Aku masih fokus memperhatikan ponselku menunggu balasan dari Putri, hingga atensiku beralih ke ponsel Vincent yang berdering. Lantas, Vincent pun menerima panggilan itu.
"Abang, apa kau marah padaku?" suara Putri terdengar dengan jelas di telingaku, seiring wajah cantiknya yang terpampang di layar ponsel abangnya itu.
Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya, rasa rinduku hari ini sudah terobati hanya dengan melihatnya lewat layar ponsel, meski bukan aku yang sedang dihubunginya.
Vincent tidak menjawab pertanyaan Putri dan tetap fokus bermain game. "Abang! Kenapa dari tadi abang diam saja?" rengek Putri manja.
"Sudahlah! Abang sedang main game," sahut Vincent, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari layar komputer. "Abang! Aku tahu, abang marah padaku, 'kan? Apa abang marah karena aku menyukai Kak Kei?" lanjut Putri.
Deg! Aku yang awalnya berniat meninggalkan Vincent karena menurutku sedang ada pertengkaran saudara di sini dan aku tidak ingin ikut campur di dalamnya, sontak menghentikan pergerakanku saat mendengar kalimat terakhir Putri.
Begitu pula, Vincent yang langsung menghentikan pergerakan tangannya di atas mouse dan keyboard, sampai ia kalah dalam game yang sedang dimainkannya itu.
"Tunggu dulu! Abang sedang di mana?" tanya Putri dan muka cantiknya seketika berubah pucat pasi saat menangkap sosokku yang datang dari samping Vincent. Aku berdiri di belakang Vincent.
Sesaat, kami bertiga terdiam mencerna situasi yang sedang terjadi saat ini. Aku dan Vincent sama-sama menatap ke arah layar ponsel, memperhatikan Putri yang diam mematung.
Hingga sampai aku tersenyum saat menyadari wajahnya yang memerah seperti udang rebus. Tiba-tiba saja, Putri berlari meninggalkan ponselnya tanpa mengakhiri panggilan videonya. Aku pun tertawa gemas dibuatnya.
Tidak dengan Vincent yang hanya diam sedari tadi. Vincent pun mengakhiri panggilan itu. "Aku pulang," ucapnya seraya berlalu begitu saja. Aku yang kebingungan melihatnya, tetap mengantarkannya sampai pintu rumahku.
__ADS_1
Setelah Vincent pergi, aku tidak henti-hentinya tersenyum saat mengingat kejadian tadi. Bahagia? Tentu saja aku bahagia. Ternyata, Putri juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Tanpa aku sadari, papah sudah memperhatikanku sedari tadi. "Apa kau sudah mengatakannya pada Putri? Apa Putri baru saja menerimamu jadi kau senyum-senyum seperti itu?" tanya papah membuyarkan lamunanku.
"Papah! Tidak. Aku belum mengatakannya," jawabku. Aku pun duduk di samping papah yang sedang menikmati tehnya. "Kenapa? Apa kau masih takut Putri akan menolakmu saat ia tahu yang sebenarnya?" tanya papah. Aku terdiam mendengar pertanyaan papah itu, "Iya, aku takut Putri tidak bisa menerima keadaanku," ucap batinku resah.
"Jika kau tidak mengatakannya, bagaimana Putri bisa tahu perasaanmu? Kau juga akan tahu perasaannya padamu... " ucap papah yang langsung kusela dengan kalimat, "Aku tahu, Putri juga menyukaiku."
Papah menoleh ke arahku, "Dari mana kau tahu?" tanya papah. "Tadi, Putri sendiri yang bilang," jawabku santai.
Pletak! Papah mendaratkan pukulan ringannya di kepalaku, "Bagaimana bisa kau membiarkan wanita lebih dulu mengatakan perasaannya padamu, sedangkan kau malu mengatakannya? Kau sungguh memalukan, Nak," ucap papah.
Aku hanya terkekeh mendengar celotehan papah. Sekarang, hatiku sedang berbunga-bunga, bahkan saking bahagianya rasanya umurku akan bertambah panjang.
"Sekarang, temui dia atau setidaknya hubungi dia!" titah papah. Aku tersenyum, "Baiklah, Pah!" ucapku seraya beranjak dari dudukku.
"Pah! Itu terlalu cepat!" ucapku tak percaya. "Memangnya, kau tidak ingin menikahinya? Bukankah dari kecil hanya Putri, gadis yang kau sukai?" kata papah.
"Tapi itu terlalu cepat, kami 'kan masih sekolah," kataku dengan sedikit malu-malu. "Kalian 'kan bisa bertunangan dulu. Baiklah, biar papah yang menemui pamanmu," sahut papah lagi.
"Pah!" rengekku, tapi papah tidak peduli. Papah sudah berlalu ke ruang kerjanya seraya berbicara dengan paman Fajrin lewat ponselnya.
"Ah, biarlah!" pikirku. Papah memang seperti itu, selalu memberikan apa pun yang aku minta, bahkan sebelum aku memintanya pun, jika papah tahu aku menyukainya, papah akan memberikannya untukku.
Bahkan untuk satu hal itu pun, sampai sekarang papah tidak pernah menyerah mencarikannya untukku, walaupun sampai ke belahan dunia mana pun.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, aku menatap gadis pujaan hatiku yang duduk di hadapanku. Rasanya, kali ini aku benar-benar tidak bisa memalingkan wajahku lagi darinya.
Baru kali ini juga Putri bersikap canggung di hadapanku. Berkali-kali, ia menundukkan wajah cantiknya di depanku, menyembunyikan wajah malunya. "Ah, menggemaskan!" pikirku.
"Hei, Kei Alexis Dexter! Berhentilah menatap Putri seperti itu! Kasihan Putri tidak bisa makan," ledek papah yang duduk di sebelahku. Paman Ajin dan Tante Jo pun tertawa mendengarnya. Sekarang, giliranku yang malu dibuatnya.
Kami pun melanjutkan makan malam kami, tapi sesekali tetap saja kulirikan mataku ke arah Putri yang malam ini hanya diam saja, tidak seperti Putri yang selalu cerewet.
Hingga makan malam selesai pun, setiap kali aku mendekatinya, Putri selalu menghindariku. Aku pun memperhatikan gerak geriknya, menunggu waktu yang tepat untuk mendekatinya lagi, sampai aku melihatnya berjalan sendirian naik ke lantai dua. Tanpa pikir panjang, aku mengikutinya.
Entah apa yang membuat Putri tidak menyadari keberadaanku, sampai langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamarnya saat aku berbisik di telinganya, "Jika pertunangan ini membuat kau selalu menghindariku, lebih baik batalkan saja."
Aku masih berdiri di belakangnya menunggu jawabannya, tapi Putri masih mematung di tempat. "Baiklah, biar aku yang bicara dengan papahku," ucapku seraya membalikan badanku berniat meninggalkannya, tapi langkahku terhenti saat Putri menarik ujung bajuku.
"Jangan! Aku hanya malu, Kak," lirihnya dengan wajah yang merona. Aku memalingkan wajahku menatapnya yang lagi-lagi, memalingkan wajahnya karena tidak berani menatapku. Ingin sekali rasanya, aku memeluk gadis di hadapanku ini. Kenapa hari ini gadis tengil ini menjadi begitu menggemaskan?
Perlahan, aku menghampiri Putri sampai membuatnya terpojok di pintu kamarnya, "Tapi sayangnya, mulai hari ini..." ucapku bseraya kutundukan wajahku mensejajarkan bibirku dengan telinganya, "aku tidak akan malu-malu lagi!" ucapku tepat di telinganya.
Putri yangbterkejut, mengangkat wajahnya dan menatap wajahku yang kembali berdiri tegak di hadapannya. Cupp! Aku mengecup bibirnya sekilas karena gemas, membuat sepasang bola mata indah itu membulat sempurna.
Kemudian, aku tunjukan senyum smirk-ku untuknya sebelum aku berlalu dari hadapannya, tapi lagi-lagi, langkahku terhenti saat aku mendapati Vincent yang berdiri tepat di ujung lorong. Wajah Vincent tampak marah dengan kedua tangannya yang mengepal.
"Mati aku!" pikirku. Tapi sesaat kemudian, Vincent hanya berjalan melewatiku, tanpa sepatah kata pun. Ia masuk ke dalam kamarnya, bahkan tanpa menoleh sedikit pun pada Putri yang juga ia lewati. Aku yakin, Vincent marah karena aku sudah berani mencium Putri, adiknya.
"Apa yang sudah aku lakukan?" rutukku dalam hati sambil berjalan menuruni anak tangga. Entah apa yang membuatku berani mencium Putri, walau sejak kecil aku sudah teramat sering menciumnya, tapi itu hanya sebatas di pipi dan tadi... bibir!
Ini untuk yang pertama kalinya. "Dan ada apa dengan jantungku? Kenapa berdetak begitu cepat? Tapi tunggu, detaknya berbeda! Tidak seperti biasanya yang aku rasakan selama ini," gumamku seraya perlahan menyentuh dadaku seraya tersenyum bahagia.
__ADS_1