Jantung Hati

Jantung Hati
Kencan, yuk!


__ADS_3

Di kamar bernuansa girly itu, Putri tampak berbaring di kasurnya sambil menatap langit-langit kamarnya dengan ekspresi bengong seperti orang bodoh. Tiba-tiba saja dia duduk dan terdiam. Lalu, "Kyaaaa!" pekiknya sambil menutup kedua matanya dengan tangannya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah puas berteriak, Putri kembali menjatuhkan tubuhnya. Kemudian, ia menyentuh bibirnya pelan dan lagi-lagi, ia memekik pelan sambil memeluk gulingnya dengan gemas. Hal itu selalu Putri lakukan berulang-ulang sampai ia benar-benar tertidur dan melupakan ciuman pertamanya itu.


***


Sementara itu di kamar yang lain di kediaman Dexter, Kei terus menatap layar ponselnya. Tidak ada satu pun balasan dari Putri. "Ada apa dengannya? Apa Putri marah karena aku menciumnya?" pikir sang tuan muda.


"Apa aku terlalu cepat melakukannya? Apa dia keberatan? Apa aku harus meminta izinnya terlebih dahulu? Apa dia akan membenciku? Apa dia tidak suka dengan lelaki yang suka menciumnya? Apa setelah ini, dia minta putus?" pikiran Kei berkecamuk di kepalanya.


Oh, ayolah! Mereka hanyalah dua insan yang pertama kali di mabuk cinta. Tidak tahu harus bagaimana bersikap.


***


Keesokan harinya, hampir semalaman Kei memikirkan kekhawatiran tidak berdasarnya itu. Sampai entah apa yang membuatnya sekarang berdiri di tengah-tengah para kaum hawa di sebuah toko kosmetik.


Kei tampak bingung dan kikuk berada di sana. Ini kali pertama, ia mendatangi toko kosmetik. Ditambah lagi, para kaum hawa di toko itu selalu memperhatikan gerak-geriknya, bahkan ada yang dengan sengaja mengikutinya dan menyapanya.


Jarang-jarang 'kan, ada lelaki muda dengan visual keren, bertubuh tinggi putih dan wajah tampan rupawan datang ke salah satu surganya para wanita ini, apalagi dia datang sendirian. Bagaimana mereka tidak mengekor dan mencoba menggodanya?


Siapa tahu bisa berkenalan dan dapat nomor ponselnya, apalagi kalau sampai bisa berkencan dengannya, yah, walaupun itu hanya sekedar mimpi karena sedari tadi tidak ada satu pun dari mereka yang dipedulikan Kei.


Jungkook melambaikan tangannya, memanggil salah satu pelayan toko itu. "Ada yang bisa saya bantu, mas?" tanya pelayan itu dengan sedikit centil.


Kei mengernyitkan dahinya saat mendengar kata "mas" dari wanita yang jelas lebih tua darinya itu, "Apa mbak bisa membantu saya memilihkan produk untuk bibir?" tanya Kei sedikit bingung karena ia sendiri bingung apa yang sebenarnya ia cari.


"Produk untuk bibir? Maksudnya, lipstik? lips gloss? Lip tint? Lip balm? Atau lip butter?" tanya pelayan itu ikut bingung dibuatnya.


"Hah?" ucap Kei semakin bingung mendengar semua kata berawalan "Lips" itu. "Apa itu semua untuk bibir?" tanyanya dengan wajah menggemaskan seperti anak kecil yang kebingungan. "Aaah, lucunya! Apa boleh aku culik dan bawa pulang?" tanya pelayan itu dalam hati.


"Mbak!" panggil Kei berhasil membuyarkan fantasi gila pelayan toko itu, "tolong, pilihkan yang terbaik dari semua yang mbak sebutkan tadi dan aku mau yang warnanya merah muda karena aku ingin memberikannya untuk tunanganku," ucap Kei seraya tersenyum manis.


Tampak kekecewaan di wajah pelayan toko itu. Ucapan Kei tadi seperti tamparan yang membangunkannya dari dunia khayalnya. "Tentu saja, laki-laki tampan sepertinya memiliki paling tidak pacar dan tadi dia baru saja mengatakan tunangannya! Ya Tuhan, semuda ini sudah punya tunangan! Apa kabar aku yang masih jomblo sampai sekarang?" kata pelayan itu dalam hati. Ia pun berlalu begitu saja, menyiapkan pesanan konsumennya itu.

__ADS_1


***


Malam harinya, Putri berjalan mondar-mandir di samping mobil sport yang terparkir di halaman rumahnya. Ia ragu untuk masuk ke dalam mobil itu, padahal pemiliknya sudah lebih dulu masuk menunggunya.


Saat ini, perasaan Putri sungguh tidak karuan, terlebih bila ia mengingat kejadian semalam, saat Kei, sahabat mas kecilnya, dengan nakalnya mencuri ciuman pertamanya.


"Apa yang dilakukannya?" gumam Kei dari dalam mobilnya itu. Putri terperanjat saat kaca mobil itu terbuka. "Hei! Walaupun kaca mobilku hitam, aku bisa melihatmu dari dalam. Hahaha... Masuklah!" kata Kei berhasil membuat Putri diam di tempat.


"Kenapa aku melakukan hal yang memalukan seperti tadi?" rutuk Putri saat memasuki mobil Kei. Suasana menjadi hening! "Kenapa jadi canggung seperti ini, bahkan Putri tidak mau melihatku?" tanya Kei dalam hati. "Apa yang harus aku lakukan?" ucap Putri juga bertanya pada hatinya.


"Hmm... Put, aku minta maaf soal kemarin," kata Kei memulai pembicaraan. "Maaf? Maksudnya?" ucap Putri tidak mengerti. "Maaf karena aku sudah menciummu tanpa meminta izinmu terlebih dahulu. Apa kau marah?" tanya Kei.


Seketika, wajah Putri merona saat bayangan kejadian semalam terlintas lagi di benaknya, "Tidak. Aku tidak marah. Kak Kei tidak perlu minta maaf," jawab Putri sambil menyembunyikan wajahnya.


"Baiklah. Aku tidak akan mengulanginya lagi," balas Kei dengan tersenyum. "Hah? Apa? Kenapa?" tanya Putri langsung memalingkan wajahnya menatap Kei.


"Maksudku, aku tidak akan menciummu lagi, jika kau tidak suka," jawab Kei kikuk. "A-aku su-suka. Lakukan saja, jika Kak Kei mau... " ucap Putri pelan nyaris tidak terdengar. Kei yang mendengarnya hanya terdiam sambil mengulum bibirnya. Padahal dalam hatinya bersorak penuh kemenangan.


"Hm ... aroma ini... bukankah ini aroma lip balm yang aku coba di toko tadi?" ucap Kei dalam hati. "Kau pakai lip balm yang aku kirim, ya?" tanya Kei.


Kei menghela nafasnya panjang, "Kau ini kenapa? Tidak perlu berterima kasih seperti itu. Hadiah itu sebagai permintaan maafku untuk kejadian semalam," ucapnya, "apa lip balm-nya bagus? Apa kau suka?" lanjutnya.


Pikiran Putri yang belum pernah mengenal produk make up selain bedak bayi pun, kembali pada saat ia mencoba semua pemberian Kei tadi siang.


"Semua benda itu luar biasa! Hal terbaik yang pernah aku dapat dan lip balm ini, astaga! Bibirku jadi sangat lembut setelah memakainya, tidak masuk akal! Dan aroma strawberry ini, aaaah aku sangat suka!" jawab Putri sangat antusias, kembali seperti Putri yang biasanya, cerewet.


Kei tertawa kecil melihat tingkah imut Putri saat bercerita. "Kenapa dia tertawa? Apa aku berlebihan?" pikir Putri. "Benarkah? Saat di toko tadi aku hanya menghirup aromanya. Aku belum mencobanya di bibir," ucap Kei seraya tersenyum.


"Kenapa sekarang, dia malah tersenyum seperti itu?" tanya batin Putri. "Apa Kak Kei ingin mencobanya? Tapi, tadi aku sudah memakainya," tanya Putri polos.


"Eh? Maksudmu?" tanya Kei tidak mengerti. "Hmm? Aku sudah memakainya, berarti itu sudah bekas bibirku, 'kan? Apa Kak Kei mau?" ucap Putri begitu polosnya.


Kei yang sedari tadi fokus ke bibir cherry Putri, tiba-tiba menutup matanya dengan tangannya. "Kak Kei, kenapa?" tanya Putri bingung. "Ah, tidak apa-apa. Biarkan aku mencobanya," ucap Kei.

__ADS_1


"Sebentar, biar aku ambilkan," sahut Putri seraya menundukkan kepalanya untuk mencari lip balm yang mereka maksud di dalam tasnya. Tanpa Putri sadari, Kei semakin mendekatkan wajahnya ke arah Putri.


"Ah, aroma ini... Enak sekali!" kata Kei membatin. "Ini!" ucap Putri tiba-tiba mengangkat wajahnya dan memalingkannya ke arah Kei. "Ah! kenapa Kak Kei maju sedekat ini? Apa kita baru saja... " ucap Putri terpotong.


"Simpan saja lagi lip balm-nya, aku sudah mencobanya," ucap Kei. "Hah?" ucap Putri tampak bingung sambil menatap lip balm yang masih di ada tangannya.


"Kau baru saja memakaikannya untukku. Kau benar, ini sangat lembut. Mungkin setelah ini, aku juga harus memakainya," ucap Kei seraya membelai bibirnya sendiri. Lagi-lagi, Putri hanya diam mematung menahan malu, sedangkan Kei memilih melajukan mobilnya.


Hari ini tujuan kencan pertama mereka adalah bioskop dan saat menunggu film di mulai pun, mereka isi dengan mengobrol seperti biasa sampai, "Bisakah kau berhenti memanggilku Kak Kei?" tanya Kei.


"Lalu, aku harus memanggil apa? Abang Kei? Mas Kei? Pangeran es? Tuan muda Dexter?" canda Putri. Kei tidak menjawab, hanya memajukan bibirnya, merajuk.


Putri yang mendapat serangan keimutan pun mendadak blank, "Uuuhh, imutnya sayangku!" kata Putri seraya tanpa sadar mencubit gemas kedua pipi Kei, tapi Kei meraih tangan Putri, lalu menciumnya.


"Deal! Sayang!" ucap Kei. Lagi-lagi, Putri membeku dengan wajah memerah dibuatnya. "Kenapa dari semalam Kei berubah agresif seperti ini? Ini sungguh berbahaya untuk jantungku," ucap Putri dalam hatinya.


Kei pun ikut gemas melihatnya dan langsung memeluk Putri, "Imutnya!" ucapnya juga di sela pelukannya, "Sayang, wajahmu benar-benar memerah," goda Kei seraya mencubit hidung Putri.


"A-aku kepanasan," sahut Putri berkilah seraya mengipas-kipaskan tangannya di depan wajahnya. "Bohong! Kamu malu, 'kan?" ledek Kei.


"Tidak! Aku tidak malu! Ah, Kak Kei berhentilah menggodaku," sahut Putri. "Hmm? Kak Kei?" ucap Kei seraya memicingkan matanya. "Sa-sayang?" ucap Putri terbata dengan malu-malu, membuat Kei tersenyum. Kemudian, Kei menarik tangan Putri karena pintu teater sudah dibuka.


***


Sesampainya di depan rumah keluarga Adhitama, Kei memandang Putri yang duduk di sampingnya, "Dia belum bangun juga. Aku jadi tidak tega membangunkannya," ucapnya seraya membenarkan posisi kepala Putri dengan perlahan.


"Kau ini tidur atau pingsan?" ucap Kei yang membenarkan rambut Putri yang terjatuh di depan wajahnya dengan perlahan. Seketika, mata bulatnya tertuju ke bibir cherry Putri dan tanpa sadar, Kei mengecup bibir Putri, lagi!


Namun dengan cepat, Kei kembali menjauhkan bibirnya saat kesadarannya kembali. "Apa? Apa yang sedang aku lakukan? Putri 'kan sedang tidur," rutuk Kei kembali ke posisi duduknya di depan kemudi, takut jika Putri terbangun akibat ulahnya tadi.


Kei melirik ke arah Putri, "Apa dia masih tidur? Apa kejadian tadi bisa disebut pelecehan? Hanya ada kami berdua di sini, tidak ada saksi yang melihatnya! Lagipula, aku 'kan tunangannya! Bukankah tadi dia bilang tidak keberatan jika aku menciumnya," Kata Kei dalam hatinya, sedang melakukan pembenaran diri.


Sekali lagi, Kei melirik Putri dengan jantung yang berdebar saat atensinya kembali terfokus ke bibir dengan aroma strawberry itu. Lantas, dengan pelan, Kei pun menyusupkan tangannya ke belakang kepala Putri. "Sayang, jangan marah!" bisik Kei seraya kembali mencium bibir lembut yang sudah menjadi candu untuknya sejak kemarin.

__ADS_1


Kei menghentikan ciumannya dan memperhatikan wajah Putri dengan seksama. "Sayang, kau tidak bangun? Apa aku boleh menciummu lagi? Bibirmu sangat lembut dan manis. Aku menyukainya," ucapnya yang memiringkan kepalanya dengan wajah imutnya yang tampan.


Melihat Putri yang masih memejamkan mata, Kei pun kembali mencium bibir itu. Sampai pada akhirnya, Kei harus menggendong Putri sampai ke kamarnya karena Putri yang tidak kunjung bangun. "Selamat malam, Putri tidurku," ucap Kei seraya mencium kening Putri sebelum ia kembali pulang ke rumahnya.


__ADS_2