Jantung Hati

Jantung Hati
Mungkin Saja


__ADS_3

Keesokan paginya, "Kau sudah bangun, sayang?" tanya Kei. Suara Kei sontak mengejutkan Putri yang baru saja terbangun dari tidurnya, terlebih saat ia melihat posisi Kei saat ini. "Kenapa sayang... ?" ucap Putri terpotong.


"Maafkan aku, semalam aku mabuk," ucap Kei seraya berlutut menghadap Putri, "sayang, aku tidak berniat melecehkanmu atau semacamnya. Aku tidak bermaksud memaksamu, apalagi menyakitimu. Aku tidak sadar bila aku melakukan sesuatu padamu. Aku hanya... malam tadi... kau tahu 'kan... aku mabuk... aku... jadi... hmm... apa aku melakukan sesuatu? Apa kau marah?" lanjut Kei dengan wajah panik.


"Tidak. Kita tidak melakukannya. Sudahlah, aku tidak marah," jawab Putri. "Benarkah?" tanya Kei berharap dan Putri pun mengangguk. "Serius?" tanya Kei sekali lagi dan Putri pun kembali mengangguk.


"Syukurlah!" ucap Kei seraya menghela nafasnya panjang. Rasanya, sangat lega setelah mengetahui kebenarannya karena sejak terbangun tadi, Kei sudah sangat panik saat mendapati dirinya yang tertidur satu ranjang dengan Putri.


"Tapi yang sayang lakukan tadi malam juga berlebihan," ucap Putri datar. "Apa? Apa yang sudah aku lakukan?" tanya Kei kembali panik. "Apa sayang tidak ingat sama sekali?" tanya Putri.


Kei yang tidak ingat, menggelengkan kepalanya dengan tatapan puppy eye-nya seolah bersiap memohon ampunan pada majikannya.


"Ya ampun! Dia lucu sekali! Aku jadi tidak tega mengerjainya," pikir Putri. "Ehm!Sudahlah, lupakan saja! Lagipula aku masih utuh seperti semula," ucap Putri santai.


"Ada! Ada, 'kan!? Pasti ada yang sudah aku lakukan padamu. Sayang, maafkan aku. Apa aku menyakitimu?" ucap Kei seraya langsung mendekati Putri dan menggenggam tangannya.


"Tidak ada," jawab Putri singkat. "Benarkah? Kau tidak berbohong, 'kan?" tanya Kei yang masih ragu dengan dirinya sendiri. "Iya, benar. Aku tidak berbohong," jawab Putri berusaha meyakinkan.


"Syukurlah," ucap Kei lega. "Hmm... " Putri memeluk Kei. "Kenapa?" tanya Kei yang membalas pelukan Putri. "Aku senang karena tadi malam sayang mau mendengarkanku dan mengerti aku," jawab Putri.


"Benarkah?" tanya Kei yang masih tidak ingat apa-apa. Putri menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku akan selalu seperti itu untukmu," ucap Kei seraya mengecup lembut pucuk kepala Putri seraya mempererat pelukannya, hingga saat dua insan itu saling menatap dan mengakhiri percakapan mereka dengan sebuah ciuman lembut.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" suara deep Vincent mengejutkan mereka berdua. "Putri! Kembali ke kamarmu sekarang!" titah Vincent dengan nada tinggi. Kei pun melepaskan pelukannya dari tubuh Putri.


"Abang, ini bukan..." kata Putri seraya menghampiri Vincent, berniat menjelaskan apa yang terjadi. "Aku bilang, kembali ke kamarmu sekarang!" bentak Vincent dengan sangat keras tepat di hadapan Putri.


Putri membeku dengan air mata yang mulai mengalir. Baru kali ini, abang kesayangannya ini membentaknya sekeras ini. Putri pun berlari menuju kamarnya. "V, kau salah paham..." ujar Kei yang berusaha menenangkan Vincent.


"Dan, kau!" tunjuk Vincent pada Kei, "lebih baik kau pulang sekarang!" lanjutnya dengan tatapan tajam yang belum pernah ia berikan pada sahabatnya itu. Kei yang tidak ingin memperkeruh suasana pun memutuskan untuk pergi.

__ADS_1


Setelahnya, Vincent kembali ke kamarnya, menyalurkan emosinya dengan memporak-porandakan seisi kamarnya. Sakit yang sekarang ia rasakan setelah melihat Putri dan Kei tadi. "Aaaaahhrg! Sial! Apa tadi malam mereka tidur bersama?" ucap Vincent seraya memukul dinding di hadapannya.


Sementara itu, Putri hanya menangis setelah menerima bentakan Vincent tadi. Vincent tidak pernah semarah itu padanya, "Kenapa abang begitu marah, bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku sama sekali!" pikir Putri seraya memeluk kedua lututnya.


***


Beberapa hari sudah berlalu, tapi Putri tidak bisa menjelaskan apa-apa pada Vincent karena sejak hari itu, Vincent selalu menghindarinya. Untuk kesekian kalinya, Putri memasuki kamar Vincent, tapi hasilnya tetap sama seperti beberapa hari ini.


Kamar Vincent gelap dan sunyi. "Apa abang benar-benar marah?" gumam Putri. Entah jam berapa, Vincent akan pulang ke rumah, Putri bahkan sampai tertidur di ruang tamu hanya untuk menunggunya pulang.


Nmaun, sampai paginya saat Putri bangun, Vincent sudah pergi ke sekolah lebih awal. "Aku kesepian..." kata Putri membatin karena selain Vincent yang menghindarinya, Kei juga sedang sakit setelah ia mabuk malam itu, sehingga tidak bisa menemui Putri.


***


Kei terpaku melihat Putri yang datang ke rumahnya tanpa mengabarinya terlebih dahulu, terlebih ini sudah larut malam, "sayang, ada apa?" tanyanya seraya menghampiri Putri, "aku pikir kau sudah tidur karena tidak membalas chat-ku. Kenapa kau kesini? Ada apa? Hmm?" lanjutnya.


"Maaf, aku hanya ingin bertemu denganmu," jawab Putri dengan air mata yang mulai menggenang di kedua matanya. "Sejak kejadian itu, abang tidak mau bicara denganku, bahkan tidak mau bertemu denganku. Ia baru pulang saat aku sudah tidur dan pergi sebelum aku bangun. Apa abang benar-benar tidak mau memaafkanku?" ucap Putri dengan derai air mata yang sudah tidak bisa ditahannya, "apa abang membenciku?" lanjutnya.


"Tidak apa-apa. Menangislah, jika kau mau," ucap Kei membelai lembut surai panjang Putri. "Terima kasih, sayang selalu bisa membuatku tenang," sahut Putri yang memeluk tubuh Kei sambil kembali menangis.


"Hmm? Kalau sayang mau, aku akan menemanimu sepanjang malam. Jangan khawatir, aku janji tidak akan melakukan apapun. Bukankah sudah aku katakan aku akan selalu ada untukmu? Jadi, biarkan aku bersamamu malam ini," ucap Kei seraya balas memeluk Putri mencoba menenangkannya.


Beberapa saat kemudian, di kamar Kei, "sayang, maafkan aku... " ucap Putri yang menenggelamkan wajahnya di bawah bantal.


"Maaf? Untuk apa?" tanya Kei yang duduk di samping Putri, "untuk datang tengah malam ke rumahku? Untuk menangis lama dalam pelukanku? Atau untuk membasahi bajuku dengan air mata dan ingusmu? Hehehe..." goda Kei sambil tertawa.


"Maafkan aku..." lirih Putri sambil menahan malu. "Kemarilah!" ucap Kei yang meraih tubuh mungil Putri, menariknya agar mendekat padanya. Ia memeluk Putri dari belakang dan meletakkan kepalanya di bahu Putri, "tidak apa-apa. Aku senang bisa menemanimu menangis," ucapnya lembut.


Kei memeluk Putri yang tertidur di sampingnya. "Ada apa denganmu, V? Kenapa kau berubah semenjak aku mengatakan perasaanku?" tanya Kei dalam hati.

__ADS_1


Kei meraih ponselnya lalu pergi keluar kamar. Ia kembali mencoba menghubungi Vincent, walaupun sudah beberapa hari ini Vincent tidak pernah menjawab panggilannya.


"Malam itu, tidak ada yang terjadi antara aku dan Putri. Percayalah! Jangan marah pada Putri! Kau membuatnya sedih. Sekarang Putri ada di rumahku. Dia baru saja tertidur setelah menangis lama. Aku sudah minta izin pada orangtuamu. Malam ini, Putri akan bermalam di rumahku, tapi tenanglah, aku tidak akan macam-macam. Jangan menghindarinya lagi!"


Itu yang ditulis Kei pada chat yang ia kirimkan untuk Vincent karena panggilannya yang tidak kunjung dijawab. Kei duduk di sofa yang menghadap ke ranjangnya, memperhatikan Putri sedang terlelap.


"V, sebenarnya aku berharap kecurigaanku padamu salah, tapi jika sikapmu seperti ini terus, aku semakin yakin dengan dugaanku. Sepertinya, bukan hanya aku yang menyukainya. Apa aku benar, kau juga sama sepertiku?" kata Kei dalam hati.


"Walaupun Putri sudah memilihku, tapi rasanya tetap menjengkelkan jika melihat sikap over protektif-mu padanya. Sekarang, akulah yang mulai posesif untuk memilikinya. Aku ingin, hanya aku seorang yang ada di hatinya. Dan entah sejak kapan, aku merasa kau sebagai ancaman untukku!" lanjut Kei dalam hatinya.


***


"Sayang, bangunlah!" ucap Kei seraya menutup bibir Putri dengan tangannya. Putri pun mulai membuka matanya. "Bangunlah! Kalau kita tidak pergi ke rumah sayang sekarang, nanti sayang terlambat ke sekolah," kata Kei.


"Aku akan mengantarkan sayang sampai rumah, tapi karena hari ini aku masih izin sakit, aku tidak bisa menemanimu sampai ke sekolah. Ini... aku juga sudah menyiapkan kantung es untuk mata sayang," kata Kei yang membuat Putri meraba kedua matanya.


"Aaah, mataku bengkak! Sayang, jangan lihat aku. Sekarang aku pasti jelek," ucap Putri menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya. "Tidak apa-apa. Untukku kamu selalu cantik, kok, sayang," sahut Kei seraya terkekeh melihatnya.


***


Sesampainya di depan kediaman Adhitama, "Astaga, dia benar-benar tidur lagi!" gumam Kei terkekeh melihat Putri yang kembali tertidur di sampingnya. Beberapa kali, Kei menyentuh bibir Putri, tapi tunangannya itu seperti enggan untuk bangun.


"Yang, bangun! Sudah sampai," ucap Kei sambil beberapa kali, menggoyang-goyangkan bahu Putri, tapi tetap tidak berhasil. Putri benar-benar tidak terbangun karena terlalu mengantuk akibat terlambat tidur karena menangis sepanjang malam.


"Padahal aku sudah janji tidak akan menciumnya saat dia tidur, tapi saat ini aku tidak mungkin menggendongnya ke dalam. Kalau tidak bangun sekarang, nanti dia terlambat. Masa bodoh! Suka-suka aku saja lah!" gumam Kei, lalu mencium bibir Putri sekilas dan berhasil membuat Putri membuka matanya.


Mereka pun akhirnya, saling tatap. "Sayang... Kamu belekan. Hahaha..." ucap Kei saat Putri membuka matanya. Dengan cepat, Putri pun memalingkan wajahnya dan menyapu kedua matanya. "Sayang, kamu jahat. Aku mau turun," kata Putri merajuk karena Kei mengerjainya seraya menarik ganggang pintu mobil.


Dengan cepat, Kei memeluk pinggang Putri dari belakang, "Jangan marah. Aku hanya bercanda," ucapnya, "cukup malam tadi, jangan menangis lagi, berjanjilah!" lanjutnya dengan lembut.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang lepaskan pelukan sayang dulu. Aku ingin pergi sekolah," pinta Putri, tapi bukannya melepaskan, Kei malah mempererat pelukannya.


"Sebentar lagi. Sayang, aku jadi tidak ingin melepaskanmu. Haruskah aku membawamu pulang lagi ke rumahku?" ucap Kei pelan seraya membenamkan wajahnya di bahu Putri. "Hahaha, sayang, kau membuatku merinding mendengarnya," sahut Putri geli.


__ADS_2