Jantung Hati

Jantung Hati
Minta Maaf, Tidak!


__ADS_3

...Putri,...


...Aku sedih karena harus lebih dulu meninggalkanmu, tapi aku harap kau selalu bahagia di sana, walaupun tanpa aku....


...Percayalah, aku akan selalu menjagamu dari sini....


...Tapi, ada satu hal yang mengganjal di hatiku sejak malam itu....


...Sungguh, hal itu sangat aku sesalkan....


...Sekali lagi, aku mohon maafkan aku....


...Aku berpikir bagaimana jika kau hamil setelahnya. ...


...Siapa yang akan menjagamu dan bayimu di sana, tapi aku juga tidak tahu, jika kau hamil, apakah itu anakku atau Kei. ...


...Oleh karena itu, ini permintaan terakhirku pada kalian berdua. ...


...Jika kau benar hamil, maka lakukanlah tes DNA untuk anak itu setelah kau melahirkannya. ...


...Aku sudah menyiapkan hasil DNA-ku. ...


...Aku minta Kei untuk melakukannya juga....


...Dan kau, Kei Alexis Dexter,...


...Aku tahu, kau masih mencintai Putri....


...Maafkanlah kesalahan kami berdua....


...Jika anak itu anakku, aku akan mewariskan seluruh kekayaanku untuknya dan Putri. ...


...Tapi, jika anak itu anakmu, menikahlah dengan Putri. ...


...Kau mau kan, mengabulkan permintaan terakhir sahabatmu ini? ...


...Anggap saja aku menagih bayaran atas jantung yang kuberikan....


...Vincent Adhitama. ...


***


Putri menangis membaca surat wasiat itu, sedangkan Kei hanya terdiam membacanya. Hanya ada isak tangis Putri yang meliputi keheningan di ruangan ini. "Baiklah. Aku akan melakukan tes DNA," kata Kei memecah keheningan.

__ADS_1


Sontak, Putri menoleh ke arahnya, menatap wajah tampannya yang penuh keyakinan. Jimmy tersenyum mendengarnya, "Baiklah. Kalau begitu besok kita akan melakukannya. Bukankah lebih cepat lebih baik?" katanya.


***


"Abang, aku datang..." ucap Putri seraya berlutut di depan makam Vincent, "maaf, aku sudah tidak bisa sering mengunjungi abang. Aku semakin sibuk mengurus si kembar. Apa abang tahu, mereka sangat lucu dan menggemaskan. Andai abang bisa melihat mereka..." ucapnya seraya menyeka air matanya.


"Aku juga sudah membaca surat wasiat abang. Apa abang melakukan semua ini demi aku, bahkan sampai sejauh ini?" ucap Putri dengan air mata yang kembali menetes tanpa bisa ia tahan.


Putri menghela nafasnya, dadanya mulai terasa sesak karena tangisannya. "Rasanya, aku masih tidak percaya abang sudah meninggalkanku... belum... masih belum... Aku masih sangat merindukan abang," lirihnya.


Setelah puas meluapkan rasa rindunya, Putri pun beranjak pergi. Tanpa Putri sadari, sedari tadi, Kei menunggunya pergi dari dalam mobilnya. Setelah memastikan Putri telah pergi, Kei pun beranjak keluar dari mobilnya untuk menemui sahabatnya.


Tidak ada bunga yang pernah ia bawa karena memang ia tidak ingin ada yang tahu bahwa ia sering mengunjungi sahabatnya ini seorang diri, terlebih oleh Putri.


Lama, Kei duduk dan bicara di depan makam itu, hingga sebuah kalimat yang ia ucapkan mengakhiri percakapannya dengan sahabatnya, "Meskipun anak itu bukan anakku, aku akan tetap menikahinya. Jadi, kau doakan saja lamaranku kali ini tidak ditolaknya lagi," ucapnya sebelum pergi dari makam itu.


***


Keesokan harinya, sesuai permintaan Putri, tes DNA dilakukan pada waktu yang terpisah. Kei lebih dulu melakukannya karena jadwal pekerjaannya yang padat, sedangkan Putri baru saja datang bersama Tuan dan Nyonya Adhitama dan tentunya bersama si kembar juga.


Karena Putri sudah ada janji menemani Sasa belanja, maka setelah dari rumah sakit, si kembar lebih dulu pulang bersama kakek dan neneknya.


Setelah selesai belanja, Sasa mengajak Putri mampir ke sebuah bar dan Sasa memaksa Putri untuk menemaninya minum sambil curhat masalah asmaranya dengan Jimmy. Dan akhirnya, Putri yang memang lemah pada alkohol pun tumbang di atas salah satu meja bar itu.


Walaupun samar-samar, Putri juga masih bisa mendengar percakapan Sasa dan Jimmy. "Apa kau yakin dia sudah mabuk?" tanya Jimmy pada Sasa. "Iya. Cepat bantu aku membawanya sebelum dia sadar," jawab Sasa.


"Apa kau yakin ini akan berhasil? Astaga, aku seroang pengacara dan kau memintaku melakukan tindakan kriminal! Untung sayang!" ucap Jimmy. Setelah itu, Putri tidak bisa mendengar apa pun lagi.


***


Jimmy dan Sasa tampak memperhatikan sebuah villa mewah di depannya, "Sedang apa sih, sepupumu itudi sini? Kita 'kan jadi jauh mengantarnya," gerutu Jimmy. "Dia bilang, ada urusan bisnis di sekitar sini. Jadi, sehabis dari rumah sakit tadi, dia langsung ke sini. Cepatlah, antar Putri ke dalam. Kalau dia bangun, bahaya!" kata Sasa.


"Kenapa harus aku yang mengantarnya ke dalam? Bukankah di dalam jauh lebih berbahaya!" tolak Jimmy yang mengingat betapa galaknya Kei saat menatapnya. "Baby, aku tidak kuat mengangkatnya. Lagipula, kalau aku yang mengantar, bisa-bisa Kak Kei membunuhku!" sahut Sasa.


"Lalu, apa kau pikir, jika aku yang ke dalam, sepupumu itu tidak akan membunuhku di tempat, hah!" kata Jimmy. "Aku sengaja membuatnya cemburu. Cepatlah, antar dia!" suruh Sasa seraya mendorong Jimmy keluar mobil.


***


Mendengar bel villanya berbunyi, Kei pun segera membuka pintu, "Kau!" ucapnya terkejut saat melihat Jimmy yang datang seraya memapah tubuh Putri. Kei sadar kalau Putri sedang mabuk, ia pun lantas menarik tubuh Putri ke dalam dekapannya agar menjauh dari tubuh Jimmy.


"Apa yang kau lakukan, hah!" tanya Kei pada Jimmy dengan tatapan tajam. Jimmy menelan kasar air liurnya, "Tidak ada. Tadi Putri sedang minum bersama Sasa dan Sasa menyuruhku mengantarkannya ke sini," jawabnya seraya memasang senyum andalannya.


"Apa! Sasa..." belum selesai Kei bicara, Jimmy langsung menyela, "Karena Putri sudah sampai dengan selamat, jadi aku pulang dulu, ya!" katanya seraya memasang langkah seribu untuk kabur sebelum tempat itu berubah menjadi kuburannya.

__ADS_1


"Hei!" teriak Kei tapi Jimmy sudah melajukan mobilnya. "Sasa? Pasti ini ulah anak itu lagi! Kali ini, apalagi yang ia rencanakan?" gumam Kei di depan pintu. Lantas, ia pun membawa Putri masuk ke dalam villanya.


Putri menggeliat dalam dekapan Kei, "Kei Alexis Dexter...Pangeran es... Bayi galak... Apa ini kau?" tanyanya dengan gaya bicara khas orang mabuk sambil menangkup wajah Kei dengan kedua tangannya.


Wajah Kei pun seketika memerah ketika wajah mereka begitu dekat, "Iya, ini aku. Sekarang duduklah dulu!" sahut Kei seraya mendudukkan Putri di sofa. Tiba-tiba Putri tertawa riang di depan Kei, "Apa kau tahu, hari aku bahagia sekali. Sasa bilang dia akan segera menikah," ucapnya.


"Bicara apa dia?" pikir Kei dalam hati seraya mengerutkan dahinya, "Iya. Sekarang lebih baik kau istirahat. Besok aku akan mengantarmu pu- ..." ucap Kei terhenti karena mendengar ucapan Putri. "Aku juga ingin menikah denganmu, Kei..." ucap Putri pelan dengan nada sendu seraya menundukan wajahnya.


Deg! Deg! Deg! Seketika Kei membeku mendengarnya. "Aku ingin menikah denganmu lagi, brengsek..." ulang Putri dengan lirih dan masih tertunduk. "Pu-Put..." panggil Kei dengan terbata.


"Aku pikir, semua akan membaik saat kau sadar..." kata Putri terdiam sejenak, menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "tapi ternyata saat itu aku juga baru sadar, aku memang tidak pantas untukmu," lanjutnya mulai terisak.


"Siapa yang bilang kau tidak pantas untukku?" tanya Kei kesal. Putri mendongakan wajahnya menatap Kei dengan imut, "Kau!" jawabnya singkat. "Hah!" kata Kei tertegun mendengarnya.


"Saat kau sadar, kau menyebutku wanita murahan..." lanjut Putri seraya kembali menundukan wajahnya sedih, "aku tahu, aku memang pantas kau sebut wanita murahan karena sudah tidur dengan pria lain selain kau, tapi itu bukan keinginanku..." katanya dan tangis Putri pun pecah. Kei berlutut di hadapan Putri, "Maaf... Maafkan aku..." ucapnya seraya menyentuh kedua lengan Putri.


"Setelah itu... hiks... seharian aku menunggumu untuk menemuiku... hiks... tapi... hiks... bahkan kau tidak menghubungiku sama sekali... hiks... Setiap hari... aku menunggumu... minta maaf padaku... hiks... kau membuatku kecewa... hiks... Aku benci... hiks... Kau membuatku menunggu selama seminggu... hiks... Tapi setelah itu... kau datang bukannya minta maaf... malah melamarku... hwaaa..." tangis Putri semakin kencang seperti anak kecil.


"Dasar bodoh! Seharusnya, kau minta maaf dulu padaku... bukannya membujukku, kau malah pergi begitu saja setelah aku menolak lamaranmu sekali! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Harusnya, kau lamar aku lagi!" lanjut Putri lagi sambil menangis.


Kei ternganga mendengarkan suara hati putri yang sesungguhnya, "A-aku kira kau benar-benar tidak ingin menikah denganku," ucapnya ragu seraya menggaruk-garuk tengkuknya. "Kau juga sudah melupakanku!" lanjut Putri memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.


"Aku melupakanmu? Apa maksudmu?" tanya Kei bingung. "Kau melupakanku dengan para wanita jelek itu!" kata Putri kembali menangis, "kau brengsek! Berapa wanita yang sudah kau kencani, hah!" rengeknya seperti anak kecil yang sedang kesal.


Kei tersenyum mendengarnya, "Mereka bukan pacarku. Aku sengaja membayar mereka untuk membuatmu cemburu," jelasnya dengan suara lembut.


Putri terdiam seraya mengerjap-ngerjapkan matanya, mencoba mencerna perkataan Kei yang baru saja dia dengar, "Bohong! Kau pasti membohongiku!" ucapnya seraya memicingkan matanya menatap Kei.


"Sungguh, aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. A-aku... aku... aku alergi pada wanita..." jawab Kei pelan di akhir kalimat, "aku tidak tertarik dengan wanita," jelasnya lagi sambil menyembunyikan wajahnya yang malu.


Putri memiringkan wajahnya mencari wajah Kei, "Apa kau pikir aku bodoh?" tanyanya datar. "Maksudmu?" tanya Kei bingung seraya mengangkat wajahnya lagi. Putri memicingkan matanya sinis pada Kei.


"Kalau memang kau tidak tertarik pada wanita, kenapa kau bisa melakukannya padaku? Bahkan kau itu sangat agresif di atas ranjang sampai aku kewalahan! Selihai itu membuatku mendesah masih bilang tidak tertarik dengan wanita!" ucap Putri santai dengan menunjuk hidung Kei.


Blush! Seketika Kei teringat kejadian malam itu yang membuat wajahnya semakin memerah, "Aku juga tidak tahu, tubuhku hanya bereaksi padamu!" ucapnya malu, tapi tiba-tiba ekspresi wajah Kei berubah kesal.


"Bukan hanya aku, kau juga kenapa memeluk pengacara sialan itu di depanku? Kau bahkan membiarkannya mencium keningmu!" ucap Kei kesal, "tadi juga, dia yang mengantarmu ke sini. Apa hubungan klien dan pengacaranya sedekat itu!" ucapnya seperti sedang merajuk.


"Jimmy bukan pacarku, dia hanya pengacaraku," jawab Putri santai. "Kau pasti berbohong!" ucap Kei tidak percaya. "Jimmy itu pacarnya Sasa," sambung Putri datar. "Mana mungkin! Sasa tidak pernah cerita padaku," bantah Kei. "Mereka akan segera menikah," lanjut Putri dengan menekankan kata terakhir.


Kei terdiam, lalu memalingkan wajahnya menatap Putri, "Jadi, dari semalam aku cemburu dengan orang yang salah?" rutuknya dalam hati. Kei kembali memandang Putri dengan lembut, "Kenapa kau baru bilang sekarang?" ucapnya sangat lembut.


"Entahlah..." jawab Putri seraya membalas tatapan Kei, "mungkin karena kita sedang bersama, aku jadi teringat terus semua hal indah yang pernah kita lalui bersama," ucapnya lembut.

__ADS_1


"Put..." sebut Kei seraya membelai lembut pipi Putri, menyibakan rambutnya ke telinganya. "Aku lelah, Kei... Aku lelah menunggumu memulainya..." lirih Putri seraya menatap Kei dengan lekat.


__ADS_2