
Setahun lebih setelah kepergian Vincent, sudah lama Putri tidak mengunjungi makam almarhum suaminya itu karena Putri baru saja melahirkan empat bulan lalu, sepasang bayi kembar yang cantik dan tampan.
...Melahirkan? Anak siapa? Anak Vincent atau Kei? Apa Putri akhirnya menikah dengan Kei atau tetap menjanda? Bagaimana dengan transplantasi jantung Kei? Apa Kei masih hidup? Oke! Author jawab......
Kei masih hidup. Transplantasinya berhasil dan sekarang Kei sangat sehat, tapi kalau kalian pikir, setelah Kei sadar, ada adegan romantis seperti di film-film. Seperti Kei yang menemui Putri untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpisah oleh takdir.
Lengkap dengan kuda putihnya, bak seorang pangeran yang sedang menanti kedatangan tuan putri tercintanya. Lama, saling menatap terpaku dalam diam dan derai air mata. Kemudian, berlari menghambur ke dalam pelukan untuk saling melepas rindu.
Saling bercerita tentang rasa cinta dan mengikat janji suci bersama. Tidak! Adegan itu hanya ada di drakor terbaru, tidak dalam hidup Putri dan Kei.
***
Setelah menitipkan si kembar pada ayah bundanya, Putri pergi ke sebuah club ternama di kota ini untuk menghadiri pesta ulang tahun Sasa.
Ini memang bukan kali pertama Putri pergi ke club. Saat bersama Vincent, mereka sering clubbing bersama, tapi ini pertama kalinya ia pergi tanpa Vincent.
Apalagi Putri baru melahirkan, rasanya agak sedikit aneh harus meninggalkan si kembar dan pergi bersenang-senang seorang diri. Terlebih tadi, Putri sedikit kesulitan menemukan baju yang pas di badannya.
Walaupun sudah dengan susah payah selama empat bulan ini, Putri berhasil mengembalikan perut ratanya, tetap saja ada bagian yang berubah, membesar dan semakin sintal, sedangkan tidak ada waktu untuk membeli yang baru.
Karena awalnya, Putri memang berniat menolak undangan Sasa, tapi apa daya Sasa tetap memaksanya untuk datang sejam yang lalu dan dengan terpaksa Putri pun datang karena tidak ingin mengecewakannya, walaupun ada kemungkinan ia akan bertemu dengannya di sini.
Dengan perasaan ragu, Putri melangkahkan kakinya memasuki club itu. Putri mengedarkan pandangannya ke sepenjuru ruangan, mencari keberadaan Sasa, berniat setelah mengucapkan selamat dan memberi hadiah, ia akan langsung pamit pulang sebelum bertemu dengan seseorang yang tidak ingin ia temui saat ini.
Akhirnya, Putri menemukan sosok yang sedari tadi ia cari. Tampak di sebuah meja yang berada di tengah ruangan club, Sasa sedang berbicara dengan beberapa tamunya yang lain. Putri pun lantas menghampirinya.
"Putri!" sapa Sasa seraya tersenyum manis dan melambaikan tangannya saat melihat Putri yang berjalan ke arahnya. "Happy birthday!" ucap Putri seraya mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya itu, "dan ini untukmu," lanjutnya sambil menyerahkan hadiah untuk Sasa.
"Terima kasih. Duduklah, kau mau minum apa?" tanya Sasa. "Maaf, tapi sepertinya, aku akan langsung pulang. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan si kembar," ucap Putri mencoba menolaknya dengan menjadikan anaknya sebagai alasan.
"Tidak! Kau baru saja datang. Kenapa harus langsung pulang? Tenang saja, paman dan tante pasti menjaga si kembar dengan baik!" bujuk Sasa. "Tapi... kau tahu 'kan alasanku yang sebenarnya?" sanggah Putri dengan ragu.
Sasa memajukan kedua bibirnya karena tahu alasan yang tidak terbantahkan dari Putri, "Baiklah, tapi tunggu dulu sebentar, ada seseorang yang ingin aku kenalkan padamu," kata Sasa.
Belum sempat Putri menjawab, Sasa terlebih dulu melenggang dengan bahagianya. Putri pun hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia mulai mengatur posisi yang nyaman untuk menunggu Sasa.
Sesekali, Putri kembali mengedarkan pandangannya, berharap tidak menemukannya di sini, tapi atensinya berhenti pada satu titik di seberang tempat duduknya.
__ADS_1
Pria itu tersenyum sinis pada Putri saat mata mereka akhirnya bertemu, sambil mempererat pelukannya pada pinggang wanita yang sedang duduk di pangkuannya.
Entah kenapa, melihat hal itu dada Putri tiba-tiba terasa panas, "Nice try!" gumam Putri. Ia meraih segelas minuman yang ada di depannya dan menenggaknya sampai habis tak bersisa, membuat dadanya semakin terasa panas.
Karena dasarnya, Putri memang gila, akhirnya, ia pun tidak mau kalah dengan pria itu. Putri berjalan menuju dance floor dengan senyuman yang tak kalah sinisnya menghiasi wajah cantiknya itu. Sejurus kemudian, pria itu mencium pipi wanitanya, sangat sengaja membuat Putri cemburu.
"Baiklah, kalau itu maumu, akan aku ikuti permainanmu, Kei Alexis Dexter!" ucap Putri kesal. Putri menyibak rambut indahnya ke samping, memberitahu dunia punggung mulusnya dan betapa seksi leher jenjang seorang Putri Adhitama.
Putri pun mulai mengayunkan tubuh indahnya dengan eksotis sesuai irama musik yang memenuhi ruangan itu. Sesekali, paha putih mulusnya mengintip dari balik mini dress merahnya malam ini.
"It's work!" batin Putri pun bersorak. Akhirnya, semua mata pria yang ada di sana tertuju padanya, tidak terkecuali mata bulat Kei, bahkan Kei sampai terdiam sambil menatap tajam ke arah Putri.
Putri pun tersenyum puas melihatnya, "Come on boy! I'm much better than her!" ucapnya dalam hati. "Hi!" sapa seorang pria tampan pada Putri dengan senyuman manisnya, "sendirian?" lanjutnya lagi. "Iya," jawab Putri singkat.
"Jimmy, boleh join?" tanyanya sopan seraya mengulurkan tangannya. "Putri," balas Putri menyambut uluran tangan itu. "Nama yang cantik seperti orangnya," ucap Jimmy seraya mencium punggung tangan Putri.
"Thanks!" balas Putri seraya melirikan matanya ke arah Kei. "Apa kau melihatnya, Kei?" kata Putri dalam hatinya dengan smirk di wajah cantiknya. Masih dengan tatapan tajamnya, Kei bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Putri sambil menggandeng tangan Jennie, wanitanya itu.
"Siapa?" tanya Jimmy membuyarkan lamunan Putri, "kuperhatikan dari tadi kau melihat pria itu terus?" tunjuk Jimmy pada Kei. "Mantan?" tanyanya lagi. Putri gelagapan mendengar pertanyaan Jimmy, "Tidak. Dia bukan siapa-siapa," bohongnya.
Sontak, membuat wajah Jimmy memerah karena kaget. Kei mengerutkan keningnya. Kemudian dengan cepat, Kei memeluk Jennie sambil melemparkan senyuman sinisnya pada Putri.
Sesekali, Jimmy menoleh ke arah Kei dan Putri. Sedari tadi, ia memperhatikan tingkah konyol mereka berdua. Setelah mengerti, Jimmy pun tersenyum dan melingkarkan tangannya di pinggang Putri.
"Biar kubantu," bisik Jimmy di telinga Putri. Tiba-tiba, Jimmy mencium kening Putri. Bukannya marah, Putri malah tersenyum dan lagi-lagi melayangkan senyum sinis pada Kei.
Ekspresi Kei berubah sangat marah, tapi perlahan ia kembali tersenyum sinis dan tanpa malu, langsung mencium bibir Jennie di depan mata Putri.
Putri terkejut, hatinya sakit. Rasanya, ingin sekali ia menangis. "Brengsek kau, Kei!" umpatnya dalam hati seraya melepaskan tangannya dari leher Jimmy. "Kau menang, Kei," lirihnya seraya menundukan kepalanya menahan air matanya.
Seperti mengerti perasaan Putri saat ini, Jimmy memeluknya dan membawanya pergi dari sana. Saat akan kembali ke mejanya, Sasa datang menghampiri mereka. "Dari mana saja kalian? Aku sudah lelah mencari kalian dari tadi," ucapnya kesal.
"Kalian?" tanya Putri dan Jimmy bersamaan. "Iya, kalian!" sahut Sasa ketus. "Put, kenalkan dia Jimmy, kekasihku. Dia baru saja menyelesaikan kuliah hukumnya di luar. Kau kenalkan tuan Subrata 'kan, pengacara keluarga Adhitama, keluargamu itu? Dia putranya," jelas Sasa.
"Keluarga Adhitama?" tanya Jimmy menyela, "jangan-jangan! Apa kau istri almarhum Vincent Adhitama?" tanyanya lagi. Putri tersenyum dan mengangguk.
Jimmy tampak bingung menatap Putri. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Kei, lalu kembali menatap Putri dengan jari telunjuknya yang mengarah pada Putri dan Kei secara bergantian. "Aaah, aku mengerti sekarang!" ucap Jimmy tersenyum, sedangkan Putri dan Sasa mengernyitkan dahi tanda tidak mengerti.
__ADS_1
Jimmy melingkarkan tangannya di pinggang Sasa, kemudian tersenyum. "Sepertinya, setelah ini, kita akan sering bertemu, Nyonya muda Adhitama," ucapnya. Putri dan Sasa pun hanya saling pandang karena tidak mengerti maksud Jimmy.
Setelahnya, Putri pun langsung memutuskan untuk pulang karena ia sudah merindukan dua malaikatnya. Jimmy yang menatap kepergian Putri pun berkata, "Bagaimana bisa tubuhnya seindah itu? Apa benar dia baru saja melahirkan?" tanyanya.
Sontak, Sasa membulatkan matanya mendengar perkataan kekasihnya itu. "Apa! Apa maksudmu, hah? Apa kau menyukai Putri? Dasar mata keranjang! Apa tidak cukup aku saja yang kau perhatikan? Tunggu! Bagaimana kau bisa tahu Putri baru melahirkan?" bentaknya.
"Ah! Apa kau menguntitnya selama ini?" tanya Sasa lagi seraya menutup mulutnya dengan tangannya. Jimmy tertawa terbahak melihat reaksi lucu kekasihnya itu saat cemburu.
"Jimmy!" bentak Sasa seraya menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang tidak ingin mainannya direbut. Dengan susah payah, Jimmy menghentikan tawanya.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku menguntitnya, sedangkan aku baru 2 hari tiba di Indonesia?" kata Jimmy seraya mencubit gemas hidung Sasa. "Lalu apa maksudmu?" tanya Sasa seraya memajukan mulutnya.
"Kemarilah!" pinta Jimmy seraya meraih tubuh Sasa untuk duduk di pangkuannya, "apa dia yang bernama Kei Alexis Dexter?" tunjuknya pada Kei yang tak jauh dari mereka.
"Iya, dia sepupuku. Memangnya, kenapa?" tanya Sasa bingung dengan arah pembicaraan mereka. "Benarkah? Aku baru tahu!" ucap Jimmy seraya memandang Sasa seperti meminta penjelasan.
"Maaf, aku tidak pernah cerita," ucap Sasa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Lalu, apa hubungannya dengan Putri?" tanya Jimmy yang mulai penasaran.
"Memangnya, kenapa?" tanya Sasa yang semakin bingung. Jimmy tersenyum melihat tampang Sasa yang imut saat kebingungan, "Kau tahu 'kan, ayahku sedang sakit... " ucap Jimmy mulai menjelaskan.
Sasa mengangguk dengan wajah tegang menunggu kelanjutannya. "Jadi, ayah menyuruhku..." belum sempat Jimmy menyelesaikan ucapannya. "Jangan!" pekik Sasa seraya memejamkan matanya dan menutup kedua telinganya.
"Ada apa?" tanya Jimmy yang kaget melihatnya. Sasa membuka matanya dan langsung menggenggam tangan Jimmy. "Baby, jangan katakan kalau ayah menyuruhmu menikahi Putri!" ucap Sasa dengan wajah cemasnya.
Jimmy sampai ternganga mendengarnya, lalu dengan pelan, ia menarik tangannya dari genggaman Sasa dan satu sentilan pun mendarat mulus di dahi Sasa. "Aww, sakit!" rengek Sasa manja.
"Tidak bisakah kau mendengarkan penjelasanku dulu? Ck, kenapa aku bisa menyukai wanita bodoh sepertimu! Siapa yang akan menikahi siapa, coba!" ucap Jimmy kesal.
"Dengar, sementara ayah sakit, ayah menyuruhku menggantikannya di kantor dan pekerjaan pertamaku adalah membacakan surat wasiat Vincent Adhitama untuk istrinya. Istrinya Putri, 'kan?" jelas Jimmy.
"Surat wasiat?" tanya Sasa yang dibalas anggukan Jimmy, "kenapa baru dibacakan sekarang? Bukankah ini sudah satu tahun lebih sejak Vincent meninggal?" lanjut Sasa.
"Surat wasiatnya hanya akan dibacakan, jika dalam kurun waktu satu tahun terhitung semenjak kematian Vincent, istrinya melahirkan," jawab Jimmy.
"Sekarang, jelaskan padaku! Apa hubungan istrinya dengan sepupumu itu?" lanjut Jimmy. Sasa mengerjap-ngerjapkan matanya membuat Jimmy kembali menarik nafas panjang.
"Dalam surat wasiat itu ada nama Kei Alexis Dexter, sepupumu itu. Apa sekarang kau mengerti baby, kenapa aku menanyakannya?" tanya Jimmy dengan geram. "Oh, begitu..." ucap Sasa. Kemudian, ia pun mulai bercerita.
__ADS_1