
Sudah beberapa bulan sejak kecelakaan itu, kini Vincent sudah pulih dan beraktifitas seperti biasa. Walaupun masih perlu bantuan orang terdekat untuk mengingatkannya beberapa hal dalam hidupnya, tapi sampai sekarang ia masih tidak ingat jika wanita yang berdiri di depannya ini adalah kekasihnya, bahkan calon istrinya.
"Bukankah Putri hanya anak yatim piatu yang datang ke rumahku dan mengaku-ngaku sebagai adikku, lalu sekarang wanita ini mengaku-ngaku sebagai calon istriku!" pikir Vincent.
Vincent sedang berada di dalam kamar tidur Putri, menatap dingin Putri yang sedang sibuk menjelaskan sesuatu padanya, bahkan ia tidak mendengarkan penjelasan dari wanita itu, ia benar-benar mengabaikannya.
Putri memperlihatkan foto-foto kebersamaan mereka selama menjadi sepasang kekasih. Ia juga menunjukan sebuah undangan pernikahan yang tersisa setelah dibagikan, sampai gaun pengantin yang masih ia simpan dengan baik pun ia perlihatkan kepada Vincent. Sekali lagi, Putri mencoba mengembalikan ingatan Vincent tentang dirinya, tentang kisah cinta mereka.
"Apa kau benar-benar tidak tahu malu?" tanya Vincent tiba-tiba dengan wajah datar. "Apa maksud abang?" tanya Putri balik di sela isak tangisnya.
"Aku tidak butuh semua ini. Aku hanya butuh kau ada dalam ingatanku, tapi kau benar-benar tidak ada. Jadi, berhentilah untuk memaksaku mempercayai semua ini!" ucapnya dingin seraya melempar sebuah undangan yang ada di tangannya ke lantai.
"Bang, aku mohon!" ucap Putri lirih seraya mendekati Vincent. Terlintas sebuah ide dalam benaknya, ia berusaha mencium bibir Vincent, berharap dengan cara konyol ini dapat mengembalikan ingatan Vincent padanya, setidaknya pada ciuman mereka. Ciuman yang selalu menjadi candu untuk mereka. Ciuman yang selalu menyiksa batin seorang Vincent Adhitama.
"Mundurlah!" ucap Vincent sama datarnya dengan tadi. Putri tidak memperdulikannya. "Mundur!" bentak Vincent seraya mendorong Putri hingga terjatuh ke lantai.
"Beraninya kau ingin menciumku! Kau pikir, siapa kau! Apa kau tahu? Di mataku, kau hanya wanita murahan yang tidak tahu diri!" sambung Vincent seraya meninggalkan Putri yang terpaku tidak percaya, jika orang yang sangat ia cintai akan berkata seperti itu padanya.
Putri memejamkan matanya, sungguh terasa berat kenyataan yang harus ia terima ini. Ia menangis seraya meremas ujung bajunya, "Wanita murahan? Seperti itukah aku di matamu sekarang? Lalu, apa bedanya aku dengan para wanitamu itu?" tanya Putri dalam batinnya.
Vincent berhenti di ambang pintu kamar Putri, "Dari awal, aku ingin sekali mengusirmu dari rumah ini, tapi aku bertahan karena ayah dan bunda yang tidak mengizinkannya," ucapnya dengan tetap memunggungi Putri. "Selain itu, mulai besok dia akan tinggal di rumah ini. Kalau kau tidak ingin aku mengusirmu, jangan pernah menggangunya lagi!" lanjutnya.
Putri tersenyum pahit dalam tangisnya, "Apa maksudmu, kau akan menikahinya? Lalu, kau anggap apa aku selama ini, hah!" tanya Putri dengan berteriak di akhir kalimat. Vincent melirik Putri dengan tatapan sedingin es dan tajam menikam jiwa, "Tidak pernah sekalipun aku menganggapmu dan akan selalu seperti itu selamanya!" ucapnya penuh penekanan di setiap kata.
***
__ADS_1
Flashback satu jam sebelumnya. "Kenapa? Apa kalian tidak percaya?" tanya Rosalind yang sedang berdiri di depan pintu rumah kediaman Adhitama dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dadanya, angkuh!
Wanita itu memaksa untuk masuk ke rumah mewah itu. Katanya, Vincent, sang Tuan Muda di rumah inilah yang memintanya untuk datang dan tinggal di istana ini.
"Mana mungkin putraku membawamu untuk tinggal di sini? Dia tidak punya alasan untuk itu!" bentak Nyonya Adhitama yang emosi pada wanita yang sudah kurang ajar menggoda putranya itu.
Sejak tahu Vincent melupakan Putri, Rosalind yang memang sudah lama mengincar posisi nyonya Adhitama pun tidak menyia-siakan kesempatan ini untuk merebut Vincent dari Putri.
Rosalind pun mulai menggoda Vincent dan semua rencananya berjalan begitu mulus karena sejak Vincent pulih, perilakunya kembali menjadi seorang playboy yang tidak bisa jauh dari wanita cantik.
Vincent sungguh keterlaluan! Hampir setiap hari, ia berkencan dengan wanita selain Putri, bahkan dengan sengaja ia memamerkannya di hadapan Putri. Dengan terang-terangan, ia menunjukan hubungannya bersama wanita yang berbeda-beda hanya agar Putri menyerah dan pergi dari hidupnya.
Namun, Putri tetap bertahan dengan keyakinan hatinya. Ia selalu berharap suatu hari nant, Vincent kembali mengingatnya. Entah itu kapan, ia tidak ingin menyerah menunggunya.
Putri yakin, jika ingatan Vincent kembali, kekasih yang ia kenal akan kembali pula. Vincent yang hanya setia untuknya, hanya miliknya, tapi kenyataannya hari ini, kekuatan cintanya diuji lagi, bahkan dengan ujian yang lebih besar dari sebelumnya.
Dengan sigap, Putri pun menahan tubuh bundanya itu, padahal tubuhnya sendiri sekarang terasa begitu lunglai mendengarnya. Ingin sekali rasanya, ia berteriak "itu tidak mungkin!" di hadapan Rosalind atau berlari kearah Rosalind dan menghajar wanita rubah itu sampai mati.
"Apa kau gila! Kau hanya wanita murahan! Berani-beraninya kau bermimpi menjadi bagian dari Keluarga Adhitama!" ucap Tuan Adhitama yang mulai emosi mendengar perkataan Rosalind tadi.
"Apa karena kau hamil, lantas kau pikir aku akan menerimamu sebagai menantuku? Dengarkan aku baik-baik! Menantu di rumah ini hanyalah Putri!" bentak Tuan Adhitama. "Putri, usir wanita gila ini dari rumah kita!" perintah Nyonya Adhitama pada Putri dengan tubuh yang gemetar.
"Tuan dan Nyonya Adhitama yang terhormat, sebaiknya kalianlah yang mendengarkan saya..." Rosalind begitu santai mengatakannya, "sekarang putra anda memutuskan untuk menikahi saya dan sebentar lagi saya akan menjadi nyonya di rumah ini. Jadi, sebelum Putri mengusir saya, saya yang akan lebih dulu mengusirnya!" kata Rosalind dengan sombongnya.
"Apa katamu! Baiklah, hari ini biar aku sendiri yang mengusirmu!" bentak Nyonya Adhitama, berniat menyeret wanita itu keluar dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
"Kalau anda berani menyentuh saya, saya pastikan anda juga akan keluar dari rumah ini. Saya akan membuat Vincent mengusir kalian semua, bagaimana pun caranya!" ancam Rosalind dengan percaya diri.
"Kurang ajar!" umpat Putri seraya melayangkan tangannya berniat menampar Rosalind. "Hentikan!" teriak Vincent yang baru keluar dari mobilnya. "Kenapa kau bersikap tidak sopan seperti ini, hah?" tanyanya pada Putri.
"Wanita ini yang tidak sopan pada ayah dan bunda!" sahut Putri dengan emosi. "Wanita kurang ajar ini mengaku sedang mengandung anakmu dan memaksa untuk masuk. Katanya, kau yang memintanya tinggal di sini," jelas Nyonya Adhitama dengan nafas terengah karena menahan emosi.
"V, kau harus menjelaskan semua ini!" desak Tuan Adhitama. "Semua yang dikatakan Rosalind benar, apa lagi yang harus kujelaskan? Dan kalian tidak usah ikut campur urusanku!" ucap Vincent dengan datar hampir tanpa ekspresi, hanya tatapan dinginnya yang ia layangkan ke Putri.
"Vincent!" bentak Tuan Adhitama dengan keras seraya melayangkan tangannya hendak menampar putra kesayangannya itu, tapi tangannya terhenti saat Vincent balas membentaknya ayahnya itu. "Apa!" balas Vincent tak kalah kerasnya.
Tuan Adhitama benar-benar shock melihat putranya sendiri berani membentaknya seperti itu. Dengan cepat, Nyonya Adhitama menghampiri suaminya, ia memeluk suaminya itu dan menangis di dadanya.
Tuan Adhitama merangkul bahu istrinya dengan tangannya. Matanya menatap tajam kearah putra semata wayang mereka, "Tidak, dia bukan putraku. V, putraku, tidak akan pernah melakukan hal seperti ini. Bagaimanapun nakalnya anakku, dia selalu menghormati orang tuanya. Dia anak yang penurut, tapi sekarang, siapa? Aku tidak mengenali putraku sendiri," batinnya.
"Apa ayah dan bunda tetap memaksaku menikahinya?" tunjuk Vincent pada Putri, "sudah berapa kali aku bilang, aku bahkan tidak mengingatnya sama sekali. Bagaimana bisa aku menikah dengannya?" kata Vincent seraya mulai menurunkan nada bicaranya saat menyadari raut wajah kedua orangtuanya yang sama-sama shock karena ulahnya tadi.
Rosalind tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Putri mulai meneteskan air matanya, menerima perlakuan dingin Vincent untuk kesekian kalinya.
"Putri, ikut aku! Kita harus bicara!" perintah Vincent pada Putri dan Putri pun hanya pasrah mengikutinya. "Mungkin ini bisa menjadi kesempatanku untuk bicara dengannya," pikir Putri.
Putri akan mencobanya lagi untuk memancing ingatan Vincent. Siapa tahu, kali ini usahanya membuahkan hasil karena selama ini Vincent selalu menghindarinya. Dengan interaksi yang hampir tidak pernah terjadi di antara keduanya, Putri selalu tidak pernah berhasil mengembalikan ingatan Vincent.
"Sayang, apa yang mau kau lakukan dengannya?" tanya Rosalind manja, tapi tidak dipedulikan Vincent yang tetap berjalan menjauh bersama Putri.
"Apa kau lihat itu?" tanya Nyonya Adhitama dengan suara pelan dan bergetar, "setiap kali Vincent melihat air mata itu, tatapannya berubah. Bukankah ini hanya masalah waktu? Vincent tetaplah Vincent!"
__ADS_1
"Tidak ada yang tahu seberapa besar cintanya, juga bencinya kepada Putri, tapi kau harus ingat satu hal, cinta dan benci itu satu, seperti kertas dengan dua sisinya dan jika Tuhan menginginkannya, hanya butuh waktu sekejap untuk membalikannya!" lanjut Nyonya Adhitama seraya berlalu bersama suaminya.
Rosalind hanya membalasnya dengan senyuman merendahkan, "Kita lihat saja, siapa yang akan bertahan. Benci atau cinta?" katanya seraya tersenyum evil. Flashback off.