Jantung Hati

Jantung Hati
Maukah Kau Menikah Denganku?


__ADS_3

"Aku juga, Put... Setelah kau menolak lamaranku, aku juga selalu memikirkanmu. Aku menderita harus jauh darimu, sampai rasanya aku mau mati saja, lebih sakit rasanya dari saat aku merelakan kau bersama Vincent," balas Kei seraya menundukan kepalanya.


Melihatnya seperti itu, Putri memberanikan dirinya untuk menyentuh pipi Kei. Kei terdiam sejenak, lalu sejurus kemudian ia meraih tangan Putri dan menciumnya. Entah siapa yang duluan memulai, kini bibir mereka menyatu, mengecap rasa yang sudah lama dirindukan.


Kei bangkit tanpa melepaskan ciumannya. Tangannya yang semula melingkar di pinggang Putri, kini beralih menekan tengkuk Putri. Sejenak, ia melepaskan ciumannya, menatap dalam mata indah Putri.


"Put..." lirih Kei. "Kei..." balas Putri lembut. "Sayang...?" panggil Kei dengan semakin melembutkan suaranya dan memeluknya dengan erat. "Hmm?" sahut Putri seraya menatap dalam mata Kei.


Dengan lembut, Putri meraih tengkuk Kei, kembali mengecap manis bibir tipis itu sekali lagi, "Jangan berhenti!" ucapnya di sela-sela ciumannya. Kei menggendong Putri ala bridal style dan membawanya ke kamar.


Dengan lembut, Kei merebahkan Putri di atas ranjangnya, kemudian melepaskan bajunya. "Ah! Perut sixpack itu semakin keren!" gumam Putri tanpa sadar.


Kei pun beranjak untuk menutup pintu kamarnya, tapi setelah ia berbalik, ternyata Putri sudah terlelap ke alam mimpi. Dengan kesal, Kei menyapu kasar wajahnya, "Sayang, kau selalu berhasil menyiksaku!" ucapnya sambil berdiri di depan Putri.


***


Keesokan paginya, Putri mengerjap-ngerjapkan matanya, memandang seisi kamar yang tidak asing baginya, kamar tempat ia menyerahkan keperawanannya pada Kei, "Kenapa aku di sini?" ucapnya.


Putri pun kembali mengingat-ingat kejadian sebelum ia terbangun pagi ini, hingga ia mengingat semua yang terjadi semalam, "Apa yang sudah aku lakukan! Kenapa aku mabuk lagi! Apa yang sudah aku katakan padanya! Kenapa aku jadi jujur begitu! Bodoh! Kenapa aku menciumnya! Sekarang bagaimana aku bertemu dengannya! Arrgh! Matilah kau, Putri!" rutuknya seraya mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Apa aku tidak usah keluar kamar saja? Apa aku tidur lagi saja? Tapi aku lapar..." gumam Putri seraya menggigit kukunya, "Ah, masa bodoh! Pura-pura tidak ingat saja," ucapnya seraya beranjak ke kamar mandi.


Karena berpikir ia hanya seorang diri di kamar itu, Putri pun membuka pintu kamar mandi tanpa permisi. Dugh! Kei meringis sambil memegangi dahinya yang terkena sisi daun pintu kamar mandi saat ia akan keluar dari sana. "Maaf, aku tidak tahu kalau kau ada di dalam," ucap Putri panik.


"Tidak apa-apa. Aku baru selesai mandi setelah lari pagi. Tadi saat aku masuk, kau masih tidur," sahut Kei. "Apa itu sakit?" tanya Putri yang menjinjitkan kakinya berusaha melihat dahi Kei.

__ADS_1


Kei terdiam saat wajah Putri yang mulai mendekat, "Astaga! Apa ini serangan fajar?" ucap batinnya. "Kau baik-baik saja?" tanya Putri yang bingung melihat reaksi Kei yang diam saja.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," ucap Kei gugup. "Kalau begitu, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Putri santai seraya berlalu masuk ke kamar mandi. Putri pun menutup pintu kamar mandi itu dari dalam, kali ini dengan pelan.


Setelah pintu tertutup sempurna, Putri bersandar di balik pintu, merosotkan tubuhnya ke lantai. "Ya Tuhan, kenapa dia sangat menggoda setelah mandi seperti itu?" ucapnya pelan seraya menutup mulutnya sendiri.


Sementara itu di sisi lain, Kei juga menyandarkan tubuhnya di pintu itu seraya memegangi dadanya, "Jantung ini gila! Kenapa berdetak secepat ini?" gumamnya seraya menarik nafasnya berulang kali.


***


Saat keluar kamar, Putri melihat Kei berdiri di dapur membelakanginya, " Sedang apa?" tanyanya. "Aku lapar. Aku mau masak mie instan, apa kau mau?" tawar Kei yang membalikan badannya seraya menggulung lengan bajunya.


"Boleh," sahut Putri pelan seraya terpana melihat keindahan lengan kekar itu yang sekarang di penuhi tato. "Aku baru sadar, kalau dia sekarang menato lengannya," pikir Putri.


"Aneh! Semakin dilihat semakin menggoda. Aku jadi deg-degan kalau ingat kami cuma berdua di villa ini," pikir Putri yang diam-diam memperhatikan Kei dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Sepertinya, setahun ini dia rajin olahraga. Kakinya... Pantatnya... Punggungnya... Lengannya... Dadanya... Dan perutnya tadi malam... Ah! Apa yang aku pikirkan! Cepat, alihkan pandanganmu, Putri! Buang pikiran kotormu itu! Pikirkan saja mie! Mie! Mie! Mie!" teriak Putri dalam hati.


Putri memejamkan kedua matanya mencoba membayangkan semangkok mie yang menggugah selera, tapi belum sempat ia berhasil membayangkan mie itu, matanya kembali terbuka saat mendengar suara Kei yang membuyarkan lamunannya.


"Ck, panas!" ucap Kei pelan. "Kenapa!" tanya Putri terkejut. "Tidak apa-apa. Tanganku hanya terkena sedikit cipratan kuahnya," jawab Kei sambil membalikan badannya menghadap Putri.


Dengan polosnya, Kei menyeka tangannya itu dengan bajunya. Ia menarik ujung bajunya, memperlihatkan otot perutnya yang terbentuk sempurna di hadapan Putri.


Gulp! Putri yang mendapat serangan tidak terduga pun hanya bisa membeku, mendadak pikirannya kosong, nafasnya terasa tercekat di tenggorokan, bahkan kini rohnya serasa melayang entah ke mana.

__ADS_1


"Makanlah!" ucap Kei yang langsung duduk di sebelah Putri seraya tersenyum tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Hanya satu?" tanya Putri yang memandangi semangkuk mie di depannya.


"Iya, hanya sisa ini yang ada di dapur. Aku berencana pulang pagi ini. Jadi, aku tidak membeli persediaan. Maaf... Makanlah yang ada dulu! Nanti di jalan kita cari makan lagi," jawab Kei dan menyerahkan sumpit pada Putri.


Putri pun menyambut sumpit itu dan mulai memakan mie yang sama dengan Kei, tapi ia kembali melamun, "Ya Tuhan, jantungku sudah tidak karuan dari tadi dan sekarang Engkau buat aku makan di mangkuk yang sama dengannya? Mie! Duduk di sampingnya! Engkau bercanda!" ucap suara hati Putri.


Saat mereka berdua larut dalam lamunan masing-masing, tanpa sadar mereka memakan helaian mie yang sama. Deg! Mereka berdua saling tatap saat menyadari ada seutas mie yang menghubungkan mulut mereka berdua dan bukannya memotong mie itu, malah dengan secepat kilat, Kei menyeruput mie itu hingga bibirnya menyambar bibir Putri.


Lagi-lagi, Putri membeku dibuatnya, "Serangan apa lagi ini!" teriak batinnya, tapi tiba-tiba Putri teringat sesuatu, "Apa benar wanita di club itu bukan pacarmu?" tanyanya tiba-tiba.


Kei terkejut mendengarnya, "Astaga, merusak suasana saja!" pikirnya. Kei menggeleng seraya berdiri dari duduknya. "Serius? Kau tidak berbohong?" tanya Putri lagi.


"Aku bersumpah demi Tuhan, aku tidak pernah berkencan dan tidur atau lebih spesifiknya berhubungan badan dengan wanita manapun, selain Putri Adhitama!" ucap Kei seraya mengangkat kedua jarinya berusaha meyakinkan Putri.


Putri berdiri dari duduknya, memperhatikan sepasang mata bulat itu, mencoba mencari kejujuran di sana, "Kei..." sebutnya seraya mengecap lembut bibir tipis pemilik mata bulat itu, saat ia menyadari tidak ada kebohongan di sana, tapi Kei tidak membalas, malah melepaskan bibirnya untuk menjauh dari bibir Putri.


"Ah, bisa gila aku seperti ini!" ucap Kei seraya terkekeh. "Apa?" tanya Putri bingung dengan maksud Kei. "Sejak malam tadi, aku terlalu bahagia bisa bersamamu lagi. Pikiranku jadi kacau, sampai-sampai mau gila rasanya," jawab Kei seraya menyembunyikan wajah tampannya yang merona.


Putri memeluknya, "Maaf sudah menolakmu dan terima kasih sudah mencintaiku hingga saat ini. Bagaimana kalau kita mulai berkencan lagi?" tembak Putri secara langsung seraya menyandarkan kepalanya di dada bidang Kei.


"Aku tidak mau!" jawab Kei dengan cepat seraya melepaskan pelukan Putri. Putri terpaku di tempatnya. Kei melepaskan kalung yang ia kenakan, mengeluarkan sepasang cincin dari sana dan menyodorkannya pada Putri seraya berlutut di hadapannya.


"Sayang, maukah kau menikah denganku... lagi..." lamar Kei sekali lagi. Putri menangis bukan hanya karena Kei yang akhirnya kembali melamarnya, tapi karena ia dilamar dengan cincin yang sama.


Putri tidak pernah menyangka Kei masih menyimpan cincin itu sampai sekarang. Putri pun mengangguk tanda setuju. Lamaran pun di akhiri dengan ciuman hangat mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2