Jantung Hati

Jantung Hati
Bagaimana?


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu setengah hari untuk berpikir, Putri akhirnya memutuskan untuk menemui Vincent dan membicarakan semuanya langsung dengannya. Putri mengetuk pintu kamar Vincent, tapi tidak ada jawaban.


"Apa dia pergi?" gumam Putri seraya membuka pintu itu dan ternyata tidak dikunci. "Abang, apa kau ada di dalam?" panggilnya, tapi tak ada jawaban. Putri pun masuk untuk mencari Vincent di dalam kamarnya.


"Astaga! Kenapa berantakan sekali? Di mana dia?" ucap Putri seraya mulai memunguti satu persatu baju yang tergelatak sembarangan di kamar itu, hingga tanpa disadarinya, kakinya sudah melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang memang tidak di tutup dan saat ia berbalik badan, ia baru melihat Vincent yang sedang berendam di bak mandi dengan headphone di telinganya.


Keduanya mematung bersamaan. Vincent bersandar di bak mandi dengan kondisi tubuhnya yang basah dan bertelanjang dada. Walaupun sebagian tubuhnya tertutup air yang dipenuhi busa sabun, tapi tetap saja Putri benar-benar shock melihat pemandangan menyilaukan di hadapannya sekarang ini.


"Tenang, Put! Tarik nafas! Tenang! Santai!" ucap Putri dalam hati berusaha berdamai dengan batinnya. Putri menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan tenang.


"Maaf, aku tidak tahu kalau abang sedang mandi," kata Putri berusaha setenang mungkin di depan Vincent, lalu berjalan keluar kamar mandi sesantai mungkin.


Vincent yang juga shock tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, "Shit!" umpatnya.


Lantas, Vincent pun bergegas menyelesaikan mandinya.


Masih di dalam kamar Vincent, Putri menunggu Vincent selesai mandi dengan jantung yang sejak tadi tidak bisa diajak kompromi, terus berdetak dengan cepat.


Putri tengah melamun saat Vincent berjalan menghampirinya dengan hanya menggunakan handuk di pinggangnya seraya mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil, "Ada apa?" tanyanya santai.


Putri yang terkejut pun langsung membalikan badannya tepat di depan dada telanjang Vincent. "Hmm... Aroma yang sungguh maskulin!" ucap batin Putri sesaat sebelum Vincent berkata, "Jangan terlalu lama memandangku, nanti kau terpesona!" ujarnya penuh percaya diri.


"Astaga, abang! Pakai dulu baju abang!" ucap Putri memalingkan wajahnya, tapi Vincent malah mendekat. "Memangnya kenapa kalau aku tidak pakai baju?" godanya.


Putri berjalan menjauh dari Vincent, "Ya sudah, aku keluar saja," ucapnya, tapi baru di depan pintu, Vincent menghentikan langkah Putri. "Kau kesini untuk bicara denganku, 'kan?" tanya Vincent seraya melangkah mendekati Putri.


Putri berhenti dan berkata tanpa membalikan badannya. "Apa maksud abang sebenarnya?" tanya Putri yang kembali ingat tujuan dan alasannya mencari Vincent.

__ADS_1


"Kenapa kau bertanya lagi? Apa aku masih harus menjelaskannya? Bukankah seharusnya akulah yang bertanya? Apa jawabanmu, Put?" ucap Vincent sedikit berbisik di telinga Putri dari belakang.


Deg! Deg! Deg! "Bagaimana ini? Detak jantungku semakin parah! Aku harus jawab apa? Dan kenapa badanku jadi terasa panas? Kenapa aku ingat badannya terus? Kenapa aku jadi mesum? Kalau dia melihat wajahku, dia pasti menyadari perasaanku," pikir Putri yang jadi gugup sendiri dibuatnya.


Vincent membalikan tubuh Putri agar menghadapnya, "Hei, kau sakit? Apa kau demam?" tanya Vincent yang khawatir melihat Putri hanya diam saja dengan wajahnya yang memerah seperti kepiting rebus.


"Tidak! Aku hanya kepanasan," ucap Putri asal sambil mengipas-kipaskan tangannya dengan gaya andalannya. "Hah! Panas?" ucap Vincent bingung. Putri spontan menutup matanya dengan kedua tangannya sambil berkata, "Abang! Aku bilang, pakai baju dulu!"


"Aku tidak mau!" ucap Vincent keras kepala. "Kalau begitu, aku..." ucapan Putri terpotong saat tangan Vincent menarik kedua tangannya dan mulai memojokkannya hingga bersandar di pintu.


"Sepertinya, memang harus diperjelas sekarang juga," kata Vincent seraya menahan kedua tangan Putri, "bukan hanya aku saja, kau juga menyukaiku, 'kan?" lanjutnya menatap lekat kedua bola mata indah Putri, berusaha mencari kejujuran di sana.


"Kalau jawabanmu tidak, lepaskan tanganmu!" pinta Vincent. Putri pun diam sesaat dan semakin lama tatapannya semakin sayu lalu terpejam serta mulai menggerakkan tangannya.


Vincent yang merasa tangan Putri perlahan bergerak turun, mulai pasrah dengan jawaban yang akan ia terima, tapi seketika manik hitam pekat Vincent membulat sempurna saat tangan Putri menggenggam tangannya dengan mata tertutup.


Vincent tersenyum menyadarinya dan langsung mengecup bibir Putri sekilas membuat Putri membuka matanya terkejut. "Sekarang, keluarlah! Aku ingin memakai bajuku," ucap Vincent seraya mengelus lembut pucuk kepala Putri sambil tersenyum.


***


"Tidak. Mulai hari kita harus berangkat dan pulang bersama dan aku tidak ingin mendengar penolakan apapun!" ucap Vincent seraya berlalu begitu saja seperti biasanya, tapi baru beberapa langkah, Vincent kembali lagi.


"Ada apa?" tanya Putri. "Kau melupakan salam pagimu," ucap Vincent sambil mengarahkan pipinya. "Apa! Sekarang? Di sini?" tanya Putri tidak percaya. "Iya, sekarang!" titah Vincent dengan cueknya.


Vincent menatap tajam Putri yang terlihat ragu-ragu melakukannya. Cupp! Dengan cepat, Putri mencium pipi Vincent, lalu dengan cepat pula, ia kembali duduk di meja kerjanya karena saking malunya dengan Arjuna yang sedari tadi hanya bisa tersenyum saat melihat tingkah konyol atasannya yang biasa bersikap cool ini.


***

__ADS_1


"Kiss!" ucap Vincent seraya menyodorkan pipinya ke arah Putri. Itulah salah satu hal manis yang selalu Vincent minta dari Putri, saat pertama kali mereka bertemu setiap paginya.


Presdir muda yang selalu bersikap dingin itu akan berubah menjadi sangat manis untuk Putri, kekasihnya. Vincent sangat memanjakan Putri dengan segala perhatian dan perlakuan romantisnya.


Bukan rahasia lagi, walau sudah bersama setahun lebih, tapi pasangan di kantor ini selalu terlihat di mabuk cinta setiap harinya. Betapa manis, bahkan mungkin terkesan posesif dan bucin (budak cinta) seorang Vincent Adhitama pada Putri, yang dijamin membuat iri setengah mati seluruh kaum hawa yang melihatnya.


Tapi saat Vincent sudah berhadapan dengan pekerjaannya, ia akan kembali dingin pada Putri karena ia akan benar-benar fokus menyelesaikan pekerjaannya dan Putri sangat mengerti itu, malah ia akan memanfaatkan saat-saat seperti itu untuk memperhatikan wajah tampan kekasihnya itu dengan baik dari dekat.


Dua sikap Vincent yang berbeda, yang selalu manis di luar jam kerja, tapi akan berubah dingin pada saat bekerja, malah seperti magnet untuk seorang Putri.


Putri selalu merasa tertarik untuk menggoda Vincent yang selama ini seperti membuat batasan pada dirinya sendiri untuk tidak menyentuh Putri, padahal mereka sudah bersama setahun lebih.


Mereka berdua pun sudah sama-sama dewasa, tapi Vincent tidak pernah sekalipun mencium Putri setelah Putri menerima perasaanya saat itu. Kalau pun iya, hanya sebatas kecupan kilat yang ia lakukan.


"Tampan! Seksi! Selalu membuatku ingin memakannya!" ucap Putri dalam hati. Perlahan, Putri mendekati Vincent di meja kerjanya. Vincent yang menyadari pergerakan Putri pun hanya melirik sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus pada dokumen yang sedang dibacanya.


Putri berdiri di samping Vincent. Ia berdiri menghadap Vincent dengan bersandar di meja kerjanya. "Ada apa?" tanya Vincent, tanpa mengalihkan matanya dari dokumen itu. "Tidak ada. Aku hanya ingin memperhatikan abang dari dekat," jawab Putri santai sambil meminum minuman kemasan yang ia pegang.


"Pergilah! Jangan ganggu aku! Selesaikan pekerjaanmu!" pinta Vincent seperti biasanya. Putri yang kesal pun perlahan melangkah dengan sedikit meremas minuman kemasan di tangannya, membuat isi di dalamnya menyembur keluar mengenai wajah Vincent yang secara bersamaan berniat bangun dari duduknya saat sadar kekasihnya itu sedang merajuk.


"Sayang!" bentak Vincent sedikit kesal karena wajahnya basah, bahkan sebagian mengenai jas dan kemejanya. "Maaf! Aku tidak sengaja. Tisu! Air! Tu-tunggu sebentar," ucap Putri panik.


Setelah kembali membawakan tisu, Putri pun menyeka wajah tampan Vincent dengan tangan gemetar, "Maaf, abang tidak marah, 'kan?" ujarnya takut.


"Berhentilah minta maaf, selesaikan saja secepatnya!" ucap Vincent sambil memejamkan matanya. Untuk sesaat, suasana menjadi hening.


"Apa masih lama? Di seka asal saja!" ujar Vincent yang masih setia memejamkan matanya, sedangkan Putri malah menatap kosong ke arah Vincent sedari tadi.

__ADS_1


"Apa aku baru sadar! Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat wajahnya yang sungguh tampan. Aroma tubuh dan parfumnya yang memikat pun bisa tercium olehku. Suara rendahnya pun terdengar seksi," pikir Putri.


"Aku menyukainya. Aku ingin terus bersamanya. Aku ingin serakah. Aku ingin memilikinya," ucap batin Putri bersuara. Deg! Deg! Deg! Perlahan, Putri pun menjilat sisa minuman yang masih meleleh di leher Vincent.


__ADS_2