
Flashback on. Kei langsung menyentuh bagian dadanya, sesaat setelah ia bangun dari tidur panjangnya, merasakan denyut jantung yang berbeda. Kei membuka satu persatu kancing bajunya sampai dada bidangnya terlihat. Tampak bekas sayatan dan jahitan panjang di sana.
Kei memejamkan matanya dan merasakan jantung barunya. Tidak ada siapa-siapa di ruangan itu karena Putri baru saja pulang untuk sekedar membersihkan diri.
Sudah hampir satu bulan setelah operasi transplantasi Kei dan Vincent, Putri selalu menemani Kei di rumah sakit, berharap Kei akan segera membuka matanya, tapi sepertinya Kei menolak untuk bangun, meskipun kondisinya sudah dinyatakan membaik.
Namun, saat Kei bangun, Putri malah tidak ada di sampingnya. Saat Kei larut dalam pikirannya, seorang perawat masuk ke dalam ruangannya. "Anda sudah bangun, Tuan?" ucap perawat itu terkejut. Lantas, ia segera berbalik keluar untuk memanggil dokter.
"Tunggu! Di mana Putri?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Kei membuat perawat itu bingung. "Putri?" perawat itu pun berpikir sejenak, "Ah! Apa maksud Anda, Nyonya Putri Adhitama?" tanyanya.
Kei membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, "Nyo-nyonya Adhitama?" ucapnya terbata. "Iya. Nyonya Putri Adhitama, istri tuan Vincent Adhitama yang..." ucap perawat itu terpotong.
"Keluar!" teriak Kei dengan keras yang membuat perawat muda itu ketakutan. Perawat itu pun pergi dengan tubuh gemetar, tapi sebelum ia menutup pintu, "Jangan biarkan dia masuk ke ruanganku! Aku tidak mau menemuinya," titah Kei yang dibalas dengan anggukan cepat dari perawat itu.
Tidak lama setelah itu, Putri pun kembali ke rumah sakit, tapi saat ia akan membuka pintu ruangan Kei, perawat tadi mencegahnya untuk masuk. "Maaf, Nyonya. Anda tidak diperbolehkan masuk ke dalam," katanya.
"Apa? Kenapa?" tanya Putri bingung, "Apa kau tidak mengenaliku? Aku yang setiap hari menemani pasien di ruangan ini," lanjutnya. "Maaf, tapi pasien sendiri yang melarang Anda untuk masuk," jawab perawat itu dengan wajah memelas.
"Apa! Kei? Maksudmu, dia sudah sadar?" ucap Putri dengan mata berbinar. "Iya. Pasien sudah sadar tidak lama setelah anda pergi tadi. Dokter juga sudah memeriksanya. Kata dokter, jika kondisi pasien semakin membaik, pasien sudah bisa pulang dalam minggu ini," jelas perawat itu.
"Kenapa kalian tidak menghubungiku?" tanya Putri. "Maaf, pasien yang melarang kami untuk menghubungi anda," jawab perawat itu dengan wajah tertunduk.
Putri semakin bingung dengan apa yang sedang terjadi, tapi ia mengacuhkannya karena saat ini, ia ingin sekali bertemu Kei dan mengatakan sesuatu padanya. Ia pun tetap memaksa masuk, meskipun perawat tadi mencegahnya.
Kei yang sedang duduk bersandar di ranjang menoleh saat pintu ruangannya dibuka, tapi saat melihat Putri yang masuk, ia langsung memalingkan wajahnya. "Kau sudah bangun, sayang?" sapa Putri yang tampak bahagia.
Kei mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke arah Putri, "Sa-yang?" ejanya dengan dingin. Kemudian, Kei kembali memalingkan wajahnya, "kau panggil aku sayang, Nyonya Adhitama?" ucapnya dingin.
Putri tertegun sejenak saat Kei menggunakan kata "Nyonya Adhitama" untuk memanggilnya, "Apa maksudmu?" tanyanya pelan.
Kei tersenyum sinis dan menoleh ke arah Putri, "Apa aku salah, Nyonya Vincent Adhitama?" ucapnya dengan penuh penekanan di akhir kalimat.
Entah kenapa, Putri tidak suka mendengarnya, apalagi saat Kei menyebut nama Vincent dengan cara seperti itu, "Iya, aku Nyonya Vincent Adhitama. Memangnya, kenapa?" tantangnya.
Sontak, Kei menatap Putri tajam. Kei tampak sangat marah sampai menggertakan giginya, "Bukankah malam itu sudah aku katakan untuk menghentikannya, jika pada akhirnya bukan aku yang kau pilih untuk apa kau memulainya?" ucapnya pelan saat menundukan kepalanya.
Suaranya terdengar bergetar seperti sedang menahan amarahnya. "Dengarkan dulu penjelasanku!" pinta Putri dengan lembut berusaha menenangkannya.
"Keluar!" satu kata yang Kei ucapkan dengan pelan, tapi terdengar sangat dingin. "Apa! Kau mengusirku?" tanya Putri tidak percaya. "Aku bilang keluar!" ucap Kei masih dengan nada pelan tanpa mau menoleh pada Putri.
"Tidak. Sepertinya kau salah paham. Kau harus mendengarkan penjelasanku dulu!" paksa Putri. "Keluar!" teriak Kei di depan Putri. Putri yang terkejut dengan perlakuan Kei pun hanya bisa terdiam.
__ADS_1
"Aku hamil..." ucap Putri pelan, berharap Kei mau berubah pikiran untuk mendengarkannya. Kei mengepalkan tangannya geram, "Lalu?" tanyanya datar. Putri yang tidak pernah membayangkan reaksi Kei akan seperti ini pun semakin tercengang, "Ma-maksudmu?" tanyanya.
Dengan tatapan dinginnya, Kei berkata, "Untuk apa kau memberitahuku? Kenapa tidak kau beritahukan saja pada suamimu itu?" katanya. Lagi-lagi, Putri terpaku mendengarnya, "Bagaimana bisa aku memberitahukannya?" tanya Putri dalam hati. Batin Putri pun mulai larut dalam ingatannya tentang Vincent.
Melihat Putri yang hanya diam, tiba-tiba terbersit satu pertanyaan dalam pikiran Kei, "Apa itu anakku?" pikirnya. Kei pun berusaha mengontrol emosinya, merendahkan suaranya yang sempat meninggi dan dengan suara lembut dia bertanya.
"Apa kau yakin itu anakku?" tanya Kei dengan pelan dan ragu. Di dalam hati, Kei sangat berharap Putri akan berkata "iya" karena jika memang benar adanya, ia akan bertanggung jawab sebagaimana mestinya.
Putri yang baru mendengar pertanyaan itu seperti baru terbangun dari mimpi indahnya dan harus menghadapi pahitnya kenyataan hidup, "Kei benar! Apa aku yakin ini anaknya? Bagaimana aku yakin, hanya karena Kei adalah orang pertama yang melakukannya, sedangkan malam itu bukan hanya Kei yang melakukannya?"
"Bagaimana jika ternyata anak ini adalah anak Vincent? Kenapa selama ini, aku bisa berpikir aku sedang mengandung anaknya? Kenapa aku bermimpi dia akan menerima aku dan anak ini, sedangkan aku sendiri tidak tahu siapa ayahnya? Bagaimana ini?" tanya Putri pada dirinya sendiri.
Putri membeku dengan semua pertanyaan itu yang seperti sedang berperang di dalam otaknya, "Argh! Bodohnya aku!" rutuknya dalam hati.
Kei yang melihat Putri membisu, menarik kesimpulannya sendiri bahwa Putri sendiri tidak bisa memastikan siapa ayah dari bayi yang ia kandung dan itu berarti ada pria lain yang meniduri Putri selain dirinya. "Shit!" teriak Kei tiba-tiba membuyarkan lamunan Putri, "pergi kau wanita murahan!" teriaknya lagi.
Putri memejamkan matanya saat Kei meneriakinya, hanya bisa menangis dalam diamnya, tidak bisa berkata apa pun untuk membantahnya karena menurutnya ia memang pantas disebut wanita murahan.
Putri pun beranjak pergi dengan pikiran yang benar-benar kacau, "Bagaimana bisa aku selama ini bermimpi semua akan berakhir bahagia?" pikirnya. Dengan langkah pelan, Putri meninggalkan ruangan itu, menyisakan Kei dengan segala kebenciannya.
Putri terus merutuki dirinya sendiri, tidak henti-hentinya ia bertanya pada dirinya sendiri, "Siapa ayahnya?" Dan dengan predikat "wanita murahan" yang baru saja disematkan oleh Kei, benar-benar membuat Putri membenci dirinya sendiri.
"Apa kau akan pulang?" sapa Sasa yang berpapasan dengan Putri di lobby rumah sakit. "Iya," jawab Putri singkat. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Sasa khawatir melihat wajah Putri yang tampak sedih. "Tidak apa-apa," jawab Putri seraya tersenyum, "tolong jaga Kei," lanjutnya.
Putri melepaskan kalung yang ia pakai lalu mengeluarkan sebuah cincin yang terpasang di kalung itu. Putri juga melepaskan cincin yang ia kenakan di jari manisnya, sepasang cincin pernikahannya dengan Vincent, "tolong kembalikan ini pada Kei!" pintanya.
***
Sasa terkejut saat mendapati Kei yang sudah sadar, "Ya, Tuhan! Kenapa Putri tidak memberitahuku?" ucapnya seraya menghampiri Kei. "Jangan sebut nama wanita murahan itu lagi di depanku!" sahut Kei dengan datar.
"Wanita murahan? Siapa? Apa maksud kakak, Putri?" tanya Sasa bingung. Kei tidak menjawabnya dan hanya memalingkan wajahnya. "Ya, Tuhan! Kakak! Apa kakak baru saja menyebut Putri dengan sebutan wanita murahan? Apa setelah sadar, kakak juga hilang ingatan seperti Vincent, hah!" omel Sasa.
Kei tidak menggubris Sasa sama sekali dan itu semakin membuat Sasa kesal. "Putri menemani kakak siang malam setiap hari, bahkan dalam keadaannya yang sedang hamil muda dan setelah sadar, kakak menyebutnya wanita murahan? Bagaimana bisa, hah! Dasar, pria gila!" lanjut Sasa seraya mengumpat kakak sepupunya itu di akhir kalimat.
"Apa kau bilang! Aku tidak pernah memintanya menemaniku. Kenapa dia tidak menemani suaminya saja!" sahut Kei mulai kesal dengan sepupunya ini. "Maksud kakak, Vincent!" ucap Sasa yang juga mulai emosi.
Kei menghela nafas panjang, "Memangnya dia punya berapa suami?" tanyanya asal.
"Kak! Apa kakak cari mati, hah!" bentak Sasa.
Kedua sepupu itu pun saling menatap tajam dengan sengit.
__ADS_1
Sampai Sasa mengalah dan menarik nafas panjang, "Tuan Muda Dexter yang terhormat, tolong dengarkan baik-baik perkataanku dan jangan memotong perkataanku sebelum aku selesai bicara, mengerti!" lanjutnya dengan wajah serius, sedangkan Kei memutar kedua bola matanya jengah dengan tingkah aneh sepupunya ini.
"Apa kakak ingat saat kita bertemu Putri dan Vincent di rumah sakit sebelum kakak koma?" tanya Sasa. "Kakak membawa Putri ke villa milik kakak. Saat kalian meninggalkan kami di rumah sakit, Vincent pingsan dan harus dirawat," kata Sasa memulai "dongeng fairytale"-nya untuk Kei.
"Siangnya, saat aku baru selesai mengambil obat kakak, Vincent sadar dan ia mendengar pembicaraanku dengan dokter spesialis jantung kakak tentang kondisi jantung kakak."
Sejenak, Sasa menjeda ucapannya untuk menarik nafas sebelum melanjutkannya. "Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Vincent mengidap tumor ganas di otaknya dan dokter memvonis hidupnya tidak akan bertahan lama."
"Apa!" ucap Kei pelan, ia terpaku mendengarnya, "tumor?" katanya tidak percaya. Sasa mengangguk, "Hari itu, ingatannya sudah kembali sepenuhnya. Dan apa kau ingat, malam harinya sebelum aku datang ke villa?"
"Vincent ebih dulu membawa Putri, tanpa sepengetahuan Putri sekali pun. Putri bercerita padaku, kalau malam itu, Vincent memaksanya untuk melayaninya karena Vincent marah dengan apa yang kalian berdua lakukan sebelumnya," lanjut Sasa.
Kei mengepalkan kedua tangannya dengan kedua pupilnya yang bergetar, masih menyimak kelanjutannya. "Esok harinya, tante Jo memohon Putri untuk menikah dengan Vincent secepatnya dan kau tahu Putri tidak mungkin menolaknya karena ia juga sudah tahu kondisi Vincent saat itu," lanjut Sasa seraya menghela nafas.
"Sedangkan Putri sama sekali tidak tahu tentang kondisimu yang koma karena Vincent melarang kami untuk memberitahunya. Ia tidak ingin membuat Putri semakin terpukul dengan kondisimu," kata Sasa.
Kei menarik nafasnya dalam. Sepertinya, ia sudah mulai bisa menerima alasan Putri yang terpaksa menikahi Vincent. Kei memejamkan matanya sedih, ada sesal dalam dirinya yang tidak bisa menikahi Putri. Kei pun sudah malas untuk mendengarkan cerita dari Sasa.
"Besoknya, mereka langsung menikah di sini, di Singapura dan malamnya, Vincent dilarikan ke rumah sakit, ia koma sama sepertimu. Tapi sayangnya, ia lebih dulu mengalah dengan takdir..." ucap Sasa terpotong.
Kei yang semula acuh, kini kembali mulai memfokuskan pendengarannya, menunggu Sasa melanjutkan kata-katanya. "Putri menjadi janda tepat di hari pernikahannya," lanjut Sasa dengan suara yang sangat jelas.
"A-apa!" kata Kei tidak percaya. "Iya. Vincent sudah meninggal. Dan apa kakak tahu, jantung siapa yang berdetak di dalam tubuh kakak itu?" tanya Sasa dingin. Seketika Kei merasa tubuhnya membeku, jantung itu tiba-tiba berdetak cepat.
"Vincent Adhitama!" jawab Sasa. "Dia memberikan jantungnya untuk kakak dengan harapan, kakak menggantikannya untuk menjaga Putri, tapi apa yang baru saja kakak lakukan, hah! Kakak menyebutnya wanita murahan?"tanya Sasa penuh penekanan.
"Jika ada orang yang menyebutku wanita murahan, maka aku tidak akan memaafkannya, kakak tahu! Ini!" ucap Sasa emosi seraya meletakkan sepasang cincin di atas telapak tangan Kei.
"I-ini..." ucap Kei terbata. Kei tahu betul sepasang cincin itu. "Iya. Cincin pernikahan kakak dengan Putri, yang Putri kembalikan pada kakak sehari sebelum hari pernikahannya dengan Vincent dibatalkan, masih ingat?" jawab Sasa sinis.
"Lalu, sehari sebelum hari pernikahan mereka, Vincent mencarinya lagi di apartemen kakak. Dia ingin meminjam cincin itu sebagai cincin pernikahannya dengan Putri," kata Sasa.
"Sebelum Vincent meninggal, dia meminta Putri untuk mengembalikannya pada kakak sebagai cincin pernikahan kakak dan Putri nanti, tapi tadi Putri memintaku mengembalikannya pada kakak. Kakak tahu itu artinya apa? Kakak sudah melakukan kesalahan! Aku jamin, kakak pasti menyesalinya!" ucap Sasa horor.
Kei tidak bisa berkata-kata lagi. Sasa benar, dia sudah melakukan kesalahan. Kesalahan yang fatal, "Apa Putri mau memaafkanku lagi?" lirihnya. Flashback off.
***
"Lalu, kenapa sampai sekarang, mereka tidak bersama?" tanya Jimmy. "Itu karena mereka sama-sama keras kepala," jawab Sasa seraya menghela nafasnya panjang.
"Setelah itu, Kei sudah mengalah dan meminta maaf pada Putri, lalu mengajaknya menikah, tapi karena Putri ragu anak yang ia kandung anak siapa, ia menolaknya. Giliran Kei yang marah karena lamarannya ditolak," lanjut Sasa.
__ADS_1
Satu alis Jimmy terangkat karena bingung. "Lalu, bagaimana dengan wanita itu?" tanya Jimmy lagi seraya menunjuk Jennie yang sedari tadi bersama Kei.