
Seorang pria bertelanjang dada sedang terpaku menatap layar ponselnya. Tubuh kekarnya tampak masih basah setelah ia selesai mandi, begitu pula rambut ikalnya yang mulai terlihat panjang.
Matanya menatap sendu foto seorang gadis dengan senyum cantiknya yang menjadi wallpaper ponselnya, "Aku harap kau selalu tersenyum cantik seperti ini. Semoga kau selalu bahagia dengannya," lirihnya dengan tulus.
Lantas, pria itu meletakkan ponselnya di meja nakas, lalu berjalan keluar kamarnya untuk mengambil minum di dapur, tapi langkahnya terhenti saat mendengar bunyi tombol pintu yang ditekan dari arah luar.
"Siapa yang datang?" gumamnya. Ia pun berjalan ke arah pintu untuk melihatnya di layar monitor, tapi semakin bunyi tombol itu terdengar olehnya, semakin cepat pula degup jantungnya.
Batinnya pun menebak-nebak, "Dia memencetnya dengan cepat seolah-olah ia tahu betul password-nya, bukan seperti orang yang asal memasukkan password, sedangkan yang tahu password ini hanya aku dan..." Klik!
Belum sempat ia melihat layar monitor, pria itu langsung membalikan badannya saat pintu apartemennya berhasil dibuka. Ia takut membalikan badannya, melihat siapa yang sudah berhasil memasukan password-nya dengan benar.
Tubuhnya membeku dengan jantungnya berdebar cepat, saat ia yakin bahwa orang yang datang itu adalah wanita yang ia rindukan selama bertahun-tahun.
Wanita yang hanya bisa ia lihat dari layar ponsel, lewat rekaman video singkat yang selalu dikirimkan para bodyguard yang ia kirim untuk melindungi wanitanya itu setiap hari selama bertahun-tahun, tanpa diketahui siapapun.
Wanita yang sejak dulu ia cintai, bahkan sudah sempat ia jadikan istrinya, tapi harus ia tinggalkan karena penyakit jantung sialannya yang kapan saja bisa merenggut nyawanya, serta wanita yang harus ia relakan dengan ikhlas untuk sahabatnya karena besok adalah hari pernikahan mereka.
Perlahan, pria itu mengumpulkan keberaniannya untuk membalikan badannya saat mendengar suara bergetar wanita itu, tapi seketika ia berlari cepat saat menyadari tubuh wanita itu yang ambruk di depan pintu.
Ia berhasil menangkap tubuh itu. Ia memeluknya erat, bahkan sangat erat, melepaskan rindunya yang selama ini menyiksanya dan sudah ia tahan sekuat tenaga, bahkan saat ini, pria itu menangis sesenggukan di hadapan wanita pemilik hatinya ini.
***
Putri membuka matanya perlahan. Ia mengamati sekeliling kamar, tempat ia berada sekarang. "Kau sudah bangun?" sebuah suara yang sangat Putri kenal membuatnya perlahan memalingkan wajahnya ke arah sumber suara.
Putri menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Prianya yang selama bertahun-tahun hilang entah ke mana, kini berdiri di hadapannya dalam keadaan baik-baik saja.
Air mata Putri pun luruh membasahi pipinya, "Apa ini? Kenapa rasanya sakit? Tapi juga bahagia karena bisa melihatnya lagi? Apa aku masih merindukannya?" rintihnya membatin dalam diamnya.
__ADS_1
Kei mengepalkan tangannya saat melihat Putri menangis terisak. Ia tidak tahu harus berkata apa dan berbuat apa untuk menenangkannya. Ia pun mencoba mendekat dan menyentuh kepala Putri, tapi Putri menghindar saat ia menyadarinya.
Deg! Entah kenapa hati Kei sungguh terasa sakit melihatnya, bukan hanya karena Putri yang menepis tangannya, tapi dari jarak sedekat ini, ia baru menyadari tanda kemerahan yang hampir memenuhi leher putih Putri dan Kei tahu betul apa itu.
"Aku hanya ingin menenangkanmu, tapi sepertinya kau membenciku... " ucap Kei sendu. "Ya, sepertinya, dia benar-benar membenciku!" sesalnya dalam hati.
"Apa hanya ini yang bisa kau katakan?" tanya Putri dalam hatinya. Hening! Putri menarik nafas panjang, berusaha menata kembali hati dan perasaannya. Ia bangun dari atas ranjang, merapikan pakaiannya dan melangkah mendekati Kei.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kau di sini. Aku datang ke sini hanya ingin mengembalikan cincin ini. Besok aku akan menikah dengan Vincent. Aku harap, semua di antara kita hanya akan menjadi masa lalu," ucap Putri seraya menyerahkan cincin itu.
Kei menyambutnya. Lantas, mengenggamnya kuat dan tersenyum hambar seraya memejamkan kedua matanya, "Sakit? Bukankah ini yang aku inginkan? Sekarang dia benar-benar meninggalkanku. Aku payah! Aku bahkan tidak bisa membuat alasan agar setidaknya ia tidak membenciku," batinnya.
Putri melangkahkan kakinya berniat pulang. "Jangan membenciku!" lirih Kei tiba-tiba dengan wajah sedihnya yang teramat memohon. "Apa sekarang itu berarti?" tanya Putri menghentikan langkahnya, tapi Kei tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Sudah lama aku menunggumu. Waktu berlalu begitu cepat. Aku tidak tahu semudah apa kau melaluinya, tapi itu bukan hal yang mudah untukku. Aku tidak akan merasa baik-baik saja setiap kali mengingatnya," kata Putri.
"A-aku..." jawab Kei tidak kuasa lagi melanjutkan perkataannya. "Aku juga! Aku juga tidak membencimu. Meskipun aku tidak tahu apa alasanmu, tapi entah kenapa aku merasa kau melakukannya bukan karena kau membenciku," ucap Putri dengan tersenyum tipis.
Kei terkejut mendengarnya, "Kau... Kenapa sekarang kau berkata seperti itu, mengatakan bahwa kau tidak membenciku? Kenapa kau semakin membuatku merasa bersalah?" ucapnya dengan mata yang sudah mulai berair, tapi Putri diam tanpa menjawab.
"Maaf... Maafkan aku..." ucap Kei lirih seraya menutup wajahnya dengan salah satu tangannya, menyembunyikan air matanya. Putri memandang Kei miris. Ini pertama kalinya, ia melihat Kei menangis. Orang yang dikiranya hanya akan terlihat kuat, kini begitu rapuh di hadapannya.
"Kenapa melihatnya seperti ini, aku jadi ingin menenangkannya?" kata Putri dalam hati. Kemudian, Putri meraih lembut tangan Kei yang menutupi wajahnya. Dengan lembut, ia berkata, "Daripada menyesalinya, akan lebih baik kita berdamai dengan masa lalu," ucapnya seraya meletakkan tangan Kei di atas kepalanya, "dengan begini, kita bisa memulai masa depan masing-masing," lanjutnya seraya tersenyum manis.
Kei meraih kepala Putri, membawanya ke dalam dekapannya, "Tolong, biarkan aku sebentar saja," ujarnya memeluk Putri. Putri pun diam, tak tega menolaknya.
"Izinkan aku memelukmu karena mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya, setelah ini kau akan menjadi miliknya. Kau yang seperti ini semakin membuatku menyesal. Membuatku semakin mencintaimu, tapi apalah dayaku? Aku tidak bisa memilikimu," rintih Kei dalam hati.
***
__ADS_1
Sementara itu 1 jam sebelumnya, Vincent pulang ke rumah lebih awal karena ia sudah menyelesaikan semua urusan kantor dengan cepat, "Akhirnya semua selesai. Sekarang aku bisa menghabiskan waktuku dengannya tanpa gangguan," ucapnya seraya menaiki tangga menuju kamar calon istrinya, tapi ia tidak mendapatinya di sana.
Lantas, Vincent pun bertanya pada para pelayan di rumah itu, tapi tidak ada satupun yang tahu ke mana majikannya itu. Vincent pun menghubungi ponsel Putri, tapi tidak ada jawaban.
Vincent pun mencoba mencari tahu lewat GPS yang terpasang di ponselnya, "Dapat!" serunya, tapi sesaat kemudian rona wajah Vincent berubah saat mengetahui di mana Putri berada saat ini.
Vincent bergegas pergi menuju tempat itu. Selama perjalanan, hatinya tidak karuan, "Apakah yang selama ini aku takutkan, akan menjadi kenyataan? Tidak! Aku tidak akan membiarkan kau merebutnya. Putri milikku!" monolognya di dalam mobil sport-nya yang melaju membelah jalanan ibu kota, hingga ia sampai di depan apartemen sahabatnya itu.
Vincent melihat sendiri bagaimana Kei memeluk wanitanya, "Putri!" teriaknya dengan keras. Putri yang mendengarnya dengan cepat mendorong Kei untuk melepaskan pelukannya, "A-abang? I-ini tidak seperti yang abang pikirkan," ucapnya panik.
"V!" ucap Kei berusaha ikut menjelaskan. "Diam kau!" bentak Vincent pada Kei. "Abang, tenanglah! Dengarkan dulu penjelasanku!" bujuk Putri mulai mendekati Vincent.
"Penjelasan apa? Apa yang ingin kau jelaskan, huh!" sahut Vincent seraya meremas kedua lengan Putri dan membuatnya meringis kesakitan. "V! Kau menyakitinya!" ucap Kei.
Vincent menatap tajam Kei, lalu tatapan itu beralih pada Putri, "Apa kau masih mencintainya?" tanya Vincent dengan suara keras, semakin meremas kuat lengan Putri. "Abang, sakit!" sahut Putri.
"V, hentikan!" bentak Kei berusaha melepaskan tangan Vincent dari lengan Putri, tapi dengan kasar, Vincent malah mendorong tubuh Putri hingga Kei dengan sigap menangkapnya.
Dengan tatapan penuh kebencian, Vincent berkata, "Aku benci kalian berdua!" dengan dinginnya. Tubuh Putri melemas mendengarnya, "Jangan! Jangan katakan itu! Aku mohon... Jangan katakan kau membenciku!" ucapnya yang tidak dihiraukan Vincent yang pergi meninggalkan mereka berdua.
Putri berlari mengejar Vincent, tapi ia tidak sempat menyusulnya. Vincent sudah menghilang bersama mobil sport-nya. Putri mencoba menghubunginya, tapi sebelum panggilan itu terhubung, ponselnya mati kehabisan daya.
Lantas, dengan tergesa, Putri menyusul Vincent. Sesampainya di kediaman Adhitama, Putri tidak mendapati mobil Vincent terparkir di halaman rumah itu, "Apa dia tidak pulang?" pikirnya.
Saat Putri berlari menuju pintu masuk rumah, Tuan dan Nyonya Adhitama tampak berlari keluar rumah melalui pintu yang sama, "Ayah, ada apa?" tanya Putri.
Kedua wajah itu tampak panik. "V, Put!" ucap Nyonya Adhitama yang sudah mulai menangis. "Ada apa dengan abang?" tanya Putri yang mulai khawatir menunggu jawabannya. "Putri, nanti saja kita bicara. Sebaiknya, kau ikut saja dulu," ucap Tuan Adhitama seraya merangkul bahu Putri menuju mobil.
"Apa? Apa yang terjadi? Kenapa aku menjadi takut seperti ini? Tidak! Jangan terjadi apa pun! Aku mohon! Aku mohon semua baik-baik saja! Esok adalah hari yang sempurna untuk kita dan sebagai awal untuk kenangan kita yang sempurna nanti, aku mohon jangan pernah berpikir meninggalkanku sekali pun," ucap batin Putri memohon.
__ADS_1