Jantung Hati

Jantung Hati
Aku Sangat Mencintaimu


__ADS_3

"Cukup!" ucap Kei di sela-sela ciuman mereka, "kalau tidak berhenti sekarang..." lanjutnya. "Tidak mau! Aku mau melanjutkannya," ucap Putri pelan dengan menyembunyikan wajahnya di dada Kei dan kejadian malam itu pun terulang lagi.


Skip beberapa jam kemudian, Putri terbangun dalam pelukan Kei, "Sayang, bangun!" ucapnya yang langsung terduduk. "Sebentar lagi..." sahut Kei seraya memeluk pinggang Putri. "Ini sudah siang. Aku harus pulang. Kasihan si kembar," ucap Putri.


Kei langsung membuka kedua matanya saat mendengar kata "si kembar" dari bibir Putri, "Astaga! Kita benar-benar melupakan mereka!" ucap Kei yang langsung terduduk di atas ranjang.


Mereka berdua pun bergegas bersiap untuk pulang. Saat sedang bersiap, ponsel Putri berdering, Jimmy menghubunginya. Awalnya, Putri berniat memarahinya atas rencananya bersama Sasa, tapi ia urungkan setelah Jimmy mengatakan tujuannya menghubungi Putri untuk memberitahukan hasil tes DNA mereka.


"Apa hasilnya sudah keluar? Cepat sekali!" tanya Putri tidak percaya. "Iya, karena aku sengaja memintanya sebagai kasus darurat. Aku pintar, 'kan?" jawab Jimmy dengan tertawa bangga atas ide cemerlangnya.


"Lalu, apa hasilnya?" tanya Putri mulai gugup. "Selamat, Kei Alexis Dexter adalah ayah biologis putrimu," jawab Jimmy dengan sangat jelas.


Putri dan Kei saling tersenyum bahagia, bahkan Kei memeluk erat Putri saat mendengarnya, tapi Putri menyadari sesuatu yang janggal dari perkataan Jimmy, "Putriku? Maksudmu?" tanyanya ragu.


Kei mengernyitkan keningnya tidak mengerti apa maksud pertanyaan Putri pada Jimmy. "Iya, anak pertamamu yang berjenis kelamin perempuan adalah anak kandung Kei, tapi menurut hasil tes DNA, kau mengalami kehamilan kembar superkundasi," jawab Jimmy.


"Aku sudah menanyakan ini pada dokter kandungan di rumah sakit ini, kata dokter, itu artinya dua sel telur milikmu sudah dibuahi dua spermatozoid yang berbeda, satu milik Kei dan satunya lagi..." ucap Jimmy mulai menjelaskan panjang lebar.


"Jangan membuatku pusing! Intinya saja!" kata Putri memotong. "Intinya, anak keduamu, putramu adalah anak biologis Vincent," jawab Jimmy dengan singkat, padat dan jelas.


Prakk! Ponsel Putri terjatuh dari tangannya. Putri terdiam mencerna kembali semua yang ia dengar. Kei meraih ponsel yang tergeletak di lantai itu dan menyambung percakapan dengan Jimmy, entah apa yang mereka berdua bicarakan.


"Bagaimana ini?" ucap Putri lirih seraya menahan tangisnya. Kei menghampiri Putri dan menangkup wajah cantiknya, "Tenanglah. Aku akan tetap menikahimu, meski sekalipun keduanya bukan anakku," ucapnya dengan sangat lembut.


Putri menangis memeluknya. "Ssst... Sudahlah, jangan menangis!" bisik Kei seraya mengusap-usap lembut punggung Putri untuk menenangkannya. "Ayo, kita pulang. Anak-anak kita pasti sudah menunggu kita," ajak Kei seraya mencubit hidung mancung Putri.


***

__ADS_1


Sesampainya di kediaman Keluarga Adhitama, Kei langsung mengutarakan niatnya untuk menikahi Putri pada kedua orang tua angkatnya itu dan lamaran pun diterima karena inilah yang mereka harapkan, putrinya bersama dengan orang yang ia cintai dan bagaimanapun ini juga keinginan putra mereka, Vincent.


Untuk pertama kalinya, Kei menemui si kembar. Kei meminta Putri untuk mempertemukan mereka. Putri pun mengajaknya ke kamar bayi.


Jantung Kei benar-benar berdegup kencang saat kakinya melangkah masuk ke kamar si kembar dan Kei benar-benar terpaku saat melihat putrinya untuk pertama kalinya.


Kei menyentuh dadanya yang kembang kempis, bahkan tanpa disadarinya, ia menitikan air matanya. "Apa dia putriku?" tanyanya dengan tatapan takjub yang tidak bisa ia palingkan dari malaikat kecil yang sangat cantik dengan mata bulat sepertinya itu, "bukankah si cantik ini mirip denganku?" tanyanya tersenyum seraya menyentuh lembut pipi putri cantiknya itu.


"Rambutnya ikal sepertiku. Hidungnya juga mirip hidungku. Bibirnya juga, tipis seperti punyaku. Tapi, bulu matanya lentik seperti mami. Kulitmu seputih mami, ya, sayang? Alisnya juga, cantik seperti mami. Maaf, papi baru menemuimu..." lanjut Kei yang di balas senyuman dari bayi mungil itu.


"Ah, cantiknya! Ternyata, senyumanmu sama persis dengan mami. Lesung pipitnya juga," kata Kei terkesiap menyadari senyuman putrinya sama persis dengan senyuman wanita yang sudah membuatnya bertekuk lutut itu.


Lalu, atensi Kei beralih ke satu box bayi yang lainnya, ia pun beranjak mendekatinya. Kei memandang bayi tampan itu, matanya membulat sempurna, seperti tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depannya, "V!" ucapnya pelan.


Putri memejamkan matanya saat mendengarnya. Siapapun yang melihatnya pasti menyadarinya, mata tajam berwarna hitam pekat dengan bulu mata panjang lentik itu jelas milik Vincent.


Bayi tampan itu tiba-tiba menangis saat melihat Kei semakin mendekatinya. Tanpa Putri duga sebelumnya, Kei yang melihatnya langsung menggendong bayinya dan ajaibnya, bayi tampan itu langsung tenang dalam dekapan Kei. Padahal selama ini, bayi itu sangat sulit untuk di tenangkan, bahkan oleh Putri, bundanya sekali pun.


Tiba-tiba Putri menangis melihat pemandangan di depannya, Kei yang mengendong putranya di dadanya dan mata bayi itu yang seolah berkata pada Putri bahwa ia mengerti suara jantung yang sedang ia dengar ini adalah suara jantung milik ayah kandungnya.


Kei yang melihat Putri menangis pun, merentangkan satu tangannya, mengisyaratkan Putri untuk mendekat ke dalam pelukannya. Putri pun memeluk kedua lelakinya itu.


"Apa kau sudah memberi mereka nama?" tanya Kei. Putri menggeleng karena ia sendiri bingung ingin memakai nama apa di belakang nama putra putrinya.


"Belum? Lalu, bagaimana kau memanggil mereka selama ini?" tanya Kei bingung. "Aku hanya memanggilnya si cantik dan si tampan," jawab Putri malu-malu.


"Boleh aku yang memberi mereka nama?" tanya Kei meminta izinnya. Putri tertegun mendengarnya, lalu tersenyum dan mengangguk, mengizinkan Kei memberi nama untuk kedua malaikat kecilnya.

__ADS_1


"Bagaimana jika Cantika Alexandria Dexter untuk si cantik," usul Kei. "Cantika?" ucap Putri seraya berpikir sambil memandang bayi mungil itu yang tengah asyik bermain di dalam box nya. "Iya, Cantika. Bukankah tadi katamu, kau memanggilnya si cantik?" sahut Kei yang juga memandangi putrinya itu.


Tiba-tiba, malaikat kecil itu tersenyum cantik menatap kedua orang tuanya yang sedang memperhatikannya, "Ah, lihatlah! Ia cantik sepertimu. Apa kau menyukai nama yang papi berikan, sayang?" ucap Kei.


Putri menggendong putri cantiknya itu dan lagi-lagi bayi itu tersenyum, bahkan kali ini ia menunjukan gelak tawanya saat melihat Kei yang sedang menggendong saudara kembarnya.


Kei mencium pipi Cantika dengan gemas, membuat bayi itu tertawa lagi, "Sepertinya, ia menyukai ciuman papinya seperti maminya," goda Kei pada Putri. Mereka pun ikut tertawa bersama.


"Dan kau, jagoan..." ucap Kei seraya mengangkat tinggi tubuh mungil di tangannya itu, "Vincent Adhitama Junior! Namamu Vincent. Jadilah pria hebat dan abang tampan seperti ayahmu," kata Kei tulus. Gelak tawa pun keluar dari bibir mungil itu.


Putri kembali menitikan air matanya saat Kei menyebutkan nama itu. "Boleh 'kan aku memberinya nama itu?" tanya Kei sekali lagi meminta izin, "biarkan ia tetap hidup di antara kita," lanjutnya.


Putri mengangguk seraya tersenyum dengan linangan air matanya. Kei pun kembali memeluk Putri dan kedua buah hati mereka, "aku mencintai kalian," katanya seraya mengecup lembut pucuk kepala Putri.


"Abang?" ucap Putri tiba-tiba. Kei menatap bingung Putri. "Tapi Vincent 'kan adiknya Cantika!" lanjut Putri bingung. Kei menyeringai kecil lalu berbisik di telinga Putri, "abang untuk adik-adiknya nanti!" Putri yang mendengarnya pun hanya bisa merona.


Tanpa mereka tahu, ada seseorang yang diam-diam tengah menikmati kebahagian mereka. Seseorang yang menatap Kei dan Putri bersama anak-anak mereka dengan senyuman bahagianya.


Meski begitu, sebulir air matanya pun akhirnya, keluar dari ujung matanya. Ia pun mendekati mereka. Manik hitamnya lekat menatap penuh cinta Putri yang tersenyum bahagia.


Lantas, diam-diam ia mencium pipi Putri dengan begitu mesra. Lama, seolah tak ingin melepaskannya. Kemudian, atensinya beralih pada bayi tampan di dalam gendongan Kei.


Deg! Mata hitamnya bertemu dengan mata hitam malaikat kecil itu. Sebuah senyuman yang tertampan pun mengembang di wajah tampannya. Ia tahu, putranya itu selalu menyadari kehadirannya di sana.


"Hei, junior, ayah pergi dulu! Berbahagialah meski tanpa ayah. Percayalah, ayah akan selalu ada menjagamu dan mami," ucapnya seraya dengan perlahan sosoknya memudar dan menghilang bersama udara.


..........................TAMAT...........................

__ADS_1


__ADS_2