Jantung Hati

Jantung Hati
Aku Pergi Dulu


__ADS_3

Vincent kembali memeriksa isi tas sekolahnya sebelum berangkat sekolah pagi ini. Tidak terasa sebentar lagi, ujian akhir sekolah akan dimulai.


Iya, ujian sekolah. Satu-satunya alasan Vincent untuk menarik diri dari Putri dan Kei. Mungkin, menjauh dari mereka adalah yang terbaik yang bisa Vincent lakukan.


Tidak ada jalan untuknya memperjuangkan perasaanya, hingga ia memilih mundur perlahan dalam diamnya, bahkan Vincent sudah memikirkan rencana ke depannya agar ia tidak selalu melihat kemesraan mereka berdua yang selalu membuat hatinya sakit.


Membantu ayahnya di perusahaan mereka dan kuliah secara bersamaan adalah pilihannya. Dua hal itu pasti akan menguras waktu dan pikirannya, tapi memang itulah tujuannya agar ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan perasaan terlarangnya. Apa Vincent baik-baik saja? Tidak! Vincent sedang berusaha membunuh perasaannya sendiri. Bagaimana bisa ia baik-baik saja?


Vincent memasang tas sekolahnya itu di bahunya, melangkah keluar kamarnya untuk sarapan di ruang makan, tapi ia terkejut saat mendapati Kei yang baru saja keluar dari kamar Putri yang tepat bersebelahan dengan kamarnya.


Kei tampak memasang ekspresi bingung saat berdiri di depan pintu kamar Putri. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Vincent seraya menghampiri Kei.


"Oh, V! Tante memintaku membangunkan Putri, tapi dari tadi aku membangunkannya, Putri tidak bangun-bangun. Apa dia sakit? Apa perlu memanggil dokter? Tapi, badannya tidak panas," ucap Kei terlihat agak panik.


Vincent menghela nafas panjang, lalu membuangnya kasar. "Kau tutup saja mulutnya. Putri akan langsung bangun kalau mulutnya disentuh," ucap Vincent.


"Aku pergi dulu!" lanjut Vincent seraya berlalu meninggalkan Kei yang terdiam mencerna kata-kata Vincent barusan dengan mata bulatnya yang sesekali mengerjap.


"Jadi... " gumam Kei terpotong. Kei pun kembali ke kamar Putri dan memperhatikan wajah gadisnya itu yang terlelap dengan begitu damainya.


Satu morning kiss pun Kei berikan untuk Putri tidurnya itu, tapi sejenak ia menahan bibirnya tetap menempel di bibir Putri, hingga kedua manik indah itu terbuka perlahan.


Melihat Putri yang sudah bangun dari tidur panjangnya, Kei pun kembali berdiri di sisi ranjang, sedangkan Putri langsung panik bukan main melihat Kei yang menatap tajam kearahnya.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Putri. Kei kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Putri, membuat jantung Putri kian berdetak semakin cepat.


"Membangunkan putri tidur yang ternyata selalu bangun dengan ciuman pangerannya," goda Kei tepat di depan telinga Putri dan membuat Putri kembali merasakan malu yang teramat sangat.


Kei sudah mengetahuinya, jika malam itu Putri hanya berpura-pura tidur saat Kei berkali-kali mencium bibirnya, ditambah sekarang Kei melihat bagaimana kacaunya ia saat bangun tidur.


"Dan apa aku bangun kesiangan?" pekik Putri yang baru sadar 100%. "Makanya, cepatlah bangun dan bersiap, jika kau tidak ingin kita terlambat! Aku akan menunggumu di bawah," ucap Kei seraya keluar dari kamar Putri.


***


Sepulangnya dari sekolah, Putri dan Kei terus mengobrol dengan serunya di dalam mobil. "Dia terlihat sangat bahagia dan semakin hari, dia semakin tampan dan keren saja," pikir Putri yang sedari tadi memperhatikan Kei yang berbicara sambil menyetir mobilnya.


"Aku bahagia jadi tunangannya," ucap Putri dalam hati sambil terus menatap Kei dengan tatapan terpesonanya, sedangkan Kei yang sedari tadi asyik bicara sambil tetap fokus mengemudi, tidak menyadari tatapan Putri itu.


Putri tersenyum lembut memandang pujaan hatinya itu sampai tanpa Putri sadari mobil yang membawa mereka berdua sudah berada di depan rumahnya. "Sudah sam- ... " ucap Kei terpotong karena Putri tiba-tiba mengecup sekilas bibirnya.


Kei yang terkejut karena mendapat serangan mendadak pun membulatkan matanya. Selama mereka bertunangan hampir 1 tahun ini, hanya Kei yang bersikap aktif, bahkan mungkin agresif, sedangkan Putri selama ini sangat pasif. Baru pertama kalinya, Putri berinisiatif lebih dulu.

__ADS_1


Putri yang akal sehatnya sempat hilang karena terpesona pada ketampanan seorang Kei Alexis Dexter, kini perlahan akal sehat itu terkumpul kembali. "A-apa yang aku lakukan? A-aku ti-tidak... " ucap Putri gagap seraya memundurkan tubuhnya dengan cepat.


"Sayang, kau baru saja menciumku, di sini!" jawab Kei seraya menunjuk bibirnya, bagian tubuhnya yang baru saja dicium Putri, "apa kau sengaja ingin menyerangku?" tambahnya.


Dengan cepat, Putri menutup wajahnya karena malu. "Apa yang aku lakukan? Ini pertama kalinya aku yang lebih dulu menciumnya," ucap Putri membatin. Kei pun tertawa melihat tingkah Putri yang menurutnya sangat imut.


"Oke, tenanglah. Sayang bebas melakukan apa pun padaku. Aku tidak keberatan dan aku sangat menantikan yang selanjutnya, sayang!" goda Kei sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal. Tanpa berkata apapun, Putri langsung bergegas keluar dari mobil Kei, meninggalkan Kei yang tertawa seorang diri.


***


Karena sebentar lagi ujian sekolah Vincent akan dimulai, Kei pun memutuskan menemui sahabatnya itu. Sudah lama, ia tidak berbincang dengan sahabatnya itu, bahkan sejak ia meresmikan hubungannya dengan Putri, Vincent seolah menjadi sangat sulit ditemui.


Walaupun Kei bisa menerima alasan Vincent yang ingin fokus menyiapkan diri untuk menghadapi ujian, tapi tetap ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Apa yang membuat sahabatnya itu berubah?


Vincent membuka pintu kamarnya saat Kei mengetuk pintunya. "Apa kau tidak salah kamar?" tanya Vincent seraya mengernyitkan dahinya. "Tidak. Aku memang ingin menemuimu. Apa aku mengganggumu?" tanya Kei.


"Oh, tidak. Masuklah!" ucap Vincent mempersilahkan sahabatnya itu. Kei memperhatikan kamar Vincent. Tampak beberapa buku yang terbuka di atas ranjang dan meja belajar Vincent. "Sepertinya ia benar-benar belajar," pikir Kei.


Namun, Kei mengerutkan dahinya saat atensinya tertuju pada sebotol wine yang ada di kamar itu. "Kau minum, V?" tanya Kei bingung. "Apa V belajar sambil minum?" ucap Kei dalam hati.


"Ah, aku hanya sedang ingin meminumnya," jawab Vincent seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "kau mau?" tawarnya.


Lagi-lagi, Kei mengerutkan dahinya saat melihat isi lemari pendingin itu yang penuh dengan bir. "Sejak kapan ia menyimpan bir sebanyak itu? Apa dia tertekan gara-gara ujian?" ucap batin Kei terus bertanya-tanya.


Dua sahabat itu pun mengobrol seperti biasa, menghabiskan waktu bersama dengan ditemani wine dan bir serta beberapa cemilan yang mereka ambil dari dapur. Sudah lama mereka tidak seperti ini.


Gelak tawa mereka pun sesekali menyeruak hingga terdengar keluar kamar, membuat Putri yang baru saja datang setelah menemani bundanya belanja seharian, menghentikan langkahnya tepat di depan kamar Vincent.


"Apa yang mereka lakukan?" gumam Putri yang memang mengetahui bahwa tunangannya sedang bersama abangnya di rumah.


Putri pun memutuskan masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Setengah jam kemudian, Putri kembali ke kamar Vincent untuk menyapa keduanya, tapi apa yang Putri dapati?


Kamar Vincent yang berantakan dengan cemilan dan kaleng bir yang berserakan di lantai. Juga Vincent dan Kei yang sudah terkapar di atas tempat tidur Vincent.


"Ya, ampun! Apa yang kalian lakukan?" pekik Putri. Kei membuka matanya saat mendengarnya, lalu duduk bersandar di sisi ranjang sambil tertawa melihat Putri yang memasang wajah marahnya.


Kemudian, Kei berusaha berdiri dan menghampiri Putri. "Aku menemani abangmu minum, tapi dia lebih dulu mabuk," ucap Kei.


"Apa sayang sendiri tidak mabuk!" sahut Putri sarkas. "Tidak. Aku tidak mabuk. Aku hanya minum sedikit. Papah 'kan melarangku minum banyak," ucap Kei dengan wajah sangat imut seperti anak kecil.


"Kau mabuk!" ucap Putri menatap tajam Kei. "Aku bilang, tidak! Kalau kau tidak percaya, aku pulang saja," kata Kei merajuk. "Hei! Apa kau ingin pulang dengan keadaan mabuk seperti ini?" kata Putri seraya menahan tubuh Kei yang hampir terjatuh saat melewatinya.

__ADS_1


"Tidak boleh! Sayang harus menginap di sini. Aku tidak akan mengizinkan sayang pulang seperti ini," lanjut Putri. Dengan sedikit tertatih, Putri memapah Kei menuju kamar tamu di sebelah kamar mereka.


"Sayang berat!" ucap Putri setelah merebahkan tubuh tinggi Kei di ranjang tamu itu, "tunggulah di sini, aku akan kembali," lanjutnya sebelum kembali ke kamar Vincent.


Setelah membersihkan dan merapikan kamar sang abang, Putri kembali ke kamar tamu untuk memeriksa Kei dan mendapati Kei yang tertidur di atas ranjang. "Apa dia tidur?" gumam Putri seraya memperhatikan wajah tampan dengan hidung mancung dan bulu mata yang lentik itu.


Putri pun mengambil ponselnya, berniat mengabadikan wajah tampan tunangannya saat tidur dan agar mendapat angle foto yang sempurna, Putri pun mendekat. Cekrek!


Sepasang mata bulat yang semula tertutup itu terbuka seketika. Dengan cepat, tangannya menangkap tangan gadis yang baru saja mengambil fotonya tanpa izinnya itu.


Kei menarik Putri hingga terjatuh tepat di atas dadanya, mata sayunya memicing menatap Putri. "Sayang, apa yang... " ucap Putri terpotong karena dengan cepat, Kei meraih tengkuknya, menciumnya dengan sangat lembut.


Bukan sekedar kecupan yang menempelkan bibir saja, seperti yang biasa ia lakukan selama ini. Perlahan, Kei mencium pelan bibir dengan aroma stawberry manis kesukaannya itu.


Putri yang semula diam, mulai terhanyut dengan ciuman yang Kei berikan, hingga Kei membalikan posisi mereka. Kini, Keilahian yang mengukung Putri di bawah kedua lengan kekarnya.


Perlahan, Putri semakin memejamkan matanya menikmati kelembutan bibir seorang tuan muda Dexter, bahkan ia mengalungkan kedua tangannya di leher Kei, memeluknya semakin erat.


"Yang..." ucap Kei di sela-sela ciumannya seraya membelai lembut pipi mulus Putri. "Hmm?" sahut Putri dengan tatapan sayu. Kei kembali mencium bibir itu. Kini, ciuman itu terasa semakin dalam. Mereka berdua benar-benar menikmatinya, hingga bibir Kei berpindah ke leher jenjang Putri.


"Sayang, hentikan!" pinta Putri saat menyadari tangan Kei yang mulai menyusup dari balik bajunya, merayap perlahan di pinggang rampingnya, tapi Kei seperti tidak mendengarnya.


Kei tetap melanjutkan aksinya. "Sayang!" pekik Putri saat Kei menggigit kecil lehernya sampai kemerahan. "Sayang, jangan!" pekik Putri sekali lagi saat tangan Kei merayap naik hampir mengenai salah satu payudaranya.


Putri sudah berusaha sekuat tenaga mendorong Kei, tapi badannya yang terlalu mungil untuk Kei, jelas kalah dalam hal tenaga. "Sayang, serius! Aku tidak mau melakukannya! Hentikan!" pekik Putri dengan keras, bahkan hampir menangis, membuat Kei seketika menghentikan segala aktivitasnya.


Kei bangkit dari tubuh Putri, "Baik, aku berhenti," ucapnya dengan ekspresi wajah bersalah, "sayang, jangan membenciku. Aku mohon... " ucapnya memelas.


Putri yang masih shock pun menganggukkan kepalanya, "A-apa? Baiklah. Aku tidak membencimu. Sekarang, kembalilah tidur," ucapnya dengan suara bergetar karena rasa takutnya.


Kei langsung membaringkan tubuhnya di samping Putri, tapi yang dilakukannya selanjutnya sungguh tidak terduga. Kei menarik tubuh Putri untuk menghadap kearahnya. Kei mengelus-elus punggung Putri dengan lembut.


Dengan mata tertutup, Kei menyanyikan lagu nina bobo untuk Putri dengan suara merdunya. Kei melakukan seperti yang selalu dilakukan papahnya saat menidurkannyabdi waktu kecil, "Waktunya tidur, anak nakal!" ucap Kei.


Putri menghela nafas panjang. "Bukan aku, tapi sayang yang tidur. Sayang benar-benar mabuk rupanya," ucap putri. "Kenapa kau belum tidur?" tanya Kei dengan wajah marah. "Bukan aku. Kaulah yang seharusnya tidur!" sahut Putri.


"Tidak. Tidak. Kaulah yang seharusnya tidur!" paksa Kei, "lalu, aku bisa menciummu lagi saat kau tidur," lanjutnya seraya menunjukkan senyum evil-nya.


Putri memicingkan matanya saat mendengarnya. "Kau tidak boleh menciumku saat aku tidur!" ucapnya kesal. "Kenapa? Apa kau tidak suka?" tanya Kei dengan ekspresi seperti anak kecil yang dilarang bermain oleh ibunya.


"Iya, karena saat itu aku tidak tahu apa yang terjadi," jawab Putri. Dengan wajah cemberut, Kei pun menjawab, "Baiklah, Aku tidak akan melakukannya," seraya kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan langsung tertidur.

__ADS_1


__ADS_2