Jantung Hati

Jantung Hati
Tentu Saja, Aku Tahu!


__ADS_3

Vincent membuka matanya dengan segala ingatannya tentang Putri, bahkan ia masih ingat dengan baik, bagaimana tadi pagi ia membuat Putri menangis, menyakitinya, menghancurkan hatinya serta tubuh Putri dalam gendongan Kei, yang semakin menjauh meninggalkannya yang masih terpaku.


Vincent bangun dari tempat tidur rumah sakit itu, melepas paksa infus yang terpasang di tangannya, tidak peduli dengan darah segar yang mengucur karena ulahnya itu. Lantas, dengan cepat, ia menggenggam tangannya, berharap hal itu dapat menghentikan darahnya yang terus mengalir.


Sesekali, rasa sakit itu muncul lagi, bahkan kepalanya masih terasa sangat berat, untuk berjalan pun ia sulit. Sesekali pula, ia menyandarkan tubuhnya di dinding untuk sekedar berhenti sejenak mengumpulkan kembali tenaganya yang terkuras karena menahan sakit, tapi ia tetap tidak peduli dengan semua itu, sekarang ia hanya ingin menemui Putri.


Dengan tertatih, Vincent berjalan berniat mencari keberadaan Putri dan memintanya untuk kembali, memohon kepadanya untuk memaafkan dirinya, bahkan jika perlu ia akan bersujud di kakinya. Apa pun itu akan ia lakukan, asal Putri tidak meninggalkannya.


Saat melewati ruangan dokter spesialis syaraf yang menanganinya beberapa minggu terakhir ini, Vincent teringat bahwa ia belum sempat menemui dokter itu untuk mengambil hasil pemeriksaannya.


Tiba-tiba, Vincent mendengar suara yang familiar di sana, "Bunda?" ucapnya dengan tersenyum seraya menghentikan langkahnya di depan pintu ruangan itu dan berniat untuk masuk sekedar memberitahukan bahwa ia sudah mengingat semuanya.


Vincent baru meraih ganggang pintu ruangan dokter itu, tapi tubuhnya terhenti saat mendengar pembicaraan dokter dan orang tuanya dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.


"Seperti yang saya bilang sebelumnya, saat kecelakaan itu kami memang sudah menemukan gumpalan darah di bawah tengkorak kepala putra anda," kata dokter memulai penjelasannya.


"Saat itu, tidak dilakukan pengangkatan karena hanya berupa titik kecil dan pasien sadar sehari setelah kecelakaan, tapi setelah keluar dari rumah sakit, putra anda tidak pernah memeriksakannya lagi. Baru 2 minggu yang lalu, putra anda datang menemui saya dengan keluhan sakit kepala yang lebih sering dari biasanya."


"Melihat riwayat putra anda yang mengatakan bahwa ia sering mengalami sakit kepala, bahkan sebelum kecelakaan dan pernah terjatuh saat masih kecil hingga ia pingsan, saya menyimpulkan gumpalan itu sudah ada di sana, bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi dan kecelakaan itu memperparah kondisinya."


"Sekarang, gumpalan itu sudah membesar dan semakin menekan saraf-saraf yang ada di bawahnya. Hal inilah yang selalu membuatnya kesakitan," kata dokter mengakhiri penjelasannya.


"Apa bisa disembuhkan dengan operasi, Dok?" tanya Tuan Adhitama yang sangat khawatir. "Kemungkinan untuk berhasil sangat kecil, sebaliknya resikonya sangat besar. Tapi jika tidak dioperasi secepatnya, kemungkinan untuk bertahan..." Dokter mengatakan itu dengan tertahan seraya menggelengkan kepalanya pelan tanpa berniat melanjutkan kata-katanya.


Mendengar itu semua, tubuh Vincent merosot ke bawah dengan cepat, seolah lantai yang ia pijak luluh lantak seketika. Hal terakhir yang ia dengar hanyalah isak tangis kedua orang tuanya yang membuatnya turut menangis seorang diri.

__ADS_1


Vincent menyeka air matanya saat tiba-tiba ia teringat kembali dengan tujuan awalnya mencari Putri. Dengan tenaga yang tersisa, ia kembali bangkit dari keterpurukannya. Saat ia ingin beranjak dari tempat itu, ia melihat Sasa yang baru keluar dari ruangan di depannya.


Semula, Vincent berniat menghampiri Sasa untuk menanyakan ke mana Kei membawa Putri, kekasihnya, tapi lagi-lagi telinganya mendengar hal yang mengejutkan lainnya.


"Semoga kami bisa secepatnya menemukan donor jantung yang cocok untuk Tuan Kei, agar operasi transplantasinya dapat dilakukan segera," ucap dokter di depannya yang sedang berbicara dengan Sasa.


"Apa? Transplantasi... jantung!" ucap Vincent tidak percaya. Suara Vincent sontak membuat Sasa membalikan badannya dan mendapati Vincent yang sudah berdiri di belakangnya. Sasa pun mengajak Vincent pergi untuk menceritakan semuanya.


Bagaimana 7 tahun yang lalu, Kei yang ambruk setelah mengantarkan Sasa ke bandara dan harus dilarikan ke Singapura. Bagaimana Kei harus berjuang seorang diri melawan kematian selama koma beberapa minggu di Singapura.


Bagaimana selama ini, Kei menahan sakitnya seorang diri tanpa mau membagi rasa sakitnya itu pada Vincent, sahabat karibnya, juga pada Putri, kekasih hatinya yang selalu ia cintai, bahkan sampai detik ini perasaan itu tidak pernah berubah sekalipun.


Bagaimana Kei yang terpaksa memilih pergi meninggalkan cintanya, tak ingin istrinya berharap pada hidupnya karena ia sendiri juga kehilangan harapan untuk itu. Bagaimana Kei dengan rela menyerahkan istrinya untuk sahabatnya sendiri karena ia yakin sahabatnya itu akan menjaganya dengan baik, untuknya.


Bagaimana Kei dengan ikhlasnya tersenyum saat melihat undangan pernikahan sahabatnya bersama wanita yang ia cintai. Juga bagaimana Kei begitu marahnya saat melihat wanitanya disakiti oleh sahabatnya itu.


"Di saat kami sama-sama melawan takdir-Mu, kau buat kami jatuh cinta pada wanita yang sama. Tak bisakah Engkau mengalah, menyisakan satu di antara kami untuk menjaganya?" kata Vincent memohon pada Tuhan.


***


Putri terbangun saat menyadari Vincent yang sudah tidak ada di sampingnya, ternyata hari sudah siang. Putri pun beringsut pelan bangun dari ranjang, berniat membersihkan tubuhnya yang sangat lengket akibat ulah kedua pria itu.


Namun, saat Putri mulai menggerakkan tubuhnya, Putri merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan tentunya di bagian area intimnya. Putri pun terpaksa berjalan dengan sedikit tertatih menuju kamar mandi.


Di kamar mandi, Putri kembali mengingat kejadian semalam, apa yang sudah dilakukannya dengan dua pria itu. Putri pun akhirnya, mulai meneriaki ketidaksadarannya.

__ADS_1


"Di mana Vincent? Kenapa dia melakukan ini? Apa ingatannya sudah kembali?"


pikira Putri. "Lalu, bagaimana dengan Kei? Apa yang harus aku lakukan setelah ini?" pikirnya lagi.


Sekarang kepala Putri benar-benar sakit memikirkannya. Lamunannya buyar saat mendengar suara pintu yang diketuk dari luar. Putri pun bergegas menyelesaikan mandinya dan membukakan pintu.


Nyonya Adhitama yang melihatnya langsung memeluknya sambil menangis. Putri yang bingung pun hanya terdiam, "Ada apa lagi ini? Kenapa perasaanku tidak enak melihat bunda menangis seperti ini?" ucap batinnya.


"Menikahlah dengan Vincent, secepatnya! Bunda mohon..." satu permintaan dari wanita yang sudah membesarkannya seperti anak kandungnya sendiri, bahkan dilakukannya dengan bersujud di hadapan putrinya itu, bagaimana Putri bisa menolaknya.


Terlebih setelah bundanya itu menceritakan semuanya tentang keadaan Vincent yang kembali membuat Putri hancur mendengarnya.


"Baiklah, Bun, aku akan menikah dengan abang," jawab Putri, membuat segurat senyum bahagia di wajah cantik wanita paruh baya yang Putri sayangi itu.


Vincent yang sedari tadi berdiri di depan kamarnya seraya menyandarkan kepalanya di dinding, memejamkan matanya saat mendengar persetujuan Putri.


"Maaf, Kei... Maafkan aku... Biarkan aku menepati janjiku untuk menikahinya. Izinkan aku untuk serakah memilikinya di sisa hidupku ini," gumamnya seraya kembali menitikkan air matanya.


***


Di ruang perawatan intensif sebuah rumah sakit di Singapura, tubuh kekar Kei terbaring lemah tak berdaya dengan beberapa selang dan kabel yang terpasang di tubuhnya yang terhubung dengan deretan alat canggih kedokteran di ruangan itu dan sebuah masker oksigen menutupi sebagian wajah tampannya yang terlihat sangat pucat.


Hening! Hanya bunyi suara alat pendeteksi denyut jantung yang terdengar memenuhi ruangan ini. Vincent berdiri menatap sahabatnya yang kembali terbaring koma ini dari balik kaca yang memisahkan mereka.


Tidak ada satu pun kata yang terucap dari mulut Vincent, hanya tatapan yang sulit di artikan yang ia layangkan. Siang ini, saat ia menuliskan sesuatu, ia mendapat kabar dari Sasa.

__ADS_1


Segera setelahnya, ia langsung terbang menuju Singapura, walau tubuhnya sendiri pun masih lemah. Vincent mengajak Putri dan kedua orangtuanya dengan alasan ingin berobat di Singapura, tanpa memberitahu mereka keadaan Kei yang sebenarnya.


__ADS_2