
Langit biru cerah dengan hamparan awan putih beserta sinar mentari pagi menyambut wajah cantik itu pagi ini, cuaca yang bagus untuk mengawali hari. Putri berdiri di balkon kamarnya, ia menghirup dalam nafasnya, menikmati sejuknya udara pagi.
Pandangannya melayang ke pintu gerbang rumahnya, lantas ia tersenyum tipis, "Sudah 5 tahun dan kau benar-benar tidak pernah kembali," gumamnya. Kemudian, Putri meraih tas kerjanya, bersiap pergi ke perusahaan ayahnya.
Putri menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan sudah lebih 1 tahun ini ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan ayahnya sendiri.
Kenapa hanya sekretaris? Karena saat melamar pekerjaan, Putri memohon pada ayahnya dan Vincent untuk tidak ikut campur dan merahasiakan identitasnya sebagai putri angkat pemilik perusahaan.
Putri ingin melamar pekerjaan seperti karyawan lain dan ditempatkan sesuai dengan kemampuan yang ia miliki. Lalu, berakhirlah Putri sebagai seorang sekretaris presdir di perusahaan itu.
Vincent menatap Putri yang sedang menuruni anak tangga menuju ruang makan. Seperti biasanya, Putri selalu berhasil membuat Vincent terpesona setiap kali melihatnya.
"Putri benar-benar berbahaya!" ucap batin Vincent. Bagaimana tidak? Waktu telah merubah bocah tengil dari panti asuhan yang dulunya polos dan sederhana, yang disukainya, menjadi wanita dewasa yang sangat cantik dan seksi, yang kini dicintainya.
Penampilan Putri sangat berubah. Sekarang, dia selalu tampil dengan anggun dan menawan. Wajah cantiknya semakin cantik dengan pulasan make up tipisnya, ditambah lagi tubuhnya yang kini terbentuk dengan sempurna, benar-benar terlihat menggoda di mata kaum adam.
Begitu pula, Vincent yang selalu gagal fokus dibuat Putri. Selama ini, banyak pria yang mendekati Putri tapi tidak ada satu pun yang berhasil membuatnya membukakan hatinya kembali, termasuk Vincent yang sampai sekarang masih setia menunggu jawaban Putri atas perasaannya.
"Selamat pagi semuanya," sapa Putri pada orangtua angkatnya dan Vincent yang sedang sarapan di meja makan. Vincent pun tersenyum, Pagi, Puti!" balasnya.
Hubungan mereka berdua sudah membaik, walau sejak pengakuan Vincent, Putri selalu membatasi dirinya sendiri untuk tidak terlalu dekat dengan Vincent seperti semula karena bagaimana pun ia sadar, Vincent juga memandangnya sebagai wanita, bukan sekedar adik lagi untuknya.
***
Putri lebih dulu sampai di kantor karena ia harus menyiapkan keperluan rapat pagi ini. Dua puluh menit sebelum rapat dimulai, para karyawan yang akan mengikuti rapat sudah mulai sibuk mengatur posisi, membuat kegaduhan di ruangan itu.
Mereka sudah harus siap sebelum presdir sadis itu datang ke ruang rapat dan saat pintu ruangan rapat itu terbuka, mereka semua pun berdiri untuk menyapa atasannya itu.
Vincent berjalan angkuh dengan tatapan dinginnya memasuki ruangan itu. Wajah super tampan ditambah postur tubuh tinggi tegap berbalut setelan jas mahal yang ia kenakan menambah visualnya semakin memukau. Belum lagi posisi paripurnanya di perusahaan itu, semakin membuat sang presdir kian sempurna di mata kaum hawa.
Mata tajam Vincent dan mata indah Putri bertemu, saat sang presdir itu lewat di depan sekretaris itu. Deg! "Kenapa semakin hari aku baru sadar kalau dia begitu tampan? Aku semakin tidak terbiasa dengan ketampanan luas biasanya ini!" ucap Putri dalam hati.
Selama rapat, diam-diam Putri terus memperhatikan atasan tampannya itu yang sedang serius mendengarkan penjelasan dari para karyawannya.
"Dia selalu keren saat memimpin rapat. Dan ekspresi bossy-nya itu... Ah! Kenapa aku malah memperhatikannya?" ucapnya dalam hati, hingga lamunannya buyar saat atasannya itu berdiri dari duduknya.
"Lakukan saja seperti yang saya suruh!" titah sang presdir sadis itu. "Tapi, Pak, jika kali ini kita gagal, kita akan rugi besar," ucap salah satu karyawan. "Jika gagal, itu adalah tanggung jawab kalian. Jadi, jangan sampai ada kesalahan!" ucapnya cuek, berlalu meninggalkan ruangan rapat. Rapat pun selesai dengan muka masam para karyawan itu.
Setelah merapikan berkas-berkas di meja rapat, Putri berniat kembali ke meja kerjanya, saat seorang pria yang merupakan rekan bisnis perusahaan yang kebetulan mengikuti rapat tadi menghampirinya.
__ADS_1
"Bagaimana? Mau berkencan denganku?" tanya Hussein tanpa ragu. Hussein sudah berkali-kali mengutarakan perasaanya kepada Putri dan berkali-kali pula ia mendapat penolakan, tapi tetap saja ia tidak menyerah.
Selama Putri masih single, Hussein akan terus mencoba. Hussein memang ramah dan menyenangkan, kemampuannya dalam pekerjaan pun menonjol, tapi dia juga terkenal playboy kelas kakap.
"Pak Hussein, maaf, tapi seperti jawaban saya sebelumnya... " ucap Putri terpotong. "Aku tahu, kau tidak percaya karena rumor playboy-ku, tapi kali ini aku ingin serius denganmu. Percayalah! Jika kau menerimaku, aku akan berhenti main-main dan mengajakmu menikah secepatnya," ucap Hussein dengan tatapan menyakinkan.
Putri memutar matanya mulai jengah dengan lawan bicaranya ini, "Kapan manusia ini menyerah? Dasar pemaksa!" ucapnya dalam hati, tapi tiba-tiba ia dikejutkan dengan keberadaan Vincent yang berdiri di belakangnya, "hah! P-pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya pada atasannya itu.
Berbeda dengan di rumah, hubungan mereka di kantor hanya sebatas presdir dan sekretarisnya, tidak ada yang tahu hubungan mereka yang sebenarnya. Selama ini, Putri meminta identitasnya untuk dirahasiakan.
Untuk itu, Vincent pun selalu menegaskan Putri untuk bersikap profesional selama bekerja. Vincent akan bersikap dingin selama di kantor, bahkan ia tidak akan memperdulikan para karyawannya yang mengejar-ngejar Putri.
Vincent tidak ambil pusing karena jika sampai mereka berani mengutarakan perasaannya, Putri selalu berhasil menolaknya dengan halus, tanpa Vincent harus turun tangan untuk membuat para pria itu pergi menjauh dari wanita pujaannya ini, tapi akhir-akhir ini ada yang mengusik ketenangan seorang Vincent Adhitama.
"Hussein, apa aku harus mengklaim Putri sebagai milikku, baru kau menjauh darinya?" geram Vincent dalam hatinya seraya menatap tajam Hussein, kemudian tatapan tajam itu beralih ke arah Putri dan tanpa berkata apapun Vincent berlalu begitu saja.
Putri pun segera mengikutinya di belakang, "Apa dia marah? Apa dia kira aku pacaran dengan Hussein? Baiklah, aku hanya perlu menjelaskannya nanti padanya," pikir Putri.
Putri pun mensejajarkan langkahnya besar dari kaki panjang milik Vincent, tapi belum sempat ia bicara dengan Vincent, notifikasi pesan di ponselnya berdering.
Putri pun membuka pesan itu, tanpa ia sadari Vincent yang lebih tinggi darinya juga membacanya dan sepasang mata Vincent terbuka lebar melihat pesan berisi, "Aku tunggu kau di parkiran," Hussein.
"Batalkan semuanya!" perintah Vincent santai. "Tapi, Pak..." ucap Putri, tapi Vincent lagi-lagi memotong ucapannya. "Dan kau ikut aku, temani aku makan siang!" ucap Vincent.
Putri yang masih bingung pun hanya menuruti saja perintah itu, "Aneh! Dia tidak pernah memintaku menemaninya makan siang. Bukankah ia selalu makan siang bersama Arjuna? Ke mana asisten pribadinya itu?" pikir Putri.
Saat hampir sampai di parkiran, "Put!" panggil Vincent yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. "Iya?" sahut Putri kaget dan turut menghentikan langkahnya.
Vincent membalikan badannya, sesaat ia memperhatikan sekeliling dan saat diyakininya tidak ada orang lain di sana selain mereka, "Di mana kalungmu?" tanyanya pada Putri dengan lembut.
"Kalung?" ucap Putri seraya mulai meraba lehernya dan tidak menemukan kalung yang ia kenakan tadi pagi. "Sudah kuduga, ini pasti milikmu," ucap Vincent seraya memperlihatkan sebuah kalung di hadapan Putri.
Melihat kalungnya yang tergantung di hadapannya, Putri pun meraihnya, berniat mengambil kalung itu dari tangan Vincent. "Terima ka- ..." ucapan Putri lagi-lagi terpotong karena dengan cepat Vincent mengangkat tangannya ke atas.
Tubuh Putri condong ke depan menabrak dada bidang Vincent. Deg! Dengan cepat, Putri membenarkan posisinya kembali, tapi yang terjadi selanjutnya sungguh membuat jantungnya berdetak cepat.
Vincent menunduk dan mendekatkan wajahnya, memasangkan kalung itu ke leher Putri, bahkan saat ini hembusan nafas Vincent sungguh terasa hangat di telinga Putri, membuat Putri membeku dengan wajah memerah.
Belum cukup sampai di situ, setelah memasangkan kalung itu, Vincent dengan santainya menggandeng tangan Putri menuju mobilnya. Putri membulatkan matanya saat menerima perlakuan manis Vincent itu.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Baru pertama kali ini, dia menggandeng tanganku saat masih di area kantor. Bagaimana kalau ada yang melihatnya?" pikir Putri.
"Astaga! Tentu saja ada yang melihatnya, Hussein!" kata Putri dalam hati saat melihat sosok Hussein yang menunggunya di area parkir. "Apa dia sengaja?" pikir Putri seraya menatap ke arah Vincent.
"Kalian?" tanya Hussein yang bingung melihat mereka berdua, tapi Vincent tidak memperdulikannya. Dengan angkuhnya, ia membawa Putri masuk ke dalam mobil sport-nya dan meninggalkan Hussein yang ternganga melihat kejadian barusan. "Sepertinya, aku sudah kalah telak duluan. Sainganku sangat berat!" ucap Hussein yang akhirnya menyerah.
***
Putri duduk di meja kerjanya, sesekali tangannya memainkan kalung yang ada di lehernya. Tiba-tiba, wajahnya memerah saat mengingat kejadian di parkiran tadi.
"Haaaah... aku tidak bisa fokus kalau mengingatnya terus," ucap Putri seraya menghela nafas dan merebahkan kepalanya di atas meja kerjanya.
"Masih muda sudah menghela nafas terus," ucap Arjuna yang dari tadi memperhatikan Putri. Sekali lagi, Putri menghela nafasnya panjang. Rasanya, Putri jadi malas melakukan apapun.
"Ada masalah apa?" tanya Arjuna. "Tidak ada. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Putri balik. "Iya. Presdir memintaku pulang lebih dulu. Apa kau masih sibuk?" kata Arjuna. "Tidak. Sebentar lagi aku juga akan pulang," jawab Putri. "Kalau begitu, aku duluan," pamit Arjuna seraya melambaikan tangannya.
Sepeninggal Arjuna, saat merapikan meja kerjanya, Putri melihat ke arah jendela, di luar sedang hujan rupanya. "Entah kenapa aku merasa kau selalu mengawasiku dari jauh. Aku sudah berusaha mencarimu dan menunggumu selama ini. Apa sekarang saatnya aku menyerah?" gumamnya seorang diri memandangi rintik hujan di luar sana.
Tap... Tap... Tap... Terdengar suara langkah mendekat. "Eh! Bukannya yang lain sudah pulang? Berarti itu... abang!" ucap Putri yang tiba-tiba panik dan dengan bodohnya langsung bersembunyi di balik meja kerjanya.
Sepulangnya dari makan siang bersama Vincent, Putri menjadi aneh. Sebisa mungkin ia selalu menghindari kontak dengan Vincent, walaupun itu hal yang sangat tidak mungkin ia lakukan, mengingat ia adalah sekretaris pribadi Vincent.
"Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Vincent yang berdiri di samping meja kerja Putri. "Hahaha..." tawa Putri dengan kikuk dan keluar dari tempat persembunyiannya itu.
"Kau sembunyi, ya?" tanya Vincent menatap tajam Putri. "Tidak! Aku sedang mencari sesuatu. Tadi ada yang jatuh di bawah sana," jawab Putri berbohong.
"Apa?" tanya Vincent datar. "Hah?" ucap Putri yang belum siap menjawabnya. "Apanya yang jatuh?" tanya Vincent, "biar abang bantu carikan," katanya lagi dan mulai menundukan kepalanya ke arah bawah meja.
"Jangan! Biar aku saja yang mencarinya nanti," tolak Putri. "Tidak apa-apa, kalau cepat ketemu 'kan bisa cepat pulang," jawab Vincent. "Sudahlah, abang tidak akan menemukannya!" kata Putri menahan Vincent dengan menarik lengannya.
Vincent sempat tertegun saat matanya menatap tangan Putri yang berada di lengannya. "Kenapa abang tidak bisa menemukannya? Memang apa yang jatuh?" tanya Vincent lagi.
Melihat Putri yang bingung harus menjawab apa, "Apa yang jatuh, hatimu?" tanya Vincent. Deg! Deg! Deg! "Aku mau pulang!" jawab Putri dengan cepat berjalan setelah menyambar tasnya.
Grab! "Jangan menghindar lagi!" ucap Vincent pelan seraya meraih tangan Putri untuk menahannya. Putri pun berbalik menatap Vincent. Srekk! Vincent menarik Putri mendekat padanya.
"Berhentilah bersembunyi dariku dan jangan menghindariku lagi!" ucap Vincent begitu lembut dengan menatap lekat wajah cantik itu. "I-iya," balas Putri tanpa berkedip menatap Vincent yang terlihat mempesona saat mengatakannya dengan suara khasnya yang dalam.
Vincent melepaskan genggamannya dan pergi meninggalkan Putri yang mematung dengan jantung yang hampir copot setelah ia tersenyum dengan begitu tampan.
__ADS_1
Deg! Deg! Deg! Putri menyentuh tangannya yang tadi di genggam oleh Vincent, "Sentuhan tangannya masih terasa. Ah! Kenapa aku jadi seperti ini?" gumamnya.