
Vincent berdiri di kamar yang akan mereka gunakan sebagai kamar pengantin mereka. Ia sedang memandang ranjang yang akan ia gunakan bersama Putri. "Apa abang suka?" tanya Putri yang berdiri di sampingnya. Vincent tersenyum. "Apa abang ingin mencobanya?" tanya Putri yang sudah merebahkan dirinya di ranjang itu.
"Nanti saja, sekarang aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu," jawab Vincent seraya membawa laptopnya, berniat kembali ke ruang kerjanya. "Sebentar saja, letakkan laptop itu!" pinta Putri manja.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku besok supaya tidak ada yang menggangu bulan madu kita nanti," jelas Vincent. "Abang, ayolah, istirahat sebentar di sini!" ucap Putri dengan posisi berbaring menyamping seraya menepuk-nepuk ranjang itu.
Vincent terdiam melihatnya. "Abang sayang..." panggil Putri genit. "Hah! Kau selalu membuatku blank! Jangan seperti itu! Aku jadi deg-degan!" kata Vincent sambil membalikan badannya, berusaha menghindari godaan Putri.
Melihat Taehyung yang ingin kabur, Putri bergegas bangun dan memeluk pinggang Vincent dari belakang. "Abang, 1 hari lagi kita menikah, bagaimana kalau malam ini kita tidur di kamar ini?" rayu Putri manja dan kembali menggoda calon suaminya itu.
Vincent berbalik dan langsung mencium bibir Putri, sampai Putri kehabisan nafas baru Vincent melepaskannya. "Jangan mencoba merangsangku lagi! I'm good boy!" ucap Vincent seraya meninggalkan Putri yang tertawa karena senang menggoda calon suami tampannya itu.
Vincent tiba-tiba berhenti saat mendengar tawa calon istrinya itu, lalu kembali berjalan ke arah Putri dan kemudian duduk di sampingnya. "Ada apa?" tanya Putri menghentikan tawanya. Vincent merangkul pundak Putri.
"A-apa yang...?" ucap Putri terpotong karena Vincent langsung mencium lehernya. Vincent bermain di leher putih itu. "Sudah lama aku tidak melakukannya," ucap Vincent di sela-sela ciumannya.
Putri memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan bibir Vincent. Sampai satu desahan tertahan lolos dari bibir merahnya dan Vincent pun menghentikan aktivitasnya, lalu menatap Putri lekat. "A-apa?" tanya Putri bingung.
Senyuman tampan itu pun mengembang, "Aku hanya balas menggodamu!" jawab Vincent sambil terkekeh. Putri yang kesal pun melempar bantal ke wajah Vincent, "Pergi saja sana! Sana pergi!" teriak Putri yang disusul tawa keras Vincent yang langsung berlari.
***
Putri baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan wajahnya, saat ia melihat Vincent yang sudah duduk di tepi ranjangnya, "Abang di sini? Ada apa? Apa Anda perlu sesuatu, Pak?" tanyanya dengan gaya biasanya, saat menjadi sekretaris pribadi Vincent, ditambah wink genitnya.
__ADS_1
Vincent terkekeh melihatnya. "Aku hanya merindukan sekretaris nakalku, sudah seminggu dia tidak menggodaku di kantor," sahutnya. "Kemarilah!" pinta Vincent seraya mengulurkan tangannya pada Putri dan Putri pun menyambutnya.
Vincent menuntun Putri untuk duduk di pangkuannya. Ia menatap Putri lembut, menikmati wajah cantik sang wanitanya. Putri membalas tatapan Vincent dengan tidak kalah lembutnya, tapi raut wajahnya berubah saat menyadari sesuatu.
"Tunggu, wajah abang pucat lagi! Apa abang sakit kepala lagi? Sudah kubilang 'kan, abang terlalu memaksakan diri selama seminggu ini. Abang seharusnya, istirahat saja. Bagaimana kalau abang sakit saat pesta nanti? Aku akan menghubungi Arjuna untuk mengurus..." omel Putri tertahan karena cupp! Vincent mengecup bibir yang sedang mengomelinya itu.
"Bisakah kau tutup mulutmu itu, sekretaris Putri? Ah, tidak! Haruskah aku memanggilmu, nyonya Vincent Adhitama?" ucap Vincent. Putri hanya terdiam memandang wajah Vincent dengan tatapan khawatir.
"Ada apa? Apa kau benar-benar akan menutup mulutmu? Hmm?" tanya Vincent seraya menyibakkan rambut Putri yang jatuh di depan wajahnya. "Aku takut..." jawab Putri pelan.
"Apa yang kau takutkan?" tanya Vincent. "Semua persiapan berjalan begitu mudah, bahkan semua terlalu lancar untukku," jawab Putri. "Lalu?" tanya Vincent lagi. "Aku takut, kendala itu malah akan ada di hari pernikahan nanti," jawab Putri ragu.
Vincent tersenyum mendengarnya. "Akan aku pastikan itu tidak akan terjadi. Tenanglah!" ucapnya seraya memeluk Putri untuk menenangkannya. Putri pun membalas pelukan kekasihnya itu.
"Akulah yang takut. Aku takut dia datang merebutmu, sebelum aku memilikimu," ucap Vincent dalam diamnya seraya mempererat pelukannya. Ia membenamkan kepalanya di dada Putri, "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu," ucapnya lirih.
"Apa kau juga mencintaiku?" tanya Vincent dengan wajah sendu. Putri mengernyitkan keningnya. Ia mengamati wajah tampan Vincent dan menemukan kekhawatiran di wajah kekasihnya itu. Lantas, Putri menangkup wajah tampan itu, "Sebentar lagi aku menjadi milik abang, apa itu tidak bisa menjawab pertanyaan yang abang berikan?" ucapnya.
"Berjanjilah, apa pun yang terjadi kau tidak akan pernah meninggalkanku," pinta Vincent dengan tatapan takutnya. Putri mencium bibir Vincent, menyalurkan perasaannya untuk meyakinkan calon suaminya itu karena baru sekarang ia melihat ketakutan di wajah tampan itu yang mampu membuatnya turut merasakannya.
Ciuman itu semakin dalam. Kali ini, tidak ada dari mereka berdua yang ingin menyudahinya, hingga bibir Vincent beralih ke ceruk leher Putri, mengecup lembut setiap incinya lalu merebahkannya, menatap dalam manik indah kekasihnya itu.
Vincent tersenyum melihat wajah Putri yang memerah seperti buah persik, ingin sekali rasanya, ia memakannya sekarang, tapi inilah seorang Vincent, walau hasrat di dalam jiwanya meronta untuk dituntaskan serta hatinya yang ingin memiliki Putri secepatnya, tapi rasa cintanya dan logikanya selalu berhasil mengalahkannya.
__ADS_1
Vincent tidak ingin merusak wanita yang dicintainya ini sebelum benar-benar memilikinya. Vincent pun turut merebahkan dirinya di samping Putri. Ia menggeliat, merentangkan tubuhnya, sedangkan Putri diam mengamati apa yang akan dilakukan prianya ini selanjutnya.
Vincent kembali tersenyum saat menyadari Putri yang memperhatikannya dengan wajah bingung. Kemudian, ia menyusupkan tangannya di bawah leher Putri. "Kemarilah!" ucapnya membawa tubuh indah yang selalu membuat hasrat seksualnya melonjak seperti saat ini ke dalam dekapannya dan memeluk tubuh itu.
"Sudah malam, tidurlah!" lanjutnya lembut seraya mengecup pucuk kepala sang pemilik tubuh itu. Putri tersenyum menerimanya. Ia membalas pelukan itu dan mulai memejamkan matanya. Inilah yang membuatnya semakin mencintai Vincent karena ia selalu merasa benar-benar dicintai olehnya.
***
Hari sudah semakin siang, tinggal menghitung jam untuk sampai pada pesta pernikahan yang akan berlangsung besok, tapi seorang Vincent Adhitama masih sibuk di kantornya dan alasannya hanya satu, menyelesaikan pekerjaannya agar tidak ada yang mengganggu honeymoon-nya nanti, sedangkan Putri malah merasa bosan di rumah.
Tidak ada kegiatan yang Putri lakukan hari ini karena semua persiapan sudah selesai dikerjakan. Ia memutuskan untuk berdiam diri di kamarnya karena hari ini adalah hari terakhir ia akan tidur di kamarnya ini.
Kamar yang sudah ia tempati sejak pertama kali datang ke rumah mewah ini. Kamar yang menyimpan semua kenangannya, termasuk kenangan pahitnya saat itu.
Satu tetes air mata tiba-tiba saja terjatuh di pipinya, saat ia menemukan sebuah benda yang entah sejak kapan ia mulai melupakannya, cincin pernikahannya dengan Kei. "Sepertinya, sekaranglah waktunya aku benar-benar melupakanmu!" gumamnya saat memandang cincin itu.
***
Putri berdiri di depan sebuah pintu apartemen. Dengan ragu, ia memasukkan password yang sama seperti dulu, tanggal pernikahannya dengan Kei.
Sebenarnya, Putri sendiri tidak mengerti apa yang membuatnya melangkahkan kakinya ke tempat yang sudah bertahun-tahun tidak didatanginya ini, padahal bisa saja apartemen ini sudah ada orang lain yang menempatinya, tapi tetap saja hatinya terasa ringan untuk datang ke sini. Niatnya, hanya ingin meletakan cincin itu karena ia sendiri tidak tahu harus ke mana mengembalikannya.
"Jadi, mari dicoba dulu. Jika tidak bisa masuk, aku terpaksa membuangnya ke sembarang tempat. Ya, membuang semua kenanganku bersamamu karena mulai besok aku hanya ingin kenanganku bersama Vincentlah yang akan mengisi hari-hariku," pikir Putri.
__ADS_1
"Apa aku benar-benar sudah bisa melupakanmu? Aku bahkan masih mengingat password ini!" gumam Putri seraya tersenyum kecut dan memencet satu persatu tombol itu. Klik!
Pintu apartemen itu terbuka dan Putri seketika mematung di tempat. Nafasnya mendadak terasa berat. Tubuhnya pun mulai gemetar saat pintu itu terbuka sempurna dan di dalam apartemen itu ia menangkap sosok yang sedang memunggunginya, sosok yang sangat ia kenal dengan punggung yang nyatanya masih begitu melekat dalam ingatannya. "Ka-kau?" ucap Putri terbata dengan suara bergetar sebelum penglihatannya menghitam dan kesadarannya hilang.