Jantung Hati

Jantung Hati
Apa Kau Gila!


__ADS_3

"Put!" panggil Kei dari mobilnya. Putri pun tersenyum melihat pria yang selalu datang di saat ia membutuhkannya itu. Kei keluar dari mobilnya, lalu membukakan pintu mobil di sisi sampingnya untuk Putri dan Putri pun menghampirinya, berniat masuk ke dalam mobil Kei.


"Putri!" sebuah panggilan menghentikannya. "V?" ucap Kei tidak percaya dengan apa yang ia lihat, "apa-apaan ini! Dia mengejarnya?" kata Kei dalam hati. Putri pun menatap tidak percaya pria yang tengah berlari ke arahnya itu.


"Apa kau akan pergi dengannya?" tanya Vincent pada Putri seraya menunjuk Kei. Putri hanya diam tidak menjawabnya. "Sejak kapan?" kata Vincent menatap tajam Putri, "sejak kapan kalian tinggal bersama?" lanjutnya dengan geram.


Putri semakin tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "V, kau sungguh keterlaluan!" ucap Kei yang sangat kesal dengan penilaian sahabatnya itu. Vincent menggigit bibirnya menahan emosinya, "Mulai hari ini kau pergilah dari rumahku! Jangan datang lagi, bahkan untuk menemui orang tuaku!" ucapnya dengan emosi.


Putri tertawa mendengarnya, "Kau tidak perlu mengusirku karena aku memang berniat untuk tidak kembali lagi ke sini, ke dalam hidupmu!" ucapnya tenang. Putri menarik tangan Kei, mengajaknya untuk lekas meninggalkan tempat itu.


Dengan kesal, Vincent masuk kembali ke istananya itu, "Aku gila sudah mengejarmu! Kenapa, meskipun aku merasa bahwa aku membencimu, jantungku terus berdegup kencang setiap kali aku melihatmu menangis? Sangat kencang, padahal aku membencimu!" gerutu Vincent seorang diri.


"Jantung ini akan berdegup kencang saat melihat air matamu dan itulah yang membuatku ingin menyakitimu, membuatmu menangis. Karena aku ingin tahu jawabannya, kenapa? Kenapa kau bisa tersenyum di depan sahabatku dan kenapa kau hanya memperlihatkan air matamu itu di depanku? Dan kenapa aku selalu kesal melihat tatapan hangat kalian berdua? Kenapa aku cemburu melihatnya?" tanya Vincent pada dirinya sendiri.


***


Satu bulan kemudian, "Apa kau sudah menemukannya?" tanya Vincent pada Arjuna yang dibalas dengan anggukan. Vincent tersenyum miring, "Mereka pasti bahagia sekarang!" sarkasnya sambil memeriksa dokumen-dokumen yang berserakan di meja kerjanya.


"Dan aku? Lucu! Aku yang mengusirnya, tapi aku juga yang menyuruh Arjuna untuk mencarinya!" pikir Vincent. Ia menghela nafasnya panjang, lalu memijit pelipisnya karena kepalanya mulai terasa berat.


"Putri sedang dirawat," ucap Arjuna singkat. "Apa! Apa dia sakit?" tanya Vincent yang tiba-tiba berdiri karena merasa khawatir. "Putri sedang dirawat di rumah sakit jiwa karena depresi yang dialaminya," jawabnya Arjuna tanpa bertele-tele.


Brukk! Seketika Vincent terduduk kembali, "Apa kau bilang? De-depresi?" ucapnya tidak percaya. Vincent mengepalkan kedua tangannya, meremasnya kuat, "Jadi... di mana dia dirawat?" tanyanya pelan.


"Maaf, saya tidak tahu. Ayah anda dan Tuan Dexter merahasiakannya," jawab Arjuna. Tidak tinggal diam, Vincent langsung menghubungi bundanya, "Bunda tahu 'kan di mana Putri?" tanya Vincent langsung. "Lalu?" sahut Nyonya Adhitama dingin.


"Tapi, kenapa aku tidak boleh mengetahuinya?" tanya Vincent. "Untuk apa lagi kau mencarinya? Tidak bisakah kau membiarkannya hidup dengan tenang?" jawab bundanya, setelah menghela nafas panjang terlebih dahulu.

__ADS_1


Vincent terdiam sesaat, "Apa dia baik-baik saja?" tanyanya ragu. Kali ini, Nyonya Adhitama yang terdiam, tidak menjawab pertanyaan putranya itu.


"Apa benar dia sakit? Arjuna bahkan mengatakan kalau dia depresi, tapi aku tidak percaya itu. Dia baik-baik saja saat terakhir datang ke rumah," ujar Vincent menyangkal semuanya. "Itu benar," jawab bundanya singkat.


"Apa!" ucap Vincent masih tidak percaya. "Sudah ada Kei yang mengurusnya. Kau tidak perlu ikut campur. Jadi, bunda mohon sekali lagi. Kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Jadi, tolong biarkan putriku itu tenang. Jangan membuat harapan sekecil apa pun di hatinya! Cukup abaikan saja adikmu itu sampai akhir," lanjut Nyonya Adhitama seraya memutuskan panggilan itu sepihak.


Vincent sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, bahkan bundanya sampai memohon padanya seperti itu dan apa tadi yang dia dengar? "Putriku? Adikmu? Apa yang bunda ingin tekankan di sini?" gumam Vincent seraya menyapu kasar wajahnya.


***


Kei sedang berdiri di hadapan seorang wanita kurus dengan tatapan kosongnya. Rambut panjangnya yang terlihat berantakan menutupi sebagian wajahnya yang tirus dan pucat.


"Kenapa berhenti? Hmm?" tanyanya lembut pada wanita itu, "lihatlah, kau semakin kurus, jika makanmu selalu sedikit seperti ini!" ucap Kei lembut seraya menaikan rambut wanita itu ke belakang telinganya, "Put..." panggilnya lembut pada wanita itu yang tampak kembali melamun.


"Bawa aku... Aku ingin menemuinya... Aku merindukannya..." ucap Putri masih dengan tatapan kosongnya. "Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah menemuinya?" tanya Kei.


"Sekarang tidurlah. Jangan pikirkan apapun! Lupakanlah semuanya! Pejamkan matamu dan tidurlah dengan nyenyak!" ucapnya seraya membaringkan Putri yang diam seperti boneka, menuruti semua perkataan Kei.


Saat ini, hanya Kei yang membuatnya merasa nyaman. Tangan kurus itu menggenggam tangan Kei, tidak mengizinkannya pergi meninggalkannya sendirian di ruangan itu. "Tenanglah, aku akan menjagamu di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu. Tidurlah!" kata Kei.


***


Hampir setiap tengah malam, Vincent terbangun dari tidurnya. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan keringat dingin yang membasahi wajah tampannya, ia bertanya pada dirinya sendiri, "Siapa wanita itu? Wanita yang mencium pipiku setiap hari... Kenapa aku merindukannya? Kenapa jantungku berdebar bila memimpikannya? Sebenarnya siapa? Siapa yang aku mimpikan?" gumamnya.


***


Sudah beberapa minggu berlalu tanpa cerita. Vincent baru saja selesai memeriksakan kepalanya yang sering terasa sakit. Saat berniat pulang, ia melihat Kei melintas di tengah kerumunan orang yang sedang mengantri di rumah sakit itu.

__ADS_1


Vincent pun berusaha mengejarnya untuk menanyakan keadaan Putri, tapi saat berlari, Vincent tidak sengaja menabrak salah seorang wanita. "Maaf," katanya seraya membantu wanita itu berdiri, ia sempat terkejut saat menyadari tangan wanita itu yang begitu kurus, tapi ia lebih terkejut lagi saat melihat wajah wanita itu, "Putri!" ucapnya.


Vincent membulatkan matanya sempurna dengan tubuhnya yang mematung seketika dan lidahnya yang tiba-tiba terasa kelu. Tanpa merespon sama sekali, Putri berlalu begitu saja dengan tatapan kosongnya, membuat Vincent semakin terpaku.


Dari kejauhan, Vincent melihat Kei yang menghampiri Putri dengan wajah khawatir. Vincent melihat Kei yang memeluk Putri, "Aku tidak mengerti dengan perasaanku ini. Saat kau ada, aku muak melihatmu, tapi saat kau pergi, aku merindukanmu. Aku juga marah melihatnya yang selalu bersamamu. Rasanya, aku ingin membunuhnya. Aku juga tidak tahu kenapa," kata Vincent membatin seraya kemudian berbalik pulang.


Saat Vincent membalikan badannya, Putri baru menyadarinya jika itu adalah Vincent. Lantas, ia pun mengejarnya. "Put! Kau mau ke mana lagi? Berhenti,Put!" panggil Kei seraya berlari menyusul Putri dan berhasil menangkapnya.


"Hei, kenapa menangis?" tanya Kei. Putri tidak menjawab, hanya semakin menangis. Kei menggendongnya, membawanya kembali ke mobil. "Dia datang... aku melihatnya... tapi, dia pergi lagi... dia meninggalkanku lagi..." racau Putri di sela tangisnya.


"Kenapa hidupku begitu menyedihkan? Aku kehilangan kedua orang tuaku, bahkan sebelum aku dapat mengenali wajah mereka. Saat aku pertama kali merasakan cinta, kau juga meninggalkanku. Dan sekarang, dia juga meninggalkanku. Kenapa semua ini begitu melelahkan? Apa dia datang hanya untuk memastikan dia sudah berhasil membuatku gila?" racau Putri lagi tanpa hentinya bicara di dalam gendongan Kei.


Kei hanya diam mendengarkannya, "Sudah lama dia tidak bicara sebanyak ini, ada apa dengannya?" pikirnya. Langkah Kei terhenti saat mendengar permintaan Putri, "Aku ingin ke rumah itu, tolong..." lirihnya.


Kei memang tidak pernah bisa menolaknya. Ia pun membawa Putri ke kediaman Adhitama. Untungnya, saat mereka datang, Vincent sedang tidak ada di rumah. Putri bertemu dengan ayah bundanya. Bagaimanapun, ia merindukan mereka.


Tuan dan Nyonya Adhitama begitu senang melihat kondisi Putri yang mulai membaik. Setelah puas melepas rindu, Kei pun mengajak Putri untuk pulang, sebelum mereka bertemu dengan Vincent. Naasnya, mereka bertemu di halaman.


Vincent menatap lekat Putri yang berada di hadapannya. "Apa kau menganggap aku tidak ada! Jelas-jelas aku di sini!" teriak Vincent saat Putri yang berlalu begitu saja di hadapannya. Dengan kasar, ia menarik tangan Putri agar menghadapnya.


"Lepaskan tanganmu, V!" bentak Kei tidak terima. "Tidak apa-apa..." ucap Putri pelan. "Tapi..." ucap Kei terpotong. "Pergilah dulu! Aku ingin bicara dengannya," pinta Putri masih dengan wajah tertunduk. Kei pun meninggalkan mereka dengan berat hati.


"Lepaskan!" ucap Putri dingin masih menundukan wajahnya. "Lihat aku, Put!" kata Vincent. Putri mengangkat wajahnya dan menatap tajam Vincent, "Apa ini cukup?" tanyanya datar.


"Kenapa kau berpura-pura tidak melihatku?" tanya Vincent yang merasa kesal sejak diabaikan Putri di rumah sakit. "Apa aku harus menyapamu dan berkata bahwa aku baik-baik saja?" jawab Putri.


"Apa kau menyukainya?" tanya Vincent ragu. "Apa maksudmu?" tanya Putri balik karena bingung kemana arah pembicaraan ini. Hening... Piutri, akhirnya tertawa kecil saat menyadari sesuatu, "Kenapa? Apa aku tidak boleh kembali padanya?" tanyanya.

__ADS_1


"Kau gila!" ucap Vincent tidak percaya dengan jawaban Putri. "Kenapa? Apa karena dia sahabatmu? Iya, aku gila! Aku gila sudah mencintaimu. Seharusnya jika aku waras, aku tidak akan mencintai abangku sendiri!" sahut Putri dengan nada yang begitu dingin seperti rasa cintanya yang sudah membeku.


__ADS_2