Jantung Hati

Jantung Hati
Tidak Tahu!


__ADS_3

"Dokter, bagaimana keadaan putraku? Di mana dia sekarang?" tanya Nyonya Adhitama yang terlihat panik. "Bagaimana bisa dia kecelakaan! Apa putraku terluka parah? Apa kalian sudah memeriksanya?" tambah Tuan Adhitama yang juga terlihat panik.


"Ayah, Bunda, tenanglah!" pinta Putri seraya memeluk bundanya. "Bagaimana bisa bunda tenang? Vincent!" ucap Nyonya Adhitama kembali terisak.


"Putra anda mengalami kecelakaan tunggal. Kami sudah melakukan pemeriksaan, pasien hanya mengalami cedera kepala ringan. Sekarang, sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan untuk sementara pasien harus dirawat di rumah sakit, kami akan memantau perkembangan pasien lebih lanjut," jelas dokter yang menangani.


***


Hari ini, seharusnya menjadi hari bahagia Putri dan Vincent, tapi semua terpaksa dibatalkan karena mempelai pria yang tidak kunjung sadar. "Put, pulanglah! Biar ayah yang menjaganya di sini," bujuk Tuan Adhitama seraya menyentuh bahu Putri dengan lembut.


"Tidak, Yah. Ayah saja yang pulang. Ayah dan bunda pasti lelah sejak kemarin menunggu di sini. Ayah Bunda istirahatlah di rumah. Putri ingin tetap di sini, Yah," pinta Putri yang sejak datang ke rumah sakit tidak beranjak dari samping Vincent.


"Baiklah, kau juga jangan terlalu memaksakan diri, Nak! Segera hubungi kami jika terjadi sesuatu!" ucap Nyonya Adhitama seraya mengelus pundak Putri.


"Lihatlah, wajah tampanmu lebam seperti ini! Itu pasti sangat sakit. Hiks... lebih baik aku saja yang terluka... hiks... bagaimana bisa kau jadi seperti ini gara-gara aku? Maaf ... maafkan aku... hiks..." kaya Putri sambil terisak di hadapan Vincent yang terbaring lemah tak sadarkan diri.


"Tidak apa-apa jika pesta pernikahan kita dibatalkan... hiks... atau jika setelah ini kau membenciku dan tidak ingin bertemu denganku lagi... aku tidak apa-apa... hiks... tapi aku mohon... bangunlah... bangunlah... Jangan membuatku takut... hiks...!" isak Putri seorang diri, "aku mencintaimu... aku mencintaimu..." ucapnya berulang kali seraya menciumi tangan kekasihnya itu.


***


Sementara di luar, Tuan dan Nyonya Adhitama baru saja keluar dari kamar rawat Vincent, saat di lorong kamar rumah sakit yang tidak jauh dari sana, mereka bertemu Kei yang sedang membuka pintu salah satu kamar rawat di sana. "Kei! Kau kah itu?" panggil Tuan Adhitama tidak percaya.


Kei yang mendengarnya, mengurungkan niatnya untuk masuk ke kamar itu, "Ayah? Bunda?" ucapnya terkejut, ia tidak tahu harus berkata apa di depan dua orang yang sudah ia kecewakan sebelumnya itu.


"Kei, dengan siapa kau bicara?" tanya seseorang dari dalam kamar. Tuan Adhitama yang mengenali suara itu pun, lantas berjalan ke arah pintu untuk melihat seseorang itu, "Agust?" ucapnya saat melihat sahabatnya yang sudah menghilang selama bertahun-tahun lamanya itu.


Agust tampak memakai baju pasien dan terbaring di tempat tidur dengan selang infus di tangannya, "Ajin? Jovita?" sapanya. Melihat kedua sahabatnya itu, tak ayal tangis Agust pun pecah.


Selama bertahun-tahun, Agust merasa bersalah karena sudah membuat Kei dan Putri bercerai. Ia merasa telah mengkhianati sahabatnya sendiri. "Ayah dan Bunda, jika kalian bersedia, maukah kalian bicara dengan papahku. Sepertinya, banyak hal yang ingin dia bicarakan pada kalian," ucap Kei sedikit ragu.

__ADS_1


Tuan dan Nyonya Adhitama saling pandang, tidak mengerti mengapa Agust menangis saat melihat mereka. Jovita pun menyentuh lembut lengan suaminya, seolah memberi tahu kepada suaminya itu, untuk masuk dan mendengarkan sahabatnya itu. Fajrin pun menurutinya karena bagaimanapun ia tidak pernah melihat seorang Agust Dexter serapuh itu.


Agust pun meminta maaf pada kedua sahabatnya itu dan menceritakan semuanya, termasuk alasannya memisahkan Kei dan Putri, tanpa persetujuan Kei terlebih dahulu karena saat itu Kei masih dalam keadaan koma.


Sedangkan, Agust sendiri tidak tahu kapan putranya itu akan sadar dari komanya. Agust hanya berniat melindungi putra kesayangannya, tanpa ia sadari keputusannya itulah yang sudah menyakiti putranya selama bertahun-tahun ini.


Walaupun pada akhirnya Kei menerima semuanya dan sama sekali tidak pernah mengeluh tentang perasaannya di depan sang ayah karena menurutnya mungkin ini memang pilihan terbaik untuk mereka berdua, tapi Agust mengerti bahwa selama ini Kei memendam penderitaannya seorang diri.


Agust tahu betul, Kei masih sangat mencintai Putri, tapi ia memilih untuk mengalah karena penyakitnya dan lebih merelakan Putri untuk Vincent, sahabatnya yang juga mencintai wanita yang sama.


Usai meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, ketiga sahabat itu saling memaafkan dan tangis ketiganya pun pecah, seperti mengeluarkan semua rasa yang tidak terjawab selama ini.


"Tunggu! Kenapa kalian di sini? Bukankah seharusnya hari ini pesta pernikahan mereka?" tanya Agust yang baru menyadarinya. Kei yang juga baru menyadarinya pun menghentikan tangannya yang sedang mengelus lembut bahu Nyonya Adhitama untuk menenangkan tangis wanita yang sudah seperti ibunya itu.


Kei langsung menatap pasangan Adhitama itu dengan tatapan bingung dan penasaran. Nyonya Adhitama yang mulai tenang pun, kini menangis lagi saat ingat dengan putranya, Vincent. "Pesta pernikahan mereka dibatalkan. Vincent mengalami kecelakaan malam tadi," jawabnya sambil masih menangis, "dan sekarang dia masih belum sadar," lanjutnya.


"Di mana dia sekarang?" tanya Kei. "Dia juga dirawat di sini. Putri sedang menemaninya. Apa kau mau menemuinya?" tanya Tuan Adhitama. "Bolehkah?" tanya Kei. Ia sendiri ragu untuk menemui mereka berdua.


"Temuilah mereka! Saat ini Putri pasti memerlukan teman bicara. Kau bisa menemaninya. Lagipula, katamu tadi kalian sudah bertemu dan saling memaafkan, 'kan?" ucap Nyonya Adhitama.


Kei mengangguk pelan, walau begitu tetap saja rasanya ia sedikit khawatir akan membuat kesalahpahaman lagi. "Bunda akan mengantarkanmu ke sana," lanjut Nyonya Adhitama pun membawa Kei menuju kamar yang dimaksud.


Namun, belum sampai ke kamar rawat Vincent, Putri tampak berlari keluar dari kamar itu, "Dokter!" teriaknya. Dokter dan para perawat yang mendengarnya pun berlarian ke kamar itu.


Begitu pula, Nyonya Adhitama dan Kei, serta Tuan Adhitama yang juga mendengarnya dari kamar rawat Agust. "Ada apa, Put? Vincent kenapa?" tanya Nyonya Adhitama kembali panik.


"Abang sudah sadar, Bun!" jawab Putri seraya tersenyum manis. Kei sesaat terpaku melihat senyuman itu, "Sebahagia itu kah dia?" batinnya. "Kau sudah sadar, Nak? Kau bisa melihat bunda?" tanya Nyonya Adhitama seraya menggenggam tangan Vincent.


Vincent masih mengerjapkan matanya yang terasa silau dengan cahaya lampu di ruangan itu, "Bunda..." lirihnya dengan tatapan lemah. "Syukurlah kau sudah sadar, bunda sangat khawatir," kata Nyonya Adhitama seraya berkali-kali mencium tangan Vincent penuh syukur.

__ADS_1


Perlahan, Vincent mengedarkan pandangannya setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan kepadanya. Dokter memintanya untuk mengenali orang-orang yang ada di ruangan itu. "Ayah!" sebutnya saat menatap ayahnya yang dibalas dengan senyuman bahagia.


"Kau?" tanya Vincent saat matanya menangkap sosok Kei yang berdiri di samping Tuan Adhitama. Kei menjadi kikuk. Ia khawatir Vincent akan langsung marah saat melihatnya. Ia pun mencoba tersenyum semanis mungkin, walau dipaksakan.


"Ah, aku ingat gigi kelinci itu!" seru Vincent pelan, "kau Dexter kecil, 'kan?" tanya Vincent ragu, "apa aku salah?" lanjutnya. Kei mengangguk ragu. Pasalnya, ia sedikit bingung kenapa Vincent memanggilnya seperti itu. Bukankah ia tidak pernah memanggil nama itu lagi sejak mereka tumbuh remaja.


"Kenapa kau sudah sebesar ini?" tanya Vincent dengan tatapan takjub, ia memperhatikan Kei dari ujung kepala sampai ujung kaki, "dan kenapa kau jadi setampan ini?" lanjutnya seraya memukul pelan lengan Kei.


Vincent tampak tidak percaya melihatnya, lalu ia memperhatikan kedua tangannya, dilanjutkannya dengan memperhatikan tubuhnya sendiri. Lalu, senyum tampan itu mengembang lagi, "Apa aku juga sudah tumbuh sebesar ini?" tanyanya takjub.


Semua orang di sana pun terdiam dan saling melempar pandang. "Dan kau siapa?" tanya Vincent yang baru menyadari keberadaan Putri. "Aku..." ucap Putri terpotong. "Apa kau... Sasa?" tanya Vincent.


Deg! Tiba-tiba dada Putri terasa sesak, "A-apa kau tidak mengingatku?" tanyanya gugup, "A-aku Putri..." lanjutnya. Vincent mengernyitkan keningnya, lalu menatap kedua orang tuanya, seolah meminta bantuan untuk menjawabnya, "Apa dia temanku?" tanyanya.


"Apa kau tidak ingat Putri?" tanya Nyonya Adhitama tidak percaya. Vincent tampak bingung dan bertanya pada Kei, "Apa dia temanmu?" tanyanya lagi. Kei mengalihkan pandangannya ke Putri yang masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini.


"V, jangan bercanda seperti ini! Apa kau tidak kasihan pada Putri. Apa kau tahu, dia tidak tidur sejak semalam untuk menjagamu," bentak Tuan Adhitama. "Apa aku mengenalnya? Aku sungguh tidak mengingatnya sama sekali!" ucap Vincent kesal seperti anak kecil yang baru saja dimarahi.


"Apa kau bilang?" ucap kedua orangtuanya bersamaan. "Kau sungguh tidak mengingatnya?" tanya Nyonya Adhitama lembut sekali lagi. Vincent menggeleng, "aku tidak tahu!" sahutnya.


Semua mata pun menatap ke arah dokter untuk meminta penjelasan. Dokter itu kembali memeriksa Vincent. Beberapa kali, dokter itu mengajukan pertanyaan kepada Vincent dan kedua orangtuanya.


Sesekali Vincent menatap Putri yang sudah menangis di pelukan bundanya, setelah ia mendengar penjelasan dokter yang menyatakan Vincent mengalami amnesia dan ingatannya kembali sebatas masa kecilnya.


"Putri?" suara khas Vincent membuat semua orang memandang kearahnya. "Iya, aku Putri. Apa abang sudah mengingatnya?" sahut Putri dengan cepat dan penuh harap.


"Iya, aku ingat," jawab Vincent datar. Putri tersenyum bahagia seraya melepaskan pelukan bundanya. Rasanya, ia ingin berlari memeluk Vincent, tapi senyuman itu seketika hilang saat ia mendengar perkataan Vincent selanjutnya.


"Kau bocah dari panti asuhan itu, 'kan? Ck! Pantas saja sejak melihatmu tadi aku sudah tidak menyukaimu!" ucap Vincent dingin dengan tatapan penuh kebencian. Tatapan yang sama seperti saat takdir mempertemukan keduanya untuk pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2