Jantung Hati

Jantung Hati
Aku Bilang, Jangan!


__ADS_3

"Buat aku melupakannya!" kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Putri. Satu kalimat yang berhasil membuat Kei menggigit bibir bawahnya, menahan dirinya sendiri untuk tidak melakukan apapun pada wanita di depannya itu, "Aku bilang jangan!" ucapnya pelan. Sekali lagi, Kei meyakinkan dirinya sendiri.


Sungguh, sekarang sedang terjadi perang batin antara nalar sehat Kei yang tidak ingin menyentuh Putri melawan hasratnya yang terasa semakin membuncah, bahkan dengan sulitnya, ia mati-matian mengontrol tubuhnya sendiri karena nyatanya, tubuhnya sendiri begitu menginginkannya saat ini, menginginkan wanita yang pernah menjadi istrinya ini dan wanita yang selalu memiliki hatinya.


Putri melepaskan pelukannya bukan untuk menjauh, malah ia memutar tubuh tinggi kekar itu agar menghadapnya. Secepat kilat, ia kalungkan kedua tangannya di leher Kei.


Dengan sedikit berjinjit, ia mencium bibir tipis itu. Satu serangan tak terduga yang sekali lagi hampir membunuh akal sehat Kei. Tidak ada balasan, hanya sepasang mata bulatnya yang semakin membulat, terperangah dengan tindakan gila Putri yang tidak pernah ia duga.


Bukannya membalas, Kei malah memalingkan wajahnya lagi, menghindari ciuman itu, tapi Putri memang sudah gila! Bukannya berhenti, ia malah menarik baju Kei dan kembali menciumnya, bahkan kali ini menikmati lembut bibir tipis yang pernah menjadi kesukaannya itu.


Jujur, Putri juga masih merindukannya karena nyatanya, waktu dan kehadiran Vincent tetap tidak mampu menghapuskan posisi Kei di dalam hatinya. Kenyataannya, Vincent belum bisa merebut seluruh hati Putri karena masih ada tempat tersisa di untuk Kei.


Walaupun Kei sudah menorehkan luka di hatinya, tapi ia tetap tidak bisa membencinya. Walaupun raganya sempat meninggalkan Putri sekian lama, tapi pria ini selalu ada di tempatnya, mengisi relung hatinya yang terdalam.


Sekali lagi, Kei menolaknya, ia mendorong tubuh Putri dengan pelan, "Jika kau berani memulainya, jangan harap aku untuk mengakhirinya!" ancam Kei dengan tatapan yang sungguh sulit untuk di artikan, tapi Putri sudah tidak peduli lagi, ia sudah memutuskan untuk menjadi begitu murahan di hadapan pria ini dan tidak berniat untuk menghentikannya.


Putri kembali mencium bibir itu lagi dan kali ini, Kei membalasnya. Cukup lama, mereka berdua saling berciuman lembut di bawah rintik hujan yang mulai mereda, hingga nafas yang tersengal memaksa mereka untuk menghentikan ciuman itu, sekedar menghirup kembali oksigen untuk kembali bernafas.


Kei menatap lekat wajah cantik Putri yang begitu menggoda saat ini. Putri membalas tatapan itu seolah sedang menantangnya untuk melakukan lebih. "Apa kau yakin ingin melakukannya, hmm?" tanya Kei sekali lagi. Alih-alih menolaknya, Putri malah menganggukan kepalanya di hadapan Kei, memberikan Kei izin untuk memilikinya malam ini.


***


Sejenak, Kei bangkit dari atas tubuh indah itu dengan setengah berdiri bertumpu pada lututnya, ia perlahan melepaskan baju kaos yang ia kenakan yang sesaat kemudian menampilkan tubuh atletisnya dengan bagian otot perutnya yang semakin terpahat sempurna, ditambah aura manly yang ia pancarkan, sukses membuat Putri menelan air liur dengan kasar.


Begitu pula, Kei yang terpana dengan pemandangan di hadapannya. Namun, saat tengah menikmati keindahan tubuh paripurna dengan kecantikan sempurna itu, sesuatu terlintas di benaknya.


"Apa selama ini, Vincent lebih dulu menikmatinya? Apa Vincent yang sudah membuat tubuhnya seindah ini? Shitt! Dam it!" rutuk Kei dalam hati. Amarah yang tiba-tiba muncul semakin membakar gejolak hasrat Kei yang membara. "Kei! Sakit!" pekik Putri seraya meremas kuat sprei di tangannya.


Kei terdiam saat mendengarnya, "Apa ini yang pertama?" tanyanya ragu. Kei pun menghentikan aktivitasnya saat Putri mengangguk. Kei mengernyitkan dahinya, "Kau tidak pernah melakukannya dengan Vincent?" tanyanya lagi dan Putri menjawabnya dengan menggeleng.


Sesaat Kei tertegun, "Jadi, kau masih perawan?" tanyanya tidak percaya seraya menatap lekat Putri, menyadari wajah wanitanya yang meringis kesakitan.


Putri tak bisa menahan air matanya saat rasa perih itu menderanya akibat ulah Kei. Kei tersenyum lalu mengecup lembut kening Putri, "Maaf, sudah menyakitimu. Terima kasih, ini juga yang pertama untukku," ucapnya.


***

__ADS_1


Setelah mencoba mengatur nafasnya, Kei berbaring di samping Putri, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka berdua. Melihat Putri yang terpejam kelelahan, ia mencium bibirnya sekilas.


Kei menyusupkan tangannya di bawah leher Putri untuk kemudian menarik tubuh itu ke dalam pelukannya, "Aku mencintaimu," kecupnya lembut di kening Putra.


Kei menidurkan Putri di dada bidangnya. Dengan begitu, dapat Putri dengar suara detak jantungnya yang tidak teratur dan berdetak sangat kencang, tapi saat Kei mulai terlelap, ia terbangun karena merasakan sesak di dadanya.


Kei baru sadar akan kondisi jantung sialannya itu, setelah melakukan aktivitas beresiko berat tadi bersama Putri, "Kenapa aku sampai melupakan penyakit sialan ini!?" pikirnya.


Teringat bahwa obat penahan nyerinya ada pada Sasa, Kei pun terpaksa menghubungi Sasa, memintanya untuk mengantarkan obat yang sudah membuatnya muak itu.


Dengan terpaksa, Kei pun memberitahukan alamat villanya kepada sepupunya itu. Sementara menunggu Sasa datang, Kei memutuskan untuk membersihkan dirinya, "mungkin dinginnya air bisa mengurangi sakit di dadaku," pikirnya dan karena tidak ingin mengganggu tidur Putri, Kei pun memilih mandi di kamar mandi yang lain.


Kei meninggalkan Putri seorang diri di kamar dan sengaja Kei tidak mengunci pintu masuk utama villa itu, "siapa tahu, Sasa datang saat aku masih menyelesaikan ritual mandiku yang lama. Jadi, Sasa bisa langsung masuk ke dalam villa saat ia datang," pikirnya.


***


Tidak berselang lama setelah Kei masuk ke kamar mandi, ada seseorang yang membuka pintu, masuk ke dalam villa milik Kei itu dengan wajah pucatnya.


Kei yang sedang berusaha menstabilkan detak jantungnya, tidak menyadari kedatangan orang itu. Bukan Sasa, tapi Vincent yang berhasil melacak keberadaan Putri dari bantuan satelit yang melacak nomor ponselnya.


Matanya membulat sempurna melihat tubuh polos Putri yang hanya tertutupi oleh selimut. Apalagi tanda merah yang hampir memenuhi sekujur tubuhnya. Tanpa pikir panjang, Vincent membalut tubuh Putri dengan selimut itu, membawanya pergi dari sana.


Sedangkan Putri yang kehabisan tenaga, mengira bahwa tangan kuat yang menggendongnya itu adalah milik Kei, tanpa terpikirkan olehnya sekalipun bahwa itu adalah Vincent dan Putri pun kembali terlelap tanpa memperdulikan apa pun.


***


Kei baru saja selesai mandi saat Sasa datang membawakan obatnya, tapi sebelum Sasa masuk ke dalam villanya, atensi Kei terganggu dengan pintu yang sudah terbuka lebar lebih dulu, padahal Sasa baru keluar dari mobilnya, "Apa kau baru saja sampai?" tanyanya pada Sasa.


"Iya. Aku baru sampai. Memangnya, kenapa?" jawab Sasa. Tanpa menjawab pertanyaan Sasa, Kei langsung berlari ke kamarnya. Jantungnya kini berdegup semakin cepat saat kekhawatiran menguasai pikirannya. Sasa yang bingung pun turut mengikutinya.


Saat sampai di kamarnya, Kei sudah tidak menemukan keberadaan Putri, sedangkan Sasa terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya, pakaian yang berhamburan tak tentu arah.


Dengan tergesa, Kei meraih ponselnya untuk memeriksa rekaman cctv yang terhubung langsung dengan ponselnya. "V!" ucapnya terkejut dan tidak percaya.


"Sebenarnya ada apa ini? Coba jelaskan padaku!" pinta Sasa, tapi Kei tidak mengindahkannya. Dengan panik, Kei bergegas berniat mengejar Vincent, tapi sebelum itu terjadi, serangan nyeri itu datang lagi. Kali ini bahkan lebih hebat, hingga Kei ambruk dan kehilangan kesadarannya untuk kedua kalinya.

__ADS_1


***


Di sisi lain, sesampainya di kediaman Adhitama, Vincent membawa Putri ke kamarnya. Putri terbangun saat Vincent menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar dan langsung melepas bajunya. "A-abang?" ucap Putri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Vincent mengunci pintu kamarnya dan saat membelakangi Putri, ia berkata, "Kau tahu betul bukan, betapa selama ini aku menjaganya?" ucapnya dingin dengan suara pelan seraya menunduk.


Seketika, tubuh Putri merinding saat mendengar suara baritonnya itu. "Kenapa?" ucapnya lirih dengan kepalanya yang mulai ia tolehkan. Putri tiba-tiba merasa takut berhadapan dengannya. "Kenapa kau memberikannya pada Kei, hah!" bentaknya dengan sangat keras seraya berbalik menghadap Putri.


"A-apa yang abang lakukan?" tanya Putri yang mulai panik saat Vincent berjalan ke arahnya dengan tatapan membunuhnya. "Membersihkan tubuhmu!" jawabnya singkat.


Vincent menarik selimut yang menutupi tubuh Putri. "Abang, jangan!" ucap Putri memohon, "Aku bilang, jangan! Kumohon!" teriak Putri mulai menangis ketakutan, tapi Vincent malah menatap Putri dengan tajam.


"Kenapa? Kenapa kau menolakku, sedangkan kau membiarkannya menyentuhmu! Kau tahu, tubuh ini milikku!" teriaknya frustasi. "Kumohon, jangan!" ucap Putri yang terus meronta dan berontak, tapi Vincent sungguh tak peduli dengan rengekan dan tangisan Putri.


***


Keesokan harinya, Vincent terbangun lebih dulu, ia menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang memandang Putri yang masih tertidur pulas di sampingnya. "Sayang, maafkan aku. Sungguh, maafkan aku..." lirihnya seraya menitikkan air mata.


Sesaat kemudian, Vincent menyapu kasar wajahnya, lalu beranjak membersihkan dirinya. Selama mandi, pikirannya benar-benar kalut dan saat baru selesai mandi, rasa sakit itu datang lagi menghantam kepalanya.


Vincent sampai menumpukan satu tangannya pada lututnya, sedangkan tangannya yang lain menutup mulutnya yang masih mengeluarkan darah segar. Tubuhnya gemetar melihat tangannya yang dipenuhi darah sekaligus menahan rasa sakit di kepalanya.


Sakit yang semakin lama terasa membunuhnya secara perlahan. "Kenapa tidak kau ambil saja nyawaku saat kecelakaan itu?" ucap batinnya di sela isak tangisnya.


Tubuhnya mulai merosot dan akhirnya terduduk ke lantai saat kedua kakinya terasa melemah, sudah tidak bisa menahan rasa sakit itu. "Kenapa kau memberikanku kesempatan kedua, tapi kau membuatku melupakannya?" ucapnya lagi sambil berlutut menahan sakit.


Dengan perlahan, Vincent berusaha untuk bangkit dengan bertumpu pada kedua tangannya yang berlumuran darah. "Kenapa kau membuatku menyakitinya?" tanyanya lagi dengan kedua tangannya yang bergetar hebat, tapi kembali tidak mampu menahan tubuhnya.


"Kenapa kau kembalikan ingatanku saat semuanya sudah terlambat?" teriaknya dengan tubuhnya yang kembali merosot sampai ia meringkuk di lantai. Vincent kembali terduduk, meremas kuat rambutnya dengan kedua tangannya.


Tangis seorang Vincent Adhitama pun pecah, tanpa bisa ia tahan. Vincent menangis tanpa suara sambil meringkuk di lantai kamar mandi yang basah dengan air bercampur darahnya sendiri.


Setelah sakit itu menghilang, Vincent menghentikan tangisnya. "Kumohon, bertahanlah sebentar lagi. Jangan ambil nyawaku, sebelum aku menemuinya! Setidaknya, hanya ini yang bisa kuberikan untuk cintaku," ucapnya lirih seraya mencoba bangun dengan bersujud seorang diri.


Perlahan Vincent bangkit dan kembali membersihkan dirinya. Setelah berpakaian, Vincent beranjak ke meja kerjanya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menulis sesuatu di sana.

__ADS_1


__ADS_2