Jantung Hati

Jantung Hati
Dunia yang Kejam


__ADS_3

Vincent yang sedang sibuk memeriksa dokumen di meja kerjanya, dikejutkan dengan suara pintu ruang kerjanya yang dibuka dengan keras dari luar. Braaakkk!


"Apa benar abang mencintaiku?" satu pertanyaan dari Putri itu mampu membuat Vincent seketika bangun dari duduknya. Vincent mendadak bisu, terlebih saat ini ia melihat Putri datang dengan menangis di hadapannya. "Dari mana Putri tahu?" pikirnya.


"Jawab, Bang! Apa benar yang Kei katakan bahwa abang mencintaiku?" tanya Putri dengan suara bergetar. "Kei? Dari mana ia tahu?" lagi-lagi hanya batin Vincent yang bicara. "Jawab aku, Bang! Jawab!" teriak Putri dengan keras.


"Apa yang kau katakan? Konyol!" ucap Vincent datar, lalu pergi meninggalkan Putri sendirian. "Kenapa abang tidak pernah mengatakannya?" suara lirih Putri tertangkap oleh indera pendengaran Vincent. "Seandainya, aku mengatakannya lebih dulu, apa kau akan memilihku?" lirih Vincent tanpa terdengar oleh Putri.


***


Sementara itu di kediaman Dexter, "Kei! Kei! Bangun, Nak! Papah, mohon! Dokter! Dokter! Siapa pun, cepat panggilkan dokter!" teriak Agust yang panik melihat putra semata wayangnya itu jatuh pingsan saat sedang mengetik sebuah pesan untuk istrinya.


Tadi, Kei memaksa untuk menemui Putri, walaupun Agust sudah melarangnya karena kondisinya yang belum stabil. Kei berniat minta maaf karena sikapnya yang sudah keterlaluan tadi saat di bandara.


Kei khawatir istrinya itu masih menangis. "Maafkan aku," hanya kalimat itu yang sempat Kei ketik, saat tiba-tiba ia merasakan sakit yang teramat sangat menghantam tepat di jantungnya.


Tubuh tinggi berototnya itu pun ambruk seketika. Satu pesan itu pun terkirim, tanpa sengaja saat tangannya tergeletak di lantai bersama ponselnya. Satu pesan yang akan menjadi pesan terakhir Kei ntuk Putri, wanita yang teramat sangat dicintainya.


Beberapa dokter spesialis jantung yang memang selama ini dipekerjakan khusus oleh keluarga Dexter untuk Kei sejak kecil pun tidak bisa berbuat apa-apa.


Tubuh Kei terbaring di sebuah kamar rahasia yang tampak seperti ruangan ICU di rumah sakit, yang terhubung langsung dengan kamarnya. Berbagai alat kedokteran menempel di dada, wajah, lengan dan kakinya.


"Sepertinya, kita harus membawanya ke sana, kita tidak punya waktu lagi!" ucap salah seorang dokter di sana. "Lakukanlah, Dok! Tolong, selamatkan putraku," ucap Agust pasrah.


"Maafkan papah, Nak. Sampai sekarang, Papah belum bisa menemukan donor jantung yang cocok untukmu," lirih Agust menatap nanar wajah pucat putra kesayangannya itu.


***


Keesokan harinya di kediaman Keluarga Adhitama, kehebohan terjadi saat Tuan Fajrin Adhitama menerima telepon dari Tuan Agust Dexter, sahabat sekaligus besannya itu.


Tuan besar Dexter itu secara sepihak, mengajukan perceraian antara Kei dan Putri, tanpa mau memberitahu alasannya pada Tuan Adhitama.

__ADS_1


Fajrin pun benar-benar marah dibuatnya. Bagaimana bisa perceraian dilakukan begitu saja melalui sambungan telepon dan tanpa alasan apapun? Dan saat ia mendatangi kediaman Dexter itu untuk membicarakannya langsung, ia tidak menemukan sahabatnya itu.


Kei, sang menantu pun tidak ada di rumahnya, bahkan tidak satu pun pelayan di rumah mewah itu yang mau mengatakan di mana kedua majikan mereka itu sekarang berada.


Selama ini, keluarga Dexter memang merahasiakan kondisi jantung Kei pada siapa pun, termasuk keluarga Adhitama, rekan bisnis, sahabat, sekaligus besannya sendiri.


Akan berbahaya bagi Kei, jika semua rival bisnis keluarga Dexter mengetahui calon pewaris kerajaan bisnisnya menderita kelainan jantung bawaan sejak lahir.


Tuan Dexter juga memerintahkan semua pelayan dan anak buahnya yang bekerja di rumahnya untuk merahasiakan kondisi dan keberadaan Kei. Tidak boleh ada yang tahu, termasuk Putri dan Vincent.


Tuan Dexter sudah memutuskan untuk fokus mencari jantung yang cocok untuk transplantasi Kei. Selama ini, Tuan Dexter sangat selektif untuk itu karena ia ingin yang terbaik untuk putranya, tapi sampai sekarang tidak ada satu pun yang cocok dengan tubuh Kei, seolah-olah tubuh putranya itu selalu menolak jantung dari orang lain itu.


Awalnya, kondisi Kei tetap stabil dengan perawatan berkelanjutan dari para dokter spesialis jantung pribadinya, tapi semenjak berkencan dengan Putri, kondisinya mulai tidak stabil karena ia selalu terbawa suasana dan perasaan saat bersama Putri, hingga emosinya yang terakhirlah yang berakibat fatal.


Oleh karena itu, Agust selaku ayah Kei, memutuskan untuk memisahkan mereka. Jika hal itu yang memperburuk kondisi putra semata wayangnya, maka ia harus rela kehilangan sahabat dan dua anak yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri.


***


"Apa salahku? Dan di mana Kei sekarang? Kenapa ia menghilang begitu saja?" racau Putri setiap hari. Semenjak hari itu, tidak ada satu pun yang boleh membahas Kei di rumah kediaman Adhitama, terutama di depan Putri karena Putri akan langsung menangis jika mengingatnya.


Setiap hari, Putri menatap layar ponselnya, berharap Kei akan menghubunginya, walau hanya sebuah pesan singkat. Setiap hari pula, Putri memandang ke arah pintu gerbang rumahnya dari balkon kamarnya dengan tatapan kosong, menunggu Kei datang menjemputnya, tapi Kei tak kunjung datang, bahkan tidak ada satu pun nomor yang dapat dihubunginya.


"Sayang, makanlah! Bunda suapi, ya? Ayolah sayang! Sesuap saja," bujuk Nyonya Adhitama. "Putri tidak nafsu makan. Bunda bawa saja makanannya," ucap Putri dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar.


"Sayang, Bunda khawatir. Kau semakin kurus seperti ini. Bunda mohon, jangan menyakiti dirimu sendiri," bujuk Jovita sekali lagi, tapi Putri hanya diam, masih dengan tatapan kosongnya yang nelangsa.


Vincent yang berdiri di samping bundanya hanya bisa menatap iba pada Putri. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menghibur Putri. Rasanya, ia ingin sekali membunuh Kei karena sudah membuat Putri seperti ini.


"Bang, aku ingin pergi, maukah abang mengantarkanku?" ucap Putri tiba-tiba menatap Vincent dengan sendu. Mendengarnya, Vincent pun langsung berlutut di depan Putri.


"Kau mau ke mana? Abang akan mengantarkanmu ke mana pun kau mau," jawab Vincent antusias karena akhirnya Putri berniat ingin keluar dari kamarnya.

__ADS_1


***


Putri memasukan tanggal pernikahannya dengan Kei saat membuka pintu apartemen itu. Putri mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut apartemen itu. Tidak ada yang berubah, sama seperti saat Kei pertama kali mengajaknya ke sini, hanya debu yang menebal di mana-mana.


Putri memasuki kamar utama. Air matanya mulai mengalir saat satu persatu adegan panasnya bersama Kei terlintas lagi di hadapannya. Putri berlutut di depan ranjang itu, menangis dengan pilunya.


Khayalan indahnya tinggal bersama sang suami di apartemen ini sudah hancur, sehancur hatinya saat ini. Putri meremas-remas dadanya yang terasa sesak setiap kali mengingat Kei. "Kenapa? Kenapa kau sekejam ini padaku? Kenapa dunia begitu kejam padaku?" ucap Putri di sela-sela ratapannya.


Vincent yang melihatnya, turut berlutut di samping Putri dan memeluk tubuh yang terlihat ringkih itu, "Kenapa kau menangis lagi?" tanyanya lembut seraya membelai surai panjang Putri.


"Apa dia membenciku?" tanya Putri lirih. "Put..." panggil Vincent seraya menatap satu wajah tirus Putri. "Kenapa dia pergi? Kenapa dia meninggalkanku? Hiks... aku merindukannya. Aku merindukannya, Bang..." rintih Putri dalam dekapan Vincent.


"Berhentilah, Put! Lupakan dia!" pinta Vincent. "Tidak bisa. Aku tidak bisa," kata Putri seraya menggelengkan kepalanya. "Kau bisa, Put. Kau pasti bisa! Percayalah!" kata Vincent sambil mengeratkan pelukannya.


Putri semakin menangis dengan keras, melepaskan semua sakit di hatinya. Tidak pernah sekali pun ia membayangkan akan seperti ini jadinya. Putri benar-benar mencintai Kei. Entah, apakah suatu hari nanti ia bisa melupakan Kei dan mulai mencintai orang lain.


"Lupakan Kei, Put! Aku mencintaimu. Biarkan aku menggantikannya untuk membahagiakanmu," perkataan Vincent yang tiba-tiba itu sontak membuat Putri terdiam dari tangisnya.


Putri menengadahkan wajahnya tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Vincent mengecup kening Putri lembut, "Aku tidak meminta jawabanmu sekarang. Lakukanlah perlahan! Aku akan selalu ada menunggumu," ucapnya lembut, tangannya dengan lembut menyeka air mata Putri dengan jarinya.


"Tapi... kau abangku," ucap Putri lirih. "Aku memang abangmu dan akan selalu jadi abangmu, tapi apa aku berdosa mencintaimu yang bukan adik kandungku?" tanya Vincent seraya memandang Putri lekat karena baru kali ini, ia bisa memandang wajah cantik itu sedekat ini.


Putri tidak bisa menjawabnya. "Aku sudah lama mencintaimu. Jauh sebelum kalian jadian," lanjut Vincent. Putri mengernyitkan dahinya dan Vincent tersenyum melihatnya.


"Iya, sudah bertahun-tahun aku memendamnya. Selama ini, aku selalu menyangkalnya, tapi yang ada aku semakin mencintaimu," ucap Vincent pelan menundukan wajahnya di bahu Putri.


Putri hanya terdiam mendengarnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Pernyataan mendadak Vincent benar-benar membuatnya bingung. Saat ini, hatinya masih dikuasai oleh Kei seorang. Tidak ada satu pun celah untuk orang yang selama ini ia anggap abangnya ini.


Haruskah Putri berhenti mencintai Kei dan melupakannya? Tidak bisakah ia berharap Kei akan kembali padanya? Seandainya, Kei memintanya menunggu, maka ia akan bersedia menunggu meski sampai ajalnya, tapi Kei pergi hanya dengan sebuah kata maaf yang Putri sendiri tidak tahu harus mengartikannya apa.


Jika waktu bertahun-tahun tidak mampu membuat Vincent membunuh perasaannya pada Putri, bagaimana dengan perasaan Putri pada Kei, butuh waktu berapa lama? Biarlah waktu yang menjawabnya, pada siapa hatinya akan berlabuh kelak.

__ADS_1


__ADS_2