Jantung Hati

Jantung Hati
Janji?


__ADS_3

Vincent sontak membuka matanya shock, lalu tangannya langsung mendorong Putri agar menjauh dari tubuhnya. "Abang, sakit!" ringis Putri saat tangan Vincent meremas kuat kedua lengannya.


"Sial!" umpat Vincent dengan wajah yang tidak bisa Putri artikan. Secepat kilat, salah satu tangan Vincent meraih tengkuk Putri, lalu mencium bibir merah yang selama ini selalu diinginkannya itu.


Untuk pertama kalinya, Vincent menikmati bibir Putri seraya memeluknya dengan eratnya. Selama ini, Vincent menahan diri untuk tidak menyentuhnya, walau setiap hari kecantikan Putri selalu menyihirnya dan bibir merah Putri yang selalu membuatnya melirik diam-diam.


Belum lagi, penampilan seksi Putri yang selalu berhasil mengganggu konsentrasinya saat bekerja, serta tubuh indah dalam pelukannya ini yang selalu hampir membuatnya hilang akal setiap kali berdekatan.


Seperti saat ini, pertahanannya runtuh seketika saat ia merasakan sensasi lidah Putri di lehernya. Vincent mencium bibir Putri lama sampai tubuh Putri melemas dibuatnya, tapi ciuman ganas itu berangsur pelan hingga Vincent melepaskan tautannya.


Vincent memeluk Putri, menyandarkan kepala Putri di dadanya, "Maaf, aku kelepasan. Sebentar saja. Biarkan seperti ini," ucapnya pelan seraya memejamkan kedua matanya.


***


Jam istirahat siang sudah berlalu 10 menit yang lalu, tapi Vincent belum keluar dari ruangannya. Putri pun masuk ke ruang kerja Vincent untuk mengajaknya makan siang bersama dan ternyata kekasihnya itu tertidur di sofa ruang kerjanya dengan pulas.


"Tidak biasanya dia tertidur. Apa dia sakit?" gumam Putri seraya mendekati Vincent untuk membangunkannya. "Aku bahagia bersamamu. Sangat bahagia. Tapi di saat bersamaan pula, aku merasa khawatir kau akan meninggalkanku juga. Apa yang harus aku lakukan?" pikir Putri membatin.


Belum sempat Putri membangunkannya, Vincent terlebih dulu membuka matanya, "Maaf, lanjutkan saja," ucapnya kembali menutup matanya. "Astaga! Aku tidak ingin melakukan apa-apa. Aku hanya ingin membangunkan abang," ucap Putri kesal.


"Aku pikir, kau akan mencuri ciumanku saat aku tidur," ucap Vincent terkekeh. Deg! Entah kenapa , Putri tiba-tiba kembali mengingat Kei, saat mantan suaminya itu selalu mencuri ciumannya saat ia tidur.


Putri terdiam sesaat. "Apa makanannya belum datang?" tanya Vincent seraya bangun dari kursinya. "Ah, iya," jawab Putri pelan. "Kenapa? Apa lagi isi otak mesummu itu?" tanya Vincent sambil menarik pinggang ramping Putri untuk mendekat padanya.


Vincent berniat mencium bibir manis yang baru saja menjadi candu untuknya itu, tapi baru saja ia akan mengecapnya, terdengar suara pintu ruangannya di ketuk dari luar.


"Ck, sayang sekali!" ucap Vincent seraya menjilat bibir Putri dengan lidahnya. Putri hanya mengedip-kedipkan matanya atas perlakuan Vincent tadi, "Sepertinya, aku sudah membangunkan harimau tidur," pikirnya.


Vincent menerima makanan yang sudah dipesannya dari kurir yang mengantarkannya. Mereka berdua pun memulai makan siang mereka, tapi di tengah makan siang itu, Vincent tiba-tiba meringis kesakitan sambil memijit pelan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa sakit kepala abang kambuh lagi?" tanya Putri khawatir. "Sepertinya," sahut Vincent santai. "Lihatlah, wajah abang pucat! Abang pasti kelelahan lagi. Ayo, kita periksa ke rumah sakit!" ajak Putri mulai panik.


"Tidak usah. Kau belikan aku obat saja di luar. Aku tidak mau ke rumah sakit," jawab Vincent. Putri pun menatap tajam Vincent. "Bang! Bagaimana kalau nanti abang sampai pingsan?" ujar Putri.


"Kata siapa? Aku tidak akan pingsan," ucap Vincent gengsi. "Masa aku yang selalu terlihat keren, pingsan di depan Putri, itu memalukan!" pikirnya sambil terkekeh sendiri.


"Tapi wajah abang sudah pucat seperti itu," bujuk Putri sekali lagi. Vincent balas menatap tajam Putri karena ia paling tidak suka dipaksa, "Kau tahu 'kan, aku tidak suka ke rumah sakit," katanya.


"Baiklah, kita tidak ke rumah sakit. Kita pulang ke rumah saja, ya? Aku akan panggilkan dokter untuk abang," bujuk Putri lagi. "Baiklah, kalau begitu, kita tunggu Arjuna kembali dari makan siangnya, biar dia yang handle urusan kantor," ucap Vincent seraya menyandarkan kepalanya di sofa, tapi tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalanya.


***


Di kediaman keluarga Adhitama, Putri mengantarkan dokter yang baru saja memeriksa kondisi Vincent sampai ke depan pintu, "Apa sakit kepalanya karena kelelahan, Dok?" tanya Putri pada dokter itu.


"Bisa jadi, Nona. Tapi untuk lebih jelasnya, Tuan Muda bisa melakukan pemeriksaan yang lebih lengkap di rumah sakit, seperti yang sudah saya sarankan sebelumnya," jawab sang Dokter. "Baiklah, akan saya usahakan untuk membujuknya," sahut Putri. Setelah dokter itu pulang, Putri kembali ke kamar Vincent.


"Mencarimu," jawab Vincent santai. "Abang ini! Aku 'kan hanya mengantar dokter pulang. Tidak bisakah abang diam menunggu di kamar? Jangan jalan-jalan seperti ini! Bagaimana kalau infusnya terlepas?" omel Putri dengan wajah cemberut.


"Aduh, kepalaku pusing!" ucap Vincent tiba-tiba sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Ah! Apa pusing sekali? Ayo, kita kembali ke kamar!" ucap Putri berhenti mengomel dan mulai menuntun Vincent berjalan.


Tanpa Putri lihat, Vincent tersenyum evil melihat kepanikannya itu. "Aww, sakit!" ucap Vincent pura-pura meringis pelan. "Apa? Apanya yang sakit?" ucap Putri semakin panik.


"Seluruh tubuhku," jawab Vincent masih dengan ekspresi meringis. "Apa! Apa abang menggodaku?" tanya Putri yang terlihat tampak berubah kesal seraya memukul pelan lengan Vincent.


"Tidak. Aku serius. Seluruh tubuhku sakit," jawab Vincent dengan suara yang sengaja ia lemahkan. "Benarkah? Apa perlu aku panggil dokter lagi?" tanya Putri yang berhasil terperdaya dengan akting Vincent.


"Tidak perlu. Bantu aku kembali ke kamar saja!" pinta Vincent kembali memasang wajah lemahnya. "Kemarilah!" pinta Putri seraya membantu Vincent berjalan sampai ke kamarnya dengan memapahnya.


Vincent memperhatikan lengannya yang terpasang infus. "Sayang, apa tidak apa-apa tanganku kau letakkan di bahumu? Bagaimana kalau cairan infusnya terbalik?" tanya Vincent lagi.

__ADS_1


"Ah, abang benar!" kata Putri, lalu menurunkan tangan Vincent yang diinfus itu dan meletakkan tangan itu di pinggangnya, "bagaimana kalau seperti ini? Apa nyaman?" tanyanya polos.


"Iya, ini nyaman," jawab Vincent seraya tersenyum karena trik modusnya berhasil. Putri membantu Vincent berbaring di ranjangnya, "Sebenarnya, abang sakit apa? Sebaiknya, kita periksa ke rumah sakit saja, ya!" bujuk Putri seraya duduk di sisi ranjang.


"Tidak perlu. Aku tidak sakit, aku hanya kelelahan dan stres..." ucap Vincent dengan gaya seperti sedang menderita penyakit parah. "Stres? Apa ada masalah di kantor?" tanya Putri terkejut. "Tidak ada. Urusan kantor aman," sahut Vincent. "Lalu, kenapa abang jadi stres?" tanya Putri bingung.


"Aku kelelahan dan stres karena kekurangan asupan dan aku membutuhkan perhatian khusus. Jadi, sekarang aku berusaha mengatur feel-ku agar aku bisa menghilangkan stresku ini," dengan santainya Vincent menjelaskan kepada kekasihnya itu.


Otak Putri yang jenius pun mencerna satu persatu kata-kata Vincent itu, "Jadi, maksudnya, abang sekarang kekurangan kasih sayang, lalu pura-pura sakit untuk menarik perhatianku?" tanyanya sambil memicingkan matanya menatap malas Vincent.


"Tidak, aku sungguh sakit," sanggah Vincent saat Putri berhasil menebak isi kepalanya, sambil menatap balik Putri. Vincent meraih tangan Putri dan meletakkannya di pipinya.


"Hasrat! Seksual! Nafsu! Tiga hal itu yang membuatku stres. Aku terlalu lama menahannya, tapi aku juga tidak ingin melakukannya sebelum aku benar-benar memilikimu. Jadi, mau kah kau menyembuhkanku? Maukah kau menjadi milikku seutuhnya?" kata Vincent serius.


Vincent mengecup lembut punggung tangan Putri, "Put, will u marry me?" ucapnya dengan suara yang begitu lembut. Putri terdiam mematung tidak percaya jika ia sedang dilamar dan suasana pun berubah hening dan canggung.


"Kenapa kau diam? Apa aku harus berlutut di hadapanmu? Baiklah, aku akan melakukannya. Tunggu, aku ambil cincinnya dulu. Kau tahu, aku sudah lama menyiapkannya dan aku yakin, kau pasti suka," ucap Vincent, tanpa henti hanya untuk menutupi perasaan gugup dan khawatirnya, takut Putri akan menolak lamarannya.


"Meskipun tidak seperti adegan romantis yang sering aku lihat di film, tapi aku tidak pernah menyangka ia akan benar-benar mengatakan kalimat itu sekarang," pikir Putri dalam diamnya sambil memperhatikan tingkah panik Vincent yang sedang mencari cincin yang ia maksud.


Setelah mengambil sebuah kotak kecil dari laci meja nakasnya, Vincent berlutut di hadapan Putri dan membuka kotak kecil berwarna merah itu. Lantas, ia menyodorkannya untuk Putri, sebuah cincin berlian yang berkilau dengan indahnya.


Tanpa Putri bisa tahan, air matanya jatuh di pipi putihnya. Giliran Vincent yang tertegun melihatnya. "Sayang, kenapa menangis? Apa aku mengatakan hal yang salah? Apa kau tidak suka cincinnya? Kita bisa menukarnya, jika kau mau," tanya Vincent yang tampak semakin panik.


Putri menutup wajahnya dengan tangannya dan mulai menangis sesenggukan. Vincent menurunkan tangannya dengan lemas, ditutupnya kembali kotak kecil itu.


Vincent pun berdiri dan menghampiri Putri, lalu memeluknya, mencoba menenangkan wanitanya itu, "Apa kau masih belum mau menikah denganku? Tidak apa-apa. Kau boleh menolaknya. Maaf, aku sudah mendesakmu," ucapnya pelan seraya membelai lembut surai indah Putri.


Putri menarik tangannya yang menutupi matanya, lalu kedua tangan itu memeluk pinggang Vincent dengan erat, "I say, yes!" ucapnya dengan suara bergetar. Seketika, Vincent membeku mendengar jawabannya itu.

__ADS_1


__ADS_2