
Keesokan harinya, "Sayang, besok aku akan menjemputmu. Aku ingin membawamu ke suatu tempat, tapi masih rahasia!" satu pesan Kei, ia kirimkan untuk Putri. Tidak ada balasan, mungkin sang istri tercinta sudah tertidur.
"Akhir-akhir ini, Putri jadi lebih agresif dibandingkan dulu. Aku jadi berharap melakukannya besok, tapi istriku itu sangat polos. Bagaimana ini? Awalnya aku tidak ingin berharap, jadi malah berharap seperti ini. Bagaimana kalau dia tidak mau? Yang ada, aku hanya akan kecewa, tapi mungkin saja kali ini dia mau. Apa lebih baik aku bersiap untuk jaga-jaga?" gumam Kei seorang diri di kamarnya.
***
Keesokan harinya, "I-ini...!" ucap Putri terpana saat memasuki sebuah apartemen mewah yang terletak di tengah kota. "Papah memberikan apartemen ini untuk kita sebagai hadiah pernikahan. Password-nya tanggal pernikahan kita. Kalau sayang mau, kita bisa tinggal disini," ucap Kei seraya memeluk Putri dari belakang.
Putri terdiam menatap sekeliling ruangan apartemen itu, membayangkan mereka berdua yang akan beraktivitas bersama di sana, "Apa aku boleh berkeliling melihatnya?" tanyanya membuat Kei tersenyum dan mengangguk.
Dengan langkah riang, Putri pun mulai menjelajahi apartemen luas itu. Sementara Putri yang tidak bisa diam memeta tempat tinggalnya di masa depan itu, Kei malah gelisah berjalan mondar mandir menunggu sang istri.
"Apa hanya aku yang mengharapkannya?" pikir Kei dengan dahi berkerut. "Sayang!" panggil Kei lembut. "Ya?" sahut Putri yang sedang berdiri di depan sebuah pintu.
"Apa malam ini kita menginap di sini?" tanya Kei ragu. Putri yang biasanya polos pun mendadak mengerti modus suaminya itu. Seketika wajahnya memerah dengan tingkahnya yang mulai kikuk dan Kei yang menangkapnya pun mengerti, jika kali ini istrinya itu juga mengerti maksudnya.
"Eh, di sini ruangan apa, ya? Aku belum memasukinya," kata Putri berusaha mengalihkan pembicaraan. Kei pun kecewa mendengarnya dan memilih duduk di sofa yang ada di dekatnya.
"Itu kamar tidur utama. Sayang masuklah dan kunci pintunya, nanti ada serigala lapar yang masuk, bahaya!" jawab Kei sarkas. "Hah? I-iya..." ucap Putri seraya memasuki kamar itu dengan bimbang.
Sesampainya di dalam, Putri terpaku menatap kamar itu yang akan menjadi kamar tidurnya bersama Kei setelah mereka pindah ke apartemen ini.
"Haaah... sudah kuduga tidak semudah itu! Dia pasti tidak mau. Sial! Aku jadi sedikit kecewa. Padahal aku sudah menyiapkan semuanya. Tapi, aku juga tidak ingin memaksakan nafsuku saja karena ini yang pertama untuk kami. Aku harus tahan!" gumam Kei sambil memejamkan matanya.
Cekrek! Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Kei seketika. Kei menoleh kearah pintu dan tampak Putri yang sedang mengintip ke arahnya dari balik pintu, "Ada apa? Apa sayang ingin pulang?" tanyanya.
"Apa sayang tidak bisa menahannya?" tanya Putri ragu dengan suara yang pelan. "Hmm? Maksudmu?" tanya Kei belum mengerti, tapi Putri hanya diam.
"Ah, iya. Hari ini rasanya sangat parah. Jadi, sebaiknya kita pulang saja, ya?" ajak Kei setelah ia mengerti maksud pertanyaan Putri. Kei tidak ingin membuat Putri merasa tidak nyaman karena keinginannya.
"Ti-tidak. Aku akan menginap di sini saja," ucap Putri pelan. "Baiklah, kalau begitu kunci pintu dan tidurlah! Aku akan tidur di kamar lainnya," balas Kei lembut.
"Sayang!" panggil Putri pelan. "Hmm? Apa ada yang sayang perlukan?" tanya Kei lagi. "Tidak ada. Bukan itu... " ucap Putri ragu seraya memainkan kedua jari telunjuknya seperti biasa.
"Lalu apa?" tanya Kei. "Hmm... Aku... tidak akan... mengunci pintunya... " ucap Putri pelan seraya menutup pintu kamar itu. Sejenak, Kei terdiam mencerna kata-kata Putri barusan, "Jangan-jangan maksudnya!" pikirnya.
Putri memandang pintu kamar itu dari dalam kamar dengan gemetar sampai tiba-tiba daun pintu itu terbuka dan Kei masuk ke dalam kamar itu dengan langkah besarnya.
"Apa maksud perkataan sayang tadi? Apa sayang hanya berniat menggodaku saja?" tanya Kei langsung, tapi Putri hanya diam menundukkan kepalanya.
"Aku beri kesempatan terakhir, kalau sayang tidak mau, kita bisa pulang sekarang. Kalau sayang menginap di sini, sayang tahu 'kan apa yang aku mau?" kata Kei lagi, tapi istrinya itu masih diam.
__ADS_1
"Sekalipun kita sudah suami istri, kalau sayang masih ragu, aku tidak akan marah apalagi memaksa, tapi kalau kali ini sayang mengizinkan, aku tidak akan berhenti jika aku sudah memulainya," lanjut Kei gugup.
Putri tidak berkata apa pun, hanya berjalan ke arah pintu dan menutupnya, "Bisakah sayang diam? Aku malu, tahu!" lirihnya saat menutup pintu itu. Senyuman pun terukir di wajah tampan Kei, saat ia mendengarnya.
Adegan demi adegan panas pun dimulai. Kedua insan ini benar-benar larut dalam suasana malam ini. "Apa sayang gugup?" tanya Kei lembut dan Putri mengangguk pelan dengan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat tegang.
"Tadi aku bilang kalau aku akan melakukannya sesukaku, tapi kalau sayang berubah pikiran, katakan saja kapan pun, aku akan menghentikannya," ujar Kei mencoba menenangkan sang wanitanya.
"Iya, lakukan saja. Lagipula, aku sudah jadi istrimu. Aku mencintaimu. Berjanjilah, kau tidak akan pernah meninggalkanku!" ucap Putri dengan tatapan lembutnya membelai pipi Kei yang berada di atasnya.
"Aku juga mencintaimu. Aku bersumpah, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Di mana pun aku berada, kau adalah tempatku pulang," balas Kei sebelum ia mengecup kening Putri dengan mesra.
Putri masih bingung dengan rasa yang dihasilkan dari setiap sentuhan yang Kei berikan, lembut dan nikmat, tapi kenapa lama kelamaan rasanya menjadi aneh? Terutama di bagian bawah perutnya.
Kei melepas bajunya, tapi tiba-tiba Putri meringis kesakitan, "Sayang, kau kenapa?" tanya Kei bingung karena dia saja belum melakukan apa-apa.
"Perutku sakit! Sayang, ini sakit sekali!" ringis Putri seraya memegangi perutnya. "Pe-perut? Perutnya kenapa?" tanya Kei kebingungan. Tidak menjawabnya, Putri malah bergegas berlari menuju kamar mandi, meninggalkan Kei yang masih bengong dibuatnya.
Tidak lama kemudian, Putri pun keluar dari kamar mandi. Untuk sesaat mereka saling tatap, tanpa tahu harus bicara apa. "Chagiya, maaf, sekarang aku sedang haid," ucap Putri pelan dengan wajah tertunduk.
Kei mengangakan mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya, "Sial! Sungguh waktu yang tidak tepat!" umpatnya dalam hati.
"Sayang, maaf, ya..." ucap Putri merasa bersalah. "Tidak apa-apa. Aku 'kan suami pengertian," kata Kei seraya tertawa garing, padahal dalam hati dia tidak berhenti mengumpat.
***
Dua hari kemudian, Kei masih harus menginap di kediaman Dexter karena lagi-lagi ia dalam kondisi yang tidak fit. Akhir-akhir ini, kesehatannya selalu menurun, tapi hari ini Kei tetap memaksa ikut mengantarkan Sasa ke bandara untuk kembali ke Singapura.
Sedari di mobil, Kei hanya berbicara tentang Sasa, bahkan sampai pesawat yang membawa Sasa kembali ke Singapura menghilang di ujung langit pun, ia tetap menyebut-nyebut nama itu.
"Sayang, kenapa diam saja?" tanya Kei yang memperhatikan Putri di sebelahnya. "Jangan sebut-sebut nama Sasa dengan manisnya seperti itu di depanku!" ucap Putri geram karena cemburu.
Kei diam menatap istrinya itu, sedangkan Putri memalingkan wajahnya saat menyadari tatapan sang suami. "Sayang cemburu?" tanya Kei ragu. Putri berjalan seraya menghentakkan kakinya, "Siapa yang cemburu!" sanggahnya dengan ketus.
"Iya! Sayang cemburu, 'kan? Sayang cemburu aku menyebut nama gadis lain. 'Kan, tadi sayang sendiri yang mengatakannya," kata Kei seraya mengekor di belakang Putri dengan tersenyum senang mengetahui istrinya sedang cemburu.
"Ayo, mengaku saja! Sayang cemburu, 'kan? Sini, mana aku lihat wajahnya yang cemburu!" goda Kei sambil tertawa. "Jangan tertawa!" bentak Putri dengan keras.
"Sayang marah? Apa aku keterlaluan? Aku minta maaf," ucap Kei merasa bersalah. "Tidak. Aku tidak marah. Dia 'kan sepupumu," jawab Putri berbohong.
"Jangan bohong! Sayang tidak pernah membentakku seperti tadi. Sayang pasti marah. Aku harus apa supaya sayang berhenti marah? Hmm?" kata Kei seraya memasang wajah memelasnya, biasanya hal ini ampuh untuk merayu Putri.
__ADS_1
"Sepertinya, aku memang tidak pantas untuk sayang," ucap Putri yang tiba-tiba merajuk. "Apa?" kata Kei bingung dengan reaksi Putri itu. Sang istri hanya diam dengan wajah cemberut.
Sebenarnya, sejak hari pernikahan mereka banyak pikiran yang menghinggapi kepala Putri karena kondisi rumah tangganya yang tidak lazim, sudah menikah tapi masih pisah rumah.
Terlebih, Putri yang sudah sah menjadi istri Kei, tidak diizinkan ikut suaminya pulang ke rumah mertuanya, sedangkan Sasa yang memang sepupu Kei, diizinkan menginap di sana.
"Menikah, tapi seperti tidak menikah!" gerutu Putri. "Aku pulang saja! Tidak usah diantar, biar aku naik taksi saja!" ujar Putri membalikan badannya begitu saja.
"Tunggu dulu! Sayang kenapa, sih? Kenapa sayang jadi aneh seperti ini?" tanya Kei seraya meraih tangan Putri dan menahannya.
"Apanya yang aneh? Aku hanya tidak suka sayang membanggakan gadis lain di depanku. Yang aneh itu sayang! Kenapa sakit terus!" jawab Putri marah.
"Sebenernya, ada apa? Kenapa sayang marah-marah seperti ini?" tanya Kei lagi. Tiba-tiba saja, Kei merasa hatinya tidak nyaman serta takut dan hal itu membuat jantungnya mulai tidak karuan.
"Sudahlah! Kalau sayang punya Sasa, aku juga punya abang! Abangku juga lebih baik dari sayang!" ucap Putri tidak mau kalah. Hati Kei terasa bertambah nyeri mendengarnya.
"Abang? Maksud sayang, Vincent?" tanya Kei dengan nada dingin. Entah kenapa rasanya, emosi Kei tiba-tiba tersulut mendengar istrinya membawa-bawa Vincent ke dalam perdebatan mereka.
"Iya, abangku yang tampan dan baik hati. Kenapa? Sayang juga tidak terima, 'kan?" tantang Putri dengan gaya tengilnya, hanya sekedar untuk membalas rasa cemburunya tadi, tanpa Putri tahu, ia sudah melakukan kesalahan besar yang akan disesalinya.
Kei menatap lekat Putri. "Apa selama ini sayang juga menyukainya?" tanya Kei pelan dengan ekspresi datar. "Tentu saja aku menyukainya. Aku bahkan menyayangi dan mencintainya. Dia, abangku!" jawab Putri santai.
"Jadi, selama ini sayang membohongiku?" tanya Kei yang sudah mengepalkan kedua tangannya. "Bohong? Bo-bohong apa?" tanya Putri bingung mendengar pertanyaan Kei itu.
"Apa sayang tahu, selama ini Vincent juga mencintai sayang, sama seperti aku mencintai sayang?" tanya Kei dengan wajah tertunduk dan mulai memucat dan Putri pun seketika membeku mendengarnya.
"Apa kalian saling mencintai? Jadi, kalian selama ini membohongiku!" bentak Kei dengan keras di hadapan Putri untuk pertama kalinya. "A-apa maksud sayang?" ucap Putri dengan air mata yang mulai berlinang.
Kei hanya diam berusaha mengontrol denyut jantungnya yang semakin cepat. "Sayang bercanda, 'kan? Sayang pasti salah. Abang tidak mungkin mencintaiku. Aku... aku hanya mencintai sayang. Sungguh, aku hanya mencintai sayang," kata Putri.
Putri mulai panik melihat wajah Kei yang semakin pucat pasi dengan keringat dingin yang mulai membasahi wajahnya dan tubuhnya yang juga mulai gemetar hebat.
Putri memeluk Kei yang tiba-tiba saja terduduk dan Putri bisa merasakan nafas Kei yang mulai terputus-putus. "Sayang, sayang kenapa?" ucap Putri panik, tapi Kei sama sekali tidak menjawabnya.
Sekarang, wajah tampan Kei tampak meringis kesakitan. "Apa yang sakit? Katakan, apa yang sakit!" pinta Putri seraya menyeka keringat yang semakin banyak di wajah suaminya itu.
Dengan mata terpejam dan tangan gemetar, Kei meraba-raba kantong celana dan jaketnya, mencari botol kecil yang selalu di bawanya ke mana pun, tapi nihil. Kei tidak menemukannya sama sekali.
"Antarkan aku pulang, sekarang!" pinta Kei dengan suara lirih dan terputus-putus pada Putri. Putri pun segera menurutinya dan membawanya pulang, tapi sesampainya di kediaman Dexter, Kei tidak mengizinkannya masuk ke dalam, bahkan untuk sekedar memapahnya sampai ke kamar.
Kei juga menyuruh supirnya untuk langsung mengantarkan Putri pulang ke kediaman Adhitama. Putri berusaha melawan, tapi ia terpaksa menurut saat Tuan Agust Dexter, ayah mertuanya, menghampirinya dan berkata, "Pulanglah, Nak. Aku akan memastikan Kei baik-baik saja."
__ADS_1