Jantung Hati

Jantung Hati
Tidak Boleh!


__ADS_3

Dengan hanya bermodal paspor keduanya dan mendaftarkan langsung ke Registry Of Marriages Singapura, akhirnya Vincent dan Putri menikah. Jika selama ini sebuah pernikahan dipenuhi kebahagian, tapi tidak dengan kedua mempelai ini yang telah mengikrarkan janji sucinya bersama.


Tidak ada wedding dress khusus, hanya sebuah dress putih sederhana. Tanpa resepsi, apalagi pesta megah seperti impiannya. Hanya tanda tangan di sebuah kertas putih di catatan sipil karena niat mereka hanya untuk mendapatkan sertifikat pernikahan saja.


"Terima kasih... Kau mengabulkan permintaan terakhirku, walau aku tahu kau terpaksa melakukannya," lirih Vincent dalam hati seraya memandang pengantinnya yang begitu cantik hari ini.


"Pada akhirnya, aku memang memilihmu untuk memilikiku... karena hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu... untuk bunda ... juga ayah... tapi maaf... sungguh, hatiku sudah kembali padanya..." lirih Putri pula saat matanya bertemu tatapan sendu Vincent yang mengarah padanya.


***


Selama perjalanan menuju hotel tempat mereka menginap, Vincent lebih banyak diam. Ia hanya terus memandang wajah istrinya itu, seolah ia takut melupakan wajah cantik itu lagi.


Saat di hotel pun, sesekali Vincent memamerkan senyum tampannya pada semua orang yang menyapanya saat mereka sekeluarga menikmati makan malam bersama, tapi bukan kebahagian yang Putri tangkap, seolah ada lara yang coba Vincent sembunyikan.


Vincent menghampiri Putri yang masih duduk menikmati makan malamnya, padahal Vincent sendiri baru beberapa suap memakan makan malamnya. Vincent tersenyum lembut pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu, lalu memeluknya dari belakang.


Cukup lama ia memeluknya, membuat Putri dapat merasakan tangan Vincent yang merangkulnya dengan gemetar. "Terima kasih... Aku mencintaimu... Sangat mencintaimu... Aku mohon, maafkan aku untuk selama ini..." ucapnya dengan suara bergetar menahan tangisnya, lalu mengecup pucuk kepala istrinya lama dengan begitu lembut.


Kemudian, tanpa mengatakan apapun lagi, Vincent berlalu meninggalkan Putri yang mematung dengan air matanya. "Kenapa perasaanku setakut ini saat melihatmu seperti ini? Perasaan takut apa ini?" ucap batin Putri.


Hingga makan malam berakhir, Vincent tidak muncul lagi, membuat Putri semakin dihinggapi rasa takut. Putri pun mencoba mencari Vincent di kamar mereka, ternyata suaminya itu terlelap dengan tenangnya.


Lama, Putri memperhatikan wajah tampan yang selama ini pernah merajai hatinya itu. Entah mengapa, hatinya terasa sakit. Tidak seharusnya ia menyerahkan hatinya kembali pada Kei. Seharusnya, ia tetap bertahan menunggunya. Seharusnya, pernikahan ini membuat mereka bahagia karena inilah yang mereka impikan selama ini, tapi tetap saja hatinya terasa perih.


Semakin lama, Putri memperhatikan wajah itu, semakin ia menyadari wajahnya terlalu tenang untuk dikatakan terlelap, bahkan Vincent tidak merespon sama sekali saat Putri mencoba membangunkannya.


"Bang! Abang!" panggil Putri berulang kali seraya menepuk pelan pipi Vincent, juga menggoyangkan bahunya, tapi tetap tidak ada respon. "Abang! Bangun, Bang!" panggil Putri yang mulai panik dan menangis, ia semakin takut, takut kehilangan pria yang sudah menjadi suaminya ini.


Putri memeriksa tubuh Vincent. Vincent masih bernafas dan detak jantungnya pun masih dapat Putri dengar saat ia menempelkan telinganya di dada Vincent. Putri pun meraih tangan Vincent untuk memeriksa denyut jantungnya, tapi ia tersentak saat menyentuh tangannya, dingin!


Putri semakin ketakutan, tangannya bergetar, "Kumohon, bangunlah..." ucapnya seraya menciumi tangan itu, bahkan punggung tangan Vincent sudah basah dengan air mata Putri.


"Bangun, Bang! Buka mata abang! Aku bilang, buka!" ucap Putri dengan nyaring. Sungguh, sekarang Putri benar-benar takut mata itu tidak membuka lagi. Putri semakin panik, berlari keluar memanggil siapapun yang bisa ia temukan. "Cepatlah! Aku tidak ingin terjadi apapun padanya. Aku tidak mengizinkannya!" teriak Putri yang mulai histeris.


***


Sudah satu jam, Vincent dilarikan ke rumah sakit, tapi belum ada tanda-tanda ia akan bangun. Putri duduk termangu menunggu di luar ruangan ICU karena tidak ada yang boleh masuk selain dokter dan perawat.


Nyonya Adhitama datang memberikan sebuah paper bag pada Putri. "Gantilah bajumu dulu! Biar bunda dan ayah yang menunggu di sini," ucapnya. Dengan berat hati, Putri pun meninggalkan ruangan itu.


Di sisi lain, di ruangan ICU, di mana Vincent dirawat, tanpa ada seorang pun yang tahu, ia membuka matanya perlahan, diam terpaku memandang langit-langit ruangan itu. Sesekali, ia mengerjapkan matanya sambil melihat sekeliling ruangan yang tampak tidak asing baginya.


Sesaat kemudian, Vincent menutup matanya kembali, lalu menghirup dalam aroma antiseptik yang memenuhi ruangan ini. Dengan suara bergetar dan parau, ia mencoba bicara, "Kaukah itu... kelinci nakal?" ucapnya lirih.


Hening! Tak ada sahutan. Hanya suara denyut jantung yang terdengar saling bersahutan. Selain suara denyut jantung milik Vincent yang juga memenuhi ruangan itu, ada suara denyut jantung lainnya.


Suara yang lemah dari monitor yang ada di balik tirai pemisah yang tertutup, menandakan ada pasien lain di sana. Kei Alexis Dexter, pasien yang sudah menghuni ruangan itu terlebih dulu.


"Aku tahu... kau mendengarku..." kata Vincent. Lagi-lagi, Vincent mencoba mengeluarkan suaranya, walau terasa sangat sulit. Vincent melepaskan masker oksigen yang menutupi mulutnya, "Mengganggu!" pikirnya.


"Apa kau tahu... hari ini..." ucap Vincent berhenti sejenak untuk menarik nafas dalam, "aku... sangat bahagia," lanjutnya. Vincent tersenyum dengan bibir yang mulai memucat, "Aku... menikahinya... Kei..." ucapnya dengan nafas yang mulai terasa berat.


Sesekali, Vincent mengecap bibirnya yang sudah mengering. Dengan susah payah, ia menelan air liurnya, "Maaf... aku... tidak mengundangmu..." ucapnya lagi seraya terkekeh kecil sambil mengatur nafasnya yang mulai pendek.


"Andai... kau melihatnya..." lanjut Vincent seraya kembali tersenyum, meski tahu tidak ada yang melihatnya, "cantik!" lirihnya seraya memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir di ujung kedua matanya.


"Putri... sangat cantik... dengan dress putihnya..." lirih Vincent dengan suara yang semakin hampir tidak terdengar. Vincent mulai menangis terisak, merasakan sesak di dadanya dan sakit yang mulai kembali menyerang kepalanya.

__ADS_1


Cukup lama tidak terdengar suara, hanya helaan nafas Vincent yang sesekali terdengar. Ia mengulum bibirnya dengan mata terpejam, tangannya mengepal menahan sakit yang mendera.


Dengan nafas yang mulai terputus-putus, Vincent kembali melanjutkan pembicaraannya dengan sahabat karibnya itu, "Aku... sudah... menepati janjiku... untuk... menikahinya... Aku... tetap... mencintainya... sampai... akhir...."


Tiiit...! Selang beberapa detik kemudian, terdengar bunyi alarm di ruangan itu, membuat dokter dan para perawat berlarian masuk ke sana.


Tidak lama setelah itu, Putri yang baru keluar dari kamar mandi di ujung lorong, langkahnya terhenti saat mendapati kepanikan para perawat, kemudian ia ikut berlari bersama perawat yang melintas di depannya saat menyadari bahwa tujuan para perawat itu adalah ruangan ICU.


Tapi belum sampai di sana, tubuh Putri ditahan oleh Arjuna. Dari kejauhan, Putri melihat ayah dan bundanya yang berpelukan sambil menangis bersama, membuat air matanya turut tumpah.


Detak jantung Putri pun semakin tidak terkendali. "Ikhlaskanlah dia, Put..." ucap Arjuna seraya turut menangis, tapi Putri tidak mau mendengarnya.


Putri semakin berontak di pelukan Arjuna, saat melihat para perawat yang dengan tergesa-gesa mendorong sebuah brankar ke luar dari ruangan itu dan Putri pun langsung berlari mengejarnya.


Putri berlari secepat yang ia bisa, tanpa peduli sudah berapa banyak orang yang ia tabrak saat melaluinya, "Tidak! Ini tidak benar! Itu bukan abang! Katakan kalau abang baik-baik saja!" ucapnya dalam hati tanpa bersuara sedikit pun, hanya air matanya yang mengalir deras menolak menerima kenyataan, tapi semakin dekat ia dengan brankar itu, semakin jelas wajah Vincent yang sudah pucat pasi.


Hingga sampai tangan Putri meraih ujung brankar itu, "Tunggu!" ucapnya terengah-engah. "Maaf, tapi kami harus secepatnya melakukan operasi pada kedua pasien ini," jawab perawat yang menarik brankar itu.


"Apa? Operasi? Suamiku masih hidup, 'kan?" tanya Putri bingung seraya menggenggam erat tangan perawat itu. Ada secercah harapan di hatinya bahwa Vincent masih hidup. "Maaf, Nyonya, tapi suami anda baru saja meninggal..." jawab perawat itu kembali menghancurkan harapan Putri.


Putri melepaskan tangannya dan melangkah mundur, "Tidak! Ini pasti mimpi... Dia tidak mungkin meninggal..." lirihnya dengan air mata yang terus menerus mengalir.


"Kami turut berduka cita, tapi kami harus segera membawa suami Anda ke ruang operasi karena suami Anda mendonorkan jantungnya untuk pasien bernama Kei Alexis Dexter," ucap perawat itu bagai petir susulan di telinga Putri, sebelum perawat itu kembali mendorong brankar itu.


Sekali lagi, Putri membulatkan matanya tidak percaya saat melihat brankar lain yang lewat di depannya. Tubuhnya benar-benar lunglai melihat Kei yang terbaring lemah di atas brankar itu.


Nyonya Adhitama yang melihatnya, berlari memeluk Putri. Putri menangis histeris di pelukan ayah bundanya. Mereka bertiga sama-sama menangisi kepergian orang yang mereka cintai, hingga Putri pingsan di pelukan mereka.


...Kenapa takdir begitu kejam mempermainkanku?...


...Saat aku kecil, takdir merebut kedua orangtuaku untuk selamanya....


...Saat aku bersama Vincent, takdir pula yang membuatnya melupakanku....


...Tapi, saat aku sudah menentukan hati untuk kembali pada Kei, takdir kembali memisahkanku....


...Dan sekarang, saat aku sudah memilih Vincent, takdir pula yang mengambilnya lagi dariku untuk selamanya....


***


"Abang, aku datang..." ucap Putri seraya meletakkan seikat bunga di atas sebuah batu nisan. Putri memandang batu nisan bertuliskan nama suaminya itu "Vincent Adhitama".


Putri menghela nafasnya sebelum mulai bicara, "Apa di sana, abang bahagia? Abang pasti tidak merasakan sakit lagi," ucapnya seraya mulai terisak. "Abang benar-benar jahat! Belum sehari abang menikahiku, abah sudah membuatku menjadi janda," katanya sambil terkekeh, seakan-akan ia sedang bercanda dengan suaminya itu.


Namun, di balik tawanya itu, Putri tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis sesenggukan di makam itu seorang diri. Terlebih saat ia ingat surat yang ia temukan pagi ini di atas meja kerja Vincent.


***


...Sayang......


...Terima kasih, kau sudah menemani hidupku selama ini. Sungguh, aku bahagia bersamamu....


...Apa kau tahu? Aku menyukaimu sejak kau tidak sengaja menciumku saat kita terjatuh bersama di kolam saat pesta ulang tahunku yang ke-12. Ya, selama itulah aku sudah mencintaimu, tapi karena kau adalah adikku, aku menyangkal perasaanku ini....


...Saat kau bersama Kei, barulah aku mengerti kalau aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku begitu hancur saat melihat kalian menikah, tapi aku tetap menyimpannya dalam hati karena aku tidak ingin merebutmu dari sahabatku....


...Aku ingin kau sendiri yang memilihku. Oleh karena itulah, saat Kei pergi, aku mulai mendekatimu. Aku sangat bahagia saat kau mau menerima perasaanku, walau butuh waktu lama untuk meyakinkanmu....

__ADS_1


...Sayang, tahukah kau, hatiku sangat sakit sekali saat ingatanku kembali karena aku juga ingat dengan baik bagaimana aku menyakitimu....


...Maaf......


...Maafkan aku karena sempat melupakanmu. Mungkin ini hukuman untukku yang selalu membuatmu menangis saat itu....


...Aku benar-benar hancur saat mengetahui hidupku yang tak lama lagi, padahal aku baru saja mengingatmu. Masih banyak hal yang belum aku lakukan bersamamu....


...Di tambah hari itu, aku juga baru mengetahui rahasia Kei yang ia simpan selama ini....


...Ternyata, selama ini tanpa aku sadari, aku sudah menyakiti kalian berdua, seorang sahabat yang sudah memberikan segalanya untukku....


...Aku juga melupakan dan menyakitimu, bahkan karena cemburu melihatmu bersamanya, aku sampai menyakiti tubuhmu yang selama ini aku jaga, serta waktuku yang hampir habis, membuatku semakin hancur......


...Benar-benar hancur....


...Maafkan aku, jika malam itu aku memaksamu. Maaf, aku sudah melakukannya dengan kasar padamu....


...Maaf......


...Maaf......


...Maaf......


...Aku tahu seberapa banyak pun aku meminta maaf padamu, itu percuma karena semua sudah terlambat, tapi sungguh, kumohon maafkanlah aku.......


...Aku ingin meminta satu hal terakhir padamu, menikahlah dengan Kei....


...Kembalilah padanya karena sudah seharusnyalah kalian bersama....


...Aku tahu bagaimana Kei mencintaimu, bahkan mungkin melebihi rasa cintaku padamu....


...Dari awal, memang dialah yang pantas untukmu....


...Dan maaf......


...Aku diam-diam mendonorkan jantungku untuknya, tanpa memberitahumu terlebih dahulu karena hanya itulah yang bisa aku berikan untuk kalian....


...Aku tahu dengan jantung ini, aku tetap tidak bisa bertahan, tapi dengan jantung ini, aku bisa membuat kalian bersama, membahagiakanmu dari sini....


...Maaf......


...Jika surat ini tidak romantis karena ini surat pertama yang kutulis untuk seorang wanita dan kau satu-satunya wanita yang pernah menerima surat dariku....


...Mirisnya, surat ini juga akan menjadi satu-satunya surat dariku karena surat ini adalah surat pertama dan terakhirku untukmu....


...Aku mencintaimu, istriku....


...Sungguh, teramat sangat mencintaimu....


...Berbahagialah selalu, tapi jangan lupakan aku....


...Kau tahu, aku tidak akan pernah mengizinkannya karena walau jasadku membusuk dan hancur, tapi percayalah, cinta dan jantungku akan selalu hidup untukmu....


...Selamat tinggal, cintaku......


...Dari abang tampan dan juga kekasih alien bodohmu yang selalu mencintaimu....

__ADS_1


...Vincent....


__ADS_2