
"Nyonya! Nyonya!" teriak seorang pelayan yang berlari dari kamar Putri. "Ada apa lagi? Kenapa kau berteriak? Ada apa dengan Putri? Apa yang terjadi?" tanya Nyonya Adhitama pada pelayannya itu.
"Kenapa perasaanku tidak enak! Sejak malam tadi, Putri mengurung diri di kamarnya dan tidak mau membukakan pintunya," pikir Vincent saat melihat kepanikan pelayannya itu.
"Nona Putri..." jawab pelayan itu belum menyelesaikan perkataannya, tapi Kei yang baru saja datang langsung bergegas menuju kamar Putri tanpa mendengar dulu penjelasan dari pelayan itu.
"Menyebalkan! Kenapa mereka berdua selalu membuatku marah?" pikir Vincent lagi seraya mengepalkan tangannya saat melihat Kei yang langsung berlari menuju kamar Putri.
***
Di kamarnya, Putri duduk di tepi ranjang dengan nafas yang tersengal-sengal, ia masih mengenakan pakaiannya semalam yang basah kuyup oleh hujan. Wajahnya pucat, tubuhnya menggigil dan tatapannya kosong. Kei kaget melihatnya, "Put! Ada apa denganmu?" ucapnya seraya menghampiri Putri.
Putri menengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Ia tersenyum tipis saat melihat Kei lah yang datang. Tangan lemahnya meraih baju Kei, menariknya untuk mendekat padanya.
Kemudian, Putri menyandarkan kepalanya di perut Kei dan perlahan ia pun memejamkan matanya. Putri pingsan di pelukan Kei yang memeluk erat tubuhnya. "Singkirkan tanganmu!" ucap Vincent di depan pintu, ia datang bersama yang lain.
"Apa ini, V! Apa kesalahannya sampai kau menyiksanya seperti ini?" Kei berteriak di depan semua orang. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi, hatinya hancur melihat kehancuran wanita yang ia cintai itu. "Kenapa kau membawa wanita itu ke sini? Kenapa kau harus menunjukannya pada Putri?" lanjutnya.
"Ini bukan urusanmu," jawab Vincent datar, "apa kau kasihan padanya? Apa kau begitu mengkhawatirkannya? Apa kau menyukainya? Kalau iya, ambil saja dia!" katanya dengan santai dan tersenyum remeh. "V!" bentak Tuan Adhitama geram.
"Kau salah, V! Aku bukan sekedar menyukainya, tapi aku mencintainya. Masih sangat mencintainya! Dan mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan kau menyakitinya lagi!" ucap Kei seraya membawa Putri dari sana.
"Mau ke mana kau, hah! Tinggalkan Putri di sini!" teriak Vincent, tapi Kei tidak memperdulikannya. Tiba-tiba, Vincent merasakan sakit pada kepalanya. Sejak kecelakaan itu, sakit kepalanya selalu kambuh, bahkan bertambah sering dan semakin sakit.
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Rosalind dan membantu Vincent untuk tetap berdiri. "V, apa kepalamu sakit lagi, Nak?" tanya Nyonya Adhitama yang mulai khawatir melihat kondisi putranya.
Tuan Adhitama menjadi bingung, apakah ia harus mengejar Kei atau membiarkannya, sedangkan ia juga khawatir melihat Vincent yang meringis kesakitan. "Kenapa semuanya jadi seperti ini!" ucap Tuan Adhitama frustasi sambil memejamkan matanya.
"V, kau mencintainya selama bertahun-tahun, jauh sebelum Putri mencintaimu! Apa selama itu, tidak ada kenangan yang sama sekali kau ingat?" tanya Tuan Adhitama pada Vincent.
__ADS_1
"Putri bertekad untuk menunggumu mengingatnya dan ayah percaya, Putri bisa melakukannya, tapi karena wanita ini!" tunjuk Tuan Adhitama murka pada Rosalind, "pada akhirnya, kau menghancurkan semuanya!" lanjutnya.
"Baiklah, kalau kau tidak ingat, akan ayah beritahu padamu! Sebelum Putri mencintaimu, mereka berdua saling mencintainya bahkan sampai menikah! Tapi Kei merelakannya untukmu, sahabatnya, karena kalian mencintai wanita yang sama," ucap Tuan Adhitama geram.
Seperti di hantam dengan kuat, kepala Vincent tiba-tiba semakin sakit saat mendengar perkataan ayahnya. "Seandainya jika sampai akhir kau tidak mengingatnya, maka biarkan Kei yang membahagiakan putriku!" ucap Tuan Adhitama untuk terakhir kalinya dan berlalu.
***
Sudah berhari-hari Kei membawa Putri pergi. Sejak saat itu, Vincent selalu tampak gelisah. Vincent selalu memikirkan Putri, meskipun ia tidak menginginkannya. Hatinya berkata untuk menemui Putri, tapi logikanya selalu menentangnya. "Untuk apa aku menemuinya, sedangkan dia bukan siapa-siapa?" pikirnya.
Seperti sekarang ini, Vincent tengah berbaring di samping Rosalind yang masih tertidur setelah mereka menghabiskan malam bersama. "Arrgh!" erang Vincent emosi seraya bangun dari tidurnya.
"Semakin aku memikirkannya, aku semakin kesal! Sebenarnya, ada apa denganku?" kata Vincent dalam hati. "Sayang, kau mau ke mana sepagi ini?" tanya Rosalind yang baru terbangun, tapi Vincent tidak menjawabnya, lalu ia memakai jaketnya dan pergi begitu saja.
***
"Lalu di mana dia?" tanya Vincent yang tidak percaya, tapi tidak ada satu pun pelayan di sana yang mengetahui keberadaannya. Vincent kembali dengan perasaan yang semakin kesal. Akhirnya, Vincent memutuskan menghubungi Arjuna untuk memintanya mencari keberadaan Putri.
"Jun, kenapa kau diam saja?" tanya Vincent pada Arjuna melalui sambungan ponselnya. "Maaf, tapi ini perintah ayah Anda untuk tidak memberitahukan keberadaan Putri pada Anda," jawab Arjuna.
"Jadi, maksudmu semua orang tahu di mana Putri, kecuali aku!" kata Vincent sebelum ia dengan kesal mengakhiri panggilannya. Vincent memukul-mukul setir mobilnya dengan emosi.
***
Malam itu, Kei berniat membawa Putri ke kediaman Dexter, tapi Putri yang sadar saat di perjalanan menolaknya. Kei pun memutuskan membawa Putri ke rumah sakit untuk berobat. Beberapa hari ini, tanpa sepengetahuan Vincent, Putri di rawat di rumah sakit.
Pagi ini, seperti biasa sebelum pergi ke kantor, Kei selalu menyempatkan diri untuk menemui Putri di rumah sakit, tapi sesampainya dia di rumah sakit, perawat mengatakan jika Putri sudah pergi dengan seorang pria bernama Arjuna.
Kei memang meminta perawat di sana untuk mendata siapa pun yang mau menemui Putri dan melarang orang yang bernama Vincent Adhitama untuk menemuinya. Kei pun lantas menghubungi Arjuna untuk menanyakannya dan Arjuna memberitahu Kei bahwa mereka sedang di kediaman Adhitama.
__ADS_1
***
Plak! Putri menampar pipi Rosalind dengan keras sampai wanita itu tersungkur di lantai. "Kau!" ucap Rosalind menatap tajam Putri. Plak! Plak! Plak! Tanpa berkata apa pun, Putri terus menerus menampar wajah Rosalind dengan keras, seolah ia tidak akan memberi ampun pada wanita itu, bahkan hingga bibir wanita cantik itu sudah mengeluarkan darah.
Putri menghentikan tamparannya saat nafasnya sudah terasa berat karena lelah, "beraninya kau berpikir bisa menipuku!" ucap Putri seraya menarik kerah baju Rosalind.
"Demi apa? Demi apa kau menipu Vincent dan berpura-pura hamil, hah!" teriaknya dengan keras di hadapan wajah Rosalind. Putri benar-benar meluapkan emosinya setelah mengetahui kebenaran yang ia minta Arjuna untuk selidiki.
"Da-dari mana kau tahu?" tanya Rosalind tidak percaya, tapi tanpa mereka sadari, ada orang lain yang lebih tidak percaya mendengarnya. "Apa maksudmu, Ros?" tanya Vincent yang datang dengan wajah pucat.
Tanpa belas kasihan, Putri melemparkan tubuh Rosalind yang sudah penuh lebam di wajahnya ke hadapan Vincent, "Jun, kau saja yang jelaskan padanya," ucapnya dengan nada datar.
Putri pergi meninggalkan mereka, menemui ayah bundanya yang lebih memilih diam di dalam daripada harus menghadapi Rosalind, wanita rubah itu. Arjuna pun menjelaskan kepada Vincent semua kebenarannya.
Alhasil, satu tamparan lagi mendarat di pipi mulus Rosalind. "Dasar wanita murahan! Keluar kau dari rumahku, sekarang juga!" teriak Vincent dengan tatapan yang ingin membunuh. "Bagaimana bisa aku ditipu mentah-mentah seperti ini!" pikirnya.
Di saat yang sama, Putri berlalu di hadapan mereka. Langkahnya terhenti saat Vincent menangkap tangannya, "Mau ke mana kau?" tanyanya. Putri menggigit bibir bawahnya dengan gemetar dan melepaskan tangan Vincent dengan kasar dan tetap melanjutkan langkahnya.
"Rasanya sakit, Bang! Baru sekarang kau menggenggam tanganku, setelah aku memutuskan untuk pergi. Sadarlah, Put! Kau tidak boleh goyah! Aku tidak akan memperlihatkan wajahku yang menyedihkan lagi di hadapanmu karena tidak peduli apa pun usahaku, kau tetap tidak mengingatku," lirih batin Putri seraya terus berlalu meninggalkan Vincent.
"Put, kau tidak tahu, betapa aku menderita setiap hari setelah kepergianmu, hanya karena memikirkanmu. Tanpa aku tahu alasannya, kenapa aku melakukannya. Apa aku benar-benar melakukan kesalahan?" pikir Vincent.
Aku sudah menahanmu untuk pergi, tapi kau tetap melangkahkan kakimu? Mau ke mana lagi kau setelah mengacaukan pikiranku seperti ini? Aku membencimu, Put. Aku membenci dirimu yang membuatku goyah!" ucap Vincent dalam hati seraya memandang punggung Putri yang semakin menjauh.
***
Sebelum benar-benar pergi, Putri kembali berbalik menatap rumah mewah itu, "Kupikir, aku akan selalu tinggal di rumah ini bersamamu, tapi kenyataannya malah seperti ini," ucapnya sedih dengan tubuh gemetar, "kau membuatku memilih untuk melangkahkan kakiku pergi."
Kei memandangi Putri dari balik kaca mobilnya, "Lihatlah, Put! Bahkan ia tidak menghentikan langkahmu yang selalu berusaha bertahan untuknya, meski berkali-kali kau menangis terjatuh karenanya. Hatiku sungguh sakit melihatmu yang seperti ini," gumamnya.
__ADS_1