Jantung Hati

Jantung Hati
Kenapa Seperti Ini?


__ADS_3

"Apa aku benar-benar bodoh karena masih bertahan memaksamu untuk mengingatku? Tapi, itulah keyakinanku, walau harus kuakui, semakin hari aku semakin bertanya-tanya, siapa aku di matamu?"


"Dan bukan hanya kau yang bertanya siapa aku, tapi aku sendiri pun bertanya siapa kau yang saat ini berdiri di hadapanku? Kau yang tidak tahu siapa aku yang selama ini atau aku yang tidak tahu siapa kau saat ini? Kau yang sudah melupakanku dan aku yang tidak mengenalimu lagi."


"Sosokmu setiap hari kulihat dan suaramu selalu kudengar, tapi semua itu terasa semakin jauh untuk kugapai. Tahukah kau, betapa aku merindukanmu? Kenangan kita bersama masih tetap hidup di rumah ini dan hatiku, bahkan sekarang seperti biasa aku masih merindukanmu... dan terus merindukanmu..."


"Rindu memandang wajah tampanmu... rindu melihat senyumanmu... rindu mendengar canda tawamu... rindu sikap manismu yang selalu romantis... rindu tingkah konyolmu yang selalu menghiburku... rindu tatapan nakal dan suara seksimu saat menggodaku... rindu pelukan hangatmu... rindu aroma harum tubuhmu... rindu ciuman manismu... aku rindu setiap sentuhanmu! Mungkin jika saat itu aku menghentikanmu, semua ini tidak akan terjadi, kita akan tetap bersama."


"Rasanya, baru semalam aku melihat lautan cinta di matamu, tapi sekarang semua menghilang entah ke mana. Kau berubah! Sekarang, tidak ada lagi kekasih yang aku kenal, yang begitu manis mencintaiku, yang membuatku jatuh cinta setiap hari."


"Yang tersisa hanyalah dirimu yang menyiksaku setiap saat dengan perlakuan dingin yang perlahan membekukan jiwaku, ucapan kasar dan menyakitkanmu yang selalu menusuk hatiku dan tatapan kebencianmu yang selalu menikam rasaku."


"Apa sudah tidak tersisa lagi perasaanmu yang dulu hanya untukku, bahkan di relung hatimu yang terdalam, meski hanya sedikit? Apa aku benar-benar harus menyerah dengan rasaku? Apa ini yang kau inginkan?"


"Aku memang bodoh! Semua pertanyaan ini semakin tidak terkendali dan perlahan melahap seluruh jiwaku, membuatku gila, bahkan terkadang aku mulai berpikir untuk membencimu saja."


"Aku ingin keluar dari semua ini. Aku semakin sakit menunggumu mengingatku, mengingat cintamu padaku. Aku mulai muak, V!" ucap Putri lirih bermonolog seorang diri di tengah tangisan pilunya seraya memandangi punggung Vincent yang semakin menjauh meninggalkannya.


***


Keesokan paginya, Vincent tengah berjalan di lorong kamar, saat ia mendapati pintu kamar Putri yang terbuka dan saat matanya menerobos masuk ke dalam kamar itu, ia melihat Putri yang tertidur meringkuk di lantai, di posisi yang sama saat beberapa jam yang lalu ia meninggalkannya.


Vincent mendekati tubuh yang terbaring itu, ia menyelimutinya. Dengan tatapan yang sulit diartikan, ia memperhatikan Putri yang terlelap, "Semakin hari aku semakin bingung dengan perasaanku sendiri. Aku membencimu tanpa alasan, tapi tanpa alasan pula aku kasihan padamu. Jadi, sebaiknya menyerahlah! Hentikan semua ini!" ucapnya seraya kembali melangkah meninggalkan Putri.


Di luar kamar, Kei memundurkan langkahnya bersembunyi di balik dinding sampai Vincent melewatinya turun ke lantai bawah. Ia melihat Vincent yang baru keluar dari kamar Putri, tapi ia malas menyapanya.


Kei datang untuk menemui Putri sebagai sahabat untuk menghiburnya setelah Nyonya Adhitama menceritakan kejadian kemarin. Kei mengernyitkan dahi saat melihat Rosalind yang keluar dari kamar yang dulu akan digunakan Putri sebagai kamar pengantinnya bersama Vincent.


Kei memandang Rosalind dengan tatapan tidak sukanya, sedangkan Rosalind dengan santainya tidak memperdulikan keberadaan Kei. "Dasar nenek sihir!" rutuk Kei pelan setelah Rosalind melewatinya.


Kei lebih terkejut lagi saat mendapati Putri yang masih meringkuk di lantai, "Bukankah tadi Vincent dari kamar ini? Kenapa dia membiarkan Putri tidur di lantai?" gumamnya. Dengan pelan, Kei pun mengangkat Putri untuk ditidurkannya di ranjang.


Putri tidak membuka matanya sama sekali saat Kei menggendongnya. "Apa kau masih menjadi putri tidur di usia seperti ini?" gumam Kei seraya tersenyum mengingat kembali kenangannya bersama Putri yang sulit untuk dibangunkan dari tidurnya.


"Atau kau baru saja tertidur, setelah menangis semalaman, bahkan di lantai?" lanjut Kei memulai monolognya seorang diri, seiring senyumnya yang hilang saat menyadari mata Putri yang sangat sembab.


Kei duduk melantai di sisi ranjang lalu merebahkan kepalanya dan memandang Putri dengan tatapan sendunya. "Meski semua terasa menyakitkan, apa kau hanya akan memandangnya saja, selamanya? Sama seperti aku yang hanya memandangmu..."


"Apa kau benar-benar mencintainya dengan segenap hatimu, hingga kau bertahan sampai sekarang? Meskipun tatapannya sekarang selalu membencimu? Meskipun bibirnya tidak pernah tersenyum lagi padamu? Meskipun tangannya tidak ingin menggenggam tanganmu lagi? Apa kau amat sangat mencintainya?"


"Tapi, aku tidak menyukainya! Aku tidak suka melihatmu terluka seperti ini. Aku tidak bisa terus-terusan memandangmu menangis dari kejauhan. Aku ingin menghiburmu. Aku ingin membuatmu tersenyum lagi."

__ADS_1


"Aku ingin memelukmu, mencium bibirmu, menyentuhmu dan berbisik di telingamu, aku masih mencintaimu. Aku masih sangat mencintaimu, Put. Lupakanlah dia dan kembalilah padaku! Kau adalah satu-satunya alasanku untuk hidup..."


Kei tertunduk, dengan lirih, seraya menghela nafasnya panjang, "apa aku boleh mengatakan semua ini? Tuhan, apa boleh aku serakah di sisa waktuku?" lanjutnya pelan agar tidak terdengar oleh siapa pun.


Dengan berat, Kei meninggalkan Putri yang masih memejamkan matanya, ia memilih membiarkannya istirahat terlebih dahulu. Kei pun kembali ke lantai bawah, menemui sang pemilik rumah.


Saat Kei sudah benar-benar pergi dari kamar itu, Putri membuka matanya. Sebenarnya, ia sudah terbangun sejak tadi. Meski terdengar pelan, sayup-sayup ia bisa mendengar perkataan Kei tadi, walaupun tidak semuanya. Juga perkataan Vincent yang menyuruhnya untuk menyerah pada perasaannya.


***


"Bagaimana, apa Putri baik-baik saja?" tanya Nyonya Adhitama yang melihat Kei menuruni tangga. "Putri sedang tidur, Bun," jawab Kei ramah. Ia tidak ingin menambah kekhawatiran mereka dengan mengatakan keadaan Putri yang dilihatnya tadi.


"Apa kau mau menunggunya bangun?" tanya Tuan Adhitama. Kei menjawabnya dengan tersenyum. "Kalau begitu, kita bicara di ruang makan saja, kau pasti belum sarapan. Lagipula, di luar sedang hujan, lebih baik kau menunggunya bangun sebentar lagi. Biar pelayan nanti yang membangunkannya," ajak Nyonya Adhitama.


Nyonya rumah itu pun memanggil seorang pelayan, lalu menyuruhnya untuk membangunkan Putri, setelah pelayan itu menyelesaikan pekerjaannya dan mengajaknya sarapan bersama.


Mereka berjalan bersama menuju meja makan, tapi langkah mereka terhenti saat melihat Rosalind yang duduk bersama Vincent di sana.


Vincent yang menyadari tatapan tidak suka kedua orang tuanya itu, memutuskan beranjak dari sana, lalu mengajak Rosalind untuk mencari sarapan di luar. Vincent hanya ingin menghindari terjadi konflik susulan karena rasanya kepalanya sudah mulai sakit dengan hanya membayangkannya saja.


"Kenapa kita harus makan di luar?" tanya Rosalind manja. "Jangan membantah! Ikuti saja aku!" ucap Vincent dingin. "Tapi, bayiku ingin makan di sini," ucap Rosalind seraya merangkul mesra lengan Vincent.


"Menjijikan!" ucap Nyonya Adhitama penuh penekanan. "Sayang, bunda membuatku takut," rengek Rosalind. "Siapa yang kau panggil bunda, hah! Dasar wanita laknat! Ular sepertimulah yang menakutkan!" bentak Nyonya Adhitama dengan keras.


"Sayang, tenanglah!" ucap Tuan Adhitama seraya memeluk istrinya, "apa kau tidak mau lagi mendengarkan perkataan Bundamu, V? Bawa dia keluar dari rumah ini!" lanjutnya. Vincent pun memilih untuk mengalah kali ini dan menarik tangan Rosalind untuk pergi dari sana.


***


"Nyonya, nona Putri tidak ada di kamarnya," ucap pelayan tadi. "Mungkin dia sedang mandi," sahut Kei. "Di kamar mandi, juga tidak ada, Tuan," jawab pelayan itu membuat majikannya saling pandang.


Kei pun bergegas ke kamar Putri untuk memeriksanya, tapi ternyata Putri benar-benar tidak ada di kamarnya. Kemudian, Kei dibantu beberapa pelayan mencari Putri di seluruh penjuru rumah, tapi hasilnya tetap nihil.


"Bagaimana bisa? Tadi aku meninggalkannya dalam keadaan tidur. Jika dia keluar rumah, satu-satunya jalan adalah tangga ini. Apa Putri diam-diam melewatinya saat kita di ruang makan tadi?" ucap Kei.


***


Vincent mengurungkan niatnya untuk pergi saat melihat beberapa pelayan yang tampak sibuk, seperti sedang mencari sesuatu di sekitar halaman, bahkan di tengah hujan seperti ini.


"Apa kalian sudah menemukannya?" tanya salah seorang pelayan pada pelayan lain yang berpapasan dengannya. "Belum, di sini dan di sana juga tidak ada," sahut pelayan itu.


Karena penasaran, Vincent menutup kembali pintu mobilnya dan bertanya pada salah satu pelayan yang ada di dekatnya. Mendengar Putri yang menghilang entah ke mana, Vincent kembali masuk ke dalam rumah, sedangkan Rosalind yang melihatnya dari dalam mobil pun bingung.

__ADS_1


***


"Kenapa tidak satu pun dari kalian yang melihatnya!" tanya Vincent tiba-tiba marah pada para pelayan yang hanya menundukan kepala mereka, "kenapa kalian diam saja!" bentaknya lagi.


"Ka-kami juga tidak tahu, Tuan. Kami sedang melakukan tugas kami masing-masing pagi ini, Tuan. Kata Tuan Kei, Nona Putri masih tidur di kamarnya," jawab seorang pelayan dengan ketakutan.


"Apa maksud kalian! Apa aku harus memerintahkan kalian untuk mengawasinya baru kalian melakukannya!" teriak Vincent marah. "Ya? Apa kami harus melakukannya?" tanya pelayan lain yang juga ketakutan.


"Apa kalian semua bodoh! Majikan kalian pergi dan kalian tidak tahu hal itu! Apa kalian semua mau dipecat!" ucap Vincent semakin berapi-api. "Tuan, tolong jangan pecat kami. Kami minta maaf, Tuan," ucap semua pelayan itu bersamaan sambil memohon pada Vincent, bahkan sampai bersujud di kakinya.


"Baiklah, aku beri kalian kesempatan, tapi kalian harus temukan Putri secepatnya. Ck! Menyebalkan! Beraninya kalian membuatku marah sepagi ini!" ucap Vincent yang kali ini benar-benar pergi bersama Rosalind.


Kei beserta orang tua Vincent terdiam melihat reaksi Vincent yang menurut mereka terlalu berlebihan. "Kenapa dia semarah ini? Bukankah selama ini dia yang menginginkan Putri pergi?" pikir Kei.


***


Malam harinya di ruang kerja Vincent di kediaman Adhitama, "Apa kalian sudah menemukannya?" tanyanya pada Arjuna yang ia perintahkan mencari Putri. "Belum," jawab Arjuna singkat.


Mata Vincent membulat mendengarnya, "Ini sudah larut malam dan tidak ada satu pun dari kalian yang berhasil menemukannya?" tanya Vincent datar.


"Sebenarnya, baru saja ada laporan, ada orang yang melihat Putri berjalan di tengah hujan sambil menangis dan terlihat sangat kacau seperti... o-orang gila. Maaf, saya mengatakan ini, tapi sekali lagi kami kehilangan jejaknya," jawab Arjuna dengan ragu.


Prang! Vincent melempar gelas di tangannya sampai gelas itu pecah berhamburan di lantai, "Cari dia sampai dapat!" teriaknya. Tiba-tiba, ia melihat Putri yang melintas di depan ruang kerjanya dalam keadaan basah kuyup.


Vincent pun bergegas menghampiri dan menarik Putri, "Dari mana saja kau, hah! Kenapa kau berjalan di tengah cuaca buruk seperti ini? Apa kau bodoh!" teriaknya seraya meremas kedua lengan Putri.


"Sakit!" ringis Putri pelan dengan suara parau. "Katakan, dari mana saja kau?" tanya Vincent sekali lagi tanpa melepaskan cengkramannya. "Kenapa kau bertanya? Bukankah kau yang menyuruhku pergi?" sahut Putri lirih dengan tubuh yang lemas dan bicara tanpa menatap Vincent.


"Aku tanya, dari mana saja kau? Jawab aku, Putri!" teriak Vincent lebih keras. "Lepaskan aku!" ucap Putri seraya tersenyum pahit, "bukankah kau ingin aku pergi, lalu kenapa sekarang kau marah, Tuan muda Vincent Adhitama!" lanjutnya dengan wajah datar.


Vincent melotot. "Kau memanggilku apa? Kau!" ucap Vincent seraya mendorong Putri hingga terjatuh ke lantai. Tuan dan Nyonya Adhitama yang mendengar keributan pun datang menghampiri mereka.


Arjuna yang melihat Putri terjatuh berniat menolongnya bangun, tapi Vincent melarangnya, "Jangan sentuh dia!" bentaknya pada Arjuna dengan sangat keras.


"Ada apa ini?" tanya Tuan Adhitama. "Putri! Kau kenapa, Nak? Apa kau baik-baik saja? Dari mana saja kau? Bunda sangat mengkhawatirkanmu," kata Nyonya Adhitama seraya memeluk Putri.


Tuba-tiba, Putri tertawa dalam pelukannya, "Apa kau berharap aku tidak kembali lagi? Sayangnya, aku tidak akan meninggalkan ayah dan bunda bersama wanita iblis itu!" ucapnya seraya memandang tajam Vincent yang juga memandangnya tak kalah tajam.


Tatapan Putri melemah. Ia kalah dan menurunkan pandangannya. Sungguh sakit rasanya, ditatap seperti itu oleh orang ia cintai. "Katakanlah, apa aku lebih baik mati?" tanyanya lirih seperti orang yang sedang putus asa.


"Putri! Apa yang kau katakan, Nak?" kata Nyonya Adhitama yang mempererat pelukannya. "V, kau sudah keterlaluan!" bentak Tuan Adhitama.

__ADS_1


"Lepaskan, Bun. Aku ingin sendiri," pinta Putri yang melepaskan dirinya dari pelukan bundanya itu. Dengan pelan, ia berjalan menuju kamarnya.


"Ingat! Mulai hari kau tidak boleh keluar dari rumah ini tanpa seizinku!" teriak Vincent. "Putri benar! Kenapa aku semarah ini? Bukankah seharusnya aku senang jika dia benar-benar pergi dari rumah ini?" batinnya.


__ADS_2