Jantung Hati

Jantung Hati
Tunggu Dulu, Mau Ke Mana?


__ADS_3

Putri sedang duduk seorang diri di taman kediaman Adhitama. Sekali lagi, Putri mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah mewah ini. Rumah yang sudah memberinya kebahagiaan yang tidak akan dia temukan di mana pun.


Walaupun senyumannya sesekali mengembang saat mengingat kembali kenangan indahnya, tapi air matanya tak hentinya turun membasahi pipi putihnya.


"Aku memang sudah memutuskan untuk menyerah dan pergi. Kini, biarkan aku yang melupakanmu. Izinkan untuk yang terakhir kalinya, aku mengenang semuanya di sini, sebelum aku benar-benar menguburnya," ucap Putri dalam hati seraya menyeka air matanya, memastikan tidak ada yang tersisa di sana, begitu pula rasanya.


Lama Putri larut dalam kenangannya, tanpa ia sadari ada sepasang mata indah yang menatapnya sendu, seolah mengerti setiap tetes air matanya, sepasang mata yang selalu menatapnya penuh cinta.


Kei beranjak dari tempatnya dan berniat menghampiri Putri, tapi langkahnya terhenti saat ponselnya berdering. "Jangan lupa, hari ini kau harus memeriksakan jantungmu," suara wanita terdengar di telinga pria tampan itu, tapi Kei sama sekali tidak menghiraukannya, atensinya tetap terfokus pada Putri.


"Di mana kau sekarang? Apa kau bersama Putri?" tanya wanita itu. "Hmm..." sahut Kei malas. "Kenapa kau masih merahasiakannya?" tanya wanita itu lagi, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari Kei. Lantas, Kei pun mengakhiri panggilan itu sepihak begitu saja, seolah ia tidak peduli dengan pertanyaan Sasa itu.


***


Walau sempat tersentak saat Kei yang tiba-tiba langsung duduk tanpa permisi di sampingnya, Putri tetap tersenyum saat melihatnya. "Apa sudah selesai?" tanya Kei ragu sambil melirik Putri. "Ya?" tanya Putri tidak mengerti.


"Apa sudah selesai menangisnya?" ulang Kei yang kini menatap Putri dengan lekat seolah menelisik ke dalam dua bola mata indah itu, membuat sang pemilik mata gelagapan mendapat tatapan seperti itu. "Tidak. Aku tidak menangis," sanggah Putri sambil memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menyembunyikan mata sembabnya.


Kei menghela kasar nafasnya, "Tidak usah berpura-pura. Aku sudah melihatnya dari tadi," ucapnya seraya merebahkan kepalanya di atas kedua lututnya, "menangislah jika itu bisa meringankan beban di hatimu. Aku tak apa," ucapnya dengan suara dan tatapan yang begitu lembut.


Entah mengapa, mendengar kata-kata itu membuat air mata Putri yang tadi sempat mengering kembali luruh tanpa aba-aba. Melihat tubuh Putri yang gemetar hebat, Kei pun menarik tubuh itu ke dalam dekapannya, memeluknya erat. "Menangislah, Put! Lepaskan saja semuanya! Lupakanlah hal yang membuatmu sakit!" ucapnya seraya mengelus punggung Putri.


"Sekarang hanya kau tempatku bersandar. Tempatku menumpahkan semua air mataku dan meluapkan semua rasa di hatiku. Sungguh, aku membutuhkanmu karena aku sudah lelah menanggung rasa sakit ini sendirian," kata Putri di tengah tangisannya.


Kei tertegun saat Putri membalas pelukannya itu dengan erat. Hatinya sakit melihat Putri hancur seperti ini. Jauh lebih sakit dari saat ia terpaksa meninggalkannya dulu. Karena saat itu, Kei yakin, Vincent akan membahagiakannya.


Batin Kei pun bertanya, "Apa kau sehancur ini saat aku meninggalkanmu? Jika aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan pernah meninggalkanmu pada Vincent. Andai saat itu, aku memberitahumu semuanya, apa kau akan tetap bersamaku? Apa kau akan tetap memilihku?"


"Tidak! Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin kau tahu penyakitku. Aku tidak ingin menyakitimu lagi. Terlebih aku tidak ingin kau mengasihaniku. Biarlah aku seperti ini. Bagiku cukup melihatmu tersenyum bahagia, meski senyum itu bukan untukku," lanjut Kei seraya tersenyum getir.


***


Setelah hari itu, sudah hampir 2 minggu Putri menenangkan dirinya seorang diri di apartemen kecilnya. Hanya sesekali, Kei datang mengunjunginya. Walau Putri sendiri tahu betul, jika Kei juga sibuk dengan perusahaannya, tapi ia merasakan ada perubahan dalam sikap Kei padanya.


Kei yang selama beberapa bulan terakhir menemani dan merawatnya, selalu bersikap manis dan perhatian, "Tapi setelah hari itu, ia seperti menghindariku, menjaga jarak di antara kami untuk tetap sebatas teman. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja," pikir Putri.

__ADS_1


Putri keluar dari apartemennya karena hari ini jadwalnya ke rumah sakit untuk menebus obatnya. Putri memang sudah tidak mengalami depresi lagi, tapi ia tetap membutuhkan obat tidur untuk insomnianya.


***


Sementara itu di sebuah ruangan dokter, "Bagaimana perkembangannya, Dok?" tanya Sasa pada dokter spesialis jantung di depannya itu. "Maafkan saya, tapi perkembangan jantung Tuan Dexter semakin menurun, anda harus melakukan transplantasi secepatnya," jawab dokter itu. "Kak..." lirih Sasa sendu menatap kakak sepupunya itu.


Kei meraih tangan Sasa dan mengusapnya lembut, "Tidak apa-apa. Tenanglah!" ucapnya seraya tersenyum. Sasa berusaha menahan air matanya melihat Kei yang selalu terlihat tegar menerima kondisinya, bahkan sejak ia kecil. "Kapanpun anda menemukan donor jantung yang cocok, saya siap melakukannya," ucap Kei pasrah.


"Baiklah, kami akan mengusahakan yang terbaik. Untuk sementara itu, saya harap anda dapat menjaga kondisi jantung anda agar tetap stabil. Anda harus bisa mengontrol emosi anda dan jangan sampai kelelahan," pesan dokter itu, "tapi, apa saya boleh bertanya?" lanjutnya.


"Silahkan, Dok. Apa yang ingin anda tanyakan?" tanya Kei ramah. "Kenapa anda kembali berobat di Indonesia? Bukankah anda selama ini berobat di Singapura?" tanya dokter itu penasaran. Kei tersenyum, "Saya hanya rindu Indonesia," jawabnya asal.


Sasa memutar bola matanya saat mendengar jawaban itu. Walau Kei kembali ke Indonesia karena harus mengurus perusahannya, tapi ia tahu betul rindunya pada Putri lah yang menjadi alasan utamanya.


Karena saat Sasa menunjukan undangan pernikahan Putri dan Vincent yang ia terima lewat email, dengan menanyakan apakah Kei tidak ingin bertemu Putri sebelum menjadi istri Vincent, sontak membuat Kei memutuskan kembali ke Indonesia pada hari itu juga.


***


Di rumah sakit yang sama, Vincent baru tiba untuk mengambil hasil pemeriksaan yang ia lakukan beberapa waktu lalu. Ia tengah berjalan menuju ruangan dokter spesialis syaraf yang ada di sebelah ruangan dokter spesialis jantung itu.


"Kei? Sasa? Apa yang mereka lakukan di sini? Siapa yang sakit? Dokter spesialis jantung?" tanya Putri dalam hati saat melihat siapa yang keluar dari pintu itu dan kembali membaca papan nama yang terpasang di atas pintu itu. Lantas, semakin menatap mereka penuh tanda tanya.


Kei dan Sasa yang melihat Putri memandang ke arah mereka pun sontak membeku di tempat. Kei diam seribu bahasa, ia menelan ludahnya dengan kasar, sedangkan Sasa menjadi serba salah, tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang.


"Sayang, kau kah itu?" sebuah suara yang amat sangat Putri kenal datang dari arah belakangnya. Jantung Putri langsung berdegup dengan cepat saat mendengar suara itu dan seketika senyum indahnya mengembang saat hatinya yakin suara itu adalah suara milik Vincent.


"Apa kau sudah mengingatku?" lirih Putri seraya berbalik ingin berlari menghambur ke dalam pelukan pria yang nyatanya masih ia rindukan itu, tapi sekali lagi kenyataan menamparnya dengan telak. Putri menghentikan langkahnya saat Vincent berjalan melewatinya, bahkan dengan wajah angkuh yang seolah-olah tidak melihat keberadaan Putri.


Pandangan Putri pun mengikuti ke mana arah Vincent melangkah. Dan benar saja, dengan langkah besarnya, Vincent menghampiri Sasa dan sejurus kemudian, ia menggenggam tangan Sasa, "Apa kau sakit, sayang?" tanyanya dengan wajah yang begitu khawatir.


Putri tidak percaya dengan apa yang dia lihat, "Sasa? Sejak kapan?" tanyanya pada dirinya sendiri, "kau salah, Bang. Akulah di sini yang sakit. Sakit melihatmu yang selalu menyakitiku," lirih Putri dalam hati dan hanya bisa mematung melihatnya.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Sasa menampik tangan Vincent, lalu menatap Putri dengan tatapan bersalahnya, tapi Vincent malah menangkup wajah Sasa dengan kedua tangannya, "Benar, kau baik-baik saja?" tanyanya seraya menempelkan dahinya ke dahi Sasa.


"Ya! Apa kau gila!" bentak Sasa yang heran kenapa Vincent melakukannya di depan Putri, tapi Vincent tidak memperdulikannya dan berkata, "Aku merindukanmu, sayang," seraya memeluk Sasa.

__ADS_1


"Lepaskan!" kata Kei pelan seraya menarik tangan Vincent dengan kasar. Bukan untuk Sasa dia marah, tapi karena marah melihat Putri yang mulai menangis terdiam di tempatnya.


"Hei! Kau ini kenapa, hah?" tanya Vincent tidak terima. "Lepaskan!" ulang Kei yang sudah menatap tajam Vincent seperti singa yang akan memakan mangsanya. Vincent melepaskan pelukannya, "Ada apa denganmu? Kenapa kau marah?" tanyanya tidak mengerti.


"Seharusnya, aku yang bertanya, apa yang kau lakukan ini?" kata Kei dengan geramnya.


"Kak Kei, hentikan!" pinta Putri sambil terisak. Kei pun segera meninggalkan Vincent, lalu menghampiri Putri dan berusaha menenangkannya.


"Apa yang kau lakukan? Apa kau gila? Kenapa kau memanggilku sayang?" tanya Sasa kesal dengan sedikit berbisik. "Maaf, tadi saat melihat Putri, aku tiba-tiba memanggilnya sayang tanpa sadar. Karena aku malu, jadi aku teruskan saja padamu," bisik Vincent seraya tersenyum.


Pletak! "Kenapa kau memukul kepalaku?" tanya Vincent pada Sasa sambil mengelus kepalanya yang sakit. "Ternyata kau benar-benar gila!" jawab Sasa.


Tiba-tiba, Putri menyeka air matanya seraya menatap Vincent dan Sasa yang sedang bicara. Dengan cepat, ia berjalan menghampiri Vincent. Vincent yang melihatnya, diam menunggunya.


"Perasaan aneh itu datang lagi. Semakin Putri mendekat, semakin jantung ini berdegup cepat," kata batin Vincent mulai bicara. Putri menghentikan langkahnya tepat di hadapan Vincent.


Lama, Putri menatap mata Vincent dengan tatapan pilunya. Begitu pula, dengan Vincent yang menatap lekat setiap air mata yang keluar dari mata indah milik Putri. "Air mata yang selalu membuatku bertanya, siapa kau untukku?" sekali lagi batin Vincent bertanya-tanya.


Cupp! Tanpa terduga, Putri mencium bibir Vincent. Ia mencium bibir yang ia rindukan itu sambil menangis dengan tubuh yang gemetar hebat, sedangkan Vincent seketika membeku, bukan karena terkejut dengan ciuman mendadak Putri itu, tapi karena sekelebat ingatan mulai beterbangan dengan cepat di benaknya saat ini.


Putri melepaskan ciumannya dengan kasar, bahkan ia menggigit bibir Vincent hingga berdarah, tapi Vincent tidak bergeming sama sekali, ia masih mematung memandang putri. Hanya tangannya yang bergerak menyapu darah di bibirnya.


Dengan langkah tertatih dan sempoyongan seperti orang mabuk, Putri melangkahkan kakinya mundur perlahan. Ia tersenyum, menangis dan tertawa secara bersamaan, "Hahaha... aku sudah gila! Aku gila melakukan hal konyol ini untuk membuatmu mengingatku!" ucap Putri.


Kei yang melihat tubuh Putri merosot perlahan langsung berlari memeluknya, sebelum tubuh itu ambruk ke lantai. "Bawa aku, Kak! Bawa aku pergi dari sini!" lirih Putri sambil meremas kuat baju yang Kei kenakan dengan tangannya yang gemetar.


Tanpa berkata apa-apa lagi, dengan sigap, Kei menggendong Putri dan membawanya pergi meninggalkan Vincent yang masih tidak bergerak dari tempatnya.


Vincent menatap ke arah mereka dengan tatapan nanar. Ia masih mencerna setiap ingatan yang terlintas di benaknya. Semakin ia berusaha mengingatnya, kepalanya semakin terasa sakit.


Pandangannya semakin nanar, tubuhnya mulai gemetar dengan keringat dingin yang membasahi wajah tampannya, hingga sakit kepala yang teramat sangat menghantam kepalanya.


Vincent berteriak kesakitan sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, bahkan sampai ia menyandarkan tubuhnya di dinding untuk menahan sakitnya. Sasa yang panik melihatnya, berteriak memanggil dokter.


Perlahan, ingatan itu muncul satu persatu, semakin lambat, semakin jelas. "Ciuman ini... rasa ini... bibir merah yang manis ini... senyuman cantik ini... mata indah ini... pelukan ini... tawa ini... rambut panjang ini... wangi tubuh ini... tubuh seksi ini... wajah cantik ini... Pu-Putri!" satu nama yang lolos dari bibir seorang Vincent Adhitama, sebelum tubuhnya ambruk dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2