Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 10 - Kehujanan [Bonus Visual]


__ADS_3

...༻✿༺...


Morgan menjalankan motor dengan kecepatan yang cukup laju. Caranya berkendara memang seperti seorang pembalap. Namun jika dilakukan di jalan raya, maka Morgan bisa disebut sebagai pengendara ugal-ugalan.


"Morgan! Jangan ngebut!" pekik Ramanda. Dia terpaksa berpegang erat ke pinggul Morgan.


"Sorry, Ra. Kebiasaan." Morgan terkekeh. Dia segera memelankan kelajuan motornya.


"Dasar cowok! Kebiasaannya selalu aja gitu." Ramanda memukul pundak Morgan. Dia berhenti memegangi pinggul cowok tersebut.


"Sama kayak mantan lo itu ya?" tebak Morgan.


"Dih! Nggak penting banget." Ramanda berdecak kesal.


Morgan kembali tergelak kecil. "Kenapa berhenti pegangan? Pegang aja kali, Ra. Gue ikhlas kok. Sampai gue nggak bisa nafas juga nggak apa-apa," ucapnya.


"Lo itu kebanyakan bacot tahu nggak," tukas Ramanda. Dia memilih berpegangan ke pundak Morgan.


"Ngomong-ngomong, lo ngapain masih di sekolah sih? Sopir lo tadi nggak jemput?" tanya Morgan. Merubah topik pembicaraan. Sebenarnya dia penasaran dengan nasib Ramanda yang terlihat sendirian di halte bus.


"Sopir gue punya kerjaan lain." Ramanda menjawab singkat.


"Kenapa nggak naik bus aja? Atau gojek gitu. Atau telepon aja gue langsung. Gue pasti bakalan datang secepat kilat," tanggap Morgan.


"Baterai handphone gue habis. Jadi nggak bisa nelepon gojek. Mengenai bus, gue nggak terbiasa naik begituan," jelas Ramanda.


"Terus kalau gue? Kenapa lo nggak telepon gue?" Morgan menuntut jawaban. Dia tidak sabar mendengar jawaban Ramanda.


"Cih! Emang lo siapa gue?" balas Ramanda seraya terkekeh. Dia menepuk pelan pundak Morgan. Ramanda mulai terbiasa dengan candaan cowok itu.


"Lah... Jadi gue cuman kekasih yang tak dianggap?" canda Morgan.


"Jangan lebay!" seru Ramanda. Dia dan Morgan tergelak bersama.


Tanpa diduga, hujan tiba-tiba turun. Ramanda dan Morgan sontak kehujanan. Sialnya hujan kali ini turun lebih lebat dari sebelumnya.


"Kita neduh dulu ya!" ujar Morgan. Dia segera menghentikan motor ke sebuah warung makan.


Ramanda langsung turun dan berteduh. Di ikuti Morgan selanjutnya. Mereka berdiri di teras warung makan. Mengusap-usap seragam yang sudah terlanjur basah akibat hujan.


Ramanda duduk lebih dulu ke kursi yang tersedia. Dia sudah tidak peduli dengan keadaan dirinya yang basah kuyup.

__ADS_1


"Begini nih nggak enaknya pakai motor. Bisa bikin cewek sakit karena kehujanan," celetuk Morgan. Dia mengambil tisu yang ada di meja. Bukannya mengelap dirinya sendiri, Morgan justru mengelap wajah Ramanda lebih dulu.


"Gue harap gue sakit aja..." ungkap Ramanda. Membuat dahi Morgan sontak berkerut.


"Lo kenapa ngomong gitu? Kalau lo sakit nanti gue dong yang nggak enak," ujar Morgan. Sebagai orang yang membonceng Ramanda, dia merasa harus bertanggung jawab. Terlebih cewek itu adalah teman dekatnya sekarang.


Ramanda terkekeh sambil melirik Morgan. Dia segera merebut tisu yang ada di tangan cowok tersebut.


"Kenapa jadi lo yang nggak enak?" balas Ramanda. Dia terdiam sejenak. Perlahan menundukkan kepala dan berkata, "gue cuman mau bokap sama nyokap perhatiin gue lagi kayak dulu."


Mendengar Ramanda bercerita, Morgan terdiam. Sebab ini adalah pertama kalinya Ramanda terbuka untuk menceritakan masalah.


"Semenjak Rendra lahir, semuanya berubah. Gue merasa nggak penting lagi di mata keluarga gue," ucap Ramanda dengan raut wajah sendu. Ia mendadak emosional. Memang sejak menerima kurangnya perhatian dari Raffi dan Elsa, Ramanda menjadi lebih perasa dari sebelumnya. Mengingat ketidakpedulian orang tuanya saja sudah membuat Ramanda sedih.


"Lo juga rasain hal begituan, Ra?" tanggap Morgan.


Mendengar Morgan berucap begitu, Ramanda tersadar. Dia sudah terlalu banyak bercerita. Cewek itu tiba-tiba merasa malu.


"Sorry, Gan. Lo nggak usah ladenin perkataan gue tadi," ujar Ramanda seraya tersenyum kecut.


"Nggak apa-apa. Tapi gue tahu kok kalau apa yang tadi lo ceritain itu adalah masalah serius. Jujur ya, Ra. Gue juga senasib sama lo. Malah lebih parah." Morgan mengungkapkan.


"Lebih parah?" Ramanda penasaran.


"Bisa juga ya lo ngambek." Ramanda menyenggol Morgan dengan siku. Keduanya saling terkekeh.


Kebetulan ada sebuah mobil yang baru singgah. Morgan sangat mengenal jelas mobil itu. Dia yakin kalau mobil tersebut adalah milik ayahnya.


Benar saja, sosok yang keluar dari mobil adalah Michael. Dia tidak sendiri. Ada seorang wanita cantik yang menemani. Wanita yang tentu saja bukan ibunya Morgan.


Ramanda dan Morgan terpaku dengan kehadiran Michael. Apalagi ayahnya Morgan itu tampak sangat mesra dengan wanita yang bersamanya.


Karena tidak mau berhadapan dengan sang ayah, Morgan menarik tangan Ramanda. Mengajak cewek itu bersembunyi ke tempat tertutup. Tepatnya di samping warung makan.


Morgan menyudutkan Ramanda ke dinding. Dia melindungi gadis tersebut dari cipratan air hujan. Kini wajah Morgan yang terlihat sendu. Ramanda bisa melihat kesedihan di paras lelaki tampan itu.


"Gan, bokap lo..."


"Iya, Ra. Sudah lama. Ini sudah yang ketiga kalinya gue lihat dia jalan bareng wanita lain." Morgan dapat menerka pertanyaan Ramanda. Jadi dia sengaja memotong perkataan gadis itu.


Ramanda menatap Morgan dengan penuh simpati. Dia tidak menyangka, dibalik sikap ceria Morgan, ada banyak kesedihan yang tersimpan.

__ADS_1


Perlahan Ramanda mendekat satu langkah. Lalu memeluk Morgan. Dia berharap pelukannya dapat membuat cowok tersebut merasa lebih baik.


"Gue nggak menyangka. Lo ternyata juga bisa sedih," komentar Ramanda sembari memejamkan mata.


Morgan terkesiap. Dia terkejut dengan tindakan Ramanda. Meskipun begitu, senyuman terukir di wajahnya.


Morgan membalas pelukan Ramanda. Pelukan cewek itu sukses menghilangkan kekalutannya.


"Gini dong dari tadi. Kan enak. Anget-anget gitu," ucap Morgan. Jati dirinya yang menyebalkan telah kembali.


Mendengar ucapan Morgan, Ramanda langsung melepas pelukannya. Namun cowok itu tidak membiarkan.


"Morgan! Dikasih hati malah minta jantung ya!" protes Ramanda. Tetapi ucapannya justru membuat Morgan tergelak. Bahkan semakin mengeratkan pelukan.


"Udah jangan malu. Gue tahu kalau lo juga menikmati. Hujan-hujan gini emang enaknya pelukan," sahut Morgan. Masih belum melepas dekapannya.


Ramanda berusaha keras mendorong Morgan. Tetapi tidak bisa.


"Baru kali ini masalah gue diketahui sama orang lain. Lo orang yang pertama kali tahu, Ra. Gue sebenarnya mencoba sebisa mungkin merahasiakan semua ini," ungkap Morgan.


Ramanda berhenti memberontak. Dia mendengarkan cerita Morgan baik-baik. Ramanda juga membiarkan Morgan untuk terus memeluk dirinya.


"Gue harap lo nggak akan bernasib sama kayak gue. Kalau lo merasa nggak mendapat perhatian dari bokap nyokap lo, mending lo kasih tahu kegelisahan itu sama mereka." Morgan akhirnya melepas pelukannya. Menatap Ramanda dengan serius. Namun gadis yang ditatapnya terlihat cemberut.


"Itu sudah gue lakukan, Gan. Dan sama sekali nggak berhasil. Bokap nyokap gue tetap mementingkan Rendra lebih dari apapun," kata Ramanda.


"Kalau begitu coba sekali lagi. Lakukan sebelum semuanya terlambat," saran Morgan bersungguh-sungguh.


"Andai nggak berhasil lagi gimana?" tanya Ramanda.


"Lo gue ajak pergi 24 jam!" jawab Morgan ambigu.


Kening Ramanda mengernyit. "Mau ngapain?"


"Ya bikin bokap sama nyokap lo khawatir lah," sahut Morgan. Membuat Ramanda mengembangkan senyum. Cewek itu berpikir ide Morgan sangat brilian.


..._____...


...Bonus Visual...


__ADS_1



__ADS_2