Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 25 - Pembicaraan Morgan & Raffi


__ADS_3

...༻✿༺...


Raffi setuju untuk menemui Morgan. Sebenarnya dia juga ingin mengatakan sesuatu kepada cowok itu. Kebetulan Morgan masih ada di penjara.


Kini Raffi disuruh duduk menunggu. Tak lama kemudian Morgan datang dengan dikawal oleh seorang sipir.


Morgan segera duduk di hadapan Raffi. Tubuhnya tampak semakin kurus. Dia menundukkan kepala karena merasa malu. Hening menyelimuti suasana dalam sekian detik.


"Om, aku..."


"Andai kau tidak terlibat dengan obat-obatan terlarang, aku pasti membiarkanmu untuk tetap mendekati Ramanda. Tapi sekarang... Kumohon menjauhlah darinya!" ujar Raffi. Sengaja memotong pembicaraan Morgan. Ucapannya sukses membuat kepala Morgan terangkat.


"Tapi kemarin aku benar-benar tidak mengkonsumsi obat-obatan. Aku berhenti karena Ramanda," ungkap Morgan. Berusaha meyakinkan.


"Bagaimana aku bisa percaya kalau hasil tes urine-mu positif. Kau tidak bisa membantah bukti nyata, Morgan."


"Om, aku benar-benar tidak tahu kenapa hasil tes urineku positif!"


"Hasil tes yang positif juga menunjukkan betapa seringnya kau mengkonsumsi obat-obatan itu. Bagaimana aku bisa membiarkan lelaki sepertimu dekat dengan Ramanda?"


Morgan terhenyak. Perkataan Raffi sukses membuat mulutnya tak bisa mengucapkan apa-apa. Meskipun begitu, Morgan mengingat cintanya terhadap Ramanda. Dia yang sering bermain dengan banyak wanita, sekarang jatuh ke dalam satu orang saja. Morgan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ramanda memang satu-satunya cewek yang berhasil membuat dunia gelapnya berubah menjadi terang.


"Sudah cukup. Kedatanganku ke sini hanya ingin mengatakan itu. Pokoknya jauhi Ramanda!" Raffi bangkit dari tempat duduk. Ia hendak beranjak meninggalkan Morgan.


Menyaksikan Raffi nyaris pergi, Morgan lekas memanggil.


"Tunggu, Om!" seru Morgan. Membuat langkah kaki Raffi seketika terhenti.


Morgan melangkah menghampiri Raffi dan berkata, "Bagaimana kalau aku bisa membuktikan?"


"Maksudmu?" Raffi memutar tubuhnya menghadap Morgan.

__ADS_1


"Aku akan buktikan kalau aku bisa menjadi lelaki yang pantas untuk Ramanda. Bahkan seperti yang Om inginkan!" terang Morgan dengan binaran mata penuh tekad.


"Apa kau yakin? Kualifikasi yang aku inginkan sangatlah sulit digapai. Apalagi oleh lelaki sepertimu," tanggap Raffi sembari menyilangkan tangan di depan dada.


"Sebutkan saja, Om. Aku akan berusaha menjadi menantu idaman yang kau inginkan!" Morgan terlihat serius.


Raffi tergelak mendengar perkataan Morgan. Dia tentu meremehkan ucapan dari pemuda yang masih berusia belasan tahun itu.


"Menantu kau bilang? Kau sudah berpikir ingin menikahi Ramanda?!" timpal Raffi yang sudah berhenti tertawa.


"Hanya dia satu-satunya perempuan yang ingin kunikahi. Aku rela menjauh darinya. Tapi dengan satu syarat, Ramanda harus tetap berakhir menikahiku!" imbuh Morgan sambil memegangi dada.


Raffi memicingkan mata. Memperhatikan betapa seriusnya ekspresi Morgan. Ia tidak menyangka cowok itu belum menyerah terhadap Ramanda. Alhasil terlintas sebuah pemikiran dalam benak Raffi. Dia akan menyetujui permintaan Morgan.


"Baiklah. Kembalilah ke hadapan Ramanda satu tahun kemudian. Aku yakin itu waktu yang cukup untukmu. Aku ingin melihatmu sebagai menantu yang sudah menjadi dokter hebat, serta bersih dari obat-obatan terlarang," ujar Raffi. Menyebabkan senyuman langsung merekah di wajah Morgan.


"Dan satu hal lagi. Selama itu kau dilarang menghubungi Ramanda. Rahasiakan juga perjanjian kita ini darinya. Aku ingin kau tidak hanya akan mengejutkanku dan istriku. Tapi juga Ramanda sendiri. Selain itu aku tidak ingin membuat Ramanda tersiksa karena menunggumu," sambung Raffi.


"Baiklah. Aku setuju. Berjanjilah Om tidak akan membiarkan Ramanda dekat dengan lelaki mana pun sebelum aku kembali," kata Morgan. Terkesan egois tetapi juga penuh semangat.


Senyuman Morgan seketika memudar. Dia kehabisan kata-kata dan membiarkan Raffi menghilang ditelan pintu.


Kini hanya ada Morgan di ruangan. Dia mengepalkan tinju di kedua tangan. Garis di antara dua alisnya tampak jelas. Mulai sekarang dirinya tidak bisa membuang waktu.


...***...


Pagi telah menyapa. Ramanda membuka mata secara perlahan. Dia langsung memikirkan Morgan serta tawaran ibunya tempo hari.


Pilihan utama Ramanda tentu adalah Morgan. Dia tidak mau jauh-jauh dari cowok itu.


Ramanda diam-diam pergi dari rumah. Ia dalam perjalanan menuju kantor polisi. Setibanya di sana, Ramanda justru menemukan kalau Morgan sudah tidak ada. Polisi mengatakan kalau cowok itu sudah keluar dari penjara dua hari lalu.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, Ramanda langsung menghubungi Morgan. Namun nomor telepon cowok itu tidak aktif lagi. Ramanda otomatis semakin bingung.


'Morgan kenapa? Bukankah harusnya dia kasih tahu gue kalau sudah keluar dari penjara?' benak Ramanda bertanya-tanya. Dia dirundung perasaan gelisah.


Karena tidak bisa menghubungi, Ramanda nekat mendatangi rumah Morgan. Tetapi dia malah tidak menemukan siapapun ada di rumah. Hanya ada seorang pembantu yang menyebutkan kalau keluarga Morgan sudah tidak tinggal di sana lagi.


Ramanda melangkah dengan tatapan kosong. Tatapan itu perlahan berubah menjadi pendar cairan bening. Sampai akhirnya cairan tersebut berjatuhan melewati sudut mata.


Entah kenapa Ramanda merasa dikhianati. Dia merasa Morgan tidak seharusnya pergi begitu saja. Ramanda benar-benar tidak mengerti kenapa cowok itu menghilang tanpa kabar.


Ramanda menangis dalam keadaan berjongkok. Gerimis hujan menemani kesedihannya. Apa yang dilakukan Morgan akhirnya membuat Ramanda terpikir untuk menyetujui tawaran Elsa. Ia lebih baik pindah sekolah ke tempat Zafran berada. Yaitu London.


Pada kenyataannya, Morgan sekarang sedang menjalani proses rehabilitasi. Dia dipindahkan ke lapas narkotika untuk melakukan pemulihan. Morgan sama sekali tak masalah. Ia justru merasa membutuhkan hal tersebut. Akan tetapi dirinya tidak tahu berapa lama proses rehabilitasinya berlangsung.


Akibat perjanjiannya dengan Raffi, Morgan terpaksa berpesan kepada polisi agar tidak memberitahukan kepindahannya kepada perempuan bernama Ramanda. Itulah alasan kenapa Ramanda tidak diberitahu mengenai keberadaan Morgan yang sebenarnya.


Lima hari berlalu. Selama ada di lapas, satu-satunya orang yang menemani Morgan adalah Gina. Dia berubah menjadi sosok ibu yang baik. Membuat hidup Morgan terasa lebih lengkap.


"Mah, aku boleh cerita?" cetus Morgan. Dia dan Gina sedang duduk bersebelahan. Menikmati bekal buatan Gina.


"Apa? Coba ceritakan," tanggap Gina.


"Aku jatuh cinta dengan seorang perempuan. Dan dia adalah Ramanda. Dia satu-satunya orang yang ingin kujadikan istriku," ungkap Morgan.


Gina membulatkan mata. Dia tentu mengenal Ramanda. "Lalu? Apa dia marah saat mendengarmu terlibat obat-obatan terlarang?" tanya-nya.


Morgan lekas menggeleng. "Tidak. Om Raffi justru yang marah. Itulah alasan kenapa aku tidak bisa menemui Ramanda sekarang," katanya. Morgan juga tidak lupa memberitahu tentang perjanjiannya dengan Raffi. Akan tetapi mimpi Morgan yang berkeinginan menjadi dokter membuat mimik wajah Gina sendu. Hal itu karena kondisi keuangan Gina sedang tidak mencukupi. Gaji bulanannya sebagai pegawai negeri tidak akan cukup membiayai pendidikan Morgan.


Seolah mengerti, Morgan memegangi tangan Gina. "Aku tahu apa yang Mamah cemaskan sekarang. Tenang saja, Mah. Aku akan belajar dengan giat agar bisa mendapatkan beasiswa" tuturnya. Morgan tahu ibunya tidak sekaya ayahnya. Namun bagi Morgan kasih sayang adalah hal utama dibanding harta kekayaan.


Di sisi lain, Ramanda baru saja sampai di London. Dia bertemu Zafran di bandara. Keduanya langsung saling berpelukan.

__ADS_1


"Hah... Gue rasa kita adalah dua sahabat yang sedang sama-sama sakit hati," ucap Zafran sembari mengelus pundak Ramanda.


"Iya... Gue harap kita bisa lupain mantan kita yang jahat itu!" sahut Ramanda.


__ADS_2