Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 9 - Ekstrakulikuler Teater


__ADS_3

...༻✿༺...


Usai ulangan semester akhir terlaksana, kelas meeting dilakukan. Seluruh murid di sekolah sedang tidak melakukan kegiatan belajar. Namun ada pengumuman penting yang diberikan kepala sekolah. Pengumuman tersebut diadakan di lapangan. Tepat sebelum para murid melakukan berbagai kegiatan kelas meeting.


Ramanda tengah berdiri di depan kelas. Kebetulan kelasnya berada tidak jauh dari lapangan. Jadi dia memilih untuk mendengarkan dari sana. Ramanda menyandarkan punggung ke dinding. Memeluk buku novelnya dengan erat ke depan dada.


Kepala sekolah mengumumkan perihal kewajiban untuk ikut ekstrakulikuler. Kewajiban itu akan diterapkan saat semester selanjutnya bermula. Jika ada murid yang tidak ikut satu pun program ekstrakulikuler, maka dia akan mendapat poin minus setiap minggu. Poin tersebut sangat berdampak terhadap nilai kelulusan.


"Ya ampun... bikin repot aja. Padahal mau liburan, tapi malah disibukkan sama beginian," keluh Morgan. Dia tiba-tiba berdiri di samping Ramanda.


"Sejak kapan lo di situ?" tukas Ramanda. Matanya melebar.


"Sejak tadi. Kenapa? Kangen ya?" tanggap Morgan. Cengengesan karena ingin menggoda Ramanda.


"Lo itu ya! Apa aja terus dijadiin rayuan. Dasar playboy cap lalat!" balas Ramanda sembari mendengus kasar. Dia juga segera melangkah menuju mading. Dimana semua murid saling berdahuluan ke sana. Sebab di sana Pak Rudi menempelkan daftar kegiatan ekstrakulikuler yang bisa di ikuti.


Ramanda memutuskan menunggu kerumunan bubar. Dia menunggu di tempat yang tidak begitu jauh dengan setia.


"Lo bakalan ikut ekstrakulikuler apa, Ra?" tanya Morgan. Dia kembali berdiri ke sebelah Ramanda. Tetapi Morgan kali ini tidak sendiri. Ada Rangga dan Dimas di sampingnya.


"Gue mau lihat daftarnya dulu," sahut Ramanda. Morgan lantas hanya manggut-manggut saja.


Setelah menunggu cukup lama, keadaan di depan mading mulai agak sepi. Ramanda, Morgan, Dimas, dan Rangga segera memperhatikan daftar yang tertempel di mading.


"Haaah... semuanya bikin malas," ujar Morgan.


"Kita ikut ekstrakulikuler olahraga aja, Gan." Dimas memberikan usul.


"Gue nggak berminat ikut apapun. Kalian harus tahu. Kalau semua kegiatan ini nih punya banyak sekali aturan! Dan gue benci itu!" ucap Morgan. Dia terlihat serius. Membuat Ramanda otomatis menoleh.


"Kalau mau lulus dengan nilai bagus, mending ikut aja. Tapi kalau nggak peduli, terserah lo deh. Apa yang lo pilih berdampak sama masa depan lo," kata Ramanda. Dia sepertinya sudah membuat keputusan untuk mengikuti salah satu kegiatan ekstrakulikuler.


"Gue nggak peduli. Berarti gue boleh nggak ikut kan ya?" Morgan tersenyum lebar. Dia memang terkesan sangat santai.


"Terserah lo deh." Ramanda beranjak pergi. Dia hendak mencari Bu Naomi. Guru yang tidak lain adalah pembina yang berwenang di kegiatan ekstrakulikuler teater.

__ADS_1


Ramanda memutuskan mengikuti ekstrakulikuler teater. Alasan dia ikut kegiatan itu karena dirinya merasa payah dalam bidang seni. Meskipun nilai keseniannya tidak begitu rendah, tetapi nilai itu menjadi yang terendah dibanding pelajaran lain. Ramanda merasa bisa memperbaikinya bila belajar lebih banyak tentang dunia kesenian. Termasuk teater sendiri.


Sementara Morgan, dia memilih tidak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler apapun. Dia menjadi salah satu dari sepuluh orang yang tidak peduli.


"Lo yakin nggak mau ikut apapun, Gan?" tanya Rangga memastikan.


"Kagak!" tolak Morgan yakin.


"Takutnya nanti kalau lo telat, lo cuman bisa ikut ekskul yang kurang diminati. Setidaknya ikut ekskul basket gitu." Dimas memberi saran sambil merangkul Morgan.


"Santai... lakukan aja apa yang kalian mau. Kan yang jalanin gue sendiri." Morgan lagi-lagi merespon dengan tenang.


"Lo itu aneh banget, Gan. Tubuh lo atletis ya. Padahal tiap hari lo konsumsi obat begituan," ujar Dimas. Menanyakan perihal yang selama ini membuatnya penasaran.


"Gue baru aja rutin pakai obat dua minggu yang lalu. Jadi efeknya masih belum kentara sama badan gue," jelas Morgan. Dia dan dua temannya sedang berada di belakang sekolah. Saling menikmati rokok yang tersemat di jari-jemari mereka. Ketiganya bahkan berniat pulang cepat. Padahal waktu jam pulang sekolah masih lama.


...***...


Bel pertanda pulang berbunyi. Semua murid saling berdahuluan keluar dari gerbang. Termasuk Ramanda. Cewek itu hanya perlu menunggu mobil jemputan.


Ramanda duduk di bangku panjang yang ada dekat parkiran. Ia sudah menunggu cukup lama. Tidak biasanya Pak Eddy terlambat menjemput.


Belum sempat menghubungi sopirnya, Ramanda lebih dulu mendapat pesan dari Elsa. Ibunya itu memberitahu kalau Pak Eddy harus mengantarkannya dan Rendra ke rumah sakit. Kebetulan Rendra mengalami demam. Elsa menyuruh Ramanda pulang sendiri dengan cara menaiki transportasi umum.


"Kenapa baru bilang sekarang coba! Rendra terus yang di urus!" gerutu Ramanda sambil melangkah menuju gerbang. Bersamaan dengan itu hujan turun.


Ramanda segera berteduh ke haltes bus. Walaupun begitu, seragamnya tetap basah karena sempat terguyur hujan.


Sialnya Ramanda sendirian kala itu. Seluruh orang sudah pulang. Dia mencoba menelepon Raffi. Berharap sang ayah bersedia menjemput. Akan tetapi Ramanda tidak mendapat jawaban sama sekali.


"Andai Zafran di sini, dia pasti langsung datang buat jemput gue..." lirih Ramanda. Matanya mulai berkaca-kaca.


Ramanda menggeleng tegas. Dia tidak mau menangis sendirian di tempat terbuka. Cewek itu segera berkutat dengan ponsel. Mencoba mencari ojek yang bisa dipesan lewat online.


"Astaga! Jangan sekarang. Plis sempat dong..." gumam Ramanda. Dia cemas karena baterai di ponselnya hampir habis.

__ADS_1


Benar saja, belum sempat Ramanda memesan ojek online, ponselnya mendadak mati. Sekarang Ramanda tidak tahu harus bagaimana. Menunggu bus yang pergi ke arah rumahnya akan memakan waktu yang lama.


Tak lama kemudian hujan mulai reda. Dari kejauhan Ramanda bisa menyaksikan Morgan yang berkendara dengan motornya.


"Hai cewek..." tegur Morgan yang baru saja menghentikan motor di hadapan Ramanda.


Mata Ramanda memicing. "Lo ngapain ke sini?" tanya-nya heran.


"Gue nggak sengaja tinggalin sesuatu di belakang sekolah. Makanya gue balik. Tapi malah nemu bidadari di halte bus," jawab Morgan. Dia masih menyempatkan diri melayangkan kalimat rayuan.


Ramanda mengukir senyuman paksa. Dia tidak pernah ambil hati dengan segala rayuan maut Morgan. Meskipun begitu, terlintas dalam benaknya untuk memanfaatkan kedatangan cowok tersebut.


"Ambil gih! Gue tungguin di sini. Lo mau kan anterin bidadari ini pulang," cetus Ramanda.


"Idih... kalau ada maunya baru ngeladenin gombalan gue," tanggap Morgan sambil terkekeh.


"Cepetan ambil gih! Gue udah lumutan terlalu lama di dini." Ramanda mendesak.


"Jagain kesayangan gue ya. Gue pergi bentar," ujar Morgan. Dia menitipkan motornya kepada Ramanda.


Morgan mengambil bungkus rokok yang tertinggal di belakang sekolah. Dia rela kembali karena benda yang ada di dalam bungkus itu bukan hanya rokok. Tetapi juga terselip obat yang sering dikonsumsi Morgan.


Untung saja bungkus rokok milik Morgan masih ada di tempat. Dia langsung mengambilnya dan kembali menemui Ramanda.


"Lo ngambil apaan sih?" tanya Ramanda.


"Mau tahu aja lo," jawab Morgan sembari naik ke atas motor. Lalu memasang helm. "Ayo naik!" ajaknya.


Ramanda mengangguk. Dia segera duduk ke jok belakang motor Morgan. Entah kenapa dia duduk dengan cara mengangkang. Hingga pangkal paha putihnya terlihat jelas. Roknya pun jadi sedikit mengetat.


"Ya ampun lo duduk ngangkang?!" kritik Morgan.


"Kenapa?" respon Ramanda. "Gue nyaman duduk begini kalau naik motor," tambahnya.


"Nggak apa-apa sih. Takut khilaf aja nanti. Putihnya bening gitu lagi." Morgan dapat menyaksikan pangkal paha Ramanda melalui kaca spion.

__ADS_1


Ramanda membulatkan mata. Mendengar Morgan bicara begitu, dia buru-buru merubah posisi. Duduk manis dan tidak mengangkang lagi. Sekarang Ramanda memegangi roknya erat-erat.


Morgan tergelak kecil menyaksikan tingkah Ramanda. Tahu Ramanda sudah siap, dia segera menjalankan motor.


__ADS_2