Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 8 - Depresi


__ADS_3

...༻✿༺...


Morgan mengabaikan seruan Erli. Dia memilih fokus menghapus foto Ramanda yang ada di ponsel.


"Morgan! Kembalikan handphoneku!" desak Erli dengan dahi yang berkerut.


Melihat Erli mendekat, Morgan dengan cepat melangkah mundur. Dia juga berhasil menghapus foto Ramanda yang ada di ponsel. Selanjutnya, barulah Morgan mengembalikan ponsel kepada Erli.


"Fotonya udah dihapus? Gue lupa copy lagi," ujar Erli. Raut wajahnya tampak kesal.


Morgan memutar bola mata jengah. Dia jadi tidak simpati lagi dengan Erli. Gadis itu ternyata suka berbuat kasar. Morgan berjalan melewati Erli. Lalu meraih tangan Ramanda.


"Morgan!! Bukannya di sini yang jadi pacar lo itu gue?!" timpal Erli tak percaya.


Morgan berhenti di hadapan Erli. Merekahkan senyuman singkat. "Mulai sekarang udah enggak! Kita putus!" ujarnya.


Erli tercengang. Hal serupa juga dilakukan Ramanda. Dia tidak menyangka Morgan langsung memutuskan hubungan dengan Erli karena dirinya.


Morgan kembali melanjutkan langkah. Sambil terus membawa Ramanda ikut dengannya. Lagi pula Morgan tidak mau berlama-lama berada di toilet perempuan.


Kini Morgan dan Ramanda beranjak dari toilet. Ramanda yang kesulitan menyamakan langkah dengan Morgan, segera menarik tangannya.


"Lo kenapa keluar dari UKS? Sana masuk lagi gih! Bolosnya nggak jadi?" tukas Ramanda.


"Kalau gue nggak keluar. Lo pasti udah jadi kecebong karena dibuli sama Erli dan gengnya," balas Morgan.


Ramanda mendengus kasar. Dia tidak bisa membantah kalau bantuan Morgan tadi cukup bermakna.


"Kita impas kalau gitu. Lo balik ke UKS deh. Gue akan ngambilin tas lo," saran Ramanda.


"Gitu dong ngomongnya. Kan manis." Morgan iseng mencubit pipi Ramanda. Ulahnya sukses membuat ekspresi cewek itu jadi cemberut.


"Hahaha!" Morgan tertawa menyaksikan raut wajah Ramanda. Baginya itu sangat menggemaskan.


"Ketawa lagi. Nggak lucu!" Ramanda menjauhkan tangan Morgan. Ia segera pergi ke kelas. Sedangkan Morgan kembali ke UKS.


Hanya perlu beberapa menit untuk menunggu Ramanda datang. Cewek itu membawakan tas milik Morgan.


"Lo sebenarnya mau bolos kemana sih?" tanya Ramanda. Dia nampaknya masih penasaran.

__ADS_1


"Cie penasaran." Morgan justru mengejek. Menyebakan Ramanda tidak berminat lagi ingin tahu. Cewek tersebut beranjak meninggalkan Morgan.


Dengusan lega dilakukan Morgan. Sebab dia tidak ingin Ramanda tahu kemana dirinya pergi. Sebenarnya Morgan harus melakukan temu janji dengan seorang pengedar obat-obatan.


Morgan pergi menggunakan motor. Dia tiba di tempat tujuan beberapa saat kemudian. Transaksi lantas dilakukan olehnya.


Usai membeli obat-obatan, Morgan memilih pulang ke rumah. Tempat yang selalu terasa sesunyi kuburan. Apalagi ketika di siang hari. Sebab saat itu kedua orang tuanya pergi bekerja.


Jika banyak orang yang menganggap rumah adalah surga. Maka tidak untuk Morgan. Baginya rumah seperti neraka. Terutama ketika mendengar ayah dan ibunya bertengkar.


Depresi tentu dirasakan Morgan. Dia tidak hanya kurang kasih sayang orang tua. Namun juga dirundung rasa kesepian yang mendalam. Itulah kenapa Morgan sering berbuat sesuka hati.


Obat membuat Morgan terlihat ceria di mata orang lain. Seakan dia tidak memiliki masalah dalam hidup. Padahal sebaliknya.


Andai pihak sekolah mewajibkan tes narkoba saat Morgan pindah, mungkin dia tidak akan pernah diterima di sekolah mana pun.


Morgan baru saja rutin meminum obat terlarang. Semuanya terjadi semenjak ayah dan ibunya sering bertengar.


Di awal Morgan sudah tidak begitu mendapat perhatian. Kegelisahannya jadi bertambah karena masalah kedua orang tuanya. Morgan tahu, keluarganya tidak akan berumur panjang. Cepat atau lambat, dia harus bersiap melihat ayah dan ibunya berpisah.


Kini Morgan sudah ada di kamar. Dia mengambil plastik berisi obat. Lalu meminum salah satunya.


...***...


Setelah pulang dari sekolah, Ramanda langsung pulang. Dia beristirahat dan makan terlebih dahulu. Kemudian barulah berangkat les Matematika.


Saat hampir melewati pintu keluar, Bi Ijah tiba-tiba berteriak histeris. Dia mencegah kepergian Ramanda.


"Nyonya, Non! Nyonya!" seru Bi Dijah. Wanita berusia 30 tahunan yang telah lama bekerja sebagai pembantu rumah tangga.


"Kenapa, Bi? Mamah kenapa?" tanya Ramanda cemas.


"Nyonya sepertinya mau melahirkan!" ujar Bi Ijah panik.


Ramanda membulatkan mata. Dia segera menyuruh memanggil sopir untuk mengantarkan Elsa ke rumah sakit. Ramanda juga tidak lupa menelepon Raffi.


Sekarang Ramanda sudah ada di mobil. Dia menemani sang ibu yang terus merintih kesakitan. Ramanda berusaha keras menenangkan Elsa sampai tiba ke tempat tujuan.


Sesampainya di rumah sakit, Elsa langsung dibawa ke ruang operasi. Sekarang hanya perlu menunggu. Ramanda duduk sendirian di depan ruang operasi. Sementara ayahnya sedang sibuk menemani Elsa berjuang untuk melahirkan.

__ADS_1


Satu jam berlalu. Suara tangisan bayi akhirnya terdengar. Tetapi raut wajah Ramanda tampak datar saja. Tidak ada kebahagiaan yang tergambar jelas di sana. Meskipun begitu, Ramanda mengikuti kemana ayah dan ibunya pergi.


Kebetulan Elsa harus dipindahkan ke ruang perawatan agar bisa beristirahat. Sekarang Ramanda juga ada di sana. Menyaksikan penampakan adiknya yang baru saja lahir.


"Dia cowok, Ra." Raffi memberitahu. Dia menggendong bayinya dengan hati-hati. "Namanya Rendra Hannes. Bagus kan?" sambungnya berputar ke arah Ramanda.


"Bagus, Pah." Ramanda tersenyum. Dia sudah mengulurkan dua tangan karena mengira Raffi akan menyuruhnya menggendong.


Semuanya tidak sesuai dugaan Ramanda. Raffi malah membawa Rendra ke samping Elsa. Keduanya sama-sama mengagumi putra kecil mereka. Kehawatiran Ramanda sontak kembali. Dia tahu dirinya tidak bisa memendam lama-lama.


"Lihat, Ra. Dia ganteng banget kayak Papah," ujar Elsa. Tanpa menoleh ke arah Ramanda.


Mata Ramanda melirik Raffi dan Elsa secara bergantian. Dia berpikir untuk mengatakan kekhawatirannya sekarang.


"Mah, Pah... aku nggak akan dilupain kan karena kehadiran Rendra," ungkap Ramanda. Membuat Raffi dan Elsa sontak menatapnya.


"Kamu kenapa berpikir begitu? Kau itu anak Papah dan Mamah juga. Nggak mungkin kami melupakanmu," tanggap Elsa. Satu tangannya mengusap lembut puncak kepala Ramanda.


"Sini kamu! Jangan coba-coba berpikir begitu lagi ya." Raffi memberi nasihat sambil merangkul Ramanda. Dia juga memberikan kecupan singkat ke kepala putri cantiknya tersebut.


Ramanda otomatis tersenyum tipis. Dia mempercayai Raffi dan Elsa sepenuhnya. Ramanda merasa lega.


Satu minggu terlewat. Sayangnya, ucapan Raffi dan Elsa sangat berbeda dengan perlakuan mereka. Sungguh, saat berada di rumah mereka hanya sibuk mengurus Rendra. Dan jika bayi itu tertidur, maka mereka juga akan ikut terlelap.


Untung saja Ramanda sedang berada di suasana hati yang baik. Sebab dia mendapatkan nilai tertinggi di semua pelajaran ulangan akhir semester. Ramanda digadang-gadang akan kembali meraih juara umum di sekolah.


Dalam satu minggu, Ramanda sengaja mengumpulkan semua hasil ulangannya. Dia sengaja mengoleksi nilai sempurnanya agar bisa dipamerkan kepada Raffi dan Elsa.


Waktu menunjukkan jam delapan malam, Ramanda berjalan ke kamar ayah dan ibunya. Dia memperlihatkan semua hasil ulangannya kepada Raffi terlebih dahulu.


"Kamu tidak pernah mengecewakan, Ra." Raffi berucap dengan nada datar. Dia segera merebahkan diri ke tempat tidur.


Puas memamerkan hasil ulangan kepada sang ayah, sekarang Ramanda berubah haluan kepada ibunya. Namun Elsa terlihat sibuk menyusui Rendra.


"Mah, aku..." Ramanda urung bicara karena Rendra tiba-tiba menangis.


"Ra, kamu sebaiknya kembali ke kamar! Tadi Rendra hampir tidur loh. Gara-gara kamu dia bangun lagi!" Elsa mengomel.


Kepala Ramanda perlahan tertunduk. Dia berjalan gontai keluar dari kamar. Suasana hatinya berubah jadi buruk.

__ADS_1


__ADS_2