
...༻✿༺...
Morgan tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia sudah menduga kalau kedua orang tuanya akan berakhir bercerai. Meskipun begitu, Morgan tetap merasa sakit hati.
"Akhirnya tiba juga ajal pernikahan kalian. Lakukanlah sesuka hati. Kalian berdua bahkan tidak pernah peduli kepadaku," ujar Morgan tak acuh. Dia segera beranjak dari hadapan Michael dan Gina.
"Sebenarnya kemarin aku ingin ke sekolahmu. Tapi karena ada pekerjaan mendesak, jadinya malah tidak sempat. Apa yang terjadi? Kenapa kau selalu terlibat perkelahian?" ujar Gina. Membuat langkah kaki Morgan terhenti sejenak.
"Itulah alasanku tidak datang ke sekolahnya. Aku yakin Morgan sudah terbiasa menghadapi masalah. Aku lelah menasehatinya. Kau ambil saja anak pembuat masalah itu sebagai hak asuhmu," tukas Michael sambil melipat kedua tangan ke depan dada. Jika kepada anak dia tidak peduli, apalagi dengan istrinya sendiri.
Morgan yang mendengar, mengepalkan tinju di kedua tangan. Ia mengatup bibir dengan rapat. Lalu lekas-lekas masuk ke kamar.
"Tega sekali kau bicara begitu pada Morgan! Aku yakin kau akan menyesali ini! Aku dan Morgan akan mendapat kehidupan lebih baik tanpa dirimu!" balas Gina. Dia bicara setelah melihat Morgan pergi.
"Kau yakin? Pekerjaanmu hanya sebagai pegawai negeri. Sebagian besar harta yang ada di rumah ini adalah milikku!" sahut Michael.
"Kau memang keterlaluan! Biarpun Morgan sering berbuat masalah, dia tetap anakmu! Dan aku yakin dia jadi senakal itu karena sikapmu yang menurun padanya!" Perdebatan di antara Gina dan Michael terjadi lagi. Morgan dapat mendengarnya dengan jelas dari dalam kamar.
Morgan sengaja memutar musik dengan volume keras. Ia juga menutup telinga rapat-rapat. Bahkan sampai membuat seluruh tubuhnya bergetar.
Wajah Morgan memasam. Hatinya terasa berat. Seolah ada sebuah batu yang mengganjal di sana. Morgan rasanya tidak kuat lagi. Air matanya tak tertahan dan berjatuhan ke pipi.
Morgan meratap dalam waktu cukup lama. Dia terduduk di lantai. Melipat dua kakinya di samping tempat tidur.
Keinginan untuk meminum obat muncul dalam benak Morgan. Dia segera mencari obatnya ke dalam laci. Sekarang ekspresi Morgan tampak serius.
Bersamaan dengan itu, ponsel Morgan berdering. Awalnya dia mengabaikan panggilan tersebut. Namun karena deringnya terus mengganggu, Morgan terpaksa memeriksa. Ia menemukan nama Ramanda di layar ponsel. Obat dalam tangannya langsung dikembalikan ke dalam laci.
Morgan mematikan musik terlebih dahulu. Lalu mengambil kunci motor.
"Ra! Gue pengen ketemu sama lo secepatnya!" ujar Morgan.
"Hah? Nggak salah? Kita kan baru aja ketemu. Lagian gue udah sampai rumah. Langsung dimarahi sama bokap nyokap lagi. Kayaknya gue nggak dibolehin keluar rumah," sahut Ramanda dari seberang telepon.
__ADS_1
"Kalau begitu gue akan ke rumah lo!" kata Morgan.
"Gan! Lo nggak apa-apa? Lo nggak kayak biasanya deh."
"Ini gue sudah dalam perjalanan!" Morgan melangkah keluar dari kamar. Ia melingus melewati Michael dan Gina begitu saja.
"Tapi--" ucapan Ramanda terpotong karena Morgan mematikan telepon lebih dulu.
"Lihat! Begitulah sikapnya! Tidak ada hormat sama sekali!" Michael berkomentar saat Morgan lewat.
"Morgan! Kau mau kemana lagi?!" tanya Gina. Akan tetapi diabaikan oleh Morgan. Cowok itu segera menghilang ditelan oleh pintu.
...***...
Di sisi lain, Ramanda tengah mencoba menghubungi balik Morgan. Namun cowok tersebut tidak mengangkat lagi. Rasa penasaran dan cemasnya jadi memuncak.
Ramanda tidak mencemaskan Morgan. Tetapi kedua orang tuanya. Sebab mereka tidak pernah membiarkan lelaki datang ke rumah saat malam hari. Bahkan untuk Zafran yang merupakan sahabat Ramanda semenjak kecil.
Akibat tidak mendapat tanggapan, Ramanda memutuskan mengirim pesan saja. Ia menyuruh Morgan untuk menunggu di depan pagar.
"Lo kenapa? Nggak ada yang..." perkataan Ramanda terhenti ketika Morgan tiba-tiba memeluknya dengan erat.
"Gue bersyukur lo hadir dalam hidup gue, Ra..." ungkap Morgan yang terdengar begitu emosional.
Kini Ramanda mengabaikan kecemasannya terhadap Raffi dan Elsa. Sekarang dia mengkhawatirkan Morgan.
"Ayo kita bicara ke rumah." Ramanda perlahan melepas pelukan Morgan. Kemudian menarik tangan cowok itu. Keduanya masuk ke rumah tanpa sepengetahuan Raffi dan Elsa. Kebetulan orang tuanya Ramanda itu sedang duduk bersantai di teras belakang. Lokasinya sendiri agak jauh dari pintu depan dan tangga. Apalagi kamar anak sulung mereka.
Ramanda membawa Morgan ke kamar. Karena sudah tidak sabar untuk mendengar cerita sang pacar, dia jadi lupa mengunci pintu.
"Apa yang terjadi, Gan?" tanya Ramanda sembari mengajak Morgan duduk bersama ke tepi kasur.
"Bokap nyokap gue cerai, Ra. Gue tahu ini akan terjadi. Tapi kenapa hati gue merasa nggak enak. Gue..." Morgan tampak frustasi. Dia sampai bingung bagaimana harus menjelaskan perasaan.
__ADS_1
"Gue ngerti kok apa yang lo rasain sekarang. Lo emang terkesan nggak peduli sama bokap dan nyokap lo. Tapi lo sebenarnya sayang banget sama mereka. Itulah hal yang bikin lo merasa sakit hati." Ramanda menangkup wajah Morgan. Ia juga sesekali membelai puncak kepala cowok itu.
"Gue merasa sendiri, Ra. Gue nggak tahu apa yang terjadi kalau lo nggak ada..." lirih Morgan.
"Lo tenang aja. Gue nggak akan pergi. Kita harus bersama sampai bisa jadi dokter. Lalu menikah dan punya anak." Ramanda tersenyum. Ia berharap apa yang dikatakannya mampu menenangkan Morgan.
Perlahan Ramanda mengecup kening Morgan. Lalu berpindah ke pipi kiri dan kanan.
"Lo melupakan satu bagian akhir," imbuh Morgan. Dia akhirnya tersenyum.
"Gue sengaja kok. Melewatkan bagian itu," balas Ramanda. Morgan lantas memegangi tengkuknya. Kemudian memberikan ciuman di bibir.
Ramanda dan Morgan sama-sama memejamkan mata. Keberadaan Ramanda benar-benar langsung merubah suasana hati Morgan. Terlebih dia bisa mendapatkan sentuhan intim dari cewek itu.
Lama-kelamaan ciuman Morgan dan Ramanda semakin menggebu. Keduanya sesekali memiringkan kepala agar bisa saling berciuman dengan leluasa.
Nafas kian memburu. Paru-paru dan jantung jadi bekerja lebih cepat dari biasanya.
Tangan Morgan melepas baju yang dikenakan Ramanda. Lalu barulah dirinya sendiri. Ia segera menyudutkan Ramanda sampai telentang ke ranjang. Morgan memposisikan diri ke atas badan cewek tersebut.
Morgan menghentikan ciumannya sejenak. Ia menatap Ramanda dengan mata sayu.
"Nggak apa-apa kan kita melakukannya lagi?" Morgan memastikan persetujuan Ramanda.
"Terusin aja," jawab Ramanda sambil mengangguk dua kali. Justru dia yang lebih dulu mengecup bibir Morgan. Keduanya kembali berciuman. Kegiatan intim terjadi untuk yang kesekian kalinya.
Ramanda dan Morgan menyelesaikan aktifitas senggama dalam setengah jam. Sekarang Ramanda rebahan sambil memeluk Morgan dari samping. Keduanya sama-sama tidak memejamkan mata.
Morgan hanya mengenakan celana pendek. Sementara Ramanda hanya memakai tanktop dan celana pendek sepangkal paha.
Mata Morgan menatap lekat Ramanda. Dia tidak ingin berhenti memperhatikan cewek itu.
"Kenapa sih? Lihat-lihat mulu," tegur Ramanda seraya mengangkat kepala.
__ADS_1
Morgan tersenyum. Atensinya tertuju ke bibir Ramanda. Dia segera membidik bibir manis cewek tersebut.
Tanpa diduga, pintu tiba-tiba terbuka. Mata Elsa langsung membulat sempurna. Dia berhasil memergoki apa yang dilakukan Ramanda dan Morgan.