
...༻✿༺...
"Lo kalau bohong, gue sumpahin nggak akan pernah dapat juara umum!" ujar Morgan sembari mengarahkan jari telunjuk kepada Aldi.
Mendengar sumpah serapah Morgan, mata Aldi membola. Dia terlihat membuang pandangan dari Morgan.
"Kenapa? Kalau takut, lo mending jujur aja." Morgan kembali menimpali.
"Gan, udah..." Ramanda mencoba memperingatkan.
Aldi tampak berpikir keras. Hingga pada akhirnya dia mengakui bahwa Ramanda tidak terlibat. Aldi terpaksa melakukan itu karena merasa takut dengan sumpah Morgan akan menjadi nyata.
Morgan merasa lega. Meskipun begitu, dia harus rela dikeluarkan dari sekolah. Morgan sama sekali tidak masalah akan hal itu. Tetapi tidak untuk Ramanda. Cewek tersebut sedih dengan hukuman yang menimpa kekasihnya.
Karena masalah yang terjadi, Morgan, Aldi, dan Ramanda dipulangkan lebih dulu. Ramanda tidak sempat bicara serius dengan Morgan. Sebab ayah dan ibunya terlanjur mengajak pulang. Alhasil Ramanda membuat janji dengan Morgan untuk bertemu setelah dirinya pulang les nanti.
Kini Ramanda tengah duduk di sebuah cafe. Dia menunggu Morgan yang tidak kunjung datang. Tidak biasanya cowok itu datang terlambat. Entah berapakali Ramanda menengok jam yang melingkar di tangan.
Selang sekian menit, Morgan muncul dari kejauhan. Cowok tersebut tersenyum cerah. Seolah tidak memperdulikan masalah yang telah di hadapinya.
Morgan bahkan terlihat rapi dan berdandan. Dia memang terkesan seperti orang yang sudah siap menemui pacarnya.
Ramanda justru khawatir. Dirinya takut Morgan mengkonsumsi obat-obatan lagi.
"Hai, sayang... Maaf lama. Gue soalnya beliin lo sesuatu." Morgan menarik kursi yang ada di depan Ramanda. Satu tangannya tampak bersembunyi dibalik punggung.
__ADS_1
"Tadaaa!" seru Morgan seraya mengeluarkan benda yang dibelikannya untuk Ramanda. Benda itu tidak lain adalah sepasang boneka barbie.
Dahi Ramanda berkerut. Seumur hidup, dia tidak pernah diberi hadiah sepasang boneka barbie dari seorang cowok.
"Apaan deh. Kekanakan banget," komentar Ramanda.
"Heh! Ini gue pesannya mati-matian tahu nggak. Coba perhatikan bonekanya. Gue menyuruh pembuatnya untuk mencari wajah boneka yang mirip dengan kita berdua. Lihat baik-baik! Boneka barbienya pakai jas apa?" Morgan memperlihatkan kotak yang berisi sepasang boneka barbie lebih dekat pada Ramanda.
Mata Ramanda memicing. Setelah diperhatikan baik-baik, boneka barbie yang dibawa Morgan memang terkesan mirip dengannya dan sang kekasih.
"Benar juga. Barbienya pakai seragam dokter. Lo pesan dimana?" Ramanda mengambil boneka barbie yang ada di tangan Morgan.
"Rahasia. Yang jelas lo harus simpan itu boneka buat kita berdua," ucap Morgan.
Ramanda yang sempat terpaku pada boneka, perlahan teringat dengan masalah yang harus dibicarakan.
"Tenang aja kali, Ra. Yang penting nggak ada terjadi apa-apa sama lo. Jangan cemasin gue." Morgan melambaikan tangan ke depan wajah. Ia duduk dengan tenang.
"Enak ya lo bicara gitu! Gue cemas banget sama lo tahu nggak! Lo padahal baru aja pindah. Terus langsung dikeluarin dari sekolah!" geram Ramanda sembari menghempaskan kotak berisi boneka ke atas meja.
Morgan segera duduk tegak. Dia mencoba menenangkan Ramanda.
"Tenang aja, Ra. Gue nggak masalah dikeluarin dari sekolah," ucap Morgan. Dia tersenyum tipis.
"Lo kenapa santai banget? Lo nggak minum..." Ramanda enggan menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
"Enggak kok. Gue bukan tipe cowok yang melanggar janji. Apalagi sama cewek yang cantiknya nggak ketolongan begini," kata Morgan. Dia tak lupa mengeluarkan kalimat rayuan.
"Lo itu ya! Lo nggak tahu takutnya gue! Gue takut, gara-gara masalah dikeluarkan dari sekolah itu, lo bakalan kesulitan jadi dokter." Ramanda menutup wajah dengan dua tangan. Dia berusaha menahan air mata yang hendak keluar.
"Apaan deh. Lebay banget." Morgan terkekeh menyaksikan aksi Ramanda. Dia segera duduk ke sebelah cewek itu. Lalu meletakkan kepala Ramanda ke pundaknya.
"Selama gue lanjut sekolah, gue pasti bisa ngejar mimpi kita. Lo tenang aja. Lo sekarang segalanya buat gue. Bahkan lebih penting dari bokap sama nyokap gue," ungkap Morgan. Membuat Ramanda mengangkat kepala dan menatapnya.
"Lo berlebihan banget. Masa cinta sama gue melebihi cinta lo sama bokap nyokap. Jadi anak durhaka lo," tukas Ramanda. Bermaksud bercanda.
"Gue ngomongnya dari hati loh," tanggap Morgan.
"Udah... Jangan gombal terus. Mending kita keliling kota. Gue lagi pengen jalan-jalan naik motor lo." Ramanda menarik tangan Morgan. Keduanya beranjak dari cafe.
Sekarang Morgan menaiki motor sambil membonceng Ramanda. Mereka berkendara dalam kecepatan sedang.
"Lo nggak temenan lagi sama cowok yang namanya Malik itu?" tanya Ramanda.
"Semenjak apa yang menimpa kita berdua di klub malam, gue nggak pernah lagi kontakan sama Malik. Dia itu lebih nakal dari gue, Ra." Morgan menjelaskan. Dia dan Ramanda menghabiskan waktu sampai sore menjadi gelap.
Usai mengantar Ramanda pulang, Morgan kembali ke rumah. Dia langsung disambut dengan kehadiran ayah dan ibunya. Michael dan Gina tampak memasang raut wajah serius. Salah satu dari mereka segera menyuruh Morgan duduk.
"Ada apa ini? Tumben kalian nggak berantem?" tukas Morgan. Dia benar-benar aneh dengan suasana tenang yang ada di antara kedua orang tuanya.
Michael dan Gina bertukar pandang sejenak. Gina lantas menjadi orang yang lebih dulu bicara.
__ADS_1
"Begini, Morgan. Aku dan Papahmu sudah menyepakati sesuatu." Gina bicara dengan serius. Dia melanjutkan, "kami akan bercerai."