
...༻✿༺...
"Gue udah putusin semua cewek yang gue pacari." Morgan mendadak mendekat. Ia memeluk Ramanda dari belakang. "Ada permintaan lain?" tanya-nya.
"Untuk sekarang nggak ada," sahut Ramanda sembari menatap Morgan. Dia segera mendapat kecupan singkat dari cowok tersebut.
"Gue mau bilang, selain sudah berhasil bikin gue jatuh cinta, lo juga satu-satunya cewek yang pernah gue sentuh sampai ke ranah itu," kata Morgan. Menyebabkan kening Ramanda mengernyit penuh tanya.
"Maksudnya? Lo nggak pernah melakukan..." Ramanda enggan menyelesaikan kalimatnya.
"Iya, ini pertama kalinya gue melakukan hubungan intim," terang Morgan.
Ramanda terkekeh geli. Dia tentu tidak mempercayai apa yang dikatakan Morgan.
"Jangan bohong deh. Gue lihat sama mata kepala gue sendiri lo cium Erli pas di perpustakaan!" tukas Ramanda sambil melepas pelukan Morgan. Lalu berbalik menghadap cowok tersebut.
Morgan memutar bola mata jengah. "Itu cuman ciuman. Nggak lebih kok!" bantahnya sembari mengulurkan dua tangan ke depan.
"Nggak percaya!" Ramanda menggeleng. Dia segera beranjak ke kamar mandi. Tanpa mendengar penjelasan Morgan lebih lanjut.
Morgan menghembuskan nafas berat. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana untuk meyakinkan Ramanda. Padahal Morgan benar-benar pertama kali melakukannya bersama cewek tersebut.
Di waktu yang sama, Elsa baru saja mengetuk pintu kamar Ramanda. Ia hendak mengajak anak sulungnya itu untuk sarapan.
"Ramanda! Kamu masih tidur? Dipanggil-panggil dari tadi kok nggak menyahut," ujar Elsa. Dahinya berkerut dalam. Terutama ketika tidak mendengar jawaban dari Ramanda.
Elsa lantas membuka pintu kamar begitu saja. Dia memeriksa Ramanda. Akan tetapi dia tidak melihat putrinya ada di kamar.
"Pah! Papah!" pekik Elsa sembari berlari keluar dari kamar. Kemudian melangkah menuruni tangga.
"Ada apa?" tanya Raffi yang cemas.
"Ramanda tidak ada di kamar!" seru Elsa dengan raut wajah panik.
"Apa?!" Raffi sontak kaget. Dia segera memastikan sendiri dengan cara mendatangi kamar Ramanda.
Sekarang Raffi dan Elsa sama-sama panik. Keduanya tidak sadar kalau Ramanda tidak pulang selama semalaman.
__ADS_1
"Kita salah. Harusnya kita juga rutin memeriksa Ramanda ke kamar..." keluh Elsa lirih. Dia duduk sambil menundukkan kepala. Anak keduanya terpaksa diserahkan kepada pengasuh. Sebab Elsa ingin fokus menemukan Ramanda.
Raffi tidak menanggapi. Dia hanya sibuk menghubungi semua teman dekat Ramanda. Termasuk Zafran.
"Nihil, nggak ada yang tahu Ramanda kemana. Apa perlu kita lapor polisi?" imbuh Raffi.
"Lakukan saja, Pah..." Elsa setuju. Dia dan Raffi langsung melenggang melalui pintu keluar.
Bersamaan dengan itu, sebuah motor terlihat berjalan melewati pagar. Orang yang mengendarai tidak lain adalah Morgan. Sedangkan di belakangnya ada Ramanda yang tampak duduk dengan tenang.
"Gila! Bokap nyokap lo nungguin depan rumah tuh," ujar Morgan memberitahu.
"Hah?" Ramanda terheran. Setahunya, akhir-akhir ini Raffi dan Elsa tak pernah peduli terhadap semua yang dia lakukan.
Ramanda langsung merasa gelisah ketika mengingat dirinya tidak pulang semalaman. Ia lantas membuat rencana dengan Morgan.
"Lo harus bilang kalau gue ketiduran gara-gara belajar kelompok," usul Ramanda. Bicara dengan nada pelan.
"Licik banget lo sama orang tua sendiri," komentar Morgan.
"Terus lo mau bilang kalau selama semalaman gue indehoy sama lo? Gitu?!" geram Ramanda. Dia menyempatkan diri mencubit bahu Morgan.
"Ayo! Lo mending masuk bentar ke rumah," kata Ramanda. Dia berjalan lebih dulu untuk menghampiri Raffi dan Elsa.
"Kau kemana saja, Ra? Papah sama Mamah khawatir sekali!" pungkas Elsa seraya memegangi wajah Ramanda.
"Maaf, Pah, Mah. Kemarin malam aku ada kerja kelompok. Terus nggak sengaja ketiduran di rumah teman." Ramanda memberi alasan.
"Sama..." Raffi memperhatikan Morgan. Mencoba mengenali cowok itu.
"Dia Morgan, Pah. Anaknya Pak Michael teman Papah itu loh," ujar Ramanda.
"Halo, Om... Tante..." Morgan menyalami Raffi dan Elsa secara bergantian.
"Oh, anaknya Michael..." Raffi tersenyum tipis. Dia merasa lega setelah mengetahui Ramanda pergi bersama orang yang dikenalnya.
"Makasih ya, Gan. Sudah mau mengantarkan Ramanda," ucap Raffi.
__ADS_1
"Sama-sama, Tante. Aku juga kebetulan mau pulang, jadi sekalian aja gitu." Morgan memberikan alasan. Dia segera di ajak masuk ke rumah untuk sarapan.
Raffi dan Elsa memperlakukan Morgan dengan baik. Hal itu karena mereka tahu Morgan merupakan anak baik-baik. Mereka tahu karena Morgan selalu bersikap baik saat makan malam beberapa waktu lalu. Morgan cenderung berbicara sopan dan mudah akrab kepada siapapun.
Ramanda diam-diam saling mencuri pandang dengan Morgan. Keduanya sama-sama senang terhadap apa yang terjadi. Terutama Ramanda. Dia merasa kebahagiaannya kembali usai mengenal Morgan.
...***...
Karena sudah akrab dengan Morgan, Ramanda juga jadi dekat dengan Dimas dan Rangga. Mereka sering menghabiskan waktu bersama saat di kelas atau jam istirahat.
Kini semua orang sedang berada di kelas. Pak Husni baru membagikan hasil latihan pelajaran Kimia. Seperti biasa, Ramanda selalu mendapat nilai memuaskan. Gadis itu tersenyum senang. Ia perlahan melirik ke lembar jawaban Morgan. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan nilai cowok tersebut.
Sebenarnya itu bukan pertama kalinya Ramanda melihat Morgan mendapat nilai rendah. Dia merasa aneh, karena seingatnya Morgan dikenal pintar dan selalu juara kelas.
Ramanda menatap Morgan dari samping. Dia justru terpaku pada paras tampan cowok itu. Jantung Ramanda langsung berdegub kencang. Ia jadi mengingat perihal sentuhan Morgan tempo hari.
Tanpa diduga, Morgan membalas tatapan Ramanda. Sekarang mereka saling bertukar tatapan lekat.
Ramanda mendengus kasar. Dia diseret Morgan pergi saat bel istirahat berbunyi. Keduanya mendatangi tempat paling sepi di sekolah.
"Sumpah, Ra. Apa yang kita lakukan kemarin malam selalu terbayang. Gue jadi nggak bisa berhenti mikirin lo," ungkap Morgan sambil geleng-geleng kepala.
"Sama!" Ramanda menjawab singkat.
Morgan terpana mendengarnya. Atensinya tertuju ke bibir ranum Ramanda. Sebelum memberikan ciuman, Morgan menengok ke kanan dan kiri terlebih dahulu. Selanjutnya, barulah dia mencium bibir Ramanda.
Ramanda sendiri tak bisa menolak. Dia mengalungkan tangannya ke leher Morgan. Kakinya bahkan sampai berjinjit agar bisa berciuman dengan leluasa.
Tahu Ramanda kesulitan, Morgan berinisiatif menggendong cewek itu. Lalu mendudukkannya ke atas sebuah meja tak terpakai.
Dua kaki Ramanda lantas mengunci kuat ke pinggul Morgan. Mereka belum berhenti berciuman.
Nafas perlahan terus memburu. Bibir Morgan dan Ramanda juga sudah mulai membengkak. Keduanya lagi-lagi menginginkan lebih sekedar dari ciuman.
Merasa lupa diri, Ramanda mendorong Morgan menjauh. Melepas tautan bibirnya dari mulut cowok itu.
"Gue lupa kalau kita di sekolah!" ucap Ramanda. Dia dan Morgan sama-sama sibuk mengontrol nafas.
__ADS_1
"Mau ke rumah gue pas pulang sekolah nanti?" tawar Morgan.
Ramanda terkesiap. Dia tentu paham maksud dari tujuan Morgan.