Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 29 - The Strory Of Morgan [Tragedi Tak Terduga]


__ADS_3

...༻✿༺...


Morgan memutuskan mengabaikan kertas berisi nomor telepon Rita. Dari pada terus kepikiran, dia lebih memilih membuangnya saja. Dirinya fokus mengumpulkan uang tanpa harus mengkhianati Ramanda.


Sambil bekerja, Morgan tidak pernah absen memeriksa media sosial Ramanda. Sampai dia akhirnya berhasil melihat foto terbaru Ramanda bersama Zafran.


Morgan dibuat kaget dengan foto tersebut. Bagaimana tidak? Ramanda dan Zafran tampak bersama kedua orang tuanya masing-masing. Ramanda bahkan menuliskan caption berbunyi, 'Perjodohan?'


Rasa cemburu langsung menyelimuti Morgan. Namun sekarang dia tidak bisa memaksakan diri bertemu Ramanda. Sebab dirinya sudah berjanji akan menemui Ramanda dan keluarganya saat sudah jadi orang berhasil. Untuk sekarang, Morgan bahkan tidak kuliah.


Berbeda dengan Ramanda yang sudah lebih dulu meneruskan pendidikan. Dari foto-foto yang Morgan lihat, Ramanda terlihat menikmati masa kuliahnya. Meskipun begitu, cewek itu selalu berfoto sendirian.


"Lo pasti nggak punya teman lagi di sana. Makanya lo terus bareng sama Zafran," gumam Morgan menyimpulkan. Dia yakin, Ramanda dan Zafran tidak memiliki hubungan istimewa. Morgan terpaksa berpikir positif karena tidak mau semangatnya gugur.


Satu tahun tak terasa terlewat lagi. Sampai akhirnya pembukaan beasiswa kembali dibuka. Morgan mendaftar dan belajar lebih giat.


Dengan tekad gigih serta kesabaran, Morgan akhirnya dinyatakan lulus. Dia sengaja memilih kampus yang sama dengan Ramanda. Cowok tersebut senang bukan kepalang. Ia bahkan sampai melompat-lompat tidak karuan.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita akan bertemu, Ra!" ucap Morgan. Dia tidak sabar menunggu waktu itu tiba.


Kini Morgan sedang berada di restoran. Dia melakukan pekerjaan terakhir sebagai pelayan.


Tak lama kemudian ponsel berdering. Morgan menemukan ada nomor telepon tak dikenal. Dia mengangkat saja panggilan tersebut. Betapa kagetnya Morgan, ketika mendengar kabar bahwa ibunya mengalami kecelakaan.


Tanpa pikir panjang, Morgan segera pergi ke rumah sakit. Raut wajah yang tadinya bahagia, berubah menjadi pucat.


Sekarang Morgan duduk di depan ruang operasi. Dia menunggu dengan perasaan kalut.


Setelah beberapa jam menunggu, dokter akhirnya keluar dari ruang operasi. Dia memberitahu kalau Gina bisa diselamatkan. Walaupun begitu, ada kabar buruk yang membuat hati Morgan tersayat. Yaitu mengenai kabar bahwa sang ibu harus kehilangan sebelah kakinya.


Gina yang belum siuman, dibawa ke kamar rawat inap. Morgan lantas menemani. Duduk menanti sampai Gina terbangun.


Morgan menatap sedih ke arah kaki kanan Gina yang sudah tiada. Lalu membelai puncak kepala sang ibu.


"Mah, aku akan tetap di sini untuk sementara," ujar Morgan. Ia terpaksa harus membatalkan niatnya untuk berkuliah di London.

__ADS_1


Morgan kembali meneteskan air mata. "Aku nggak mungkin bisa tinggalin Mamah dalam keadaan begini... Mungkin Ramanda bukan jodohku..." isaknya dengan perasaan hati yang begitu tersayat.


Perlahan Gina membuka mata. Dahinya berkerut ketika melihat putranya menangis.


"Morgan?..." panggil Gina lirih. Dia masih belum tahu kalau dirinya sudah kehilangan kaki kanan.


Morgan mengangkat kepalanya. Kemudian menatap Gina. "Mamah..." ujarnya sembari mengusap air mata yang berderai di pipi.


"Kamu kenapa nangis? Siapa yang bikin kamu..." Gina hendak duduk. Akan tetapi dia tidak bisa menggerakkan satu kakinya. Mata Gina bergetar tatkala menyaksikan selimut tampak kempis di bagian kaki kanannya. "Morgan... Mana kaki Mamah yang satunya?" tanya-nya ketakutan.


Tanpa sepatah kata pun, Morgan langsung memeluk Gina. "Aku di sini, Mah..." ungkapnya. Berusaha menenangkan.


Gina melepas pelukan Morgan. Lalu membuka selimut yang menutupi badannya. Dia kaget setengah mati saat melihat kaki kanannya buntung. Gina langsung menangis tersedu-sedu. Saat itulah Morgan kembali mendekapnya.


"Gimana Mamah bisa kerja, Gan?... Gimana Mamah bisa mendapatkan uang untuk biaya pendidikan dan pernikahanmu nanti?..." ucap Gina. Di sela-sela tangisannya yang histeris.


"Mamah nggak usah cemaskan... Aku akan baik-baik saja. Ramanda bukan satu-satunya wanita di dunia ini..." Morgan merasa sangat berat berkata begitu. Namun dia terpaksa karena ingin menenangkan sang ibu.

__ADS_1


"Tapi kau sangat mencintainya..." sahut Gina.


"Aku nggak apa-apa, Mah..." Morgan mengubur perasaannya dalam-dalam untuk Ramanda. Setidaknya untuk sekarang.


__ADS_2