
...༻✿༺...
Pintu kamar Morgan tertutup dengan bantingan. Bagaimana tidak? Pemiliknya tengah sibuk bercumbu mesra dengan sang pacar.
Morgan dan Ramanda melepas pakaian masing-masing satu per satu. Hingga tanpa menyisakan sehelai benang pun.
Ketika suara desa-han Ramanda terdengar, maka saat itulah kegiatan inti di mulai. Cewek itu tidak berhenti melenguh tatkala Morgan terus bergerak maju mundur. Keduanya asyik bersenggama dari balik selimut tebal.
Melihat respon Ramanda, Morgan jadi ikut-ikutan mengerang. Mereka melakukannya sampai merasa saling terpuaskan.
Lemas, itulah yang dirasakan Ramanda saat Morgan mengakhiri permainan. Cowok itu segera telentang ke sampingnya. Ramanda lantas merebahkan kepala ke dada bidang Morgan. Hening menyelimuti suasana dalam sesaat.
Atensi Ramanda segera terpaku pada tato yang ada di badan Morgan. Dia mengelus pelan karya seni permanen tersebut.
"Tatonya bagus," komentar Ramanda.
"Ini buatan pembuat tato jalanan. Dia sangat berbakat," sahut Morgan sembari menggenggam jari-jemari Ramanda.
"Jadi ini bukan karena lo penggemar seni?" Ramanda mendongak untuk menatap Morgan.
"Bukan. Gue cuman merasa kagum dan kasihan," jelas Morgan singkat.
"Boleh gue tahu apa cita-cita lo kalau sudah dewasa nanti?" tanya Ramanda serius.
"Gue pengen jadi dokter," jawab Morgan. Membuat kelopak mata Ramanda melebar seketika.
"Dokter? Sama dong!" Ramanda menanggapi dengan antusias. Ia bahkan merubah posisi menjadi duduk. Menutupi bagian dadanya dengan selimut.
"Tapi lo nggak akan bisa jadi dokter kalau dapat nilai rendah terus," cetus Ramanda.
"Gue tahu. Itu karena gue udah nggak peduli sama masa depan." Morgan mendadak terlihat muram. Ia tentu memikirkan masalah besarnya. Yaitu mengenai renggangnya hubungan kedua orang tuanya.
"Lo kenapa ngomong begitu? Pasti ada masalah besar, sampai lo buang jauh-jauh mimpi bagus itu." Ramanda mendengus kasar. Dia menggenggam lembut salah satu tangan Morgan. "Apa semua berkaitan sama masalah bokap lo kemarin?" tebaknya meragu.
__ADS_1
"Lo benar. Gue merasa kehilangan masa depan pas sering dengar bokap sama nyokap gue berantem," ujar Morgan.
Ramanda menatap penuh simpati. Dia segera menyentuh lembut wajah tampan Morgan.
"Apapun yang terjadi sama orang di sekitar lo, bukan berarti masa depan lo harus jadi terkena imbasnya. Plis... Bangkit lagi, Gan. Lo nggak tahu betapa senangnya gue dengar lo juga punya cita-cita pengen jadi dokter," tutur Ramanda sembari tersenyum tipis. "Kita bisa berjuang sama-sama. Belajar bareng, masuk universitas yang sama, fakultas yang sama. Iyakan?" tambahnya. Berusaha memberikan energi positif.
Morgan menatap dalam manik hitam Ramanda. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak luluh kepada cewek berparas rupawan dan ceria itu.
"Ya udah. Gue akan coba," Morgan mengangguk setuju.
Senyuman Ramanda lantas melebar. Dia segera memberikan sebuah kecupan di bibir untuk Morgan.
Semenjak itu, Ramanda dan Morgan selalu menghabiskan waktu bersama. Mereka bahkan tidak malu lagi mendatangi rumah satu sama lain. Meskipun begitu, kedua orang tua mereka belum tahu hubungan Ramanda dan Morgan yang sebenarnya. Hal itu dikarenakan Raffi dan Elsa melarang keras Ramanda berpacaran.
Karena terus mendapat dukungan dari Ramanda, Morgan mulai kembali aktif belajar. Cowok pintar sepertinya tidak perlu waktu lama untuk meningkatkan nilai akademik. Seluruh nilainya berubah drastis. Orang yang paling senang dengan kemajuan Morgan adalah Ramanda. Kini cewek itu tengah menatap lembar latihan Morgan yang mendapatkan nilai sembilan puluh lima.
"Gila, gue kok merasa terancam," komentar Ramanda seraya tak bisa menahan senyuman.
"Gue nggak kesambet malaikat. Tapi dapat malaikat cantik paripurna. Nih orangnya!" Morgan merangkul Ramanda. Lalu melayangkan sebuah ciuman ke pipi cewek itu.
Beberapa orang di sekolah memang sudah tahu hubungan Ramanda dan Morgan. Terutama untuk teman-teman satu kelas mereka. Sebab terkadang, baik Morgan atau Ramanda, tidak bisa menahan diri untuk tidak berpelukan dengan mesra.
Tetapi ciuman di pipi yang dilakukan Morgan barusan, adalah hal baru bagi Ramanda dan yang lain. Ramanda langsung menepuk keras pundak Morgan.
"Gan! Banyak yang lihat!" geram Ramanda sambil menggertakkan gigi. Namun Morgan malah terkekeh.
"Nggak apa-apa. Mereka sudah tahu kok kalau kita pacaran," tanggap Morgan santai.
"Lagian ciuman di pipi bukan apa-apa, Ra. Gue pernah kok lihat pasangan kelas sebelah ciuman di bibir," ujar Rangga memberitahu.
"Tetap aja. Biar bukan apa-apa, kan bisa dijadikan bahan juga buat dilaporin ke guru BK," sahut Ramanda seraya mendelik ke arah Morgan.
"Ya udah, sorry ya sayang... Nanti nggak akan kejadian lagi." Morgan memanyunkan mulut. Sengaja ingin membuat Ramanda gemas.
__ADS_1
Benar saja, Morgan langsung kena cubitan di pipi dari Ramanda. Sekarang cowok itu hanya bisa mengaduh.
Setiap pulang sekolah, Ramanda selalu dibonceng oleh Morgan. Seringkali juga Ramanda menyuruh sopirnya untuk berbohong kepada Raffi dan Elsa. Kecuali jika Ramanda ingin mengajak Morgan ke rumah. Itu pun jarang dilakukan cewek tersebut. Karena Ramanda tidak mau kedekatannya dan Morgan tampak terlalu kentara.
Sekarang Ramanda tengah berada di kamar Morgan. Rumah cowok itu memang selalu sepi. Ayah dan ibunya sering pulang larut malam. Jadi saat rumah kosong, Morgan seperti rajanya di sana.
Buku dan alat tulis tampak berhamburan di ranjang serta lantai. Ramanda dan Morgan baru selesai belajar bersama. Keduanya selalu mengakhiri semuanya dengan bermesraan.
Sekarang Ramanda tengah duduk di atas pangkuan Morgan. Mereka asyik berciuman sambil mendengarkan musik yang terus berbunyi.
Sebenarnya Morgan dan Ramanda baru saja selesai melakukan hubungan intim. Itu selalu terjadi jika mereka berduaan dalam sebuah ruangan.
Ramanda melepas tautan bibirnya dari mulut Morgan. Dia berkata, "Sudah cukup buat hari ini."
"Untuk sekarang iya. Tapi setelah dua jam ke depan, gue bakalan pengen lagi," ungkap Morgan. Dia langsung kena tamparan pelan dari Ramanda.
"Lo nggak tahu betapa takutnya gue kalau tiba-tiba hamil. Bokap nyokap gue pasti murka banget!" ucap Ramanda. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Raffi dan Elsa. Terutama saat mengetahui dirinya sudah tidak perawan.
"Itu nggak akan terjadi selama kita pakai pengaman." Morgan terkesan santai.
"Iya gue tahu. Gue juga terkadang harus minum pil buat jaga-jaga. Sumpah! Gue nggak mau hamil di luar nikah." Ramanda beranjak dari ranjang. Ia terlihat hanya mengenakan bra dan celana pendek sepangkal paha. Sedangkan Morgan tampak bertelanjang dada dan mengenakan celana boxer hitam.
"Tapi kalau hamil. Kan gue tinggal nikahin lo," kata Morgan sembari meraih salah satu tangan Ramanda.
"Nikah itu nggak semudah yang lo bayangin. Apalagi kita masih sekolah," sahut Ramanda. Dia melepaskan tangan Morgan dan segera berjalan maju.
Tanpa sengaja, kaki Ramanda tersandung karpet. Cewek itu reflek berpegangan ke nakas. Menimbulkan guncangan, hingga lampu tidur milik Morgan terjatuh ke lantai.
Kap lampu tidur Morgan terlepas. Menyebabkan sesuatu yang disembunyikan dari sana otomatis terlihat. Sebuah plastik flip yang dipenuhi obat terpampang nyata di penglihatan Ramanda.
"Apa ini?" Ramanda membungkuk. Ia hendak mengambil plastik flip yang dipenuhi obat-obatan itu.
"Jangan sentuh itu!!!" pekik Morgan. Raut wajahnya berubah drastis.
__ADS_1