
...༻✿༺...
"Ide bagus tuh. Gue lebih suka ide lo yang terakhir dibanding harus bertanya sama bokap nyokap gue," cetus Ramanda.
"Hah? Yang benar? Emang lo mau ikut sama gue 24 jam?" Morgan memastikan.
"Iya." Ramanda mengangguk yakin. Dua tangannya terlipat di depan dada.
"Nggak takut?" tanya Morgan lagi. Wajahnya kian mendekat.
Ramanda terdiam seribu bahasa. Dia yang tadinya sempat bersemangat, mendadak merasa ragu. Sebab dirinya tidak pernah pergi dari rumah sendirian. Bahkan saat berpacaran sekali pun.
Morgan mengejek dengan memajukan bibir bawahnya. "Tuh kan nggak yakin. Mending lo pikir aja baik-baik. Yang jelas gue cuman pengen ajak lo senang-senang doang. Dan lo bisa percaya sama gue. Biar gini-gini amat, gue ahli juga jagain cewek," ujarnya sembari menepuk lembut puncak kepala Ramanda.
"Dih! Mulai deh kepedeannya. Ya udah, gue kayaknya butuh waktu. Gue mau lihat dulu apakah lo bisa dipercaya atau nggak," terang Ramanda. Dia dan Morgan segera pulang saat hujan sudah reda. Morgan mengantarkan Ramanda terlebih dahulu.
"Ra, tolong rahasiakan masalah bokap gue tadi ya. Itu rahasia besar," ucap Morgan. Sebelum benar-benar berpisah dengan Ramanda.
"Oke. Lo tenang aja. Gue pintar jaga rahasia orang," Ramanda mengangguk.
Morgan lantas beranjak dengan motornya. Dia bahkan sempat-sempatnya memamerkan aksi jumping.
"Dasar!" Ramanda hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sikap berandal Morgan.
Ramanda pulang masih dalam keadaan basah. Dia mencoba mencari kedua orang tuanya terlebih dahulu. Akan tetapi, baik Raffi maupun Elsa, keduanya sama-sama sedang tidak di rumah.
Lidah Ramanda berdecak kesal. Dia masuk ke kamar dan membersihkan diri. Lalu memilih tidak pergi les. Itu sudah yang ketiga kalinya Ramanda melewatkan jadwal les.
Karena merasa mengantuk, Ramanda akhirnya tertidur. Dia bangun ketika mendengar pintu terbuka. Suara derap langkah terdengar berhenti di hadapannya.
"Ramanda!" ternyata orang yang datang adalah Raffi. Mimik wajahnya tampak sangat serius.
"Kenapa, Pah?" Ramanda merubah posisi menjadi duduk. Keningnya mengernyit dalam.
__ADS_1
"Guru les kamu bilang kalau kau sudah tidak les selama tiga hari terakhir," omel Raffi.
"A-aku cuman bo-bosan aja..." Ramanda menundukkan kepala. Bukannya mendapat perhatian, dia justru menerima omelan.
"Bosan katamu? Sejak kapan? Justru dengan ikut les itulah kamu bisa juara umum. Kau bisa belajar materi yang belum di ajarkan di sekolah!" tukas Raffi. Jari telunjuknya mengarah ke wajah Ramanda. Sedangkan satu tangannya lagi berpegang kuat ke pinggang. "Papah juga keluarin banyak uang biar kau bisa les di tempat yang bagus. Sekarang uangnya jadi ke buang-buang gara-gara rasa bosanmu itu!" sambungnya.
"Maaf, Pah..." lirih Ramanda. Kepalanya semakin menunduk ke bawah. Rambut panjang hitamnya berjatuhan menutupi paras cantiknya.
"Mulai besok nggak ada kata bosan lagi!" tegas Raffi. Lalu pergi begitu saja. "Itu tuh, Mamah sama adikmu pada sakit. Jangan tambah bikin pusing Papah!"
Ramanda menghela nafas panjang. Dia sadar bahwa bersikap tidak biasa memiliki dampak buruk. Apalagi jika dirinya melanggar aturan. Sekarang Ramanda memilih patuh saja. Menyaksikan kemarahan Raffi, membuatnya merasa takut.
"Gue nggak akan pergi sama Morgan 24 jam. Lagian dia cowok nakal yang nggak bisa dipercaya," gumam Ramanda.
...***...
Liburan sudah tiba. Namun kegiatan Ramanda hanya seperti hari biasa. Yaitu pergi les dan belajar. Jadwal lesnya bahkan lebih padat dibanding saat sedang sekolah.
Kebetulan Elsa pergi bekerja ke restoran setiap hari. Meskipun begitu, dia selalu membawa Rendra bersamanya. Elsa berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menggunakan jasa pengasuh. Semua itu dia lakukan agar bisa dekat dengan sang anak.
Keseharian Ramanda selama liburan begitu membosankan. Hal tersebut terjadi sampai hari terakhir liburan.
Tidak heran, sekolah adalah hari yang sangat dinantikan Ramanda. Di hari pertama, dia datang lebih cepat dari biasanya. Setidaknya di sekolah Ramanda memiliki para guru yang perhatian kepadanya.
Berbeda dengan Morgan. Di hari pertama setelah liburan dia sudah datang terlambat. Parahnya di hari itu Morgan juga pulang lebih cepat dibanding yang lain.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Morgan membolos dengan cara ekstrim. Yaitu melalui pagar di belakang sekolah. Dia melakukannya selama tiga hari pertama.
Hingga tibalah saatnya para guru tidak tahan lagi. Terutama Pak Dito. Selaku guru BK. Dia menjadi perwakilan atas guru-guru yang lain untuk memberi hukuman kepada Morgan.
Bel pertanda masuk kelas berbunyi. Seluruh murid masuk ke kelas masing-masing. Termasuk Ramanda dan Morgan.
Menyaksikan Ramanda sudah duduk lebih dulu, Morgan tersenyum. Entah kenapa dia gemar menggoda temannya itu.
__ADS_1
"Gue dengar lo ikut ekskul teater ya? Aneh banget. Kayak bukan gaya lo," imbuh Morgan. Dia tampak duduk santai sambil meletakkan dua kaki ke atas meja.
"Mending gue ikut eksul. Dari pada lo yang nggak ikut apa-apa," balas Ramanda.
Morgan memutar bola mata malas. Ia tidak bisa membantah pernyataan Ramanda. Kini Morgan menyandarkan diri sambil memejamkan mata.
"Lo santai amat. Padahal nasib lo terancam di sekolah ini," cetus Ramanda. Membuat mata Morgan langsung terbuka lebar. Melirik tajam ke arah cewek itu.
"Maksud lo?" Morgan tak mengerti.
"Kayaknya semua guru sepakat ingin memberhentikan lo dari sekolah. Gue yakin, hari ini lo pasti akan dipanggil--" ucapan Ramanda terhenti, tatkala suara denting pengumuman terdengar. Pak Dito mengumumkan kalau dirinya ingin Morgan mendatangi ruang BK.
"Ruang BK." Setelah pengumuman selesai, Ramanda menyelesaikan kalimatnya. Tidak seperti yang dia kira, Morgan terlihat gelisah. Cowok tersebut segera berlari keluar kelas.
Setibanya di ruang BK, Morgan dipersilahkan duduk oleh Pak Dito. Gurunya itu memperlihatkan bukti video CCTV Morgan membolos.
"Maaf, Pak." Morgan berucap dengan nada datar. Dia tidak terdengar tulus.
"Bapak tahu kalau kamu sudah membolos sebelum liburan. Tapi Bapak mewajarkan itu karena kegiatan belajar tidak dilakukan. Tapi sekarang? Ternyata kau masih saja. Sebenarnya kau itu kemana?" ujar Pak Dito panjang lebar.
"Aku pengen pulang cepat aja, Pak. Nggak ada hal lain," kilah Morgan. Ia masih terkesan santai. Sampai Pak Dito akhirnya memunculkan kalimat pemungkas yang langsung membuat mata Morgan membuncah.
"Para guru sepakat ingin mengeluarkanmu dari sekolah. Selain terus membolos, kau juga tidak mengikuti satu pun ekskul yang ada di sekolah!" kata Pak Dito. Dahinya berkerut dalam.
"Di-dikeluarkan? Tapi aku baru saja masuk ke sekolah ini kan, Pak?" kepanikan Morgan otomatis muncul. Sebenarnya dia sudah lelah bergontah-ganti sekolah. Terlebih dirinya terlanjur menyukai sekolahnya sekarang. Selain karena punya banyak teman, entah kenapa keberadaan Ramanda membuatnya bersemangat.
"Bapak tahu kau anak baru. Prestasi akademikmu juga bisa dibilang lumayan. Tapi sepintar-pintarnya seorang murid, dia akan kalah dengan murid yang memiliki atitude dan kedisiplinan baik." sahut Pak Dito.
"Aku mohon kasih aku kesempatan, Pak. Aku nggak mau pindah sekolah lagi. Plis... kasih aku kesempatan. Aku janji akan menerima hukuman apapun asal jangan dikeluarkan dari sekolah. Aku juga janji nggak akan membolos lagi." Morgan menyatukan telapak tangannya. Mengukir raut wajah memelas sebisa mungkin.
Pak Dito tersenyum miring. Rencananya sukses besar. Sejak awal dia memang mengharapkan permohonan dan janji Morgan. Pak Dito juga sengaja menyebarkan berita dikeluarkannya Morgan kepada murid lain. Ia melakukan itu karena ingin membuat Morgan kapok.
"Baiklah, aku akan memberimu kesempatan. Tapi kau harus menerima syarat yang aku berikan. Pertama, kau akan dihukum. Kedua, kau harus mengikuti ekskul yang ada di sekolah. Mengerti?" Pak Dito menatap lurus ke arah Morgan.
__ADS_1
"Iya, aku mengerti. Makasih, Pak. Aku akan secepatnya mengikuti salah satu ekskul di sekolah!" seru Morgan. Sekarang dia bisa mendengus lega.