
...༻✿༺...
Satu tahun terlewat. Namun perasaan Ramanda masih sama. Dia malah semakin merindukan Morgan. Ramanda menjalani hari hanya dengan belajar. Jika dirinya bosan, barulah dia pergi menemui Zafran.
Kini Ramanda makan malam di apartemen Zafran. Keduanya kebetulan merayakan keberhasilan mereka terhadap nilai kelulusan yang terbilang bagus.
"Setelah ini, lo akan lanjut kuliah di sini?" tanya Zafran.
"Kayaknya gitu. Gue masih belum move on dari Morgan soalnya," jawab Ramanda.
"Sama. Karena itulah gue sengaja beli sesuatu untuk kita berdua." Zafran berdiri dan mengambil satu rak kaleng berisi bir.
"Ini sudah satu tahun lalu semenjak kita minum bir bareng kan?" cetus Ramanda yang langsung direspon dengan anggukan oleh Zafran. Keduanya segera menikmati bir. Sampai rasa mabuk akhirnya menguasai. Mereka duduk bersama di sofa.
Ramanda dalam keadaan menyandarkan kepala ke pundak Zafran. Dia memeluk cowok itu dari samping. Memejamkan mata dan hanya memikirkan Morgan.
Hal yang sama juga dilakukan Zafran. Dia juga asyik memejamkan mata. Kepalanya terasa berat.
"Gue pengen banget pulang dan cari dia..." racau Ramanda. Ia mengangkat kepalanya. Lalu meraba tubuh Zafran. Matanya tiba-tiba terbuka lebar.
Merasakan tubuh atletis Zafran, Ramanda semakin tenggelam memikirkan Morgan. Tato di tubuh cowok itu bahkan terbayang dalam ingatannya.
"Morgan?" panggil Ramanda sembari menatap Zafran. Jujur saja, penglihatannya sekarang sedang agak kabur.
Zafran yang tadinya mendongakkan kepala, perlahan menatap lurus ke arah Ramanda. Ia membuka mata saat tangan Ramanda menangkup wajahnya.
Mata Zafran memicing. "Lika?..." lirihnya. Penglihatan Zafran tentu sama seperti Ramanda. Keduanya terlalu banyak mengkunsumsi alkohol malam itu. Tidak seperti malam ketika mereka berada di tempat karoke.
Karena terlalu tenggelam memikirkan Morgan, Ramanda jadi mengira Zafran adalah cowok tersebut. Dia segera menyatukan bibirnya dengan mulut Zafran.
Parahnya Zafran membalas ciuman Ramanda. Sebab dia juga mengira kalau gadis yang sekarang bersamanya adalah sang mantan kekasih.
__ADS_1
Suara kecup-mengecup memecah kesunyian. Zafran dan Ramanda berciuman cukup lama. Sampai akhirnya Zafran mendorong Ramanda. Hingga cewek itu telentang ke sofa. Saat itulah penglihatan samar Ramanda menjadi jelas. Jantungnya serasa disembar petir ketika menyadar cowok yang diciumnya tadi ternyata adalah Zafran.
Sementara Zafran yang belum sadar, memposisikan diri ke atas badan Ramanda. Dia nyaris mencumbu sahabatnya sendiri.
Ramanda sigap menahan dada Zafran. "Zafran! Ini gue Ramanda!" serunya dengan suara lantang.
Mata Zafran langsung terbuka lebar. Dia tentu sama terkejutnya seperti Ramanda. Sebuah kesalahan benar-benar terjadi. Zafran bergegas duduk dan menjaga jarak dari Ramanda. Hening menyelimuti suasana dalam beberapa saat.
"Gu-gue tadi kira lo Morgan," imbuh Ramanda tergagap.
"Kita kayaknya kebanyakan minum bir. Sorry, Ra..." ungkap Zafran. Merasa tidak enak.
"Enggak. Gue juga salah. Sorry..." balas Ramanda. Entah kenapa air mata malah bercucuran di pipinya. Ramanda merasa kecewa dengan dirinya sendiri.
Zafran segera membawa Ramanda ke dalam pelukan. Dia tahu apa yang sedang dirasakan cewek itu.
"Semuanya akan berlalu, Ra. Kita pasti bisa lupain mereka." Zafran mencoba menenangkan.
Kini Raffi melenggang bersama Gamal. Sambil menarik koper di tangan masing-masing.
"Mal, apa pendapatmu mengenai orang yang berjanji akan datang tapi tidak datang," celetuk Raffi. Dia membicarakan tentang Morgan. Sebab sekarang satu tahun sudah berlalu. Namun cowok itu tidak kunjung datang menemui Ramanda.
"Kau bicara apa?" Gamal tak mengerti. Raffi lantas menceritakan semuanya kepada lelaki itu.
"Mungkin dia menyerah. Apa dia tidak ada memberi kabar sedikitpun?" ujar Gamal.
Raffi menggeleng. "Aku hanya tidak ingin menunggu. Lagi pula dia bukanlah lelaki yang meyakinkan untuk Ramanda," ungkapnya.
"Aku rasa juga begitu. Apalagi dia pecandu narkoba kan? Mungkin dia masih belum bisa melepas semua itu," tanggap Gamal sembari merangkul Raffi. Mereka segera menaiki mobil menuju gedung apartemen Zafran dan Ramanda.
...***...
__ADS_1
Di apartemen, Ramanda masih berduaan bersama Zafran. Keduanya baru saja bangun dari tidur. Sama-sama duduk merenung di sofa.
"Andai gue masih suka sama lo, gue pasti akan senang dengan ciuman tadi malam," ungkap Zafran. Mendadak mengingat perasaannya di masa lalu. Jujur saja, sebelum jatuh cinta kepada Lika, dia diam-diam menyukai Ramanda.
Mendengar pengakuan Zafran, Ramanda terkesiap. Dia tentu kaget. "Kapan lo suka sama gue?" tanya-nya.
"Pas lo lagi pacaran sama Rian!" jawab Zafran.
Mendengar nama Rian, raut wajah Ramanda langsung cemberut. Ia menghela nafas. "Rian... Dialah orang yang bikin gue nggak perawan lagi. Dan dia juga yang sebarin aib gue di sekolah..." lirihnya dengan perasaan sebal.
"Padahal gue udah bilang kalau Rian bukan cowok yang baik."
"Lo bilanginnya kayak bercanda mulu sih. Kan gue nggak percaya!"
"Lo tahu kan gue emang gitu." Zafran memutar bola mata jengah.
Ramanda terdiam sejenak. Dia berucap, "Gue sebenarnya juga pernah suka sama lo. Andai Morgan nggak datang, mungkin sampai sekarang perasaan itu akan ada."
"Hah?" Kini Zafran yang tertegun.
"Andai perasaan kita masih bertahan sampai sekarang, mungkin kisah cinta kita nggak akan rumit begini..." Ramanda mendengus kasar.
Zafran tersenyum tipis. "Mau gimana lagi. Kita emang nggak jodoh," tanggapnya.
Ramanda terkekeh. Dia meletakkan kepala ke pundak Zafran. Keduanya merasa lucu dengan hubungan persahabatan yang mereka miliki.
Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Zafran segera membuka pintu. Di iringi Ramanda dari belakang. Cewek itu memang ingin sekalian pulang.
Mata Zafran dan Ramanda terbelalak ketika menyaksikan kedua orang tua mereka datang. Sialnya mereka kepergok sedang bersama. Terlebih sekarang waktu masih menunjukkan jam lima pagi.
"Sial!" rutuk Zafran.
__ADS_1
"Zafran? Ramanda? Kalian berduaan?!" timpal Zara. Dia, Gamal, Raffi, dan Elsa merasa dibuat kaget.