
...༻✿༺...
Sekarang Ramanda dan Morgan ada di UKS. Kebetulan sedang tidak ada siapapun yang berjaga di sana.
Morgan duduk dengan tenang ke atas tempat tidur yang tersedia. Ia menatap Ramanda yang berdiri membelakanginya. Gadis itu tampak sibuk melihat-lihat kotak berisi obat.
"Gue sakit. Huhuhu..." Morgan tiba-tiba memeluk Ramanda dari belakang. Meletakkan dagunya ke pundak cewek itu. Dia bersikap seperti anak kecil yang manja.
"Morgan!" Ramanda sontak kaget. Dia mencoba melepas tangan Morgan yang melingkar di perutnya. "Lo gila ya! Kita di sekolah tahu!" protesnya.
Ramanda berhasil melepas pelukan Morgan. Ia memutar tubuhnya menghadap cowok tersebut. Mendorong Morgan hingga agak jauh.
"Idih! Orang sakit malah di kasarin. Harusnya disayang dong. Nanti malah tambah sakit," ucap Morgan sembari mendekatkan wajah ke hadapan Ramanda. Merekahkan senyuman tak bersalah.
"Lo itu nakal banget ya. Sama teman aja gitu. Apalagi sama pacar," tukas Ramanda. Tangannya mencubit perut Morgan. Akan tetapi dia justru kesulitan. Sebab perut Morgan terbilang kencang. Tidak berlemak dan dipenuhi otot. Ramanda hanya berhasil mencubit secuil kulit Morgan. Yang sama sekali tidak memberikan rasa sakit pada cowok tersebut.
"Ya lebih dari sekedar pelukanlah. Makanya kalau lo penasaran sama gaya pacaran gue, mending lo jadi pacar gue aja," goda Morgan. Dia terkekeh sampai menampakkan deretan giginya yang rapi.
"Enggak tertarik! Gue udah punya cowok yang jauh lebih baik dari lo!" balas Ramanda. Cowok yang terlintas dalam benaknya tentu adalah Zafran.
"Yang benar? Buktinya lo sendirian terus di sekolah. Pasti cowoknya cuman gebetan kan? Jangan-jangan cinta bertepuk sebelah tangan nih," tanggap Morgan yang justru mengejek.
Plak!
Satu tangan Ramanda menampar pipi Morgan. "Tuh tepukan sebelah tangan. Enak nggak?!" ujarnya. Sebal terhadap celotehan tak bermakna Morgan.
Pintu tiba-tiba terbuka. Bu Tari muncul dari sana. Dia memang guru yang hari ini bertugas menjaga UKS. Alhasil Morgan langsung duduk kembali ke tempat tidur.
"Ada apa ini?" tanya Bu Tari.
"Ini, Bu. Morgan sakit. Dia udah dikasih obat kok. Tadi pagi sempat kena flu. Tapi kayaknya Morgan masih pusing. Nggak tahu deh apa dia bisa ikut kegiatan belajar." Ramanda langsung beraksi.
Morgan yang mengerti, segera menampakkan tubuh lemasnya. Dia juga mengukir mimik wajah sendu. Semuanya tentu Morgan lakukan agar alasan yang diberikan Ramanda dapat meyakinkan.
__ADS_1
Benar saja, Bu Tari terlihat khawatir. Dia menanyakan keadaan Morgan. Apakah cowok itu masih bisa ikut kegiatan belajar atau tidak.
"Kayaknya nggak bisa deh, Bu..." ungkap Morgan yang masih bersandiwara.
"Ya sudah, kamu sebaiknya pulang saja ke rumah. Ibu akan menuliskan surat izin untukmu," kata Bu Tari seraya beranjak dari UKS. Dia juga tidak lupa menyuruh Ramanda untuk mengambilkan tas Morgan ke kelas.
"Puas lo?" timpal Ramanda.
"Buaaaanget. Makasih ya, Ramanda sayang..." sahut Morgan.
Ramanda memutar bola mata jengah. Lalu berucap, "Lo ambil tas sendiri gih!"
"Enak aja. Kan tadi lo yang disuruh. Ambilin lah. Kita kan udah berteman. Sesama teman kan harus membantu."
"Lagian gue terpaksa kok temenan sama lo." Ramanda berdecak kesal. Dia terpaksa melenggang keluar dari pintu.
Keadaan sedang sepi. Karena semenjak Ramanda dan Morgan ke UKS, bel pertanda masuk kelas telah berbunyi.
Ketika baru berjalan beberapa langkah, Ramanda terhenti. Jalan gadis itu dihalangi oleh Erli dan dua temannya.
Ramanda memilih mengabaikan. Dia mencoba mencari celah untuk lewat. Namun lagi-lagi Erli menghalangi.
"Lo kasih Morgan apa? Sampai-sampai dia nempelin lo terus? Dia itu pacar gue tahu nggak!" timpal Erli dengan nada penuh penekanan.
"Lo cemburu sama gue?" Ramanda memastikan.
"Gue cuman nggak mau Morgan dekat-dekat sama cewek murahan kayak lo!" Erli mendorong Ramanda dengan kasar.
"Nggak usah sok suci deh lo! Lo tuh yang murahan. Dirayu dikit aja udah mau jadi pacar Morgan. Lo harusnya tahu kalau cowok kayak dia itu playboy cap lalat!"
"Dasar cewek nggak benar! Berani ya lo ngehina gue sama Morgan!" Erli tidak tahan lagi. Dia menarik rambut panjang Ramanda sekuat tenaga. Ulahnya sukses membuat cewek itu mengaduh kesakitan.
Ramanda mencoba melakukan perlawanan. Tetapi belum sempat dia berbuat, dua teman Erli sigap memeganginya.
__ADS_1
"Hahaha! Gini nih efek orang yang hidupnya suka menyendiri," komentar Erli. Tertawa dengan gamblang.
"Aaaargghhh!!!" Ramanda hanya bisa menggeram sebal.
"Bawa dia ke toilet. Gue mau kasih pelajaran," titah Erli. Dua temannya lantas menurut. Ramanda langsung dipaksa berjalan menuju toilet.
Saat sudah di toilet, Erli langsung mendorong Ramanda sampai terjatuh ke lantai. Rok gadis itu sontak kotor.
"Awas ya lo, Er. Gue akan bilangin apa yang sudah lo lakukan sama Pak Dito!" ancam Ramanda. Matanya melotot penuh amarah.
"Boleh. Tapi gue juga boleh ngaduin ini kan?" Erli mengambil ponsel. Menunjukkan sebuah foto Ramanda. Dalam foto itu Ramanda terlihat berciuman bibir dengan Rian di dalam mobil.
Wajah Ramanda langsung berubah masam. Untuk anak berprestasi sepertinya, reputasi tentu adalah hal yang terpenting. Ramanda tidak masalah dengan gosip yang beredar tentangnya. Tetapi jika ada bukti berupa foto yang sekarang dimiliki Erli, Ramanda otomatis cemas.
"Dari mana lo dapat foto itu?!" Ramanda menuntut jawaban.
"Dari mantan pacar lo yang udah nggak di anggap itu lah." Erli tergelak senang bersama dua temannya.
"Cepat kasih ke gue!" Ramanda berdiri. Dia mencoba mengambil ponsel milik Erli. Namun Erli sigap melempar ponsel kepada salah satu temannya.
"Kayaknya gosip itu benar ya. Lo udah nggak perawan," komentar Erli. "Biar gue kelihatan gini-gini. Gue masih perawan tuh. Gue tunggu deh kehamilan lo. Pasti seru lihat anak jenius hamil di luar nikah," tambahnya meremehkan.
Ramanda berusaha keras merebut ponsel Erli. Tujuannya hanya satu. Yaitu menghapus fotonya dan Rian.
"Hapus nggak fotonya!" ujar Ramanda.
"Terus, lo mau apa?!" Kini ponsel sudah kembali ke tangan Erli. Ia menyembunyikan ponsel tersebut ke balik punggung.
Tanpa sepengetahuan Erli, Morgan datang dari belakang. Dia langsung merampas ponsel Erli.
"Morgan!" seru Erli seraya membelalakkan mata. Kedatangan Morgan tentu membuatnya terkejut.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
No Coment or like, no update.