
...༻✿༺...
Ramanda baru saja selesai mandi. Ia menemukan Morgan masih tidur pulas di ranjang.
"Ya ampun... Masih tidur aja," keluh Ramanda sembari berkacak pinggang. Seingatnya Morgan tadi sudah bangun. Namun sepertinya lelaki itu kembali tidur karena masih nengantuk.
Ramanda menarik selimut Morgan. "Sayang! Cepat bangun... Kita harus pergi ke acara pernikahan Zafran hari ini!" ujarnya sambil mengguncang badan Morgan yang masih terlelap.
Morgan membuka mata, walau hanya sedikit. Ia menatap Ramanda dalam keadaan penglihatan yang samar. Bukannya langsung bangun, dia justru tersenyum.
"Eh, malah senyum lagi. Cepetan! Nanti kalau kesiangan orangnya makin banyak," desak Ramanda dengan kening yang mengernyit.
Morgan melebarkan senyuman. Lalu menarik kuat Ramanda. Hingga istrinya tersebut oleng dan terjatuh ke atas badannya.
"Kita anu dulu. Baru pergi," ajak Morgan. Dua alisnya digerakkan sekitar dua kali.
Ramanda tersenyum singkat. Tangannya segera menjewer kuping Morgan. "Kamu itu anu mulu. Semalaman tadi nggak puas? Kita main dua ronde loh. Ish! Cepat mandi sana! Ganteng-ganteng bau!" hardiknya seraya menutupi hidung. Lalu mencoba beranjak.
Morgan tidak membiarkan. Dia menarik Ramanda sampai telentang ke ranjang. Morgan membelenggu dua tangan perempuan itu. Tanpa basa-basi, sebuah ciuman didaratkannya kepada Ramanda.
"Mmmphhh!!!" Ramanda melakukan protes dengan gumaman. Dua kakinya menggelepar tak terima. Ia merasa tidak rela kembali diserang setelah selesai mandi.
__ADS_1
Morgan tak peduli. Dia justru semakin meliarkan luma-tannya. Hingga akhirnya membuat Ramanda tidak kuasa untuk menolak.
Puas mencium bibir, Morgan beralih ke ceruk leher Ramanda. Sambil mencumbu, tangannya perlahan melepas tali handuk kimono sang istri.
Bersamaan dengan itu, Ramanda memanfaatkan kelengahan Morgan untuk mendorong. Kemudian beranjak dari ranjang.
"Ciuman udah cukup ya! Sana mandi!" tukas Ramanda dengan mimik wajah cemberut.
"Kok gitu sih, sayang... Aku kan belum selesai." Morgan memelas. Ekspresinya bagaikan anak kucing yang berharap diberi makan.
"Dasar suamiku. Pikirannya indehoy terus." Ramanda yang gemas, mengacak-acak rambut Morgan. Dia segera berganti pakaian.
Ramanda yang menyaksikan jadi cekikikan sendiri. "Kamu aja yang minta jatahnya melebihi batas. Udah dikasih tadi malam juga. Mau main terus sampai ranjang runtuh?" balasnya. Dia bisa melihat Morgan di cermin yang ada di hadapan.
"Walau sekarang udah jadi suami, masih aja digalakkin," cetus Morgan sambil menutup pintu.
Ramanda geleng-geleng kepala sembari tersenyum. Ia tidak menyangka Morgan lebih menganak-anak dari pada yang dirinya duga selama ini.
Lemari dibuka Ramanda. Ia sudah sepenuhnya mengenakan gaun pesta. Dirinya juga tidak lupa menyiapkan pakaian untuk Morgan. Dari mulai menyetrika sampai memilihkan sepatu yang cocok.
Selang sekian menit, Morgan keluar dari kamar mandi. Ia terlihat hanya mengenakan handuk di pinggang. Mengamati Ramanda dari belakang.
__ADS_1
Morgan berseringai. Niat jahil muncul dalam benaknya. Dia diam-diam mendekati Ramanda. Tetapi belum sempat mengagetkan, sang istri sudah berbalik menghadapnya lebih dulu.
Ramanda terkesiap. Dia agak kaget melihat Morgan tiba-tiba ada di belakang.
"Ciluk ba!" ujar Morgan. Terlambat beberapa detik. Meskipun begitu, dia berhasil membuat Ramanda tertawa.
"Apaan sih. Cepat pakai baju! Aku sudah siapin pakaiannya tuh." Ramanda menunjuk pakaian yang sudah disiapkan di atas ranjang.
"Mau ciluk ba yang ekstrem nggak?" Morgan mendekatkan wajahnya. Sepertinya akal jahilnya belum habis. Dua tangan Morgan terlihat sudah siap memegangi handuk di pinggang.
"Jangan coba-coba, sayang! Jangan bercanda mulu. Kita udah telat." Ramanda mencubit kedua pipi Morgan. Kemudian melayangkan kecupan singkat.
"Lagi!" pinta Morgan seraya memejamkan mata.
Ramanda tersenyum. Dia kembali mengecup singkat bibir Morgan untuk kali kedua.
"Lagi!" Morgan sepertinya belum puas.
"Dih! Mau berapa kali?" tanggap Ramanda.
"Sampai bibir aku dower juga nggak apa-apa," jawab Morgan. Dia segera tertawa lepas bersama Ramanda.
__ADS_1