
...༻✿༺...
Jam istirahat telah tiba. Morgan langsung digeromboli oleh teman-temannya. Termasuk Erli yang merupakan pacar barunya. Sedangkan Morgan sendiri, mengamati Ramanda dari kejauhan. Gadis itu terlihat beranjak keluar kelas.
"Lo suka ya sama Ramanda? Dia lebih sering nempel sama lo dibanding gue," keluh Erli sembari menunjukkan raut wajah tidak suka.
"Bukan gitu. Gue cuman mau jadiin dia teman kok," sahut Morgan.
"Kenapa? Dia itu cewek nggak benar tahu nggak," balas Erli sambil menyilangkan tangan di dada.
"Nggak benar kayak gimana maksud lo?" Morgan tak mengerti.
Rangga dan Dimas sontak bertukar pandang. Rangga yang berada paling dekat dengan Morgan, segera berbisik ke telinga cowok itu. Memberitahukan tentang gosip ketidakperawanan Ramanda.
Pupil mata Morgan membesar. Dia tentu terkejut dengan gosip tentang Ramanda. Meskipun begitu, dia tidak mau langsung pecaya. Setahunya Ramanda adalah gadis baik-baik.
"Itu kan cuman gosip. Nggak ada konfirmasi dari orangnya juga kan?" tepis Morgan. Dia tentu membela Ramanda. Mengingat gadis itu sudah banyak membantunya.
"Ada, Gan. Yang jelas dari mantan pacarnya, Rian. Kalau Ramanda-nya dia terkesan kayak nggak peduli. Dia nggak pernah menanggapi gosip yang beredar. Makanya orang-orang banyak percaya kalau gosip itu benar. Anehnya dia masih aja jadi murid kesukaan guru," jelas Erli panjang lebar.
"Tapi kan bukan berarti karena gosip itu kalian harus menghindari Ramanda dong? Bukannya dia pintar ya? Apalagi dia juga disukai oleh para guru? Kan enak punya teman dengan kelebihan begitu," imbuh Morgan. Menatap orang-orang yang ada di hadapannya secara bergantian.
"Lo nggak bakalan ngerti kekhawatiran yang dirasakan cewek!" pungkas Erli. Ia kesal karena Morgan terus-terusan membela Ramanda. Alhasil Erli memutuskan beranjak dari kelas tanpa Morgan. Ia tampak di ikuti oleh dua temannya.
"Gan, hari ini kan kata lo?" ujar Dimas dengan nada berbisik.
Morgan mengangguk. "Gue akan pergi setelah jam istirahat pertama. Tapi sebelum itu, gue harus minta bantuan seseorang," ucapnya.
__ADS_1
Morgan lebih memilih mencari Ramanda dibanding Erli. Dia segera menuju ke perpustakaan. Morgan yakin cewek itu pasti berada di sana. Mengingat Ramanda sangat gemar membaca buku.
Benar saja, Ramanda memang sedang berada di perpustakaan. Cewek itu terlihat sangat fokus membaca buku. Kebetulan sekali posisinya membelakangi pintu masuk. Ide jahil Morgan otomatis muncul.
Seringai terukir diparas tampan Morgan. Dia berjalan normal saat melewati penjaga perpustakaan. Tetapi ketika sudah dekat dengan posisi Ramanda, Morgan memelankan langkahnya. Cowok itu berjalan mengendap-endap dari belakang.
Belum sempat Morgan mengageti, Ramanda sudah menoleh lebih dulu. Mata gadis tersebut mendelik.
"Ini perpustakaan. Kalau nggak mau baca buku, lo mending pergi," ujar Ramanda. Dia segera kembali berkutat membaca buku.
"Ya elah. Dari mana lo tahu sih?" tanya Morgan seraya duduk ke sebelah Ramanda. Kebetulan tempat yang diduduki mereka adalah bangku panjang.
"Gue lihat kedatangan lo lewat kaca yang ada di lemari," jelas Ramanda. Tanpa menoleh ke arah Morgan. Atensinya terus tertuju ke arah tulisan-tulisan yang ada dalam buku.
"Ra, gue boleh minta bantuan lo lagi nggak?" tanya Morgan. Menatap Ramanda sambil menopang kepala dengan satu tangan.
"Ayo dong, Ra... kalau nggak mau, gue bakalan bilang ke bokap nyokap lo tentang gosip yang beredar," desis Morgan. Ucapannya tersebut sukses membuat Ramanda menoleh.
"Lo jangan coba-coba berani ngadu sama bokap nyokap gue ya. Kalau lo nekat, gue juga bakalan ngaduin kelakuan lo itu sama bokap nyokap lo!" ancam Ramanda.
"Bilangin aja. Gue udah biasa ketahuan kok. Berarti beneran gue aduin aja nih tentang gosip lo itu." Tanggapan Morgan membuat Ramanda panik. Cewek itu menggertakkan gigi kesal. Dia tidak punya pilihan selain setuju untuk membantu Morgan.
"Ya udah. Mau lo apa?" tukas Ramanda.
"Lo kenapa takut banget ketahuan sih? Lagian itu kan cuman gosip? Jangan-jangan..." Morgan menyelidik.
"Enggak! Bukan gitu. Benar atau nggak, yang jelas gosip semacam itu gangguan buat gue! Terutama kalau bokap sama nyokap gue tahu. Mending lo jaga mulut!"
__ADS_1
"Oke, lo nggak usah khawatir." Morgan mengacungkan jempol dengan percaya diri. Dia segera memberitahukan keinginannya kepada Ramanda. Cowok itu ternyata berniat ingin membolos. Morgan ingin Ramanda membantu memberikan alasan yang meyakinkan agar bisa pulang duluan.
"Kenapa harus gue sih? Emang lo bolos mau kemana?" Ramanda menuntut jawaban.
"Gue pilih lo, karena lo adalah murid favorit para guru di sekolah ini. Mengenai tujuan gue, lo nggak perlu tahu." Morgan mengakhiri penjelasannya dengan senyuman puas. Dia yakin rencananya akan berjalan mulus dengan bantuan Ramanda.
"Selagi gue nggak kena poin minus, gue nggak masalah sama rencana lo. Pokoknya lo harus janji, kalau ketahuan jangan pernah sebut nama gue!" Ramanda mengacungkan jari telunjuknya ke depan wajah Morgan. Menegaskan bahwa ucapannya serius.
"Oke! Lo tenang aja. Gue pastiin nama lo nggak akan kena poin minus." Morgan mengangguk setuju. Dia dan Ramanda beranjak dari perpustakaan.
"Sebaiknya kita ke UKS dulu biar lebih meyakinkan," ungkap Ramanda. Dia berjalan berdampingan dengan Morgan. Menyusuri koridor yang banyak di isi oleh beberapa murid. Perhatian mereka tentu tidak lepas dari kedekatan Morgan dan Ramanda.
"UKS?" dahi Morgan berkerut.
"Gue mau pakai alasan tadi pagi. Pas banget kan?" usul Ramanda.
Morgan langsung mengangguk. "Tuh kan, nggak salah gue minta bantuan lo. Dari pada menyelinap dari belakang sekolah, mending begini," ucapnya kegirangan.
"Tapi gue nggak mau ini terjadi tiap hari!" tegas Ramanda.
"Oke, bos!" jawab Morgan. Dia dan Ramanda melenggang masuk ke UKS.
..._____...
Catatan Author :
No Coment or like, no update.
__ADS_1