
...༻✿༺...
Selama rehabilitasi, Morgan juga tidak lupa melanjutkan pendidikan. Dia terpaksa melakukan home schooling karena masih belum diperbolehkan pergi dari tempat rehabilitasi.
Satu tahun berlalu. Morgan sepenuhnya berhasil lepas dari yang namanya obat-obatan. Psikiater yang menanganinya berharap Morgan tidak akan lagi mengulang kesalahan.
Morgan bisa lulus sekolah dengan nilai yang bagus. Satu hal yang membuat dia kecewa. Yaitu catatan keterlibatannya terhadap obat-obatan. Riwayat yang dimilikinya itu tentu akan mempengaruhi banyak hal. Terutama terkait mimpinya untuk menjadi dokter.
Karena itulah Morgan tidak bisa lulus dengan mudah di jalur beasiswa. Dia sangat sedih karena tidak bisa masuk Universitas. Tetapi Morgan tidak akan menyerah semudah itu.
Morgan terpaksa beristirahat satu tahun. Ia memanfaatkan waktu itu untuk mengumpulkan uang dengan bekerja.
Dalam satu hari, Morgan melakukan tiga pekerjaan sekaligus. Saat pagi dia akan bekerja sebagai office boy, siang sebagai pelayan cafe, dan malam menjadi bartender di sebuah klub malam. Pekerjaan yang terakhir terpaksa dilakukan Morgan karena memiliki gaji yang sangat tinggi.
Kini Morgan baru saja datang ke klub malam tempatnya bekerja. Dia segera mengganti pakaian untuk bekerja. Tidak seperti dulu, sekarang bagi Morgan klub malam bukan untuk bersenang-senang, namun untuk mencari uang.
Dengan wajah yang tampan dan sikap supelnya, Morgan banyak disukai pelanggan. Dia juga sangat sering mendapat rayuan dari banyak wanita. Baik dari kalangan muda maupun tua.
"Hai, sayang. Aku pesan satu cocktail!" ujar seorang wanita cantik. Dia sangat seksi dengan menggunakan pakaian yang memperlihatkan belahan dada. Namanya adalah Rita. Wanita yang sudah berusia sekitar empat puluh tahun. Akan tetapi wajahnya tampak awet muda. Tidak heran dia tampil percaya diri.
"Oke!" tanggap Morgan. Dia segera menggunakan tangannya dengan lihai. Sampai satu gelas cocktail yang dipesan akhirnya jadi.
"Satu buah cocktail istimewa untuk nona cantik," ucap Morgan seraya menyodorkan minuman buatannya.
"Terima kasih, tampan," sahut Rita. Dia tersenyum malu. Lalu menopang dagu dengan satu tangan. Menatap Morgan dengan mata yang berbinar.
Morgan yang merasa aneh, berusaha bersikap normal. Bahkan ketika Morgan sibuk melayani pelanggan lain.
__ADS_1
Waktu berlalu cukup lama. Rita masih duduk di tempatnya. Jika minumannya habis, maka dia akan memesan lagi. Selanjutnya, Rita akan menikmati minuman sambil memandangi Morgan.
Lama-kelamaan, Morgan mulai merasa tidak nyaman. Dia lantas bertanya, "Maaf. Apakah ada seseorang yang anda tunggu?"
"Iya, kau!" jawab Rita dengan gamblang.
"A-aku?" Morgan mengerutkan dahi sambil menunjuk dadanya sendiri.
Rita mengangguk. Lalu bangkit dari tempat duduk. Dia menarik kerah baju Morgan dan berkata dengan nada pelan, "Apa kau butuh uang? Aku ingin membayar berapapun yang kau mau jika bersedia menghabiskan satu malam denganku."
Morgan membulatkan mata. Dia lekas menjaga jarak. Meskipun begitu, dirinya terlihat berpikir. Morgan seolah tergoda dengan tawaran Rita.
"Aku punya uang yang banyak, sayang... Lima ratus juta, satu milyar. Aku akan membayar berapapun yang kau mau," kata Rita. Berupaya terus menggoda.
Morgan yang sempat tergoda, cepat-cepat menggeleng. Bayangan tentang Ramanda langsung menyadarkannya.
"Maaf, aku di sini bekerja sebagai bartender. Dan bukannya menjual diri!" Morgan menolak baik-baik. Dia segera menyibukkan diri untuk melayani pelanggan lain.
"Hubungi aku jika kau berubah pikiran," ujar Rita. Kemudian beranjak pergi.
Morgan mendengus kasar. Atensinya tertuju ke secarik kertas yang sudah bertuliskan nomor Rita.
Plak!
Fendi tiba-tiba menepuk pundak Morgan. Dia merupakan rekan kerja Morgan yang bekerja sebagai pelayan. Ulahnya sukses membuat Morgan kaget sampai berjengit.
"Bikin kaget aja lo!" timpal Morgan.
__ADS_1
"Sorry..." jawab Fendi seraya terkekeh. Ia mengambil kertas yang bertuliskan nomor Rita. "Sudah gue duga," gumamnya. Membuat dahi Morgan sontak berkerut.
"Apaan?" tanya Morgan penasaran.
"Ini! Bunda Rita. Dia selalu mencari brondong tampan di klub malam. Semua pekerja di klub malam tahu dengannya. Terutama bartender," jelas Fendi.
"Terus?" Morgan menuntut penjelasan lebih lanjut.
"Bunda Rita ini bisa disebut wanita hidung belang, Gan. Dia rela membayar mahal orang tampan kayak lo agar mau indehoy sama dia. Lo tahu Erwin nggak? Orang yang bekerja jadi bartender sebelum lo?"
"Tahu. Kenapa?"
"Dia berhenti karena dapat uang banyak dari Bunda Rita. Yang gue dengar dia minta uang dua milyar. Sekarang Erwin bikin usaha sendiri dan sukses besar. Menurut gue nggak apa-apalah melakukannya satu kali demi uang. Terlebih lo lagi butuh banyak uang buat terusin pendidikan kan?"
Morgan terdiam. Perkataan Fendi membuat berpikir lagi. Namun jika dia nekat melakukan itu, maka sama saja dirinya mengkhianati Ramanda. Tetapi di sisi lain, Morgan perlu uang banyak agar bisa menjadi menantu idaman Raffi.
"Nih! Simpan aja dulu. Kalau jadi lo, gue udah pasti terima. Lagian Bunda Rita cantik kok. Selain dapat uang, kan bisa dapat enaknya juga," ucap Fendi sembari memasukkan kertas bertuliskan nomor telepon Rita ke saku baju Morgan.
Waktu menunjukkan jam tiga pagi. Morgan baru pulang ke rumah. Dia langsung merebahkn diri. Lalu mengambil secarik kertas bertuliskan nomor telepon Rita.
Morgan mendengus kasar. Ia segera mengambil figura berisi foto Ramanda yang ada di atas nakas. Jujur saja, foto itu diambil Morgan dari akun media sosial Ramanda sendiri. Dia melakukannya karena merasa perlu melihat wajah Ramanda ketika bangun tidur.
Morgan mengambil ponsel. Setiap hari dia selalu memeriksa kabar Ramanda melalui media sosial.
"Gue nggak tahu harus gimana, Ra. Gue pengen banget kasih kabar sama lo. Gue juga merasa terancam sama sahabat lo yang namanya Zafran. Lo nggak dekat sama dia kan?" gumam Morgan. Dia menemukan banyak foto kedekatan Ramanda dengan Zafran.
..._____...
__ADS_1
Catatan Author :
Ada yang mau double up?😆