Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 19 - Berusaha Saling Melindungi


__ADS_3

...༻✿༺...


Mendengar adanya keributan, murid-murid lain berdatangan. Mereka kaget dengan apa yang terjadi kepada Aldi.


Ramanda lekas membantu Aldi berdiri. Namun dia langsung mendapat penolakan. Aldi lebih memilih berdiri dengan bantuan orang selain Ramanda. Matanya bahkan mendelik ke arah cewek itu.


Morgan mendekati Ramanda. Keduanya bertukar pandang sejenak. Mereka tahu, cepat atau lambat Aldi akan melaporkan semuanya kepada guru.


Benar saja, Pak Dito selaku guru BK langsung membawa Ramanda dan Morgan ke ruangannya. Di sana keduanya ditanyai mengenai apa yang terjadi.


"Tadi Aldi sudah menghina Ramanda dengan ejekan buruk, Pak. Makanya aku marah." Morgan memberi alasan.


"Tapi kamu nggak perlu memukulinya sampai bonyok begitu kan? Kalau dia melapor ke polisi bagaimana? Itu bisa jadi kasus loh!" sahut Pak Dito dengan dahi yang berkerut dalam.


"Itu karena aku yang menyuruh Morgan, Pak. Aku kesal banget sama ejekannya," ucap Ramanda.


Mendengar perkataan Ramanda, Morgan sontak tercengang. Dia tidak menyangka cewek itu akan bicara begitu.


"Ra, lo ngomong apa?!" tanya Morgan dengan nada berbisik.


"Gue nggak akan biarin lo dihukum sendirian," jawab Ramanda.


"Apa itu benar? Kenapa kau jadi tega begitu, Ra?" Pak Dito sepertinya sulit untuk percaya. Sebab Ramanda memang dikenal sebagai salah satu murid teladan.


"Maaf, Pak... Aku sama Morgan akan tanggung jawab," tutur Ramanda sembari menundukkan kepala.


"Iya, Pak. Kami minta maaf..." Morgan ikut berucap. Dia terpaksa membiarkan Ramanda.


"Aku akan melaporkan semua ini kepada orang tua kalian. Jadi--"


"Jangan, Pak! Plis... Jangan laporin ini sama orang tua aku..." mohon Ramanda. Ia tak sengaja memotong perkataan Pak Dito.


"Mau bagaimana lagi? Aldi sudah melaporkan apa yang terjadi kepada orang tuanya. Apa kalian sanggup menghadapi kemarahan mereka? Enggak kan?" timpal Pak Dito.


Ramanda lantas terdiam. Dia tidak bisa mengelak lagi. Ramanda dan Morgan disuruh menunggu. Sementara Pak Dito akan menghubungi kedua orang tua Morgan dan Ramanda.


"Ra, kenapa lo malah bunuh diri? Lo nggak peduli dapat poin minus? Biarin gue aja yang menanggung semuanya!" ujar Morgan.

__ADS_1


"Lo mukulin Aldi karena gue. Alasan Aldi merekam kita berdua juga karena gue," sahut Ramanda. "Gue melakukan ini karena percaya sama lo. Plis jangan kecewain gue," sambungnya seraya menggenggam lembut jari-jemari Morgan. Tangan cowok itu tampak berwarna kemerahan karena digunakan untuk memukuli Aldi.


Tak lama kemudian, Aldi datang bergabung ke ruangan dimana Morgan dan Ramanda berada. Dia di antarkan oleh Pak Dito.


"Jangan bertengkar lagi kalian. Tuh lihat! Di atas ada CCTV," ancam Pak Dito. Lalu pergi meninggalkan ketiga muridnya.


Hening menyelimuti suasana. Raut wajah Aldi tampak cemberut. Ia bahkan enggan menatap dua sejoli yang duduk tidak jauh darinya.


"Di! Lo nggak akan bilang apa yang gue sama Ramanda lakukan di kelas tadi pagi kan?" celetuk Morgan. Mengawali pembicaraan.


"Emangnya kenapa kalau gue kasih tahu? Takut semua orang bakalan ngejek Ramanda murahan?" tanggap Aldi. Bicara dengan nada menyebalkan.


Morgan hanya bisa mengepalkan tinju di kedua tangan. Kali ini dia berusaha menahan kesabaran.


Ramanda yang sejak tadi diam saja, perlahan menyentuh pundak Morgan. Ia memiliki rencana untuk menyelamatkan dirinya dan sang kekasih. Morgan lantas mengangguk. Cowok itu setuju dengan ide Ramanda.


"Oke kalau itu pilihan lo, Di. Kami juga punya cara untuk melindungi diri," cetus Morgan.


Tak lama kemudian, para orang tua datang. Kecuali Morgan. Dia tidak melihat kedua orang tuanya sama sekali. Raffi dan Elsa otomatis mengajukan diri sebagai perwakilan orang tua Morgan.


"Aldi bilang aku cewek murahan, Mah. Jadi aku marah dan menyuruh Morgan kasih pelajaran," ungkap Ramanda.


Elsa dan Raffi terperangah. Keduanya kaget kenapa Ramanda bisa tega berbuat begitu. Tidak seperti sikap Ramanda biasanya.


"Emang beneran itu masalahnya? Bukannya alasan Morgan mukulin aku karena takut hubungannya sama Ramanda terbongkar?" ujar Aldi sembari berseringai.


Mata Morgan mendelik. Dia hampir menghampiri Aldi lagi. Namun Ramanda sigap menghentikan.


Raffi dan Elsa bertukar pandang lagi. Keduanya tentu heran. Mengingat mereka belum mengetahui kalau Ramanda berpacaran dengan Morgan.


"Aku tadi melihat Morgan sama Ramanda berciuman di kelas," ungkap Aldi.


"Aldi!" geram Morgan.


"Itu salah! Gue sama Morgan cuman pelukan! Kami melakukannya karena sedang mendapat kabar bagus!" Ramanda memberikan alasan.


"Gue tahu apa yang gue lihat!" Aldi bersikeras.

__ADS_1


"Lo halu, Di. Gue sama Ramanda cuman pelukan!" Morgan menguatkan pendapat Ramanda.


"Kenapa jadi gue yang terpojok? Di sini gue korbannya!" kata Aldi. Iyakan, Pah... Mah?" lanjutnya sembari menatap ayah dan ibunya dengan penuh iba.


"Aldi benar! Dia adalah korban di sini. Kami bahkan bisa melaporkan Ramanda dan Morgan ke polisi. Ini namanya kekerasan!" tukas ayahnya Aldi.


"Aku nggak akan memukuli Aldi kalau mulutnya tidak berkata buruk tentang Ramanda!" Morgan melakukan pembelaan.


"Sudah cukup! Lebih baik kita selesaikan semuanya dengan baik-baik. Tidak ada kekerasan, apalagi polisi." Raffi menghentikan perdebatan yang terjadi. Dia tentu berusaha melindungi Ramanda.


Raffi dan Elsa mengajak kedua orang tua Aldi berdiskusi. Tetapi sebaik apapun Raffi dan Elsa mengajak berdamai, Aldi dan kedua orang tuanya tak terima. Mereka berpikir kalau Aldi tidak pantas dipukuli begitu hanya karena mengejek Ramanda.


"Nggak ada kata damai pokoknya! Kami ingin Morgan dan Ramanda diberi hukuman yang setimpal! Paling tidak dikeluarkan dari sekolah ini!" ujar ibunya Aldi sambil melipat tangan di depan dada.


"Tapi--"


"Kalau tidak, maka kami akan melaporkan semuanya pada polisi. Kalian pilih yang mana?" Ayahnya Aldi tidak membiarkan Raffi bicara. Dia nampaknya sudah kukuh terhadap keputusannya.


Morgan menatap ke arah Ramanda. Dia tidak terima jika cewek itu ikut terseret ke dalam masalah.


"Ya sudah! Aku siap dikeluarkan dari sekolah! Tapi tidak untuk Ramanda. Mengenai apa yang dikatakannya tadi itu salah besar! Dia tidak pernah sedikit pun menyuruhku memukuli Aldi. Semuanya kulakukan berdasarkan keinginanku sendiri!" Morgan berdiri. Ia menjelaskan kejadian yang sebenarnya. Selain bicara jujur, dirinya juga bisa melindungi Ramanda.


"Morgan!" Ramanda menatap tak percaya.


"Iyakan, Di? Ramanda nggak suruh gue pukulin lo kan?" Morgan menuntut jawaban kepada Aldi.


Mata Aldi meliar ke segala arah. Dia memilih diam.


"Aldi!" panggil Morgan mendesak.


"Sudah. Jangan coba-coba menyudutkan putraku lagi!" ayahnya Aldi mendorong Morgan dengan kasar.


"Morgan bohong, Pah!" ujar Aldi. Merasa Ramanda adalah saingan terberatnya untuk berprestasi, dia tentu menyangkal tegas.


"Lo emang pantas dipukul ya, Di!" geram Morgan yang sudah tidak tahan.


Ramanda dan Raffi sigap menghentikan pergerakan Morgan yang nyaris kembali memukul Aldi. Raffi dan Elsa menatap tak percaya kepada cowok itu. Mereka tidak pernah menyaksikan sisi Morgan yang penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2