Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 15 - Fakta Tentang Ramanda


__ADS_3

...༻✿༺...


Ramanda baru saja tiba di klub malam. Dia melangkah masuk dengan tenang. Ramanda mengedarkan pandangan untuk mencari Morgan.


Di sisi lain, Morgan baru saja tersadar dari mabuk. Dia menjadi sedikit bertenaga karena obat yang diminumnya. Sekarang cowok itu dapat duduk dengan tegak.


"Lihat! Cewek lo yang kemarin benar-benar ke sini!" seru Malik sembari mengarahkan jari telunjuk kepada seseorang.


Morgan sontak menoleh. Pupil matanya membesar tatkala menyaksikan Ramanda. Cewek itu tampak melambaikan tangan ke arahnya. Lalu segera menghampiri.


"Gila! Kenapa dia ke sini?" Morgan merasa tak percaya. Dia menggelengkan kepala dengan kuat. Takut kalau apa yang dilihatnya adalah halusinasi.


"Hei! Kan dari tadi gue sudah bilang kalau tuh cewek dalam perjalanan ke sini," sahut Malik. Kini dia yang terlihat mabuk. Meskipun begitu, Malik masih mampu menguasai kesadarannya.


"Apa? Kapan?! Kok gue nggak tahu?!" Morgan membulatkan mata.


"Sejak tadi..." jawab Malik malas.


Tak lama kemudian Ramanda datang. Morgan langsung berdiri ke hadapan cewek itu.


"Lo kenapa ke sini?" timpal Morgan.


"Lo yang suruh gue! Kenapa bertanya?" Ramanda mengerutkan dahi. Membuat Morgan tak bisa berkata-kata lagi. Cowok itu terlihat tersenyum canggung.


"Hai, Ramanda. Lo sebaiknya minum dulu. Morgan sudah pesankan minuman buat lo," tawar Malik.


"Diamlah!" Morgan mendorong Malik. Hingga temannya itu duduk menyandar ke sofa. Morgan segera mengambil minuman yang tadi ditawarkan Malik. Mengamati minuman tersebut baik-baik.


"Lo beneran pesan minuman ini buat gue? Makasih." Ramanda merampas gelas yang dipegang Morgan. Kemudian meminum minuman itu.


"Eh!" Morgan sontak panik. Dia takut Malik memasukkan sesuatu ke dalam minuman tersebut.


Morgan tidak sempat menghentikan Ramanda. Gadis itu terlanjur meneguk minumannya. Morgan hanya berharap minuman tersebut tidak mengandung apa-apa.


Ramanda terlihat tersenyum usai meminum minuman yang diambil dari Morgan. Dia merasa kepalanya sedikit oleng.


"Ya udah. Karena lo udah di sini, kita mending senang-senang aja." Morgan merangkul Ramanda. Membawanya bergabung ke lantai dansa.


Ramanda ikut saja. Entah kenapa dia merasa kalau perasaannya sedang melambung tinggi. Bahagia dan segala masalah seakan hilang begitu saja.

__ADS_1


Hal serupa juga dirasakan Morgan. Dia terus menatap Ramanda yang tampak terus tertawa.


Senyuman merekah diwajah Morgan. Sebenarnya semenjak dekat dengan Ramanda, dia mengabaikan semua pacar-pacarnya. Entah kenapa Morgan lebih fokus mengurus masalah Ramanda. Semuanya terjadi secara alami.


Morgan semakin menyukai perasaan yang dirasakannya ketika Ramanda mengalungkan tangan ke lehernya. Gadis itu memeluk cukup erat.


Perhatian Morgan tidak teralihkan dari Ramanda. Keinginan besar untuk mencium cewek itu akhirnya muncul.


Tanpa pikir panjang, Morgan langsung menempelkan bibirnya ke mulut Ramanda. Apa yang dilakukan Morgan membuat Ramanda mematung. Tidak bergerak dan hanya membulatkan mata.


Morgan memagut bibir Ramanda dengan lembut. Berharap mendapat balasan secepat mungkin.


Jantung Ramanda sontak berdegub kencang. Dia awalnya terkejut. Tetapi lama-kelamaan dirinya menyukai sentuhan Morgan.


Ramanda tidak bisa menolak. Bahkan dia tidak marah seperti biasanya. Cewek itu membalas pagutan bibir Morgan.


Di tengah banyaknya orang, sebuah ciuman tak terduga terjadi. Morgan dan Ramanda saling melum-at satu sama lain. Keduanya sesekali memiringkan kepala agar bisa berciuman dengan leluasa.


Deru nafas kian memburu. Rasa ingin lebih dari sekedar ciuman otomatis muncul.


Morgan melepas tautan bibirnya sejenak. Sadar berada di tengah orang banyak, dia segera membawa Ramanda pergi dari sana.


Cahaya matahari menghantam penglihatan Ramanda. Dia lantas terbangun dari tidur. Mengerjapkan mata dengan pelan. Lalu merubah posisi menjadi duduk.


Mata Ramanda terbelalak saat menemukan tubuhnya telanjang bulat. Sementara di sebelah ada Morgan yang juga terlihat tidak mengenakan pakaian.


Ramanda mencoba tenang. Dia berusaha mengingat kejadian tadi malam.


Perlahan ingatan Ramanda bermunculan. Dia ingat kalau dirinya dan Morgan melakukan hubungan intim.


Ramanda mencengkeram selimut yang sekarang menutupi tubuhnya dan Morgan. Ia menggigit bibir bawahnya. Tidak ada rasa takut yang Ramanda rasakan. Dia justru cenderung mengingat kenikmatan yang dirinya rasakan tadi malam.


Tepat di samping Ramanda, Morgan baru saja terbangun. Ia juga terlihat kaget dengan keadaannya dan Ramanda.


"Sial! Sial!" rutuk Morgan histeris. Dia segera menoleh ke arah Ramanda. "Ra! Maafin gue. Gue nggak tahu semuanya akan jadi begini. Kayaknya Malik masukin sesuatu ke minuman lo tadi malam!" ujarnya memberitahu.


"Nggak apa-apa." Ramanda menjawab datar. Dia segera mengenakan tanktop dan celana pendek.


"A-apa? Nggak apa-apa? Gue nggak salah dengar kan?" Morgan terkejut. Dia juga bergegas mengenakan celana pendek. Lalu memegangi pundak Ramanda. Keduanya berdiri saling berhadapan.

__ADS_1


"Tentang gosip itu... Sebenarnya itu benar..." ungkap Ramanda lirih. Dia menundukkan kepala.


Morgan tercengang. Dia yang selama ini menganggap gosip Ramanda tidak benar, tentu sangat terkejut.


"Gue emang cewek murahan... Hiks..." Ramanda terisak. Dia merasa kotor dengan dirinya sendiri. Apalagi Ramanda juga tidak bisa membantah mengenai yang dirasakan oleh raganya. Terutama ketika melakukan hubungan intim dengan seorang lelaki.


"Jangan bicara begitu. Gue nggak pernah menganggap lo begitu." Morgan membawa Ramanda masuk ke dalam pelukan.


"Dulu! Tapi sekarang pasti iya!" pekik Ramanda. Air mata masih bercucuran diwajahnya. Dia melepaskan diri dari pelukan Morgan.


"Enggak! Lo salah!" tegas Morgan. "Gue nggak tahu sejak kapan, tapi gue sepertinya suka sama lo. Makanya gue nggak berpikir dua kali buat cium lo tadi malam," jelasnya panjang lebar.


Ramanda tertegun. Jantungnya berdebar lebih cepat saat mendengar Morgan tiba-tiba mengungkapkan perasaan. Tangisan Ramanda langsung terhenti.


"E-elo suka sama gue?" Ramanda memastikan.


Morgan mengangguk. "Gara-gara lo, gue bahkan melupakan cewek-cewek yang gue pacari. Itu semua terjadi begitu saja. Tapi gue senang bisa fokus sama satu cewek. Ternyata rasanya sangat berbeda," ujarnya.


Ucapan Morgan barusan, sukses membuat Ramanda tersenyum tipis. Cewek itu perlahan memeluk Morgan yang masih bertelanjang dada.


"Gue nggak tahu bisa percaya sama lo atau nggak. Tapi jantung gue berdebar saat terima sentuhan lo. Apalagi ungkapan cinta lo tadi..." ungkap Ramanda.


Morgan membalas pelukan Ramanda. Ia tidak bisa membendung senyuman.


"Lalu? Apa hubungan kita sekarang akan berubah?" tanya Morgan.


"Mungkin," jawab Ramanda ambigu. "Yang pasti lo harus putusin dulu semua pacar lo," sambungnya seraya melepas dekapan.


"Itu pasti! Gue akan lakukan itu secepatnya!" sahut Morgan antusias. Dia langsung melompati ranjang. Lalu mengambil ponsel di atas nakas. Menghubungi pacarnya satu per satu melalui pesan teks. Morgan memutuskan hubungan dengan cewek-cewek itu.


Ramanda berjalan pelan ke depan jendela. Dia bisa melihat pemandangan kota dari sana. Kebetulan dirinya dan Morgan tengah berada di sebuah kamar hotel.


Ramanda merenungi semua yang telah terjadi. Dia sebenarnya bingung harus mempercayai Morgan atau tidak. Tetapi dia merasa tidak punya siapapun lagi selain cowok itu. Terlebih dirinya sedang kekurangan perhatian dari kedua orang tuanya.


..._____...


Catatan Author :


Aku mau kasih tahu kalau novel Ramanda ini ceritanya tidak akan panjang ya. Mungkin akan berakhir di bab 35 atau 40-an... Semoga tetap betah ya...

__ADS_1


__ADS_2