Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 33 - Penjelasan Morgan


__ADS_3

...༻✿༺...


Dalam proses observasi rumah sakit, seluruh koas junior dipersilahkan berpencar untuk melihat-lihat. Sebagian besar mereka melakukannya bersama teman. Namun tidak untuk Ramanda. Lagi-lagi dia sendiri.


Kini Ramanda berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Ia sesekali tersenyum untuk menyapa seseorang. Bahkan orang yang tak dikenal sekalipun. Raffi memang selalu mengajarkannya untuk menjadi pribadi yang ramah. Terutama kalau ingin menjadi seorang dokter.


Tanpa sepengetahuan Ramanda, Morgan mengikuti dari belakang. Dia akan berhenti saat Ramanda berhenti. Akan berjalan ketika cewek itu berjalan.


Ramanda melenggang memasuki lorong gelap area rumah sakit. Kebetulan tempat yang didatanginya sangat sepi. Saat itulah Morgan berlari kecil untuk menghampiri.


"Lo selalu sendiri sampai sekarang?" ujar Morgan. Membuat Ramanda langsung menoleh.


"Lo ngikutin gue?!" balas Ramanda dengan dahi berkerut dalam.


"Enggak." Morgan menggeleng. "Gue cuman mau mengawasi junior yang kebetulan pergi sendirian kok," lanjutnya.


"Sama aja!" sahut Ramanda ketus.

__ADS_1


Morgan terkekeh. Sikap Ramanda tidak pernah berubah. Membuat keinginannya untuk mendekat jadi menggebu.


"Lo mending pergi! Gue nggak perlu diawasi sama senior koas!" tukas Ramanda sembari mencoba beranjak. Tetapi Morgan sigap memegang lengannya.


"Ra, gue akan jelasin semuanya dari awal. Plis kasih gue waktu buat jelasin," ucap Morgan. Dia kali ini bicara serius.


"Udah! Yang gue tahu, lo nggak pernah peduli sama gue!" kata Ramanda. Sekali lagi dia hendak beranjak. Namun Morgan justru menguatkan genggamannya.


"Lepasin nggak!" tegas Ramanda. Dia berusaha keras melepas cengkeraman Morgan.


"Bokap lo yang udah bikin gue menghilang dari lo, Ra! Itulah yang terjadi," ungkap Morgan.


"Gue dan bokap lo membuat perjanjian setelah insiden penggrebekan narkoba itu. Bokap lo pengen gue kembali kalau sudah bersih dari obat-obatan dan berhasil jadi dokter," jelas Morgan. Menatap nanar Ramanda.


Sementara Ramanda hanya bisa membisu. Dia yang tadinya marah pada Morgan, kini merasakan empati.


"Selama bertahun-tahun gue cari uang biar bisa kuliah kedokteran! Gue juga belajar giat banget. Sampai pernah beberapa kali gue harus jatuh sakit karena belajar. Gue melakukannya demi lo, Ra..." mata Morgan mulai berkaca-kaca. Dia mengingat banyaknya kesedihan yang dirasakan.

__ADS_1


"Tapi kenapa lo nggak pernah kontak gue, Gan?! Kenapa?! Harusnya lo kasih tahu gue sebelum kita terlanjur ketemu begini!" Ramanda akhirnya angkat suara.


"Dua tahun yang lalu gue sempat akan kuliah ke London agar bisa ketemu sama lo. Tapi kecelakaan yang menimpa nyokap gue, merenggut semua harga diri gue..." Morgan perlahan melepas lengan Ramanda. Kepalanya menunduk.


"Saat itu gue juga lihat foto kedekatan lo sama Zafran. Gue pikir lo punya hubungan spesial sama dia. Jadi gue semakin yakin untuk nggak kontak lo sama sekali. Pijakan gue sejak saat itu hanyalah mimpi kita yang tertinggal. Yaitu menjadi dokter. Walau kita nggak bisa bersama, setidaknya kita bisa sama-sama mewujudkan mimpi..." sambung Morgan.


Ramanda terpaku menatap Morgan. Satu per satu air mata menetes di pipi. Dia segera memeluk Morgan dengan erat.


"Gue nggak ada hubungan apa-apa sama Zafran! Lo tenang aja," ucap Ramanda. Dia dan Morgan saling menghamburkan tangis.


Kerinduan yang telah lama terpendam, sekarang bisa menghilang dalam sekejap. Ramanda dan Morgan merasa lega bisa berbaikan lagi.


"Gue pikir, setelah ini lo harus ketemu sama bokap dan nyokap gue," kata Ramanda.


"Lo juga harus ketemu sama nyokap gue, Ra." Morgan menyahut. Dia dan Ramanda masih belum berhenti berpelukan.


Puas saling mendekap, Ramanda dan Morgan segera melepas pelukan. Keduanya langsung mengusap air mata yang mrmbanjir di wajah.

__ADS_1


Morgan mengusap rambut panjang Ramanda dengan dua tangan. Memandangi lamat-lamat wajah cantik yang dirindukannya itu.


"Gue sekarang boleh cium kan? Gue udah kangen--" belum sempat Morgan selesai bicara, Ramanda sudah mencium bibirnya lebih dulu.


__ADS_2