Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 22 - Ketahuan!


__ADS_3

...༻✿༺...


Morgan dan Ramanda sama terkejutnya seperti Elsa. Mereka bergegas mengenakan pakaian masing-masing. Terutama Morgan yang hanya bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek.


"Ramanda! Morgan! Apa yang kalian lakukan!" pekik Elsa tak percaya. Dia terlalu terkejut sampai masih mematung di tempat.


"Mah, aku akan jelaskan," ujar Ramanda yang sudah memakai pakaian lengkap.


Tak lama kemudian, Raffi datang. Dia segera bertanya kepada Elsa.


"Tadi Ramanda dan Morgan tidur bersama di ranjang. Mereka... Mereka..." Elsa tidak kuasa melanjutkan.


Raffi yang mengerti, menatap tajam Morgan dan Ramanda. Kekesalannya tentu akan ditujukan kepada Morgan terlebih dahulu.


Dengan pelototannya, Raffi menghampiri Morgan. Lalu mencengkeram erat kerah baju cowok itu.


"Apa yang sudah kau lakukan pada anakku, hah?!" timpal Raffi.


"Maaf, Om... Jika ada sesuatu yang terjadi, aku siap untuk tanggung jawab," ujar Morgan sembari melirik ke arah Ramanda. Cewek itu hanya menggeleng dengan wajah memasam.


"Apa maksudmu?! Tanggung jawab apa?!" Raffi mengguncang badan Morgan dengan histeris.


"Udah, Pah. Lebih baik kita bicarakan semuanya baik-baik," usul Elsa. Mencoba menenangkan Raffi. Ia menyentuh lembut pundak suaminya tersebut.


"Tidak! Dia sudah berani menyentuh putri kita yang berharga!" geram Raffi.


Elsa lantas berbisik, "Apa kau lupa dengan yang menimpa kita dulu? Kau tidak ingin Ramanda merasakan yang kita rasakan bukan?"


Raffi tertohok. Ia perlahan melepas kerah baju Morgan. Dia menundukkan kepala. Saat itulah dirinya menemukan plastik kemasan kecil di dekat karpet.


Mata Raffi membola ketika mengetahui plastik kecil yang dilihatnya. Plastik itu tidak lain adalah bungkus kon-dom. Benda yang tadi sudah dipakai Morgan untuk bercinta dengan Ramanda. Benda tersebut juga menjadi bukti kalau Morgan dan Ramanda sudah berhubungan intim.


Perlahan Raffi membungkuk. Kemudian mengambil plastik yang menarik perhatiannya.

__ADS_1


Ramanda yang melihat hanya bisa menunduk malu. Sedangkan Morgan memandangi cewek itu dengan perasaan bersalah.


Mata Raffi bergetar. Dia merema-as bungkus yang di ambilnya dengan erat.


"Ayo kita bicarakan semuanya di luar!" ucap Raffi. Dia berjalan lebih dulu keluar dari kamar. Di iringi oleh Elsa selanjutnya.


Langkah Elsa terhenti ketika menyaksikan Ramanda tampak sedih. Dia segera menghampiri.


"Ayo, Ra. Semuanya akan baik-baik saja." Elsa berusaha menenangkan. Perlahan dia menatap Morgan yang juga belum beranjak.


"Kau bisa pergi duluan. Biar aku yang mengurus Ramanda," ujar Elsa.


Morgan mengangguk. Dia pergi menemui Raffi di ruang tengah. Morgan tak menyangka, semua masalah yang dirinya miliki malah semakin bertambah. Sialnya Ramanda juga ikut terlibat. Morgan sangat kecewa kepada dirinya sendiri.


Morgan duduk di sofa yang ada di seberang meja Raffi. Dia siap menerima segala resiko.


"Aku minta maaf, Om... Aku akan terima segala jenis kemarahan Om. Mau memukuliku atau mencaci maki, aku tidak masalah sama sekali. Semuanya terjadi karena aku," tutur Morgan. Berharap Raffi mengerti.


Raffi yang tadi sempat marah, kini terlihat tenang. Sebab dia sedang bercermin kepada dirinya sendiri. Mengingat masa mudanya yang suram.


"Sebenarnya Ramanda begitu karena aku. Andai dia tidak dekat denganku, semuanya tidak akan terjadi. Tapi aku ingin bilang, Om. Meski aku terlahir kembali... dan walau waktu berputar ke masa lalu, aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk dekat dengan Ramanda. Aku sangat menyayanginya. Dia cewek yang sangat spesial," kata Morgan panjang lebar. Dia bersungguh-sungguh.


Raffi tersenyum mendengar ucapan Morgan. Terkesan meyakinkan dan tulus. Namun dia merasa aneh mendengar kalimat itu dari seorang remaja ingusan seperti Morgan.


"Tapi kalian masih muda. Baru kelas dua SMA. Kalian punya satu tahun lagi agar bisa lulus. Belum lagi dengan kuliah. Terlebih Ramanda ingin kuliah di jurusan dokter. Pendidikan dokter adalah pendidikan terlama yang bisa ditempuh. Butuh waktu bertahun-tahun agar mampu meraih gelar dokter spesialis." Obrolan Raffi dan Morgan terus berlanjut.


"Aku juga punya keinginan yang sama dengan Ramanda, Om. Kami bahkan berencana kuliah bersama," ucap Morgan.


"Kau sebaiknya pergi dari sini. Jangan temui Ramanda untuk sementara," sahut Raffi.


Morgan terbelalak tak percaya. Padahal dia tadi sempat mengira kalau Raffi akan memahami apa yang terjadi.


"Kenapa begitu, Om? Aku pikir Om menyukaiku." Dahi Morgan berkerut dalam. Menatap Raffi dengan nanar. Namun lelaki yang ditatapnya membuang muka.

__ADS_1


"Aku tidak pernah bilang begitu. Pergilah sebelum--" perkataan Raffi terpotong saat Ramanda dan Elsa datang. Dia sebenarnya berniat mengusir Morgan sebelum Ramanda tahu. Tetapi sayang, Raffi terlambat. Alhasil dia tidak punya pilihan lain selain menyuruh Morgan pergi di hadapan Ramanda.


"Cepat pergi dari sini!" titah Raffi. Menatap tajam Morgan.


"Pah! Aku kira kita akan bicara baik-baik! Kenapa Papah mengusir Morgan?" Ramanda tidak terima. Dia menggenggam erat pergelangan tangan Raffi. Terus memohon agar sang ayah merubah keputusan.


"Biarkan dia pergi. Kalian sebaiknya tidak bertemu untuk sementara," ujar Raffi. Memberitahu Ramanda. Dia segera menoleh ke arah Morgan. Seakan mendesak cowok itu pergi.


"Pergilah kalau kau tidak mau di usir dengan cara kasar! Aku melakukan ini demi masa depanmu dan Ramanda!" ucap Raffi.


Morgan lantas berdiri. Dia terpaksa pergi karena terus didesak. Lagi pula Morgan juga tidak mau masalah tambah panjang jika dirinya terus diam.


"Kita akan bertemu lagi, Ra. Gue janji." Morgan menyempatkan diri bicara kepada Ramanda.


"Beraninya kau mengucap janji di depan mataku! Ramanda tidak butuh itu!" balas Raffi sembari menyalangkan mata. Bersamaan dengan itu, Morgan beranjak pergi.


"Morgan!" pekik Ramanda. Tetapi Elsa memeganginya dengan kuat. Sehingga Ramanda tidak bisa melepas kepergian Morgan.


Setelah Morgan pergi, Raffi langsung menutup pintu. Dia juga tidak lupa untuk menguncinya.


"Apa yang Papah lakukan?! Morgan itu cowok baik, Pah! Papah sama Mamah tahu sendiri kan? Kalau terjadi apa-apa dia pasti tanggung jawab!" imbuh Ramanda histeris. Air matanya berjatuhan di pipi.


"Aku tahu. Papah melakukan ini demi masa depan kalian," kata Raffi. Menjeda ucapannya sejenak seraya menatap Elsa. "Mah, ambilkan tespek dan suruh Ramanda melakukan cek. Aku ingin memastikan sebelum membuat pilihan," suruhnya yang langsung dilakukan oleh Elsa.


Sementara itu, Morgan sedang dalam perjalanan. Dia melajukan motor dengan kecepatan tinggi. Perasaan sakit hati dan kehilangan dirasakannya. Air mata Morgan bahkan sampai menetes.


Ponsel Morgan mendadak berdering. Dia langsung mengangkat panggilan dari Malik tersebut. Sebab Morgan memang butuh tempat untuk pergi selain kembali pulang.


"Tumben langsung angkat telepon gue. Pasti lagi putus ya?" tebak Malik dari seberang telepon.


"Bacot!" tanggap Morgan.


"Momennya pas banget ya. Kebetulan gue punya barang kesukaan lo. Kami lagi ngumpul di hotel VVIP bintang lima. Kalau mau sakit hati lo hilang, mending gabung kita."

__ADS_1


"Gue akan ke sana!" Morgan setuju tanpa harus berpikir dua kali. Dia yang merasa putus asa terhadap hubungannya dengan Ramanda, berakhir kembali pada obat-obatan terlarang.


__ADS_2