
...༻✿༺...
Usai bertemu Ramanda, Morgan dikembalikan ke sel. Dia juga baru mendapat kabar bahwa kandungan urine-nya terbukti positif mengandung obat-obatan.
Morgan sangat frustasi. Ternyata obat-obatan yang dulu rutin diminumnya setiap hari sangat berdampak kuat.
"Sudahlah, bro. Kita pasti bisa keluar dari sini. Bokap nyokap kita pasti akan mengeluarkan uang yang banyak agar kita bisa keluar," ujar Malik. Mencoba menenangkan. Dia merangkul Morgan dengan santai. Akan tetapi Morgan lekas menjauhkan tangan Malik.
"Itu kayaknya cuman terjadi sama lo! Bokap nyokap gue nggak akan peduli sama gue!" hardik Morgan. Mengira kedua orang tuanya tidak akan peduli.
Benar saja, Malik tiba-tiba mendapat panggilan. Dia kedatangan tamu ayah dan ibunya. Kebetulan Malik juga merupakan anak konglomerat.
Kini Morgan duduk termenung. Dia berdiam cukup lama. Sampai polisi memanggil namanya. Morgan kedatangan tamu kedua untuk hari itu.
Michael dan Gina datang menemui Morgan. Keduanya terlihat memasang tatapan berbeda. Michael tampak marah, sedangkan Gina terkesan seperti kasihan.
"Apa yang terjadi sekarang, membuatku semakin yakin untuk tidak membawamu bersamaku!" cetus Michael ketus. Dia tidak memiliki kepedulian sama sekali kepada Morgan.
"Siapa yang ingin kau bawa? Lagi pula aku tidak sudi dibawa olehmu," jawab Morgan. Membuat Michael langsung berdecih sebal.
"Morgan, kenapa ini bisa terjadi? Sejak kapan kau melakukannya?" tanya Gina dalam keadaan mata yang sudah berembun.
"Yang jelas semenjak kalian sering bertengkar. Saat kalian hanya memikirkan diri sendiri. Pergi bekerja sampai lupa dengan anak sendiri," tukas Morgan.
"Arggh! Alasan!" Michael berdiri sambil memukulkan tangan ke meja. Dia segera menoleh ke arah Gina. "Aku sudah tidak tahan! Kau uruslah anak nakalmu ini! Aku akan mengurus perceraian dan hak asuh secepatnya!" sambungnya. Lalu beranjak pergi begitu saja.
Gina menangis tersedu-sedu. Dia tidak hanya sakit hati dengan apa yang terjadi. Tetapi juga merasa kasihan dengan Morgan. Karena marah terhadap perselingkuhan yang dilakukan Michael, dirinya jadi lupa memberi perhatian kepada Morgan.
"Maafin, Mamah... Tapi Mamah janji nggak akan pernah tinggalin kamu lagi..." ungkap Gina.
Morgan menundukkan kepala. Dia sekarang sadar bahwa dirinya juga egois. Morgan tiba-tiba merasa bersalah karena sudah membuat Gina menangis sampai begitu. Dari semua orang di keluarganya, Morgan jadi tahu kalau Gina yang merasa paling sakit hati.
"Maafkan aku, Mah..." Morgan menggenggam jari-jemari Gina. Kata penyesalan keluar begitu saja.
__ADS_1
Gina lantas menggenggam tangan Morgan. Mulai sekarang, dia berjanji akan menjadi orang tua yang baik untuk sang putra.
"Mamah akan mencoba mengeluarkanmu dari sini. Bagaimana pun caranya!" ucap Gina. Morgan lantas menganggukkan kepala.
Dengan uang yang ada, Gina mencoba melakukan negosiasi dengan polisi. Dia berusaha mengikut jalan yang dilakukan keluarga teman-temannya Morgan. Kebetulan Malik dan semua teman Morgan yang lain sudah berhasil keluar karena adanya koneksi serta imbalan.
...***...
Kabar mengenai tertangkapnya Morgan terdengar ke telinga Raffi dan Elsa. Mereka mengetahui bahwa cowok itu sedang berada di kantor polisi.
Raffi jadi berpikir dua kali untuk membiarkan Morgan mendekati Ramanda. Bagaimana tidak? Cowok itu mempunyai banyak sekali masalah. Sudah berasal dari keluarga broken home, Morgan juga diketahui terbiasa mengkonsumsi narkoba.
Sebagai orang tua, Raffi dan Elsa menginginkan yang terbaik untuk anak mereka. Hingga keduanya sepakat untuk melarang Ramanda berhubungan dengan Morgan.
"Ramanda pasti marah kalau kita melarangnya," imbuh Elsa yang merasa khawatir dengan sang anak.
"Kita melakukan ini demi kebaikan Ramanda. Kau tahu sendiri bagaimana lelaki yang terbiasa mengkonsumsi obat-obatan atau alkohol bukan? Dahulu kita pernah melihat bagaimana hancurnya Gamal saat sering menikmati hal seperti itu. Aku tidak mau masa depan dan kehidupan Ramanda hancur karena Morgan," jelas Raffi panjang lebar. Dia sebenarnya merasa tidak enak. Namun Raffi melakukannya agar Ramanda bisa bahagia. Memiliki kekasih yang terikat dengan narkoba tentu bukanlah perihal mudah. Terlebih Ramanda mempunyai mimpi untuk menjadi seorang dokter.
Ramanda baru saja pulang dari sekolah. Semenjak masalah yang menimpa Morgan, raut wajahnya selalu tampak murung.
"Aku sudah menduga Papah akan berubah pikiran..." lirih Ramanda dengan kepala tertunduk.
"Aku melakukan ini karena tidak mau melihatmu tersiksa dengan lelaki yang kecanduan obat-obatan terlarang. Kau tidak tahu efek buruk yang diberikan obat itu kepada peminumnya," sahut Raffi.
"Tapi aku yakin Morgan bisa berubah. Dia kemarin hanya kebetulan menemui temannya. Morgan sama sekali nggak ikut-ikutan mengkonsumsi obat-obatan itu! Morgan sudah berhenti karena sudah berjanji denganku!" Ramanda mendongakkan kepala. Dia berusaha meyakinkan Raffi dan Elsa.
"Ra, apa yang Papah katakan itu benar. Sebaiknya kamu jauhi Morgan dari sekarang. Mamah sama Papah takut kamu akan ikut-ikutan seperti dia." Elsa bicara baik-baik.
"Enggak! Papah sama Mamah nggak tahu kalau Morgan adalah satu-satunya temanku! Selama Zafran pindah ke luar negeri, aku itu nggak punya teman sama sekali!" Ramanda berdiri dengan wajah yang memerah padam. Dia marah dengan tekanan dari kedua orang tuanya.
"Aku dan Mamahmu kali ini memaksa! Kau tidak bisa menolak! Ini semua demi masa depanmu! Kalau kau berani menolak, Papah akan ambil semua fasilitasmu! Sana! Tinggal di penjara saja sama cowok berandalan itu!" Menyaksikan perlawanan Ramanda, Raffi naik pitam. Dia sukses membuat Ramanda memecahkan tangis.
"Papah sama Mamah jahat!" Ramanda beranjak masuk ke kamar. Dia melanjutkan tangisannya di sana.
__ADS_1
Ramanda mengambil ponsel. Dia memandangi nomor telepon Morgan berlarut-larut. Sampai dia menggeser layar ponsel ke bawah. Ramanda berakhir menemukan nama Zafran.
Jujur saja, ada banyak pesan dari Zafran yang tidak dibalas Ramanda. Dia melakukan itu karena sudah melupakan sang sahabat sepenuhnya. Karena tidak mempunyai siapapun untuk di ajak bicara, Ramanda akhirnya menelepon Zafran.
"Tumben telepon! Gue yakin lo pasti lagi punya pacar kan?" timpal Zafran dari seberang telepon.
"Tahu aja lo," sahut Ramanda dengan nada malas.
"Ya tahulah. Lo kan emang selalu begitu kalau lagi dimabuk cinta."
"Sorry ya, Zaf. Sekarang gue punya masalah yang rumit banget." Ramanda memutuskan bercerita kepada Zafran. Termasuk mengenai bagaimana cara hubungannya dan Morgan diketahui Raffi dan Elsa.
Zafran sempat terdiam. Dia tentu terkejut mendengar Ramanda bisa seliar itu.
"Gila, Ra. Kayaknya cerita lo hampir mirip sama cerita bokap sama nyokap gue dulu. Gue yakin bokap lo serius mengenai Morgan. Coba lo bayangin kalau jadi dia, lo pasti menginginkan hal yang sama kan? Soalnya dari yang gue dengar dari bokap, menghilangkan kecanduan itu hal yang paling susah," ujar Zafran.
Kini Ramanda yang membisu. Dia tidak bisa membantah atau membenarkan ucapan Zafran. Namun satu hal yang pasti, perkataan Zafran dan larangan kedua orang tuanya menimbulkan sepercik keraguan kepada Morgan. Apakah cowok tersebut benar-benar tidak mengkonsumsi obat-obatan saat dibekuk polisi? Lalu kenapa hasil tes urine-nya positif?
Bersamaan dengan itu, pintu perlahan terbuka. Ramanda segera mengakhiri pembicaraannya di telepon. Elsa melangkah masuk dan duduk ke samping Ramanda.
"Papah dan Mamah sebetulnya menyukai Morgan. Tapi setelah mengetahui dia terlibat dengan narkoba, kami tidak bisa mempercayainya lagi, Ra. Mamah yakin, anak pintar sepertimu pasti mengerti. Terutama perihal bahayanya obat-obatan terlarang," tutur Elsa sembari mengusap pundak Ramanda.
"Iya, aku mengerti, Mah... Tapi aku tidak tahu caranya agar bisa menjauh dari Morgan. Aku terlanjur mencintainya," ungkap Ramanda.
"Mamah punya satu cara. Bagaimana kalau kamu pindah ke tempat Zafran? Mungkin dengan pergi jauh dari sini kamu bisa melupakan Morgan dengan cepat," usul Elsa.
Ramanda bungkam. Dia nampak sendu. Membuat Elsa segera memberikan pelukan. Membiarkan putri sulungnya itu tertidur dalam dekapan.
"Mamah akan beri waktu kamu untuk berpikir," kata Elsa lembut.
Di waktu yang sama, Raffi mendadak mendapat telepon tidak dikenal. Dia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?" sambut Raffi.
__ADS_1
"Halo, Om. Ini Morgan, aku ingin bicara sama, Om..." orang yang menelepon ternyata adalah Morgan. Dia menggunakan telepon milik polisi untuk menghubungi Raffi.