Jatuh Cinta Dengan Badboy

Jatuh Cinta Dengan Badboy
Bab 18 - Akan Berhenti Karenamu


__ADS_3

...༻✿༺...


Morgan lebih dulu mengambil plastik flip berisi obat-obatan. Dia segera menyembunyikannya ke balik punggung. Morgan tidak akan membiarkan Ramanda menyentuhnya.


"Itu apaan, Gan? Lo bikin gue mikir macam-macam tahu nggak!" timpal Ramanda.


"Gue akan anggap lo nggak pernah melihatnya," sahut Morgan. Dia berniat menyembunyikan obat-obatan yang dipegangnya ke tempat lain.


Ramanda dengan cepat meraih lengan Morgan. Menghentikan pergerakan cowok itu.


"Cepat kasih tahu gue!" Ramanda memaksa. Tatapan matanya terpancar tajam.


Morgan membuang muka sejenak. Dia merasa benar-benar tertangkap basah. Jika dirinya tidak memberitahu, kemungkinan Ramanda akan tambah marah.


"Ini adalah bagian hidup gue, Ra!" ungkap Morgan.


"Maksud lo?" Ramanda menuntut jawaban.


"Gue sudah terbiasa mengkonsumsi obat ini setiap hari," jelas Morgan.


"Emang itu obat apa? Nggak seperti yang gue pikirkan kan?"


"Ini obat bikin gue lebih percaya diri. Obat inilah yang selalu membuat seorang Morgan terlihat ceria. Gue bisa dengan mudah tertawa dan tersenyum saat minum obat ini."


Tatapan mata Ramanda bergetar. Sekarang dia tahu obat apa yang dikonsumsi Morgan. Ramanda akhirnya paham kenapa Morgan seringkali bicara melantur. Ternyata semuanya disebabkan obat-obatan terlarang.


"Beginilah gue, Ra..." lirih Morgan yang merasa tidak enak. Dia yang tadinya menundukkan kepala, perlahan mendongak untuk menatap Ramanda. "Tapi kalau boleh jujur, semenjak gue pacaran sama lo. Gue nggak teratur lagi minum obatnya," ungkapnya bersungguh-sungguh.


"Semenjak ada lo dalam hidup gue, gue merasa benar-benar bisa bersikap ceria tanpa obat," tambah Morgan.


"Terus? Kenapa lo masih aja minum obatnya?" tukas Ramanda. Matanya tampak berkaca-kaca. Jujur saja, dia tidak tahu harus bagaimana. Di sisi lain Ramanda merasa ditipu, tetapi dia juga merasa kasihan kepada Morgan.


"Gue minum obat kalau terlibat masalah atau pas dengar bokap sama nyokap gue berantem," jawab Morgan.


Ramanda mendengus kasar. Dia memilih membuang semua amarah. Lalu membawa Morgan masuk ke dalam pelukan.

__ADS_1


"Gue berharap lo berhenti minum obat itu. Setidaknya lakukan itu buat mimpi lo, Gan. Lo nggak akan diterima jadi dokter kalau terbiasa minum obat begituan," ujar Ramanda seraya mengeratkan pelukan.


"Gue tahu... Tapi satu hal yang harus lo tahu." Morgan perlahan melepas dekapan dari Ramanda. Menatap dalam manik hitam sang pacar.


"Alasan gue pengen mengejar mimpi gue lagi itu karena lo. Jadi, sekarang gue juga akan mencoba berhenti minum obat demi lo..." lanjutnya. Memegangi pundak Ramanda dengan lembut.


Ramanda tersenyum simpul. Ia senang keberadaannya sangat berharga bagi seseorang. Terutama untuk Morgan. Cowok yang sekarang sudah membuatnya jatuh hati.


Karena Morgan, Ramanda juga berhasil melupakan Zafran. Dia bahkan tak lagi menghubungi sahabat kecilnya tersebut. Mereka sudah jarang saling mengabari.


...***...


Di pagi hari yang cerah. Morgan sudah siap dengan seragam lengkap. Ia segera berjalan dan membuka laci lemari. Kebetulan di sanalah Morgan menyimpan obat-obatan yang biasa dikonsumsinya.


Morgan nyaris memasukkan obat ke mulut. Pergerakannya terhenti, ketika dirinya mengingat Ramanda. Alhasil Morgan tidak jadi meminum obat tersebut.


Seperti biasa, Morgan pergi ke sekolah dengan menggunakan motor. Dia bertemu dengan Ramanda yang baru saja turun dari mobil. Cewek itu tampak menunggunya di depan pintu gerbang.


"Lo nggak lupa sama PR Biologi kan?" tanya Ramanda.


"Aduh... Sakit tahu!" Ramanda kesal dengan tindakan Morgan yang mencubitnya. Dia langsung melayangkan pukulan ke pundak cowok itu.


Morgan lekas menghindar. Dia berlari laju meninggalkan Ramanda. Aksi kejar-kejaran lantas terjadi.


Morgan berhenti berlari ketika masuk ke dalam kelas. Dia menyaksikan kelas tampak kosong melompong. Tidak ada siapapun di sana. Morgan termangu sejenak.


Lamunan Morgan pudar, saat Ramanda tiba-tiba menendang pelan pantatnya.


"Nah! Dapat pantat lalatnya!" imbuh Ramanda sembari terkekah puas.


"Sini lo!" Morgan menarik tangan Ramanda. Mengurung cewek itu ke dalam pelukan.


Tanpa diduga, Morgan menyampirkan rambut panjang Ramanda. Lalu menenggelamkan wajah ke ceruk leher cewek tersebut. Ia memberi sebuah kecupan dalam di sana.


Ramanda kaget. Tubuhnya langsung merespon dengan desiran darah yang menggelora. Mata Ramanda reflek terpejam. Ia tidak bisa membantah kalau dirinya menikmati sentuhan Morgan.

__ADS_1


Bruk!


Tiba-tiba terdengar seseorang yang menabrak sesuatu. Morgan dan Ramanda segera menjaga jarak. Keduanya menoleh ke arah sumber suara. Mereka sukses memergoki Aldi yang memegang ponsel.


"Lo ngapain? Lo ngerekam gue sama Morgan?" timpal Ramanda. Dia sudah dirundung rasa panik. Ramanda tentu takut kalau apa yang dilakukannya bersama Morgan diketahui para guru.


"Nggak sempat kok!" jawab Aldi. Dia langsung berusaha menyembunyikan ponselnya.


"Coba gue lihat ponsel lo. Gue mau pastiin!" pinta Morgan yang sudah membuka lebar telapak tangannya.


"Gue bilang nggak ada. Nggak percayaan banget sih," balas Aldi dengan dahi berkerut. Dia terkesan sinis. Membuang muka secara tak acuh.


"Belagu lo ya!" geram Morgan. Ia mencengkeram kerah baju Aldi. "Selagi gue minta baik-baik. Lo mending nurut aja!" pungkasnya.


"Morgan! Jangan begini." Ramanda berusaha menghentikan Morgan. Dia takut amarah cowok itu tak terkendali.


"Gue nggak akan biarin reputasi lo tercoreng karena orang kayak dia, Ra!" sahut Morgan. Ia tidak mendengarkan Ramanda.


"Cepat serahin ponsel lo!" desak Morgan.


"Udah deh, Gan. Gue yakin lo udah dikasih begituan sama Ramanda. Dia itu cuman cewek murahan. Ramanda nggak pantas terus-terusan dipandang sebagai anak berprestasi di sekolah ini!" ujar Aldi. Dia memang dikenal sebagai saingan terberat Ramanda dalam meraih juara umum. Namun sayang, Aldi selalu berada di posisi kedua selama dua tahun terakhir.


Morgan menggertakkan gigi. Tanpa pikir panjang, dia langsung melayangkan bogem ke wajah Aldi. Parahnya Morgan tidak hanya melakukannya satu kali, tetapi lebih dari itu.


Dalam sekejap wajah Aldi dipenuhi lebam dan luka. Hidungnya bahkan sudah mengeluarkan darah.


"Morgan, udah!" Ramanda berusaha keras menghentikan Morgan. Ia menarik-narik salah satu bahu cowok itu.


"Gue mohon, hentikan! Lo nggak perlu sampai begini! Lo malah bikin masalah!" mohon Ramanda.


"Beraninya lo bilang Ramanda cewek murahan!" Morgan tetap tidak mendengarkan. Ia terus memukuli Aldi.


Puas memberi pelajaran, Morgan mengambil ponsel Aldi. Benar dugaannya, Aldi memang merekam apa yang dilakukan Morgan tadi bersama Ramanda. Morgan segera menghapus video itu.


"Lo sekarang bisa tena..." ucapan Morgan terhenti, saat menyaksikan Ramanda terpaku menatap Aldi yang tersungkur di lantai.

__ADS_1


Mata Morgan gemetar saat menyaksikan keadaan wajah Aldi. Dia segera memperhatikan dua tangannya. Morgan merasa dirinya kehilangan kendali.


__ADS_2