
...༻✿༺...
Ramanda pulang bersama Morgan. Cowok itu tidak lagi mengendarai motor. Ia sudah memiliki mobil sendiri.
"Motor lo yang dulu kemana?" tanya Ramanda. Ia duduk tenang di sebelah Morgan.
"Udah lama dijual. Pas kehidupan ekonomi gue benar-benar merosot," jawab Morgan.
Kening Ramanda mengernyit samar. Ia tidak tahu sama sekali kalau Morgan pernah mengalami kesulitan ekonomi. Kini Ramanda tahu kalau perjuangan Morgan untuk jadi seperti sekarang pasti luar biasa.
"Gue harusnya berusaha cari lo. Jadi di sini gue sebenarnya juga salah..." lirih Ramanda.
Morgan terkekeh dan menyahut, "Kenapa lo malah salahin diri sendiri? Gue kalau jadi lo juga bakalan melakukan hal yang sama kok."
Ucapan Morgan membuat Ramanda tersenyum tipis. Ia menatap cowok itu dengan sudut matanya. Ramanda menyadari satu hal, Morgan terlihat lebih tampan dibanding dahulu. Lebih rapi dan tertata.
"Ada satu hal yang bikin gue ragu. Gue nggak percaya kalau selama kita pisah, lo nggak pernah dekat sama cewek lain." Ramanda menimpali sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Morgan mendengus kasar. "Gue beneran nggak ada dekat dengan cewek mana pun, Ra. Sumpah deh! Lo bisa tanya teman-teman gue. Asal lo tahu ya, gue..." ucapan Morgan terhenti ketika Ramanda mendaratkan sebuah ciuman ke pipi. Cowok tersebut langsung terdiam.
"Ya udah... Gue percaya," ujar Ramanda seraya tergelak kecil.
__ADS_1
Morgan tersenyum simpul. "Gue bahagia banget bisa balikan lagi sama lo. Gue janji akan secepatnya nikahin lo," tuturnya.
"Buktiin dong!" ejek Ramanda seraya memajukan bibir bawahnya.
"Dih! Malah di ejeknya." Morgan yang gemas mencubit hidung Ramanda. Keduanya terkekeh bersama. Mereka singgah sebentar di sebuah cafe. Menikmati kencan setelah sekian lama tidak dilakukan.
Ramanda dan Morgan selalu berpegangan tangan. Seakan takut untuk berpisah lagi.
"Kita ketemu nyokap lo dulu deh, Gan. Lagian jam segini kayaknya bokap gue belum pulang ke rumah," cetus Ramanda.
Morgan mengangguk. "Lo jangan kaget ya pas ketemu nyokap gue," balasnya.
"Kaget? Kenapa?" Ramanda menuntut jawaban.
Ramanda lantas tidak bisa berkata-kata lagi. Dia mengikuti permintaan Morgan.
Setibanya di tempat tujuan, Morgan segera menuntun Ramanda masuk ke rumah. Berjalan ke teras belakang yang merupakan tempat Gina sering menghabiskan waktu.
Saat hampir mendekat, Ramanda bisa menyaksikan sosok Gina. Langkahnya langsung terhenti. Ramanda tentu terkejut menyaksikan keadaan Gina yang duduk dikursi roda.
"Gan, apa yang terjadi sama nyokap lo?" tanya Ramanda. Menatap nanar.
__ADS_1
"Kan gue udah bilang. Dia tertimpa kecelakaan dua tahun lalu. Itu juga menjadi salah satu alasan gue nggak bisa menyusul lo ke London," ungkap Morgan. Dia segera mengajak Ramanda untuk menghampiri Gina. Ibunya Morgan tersebut tampak asyik membaca buku.
"Mah... Lihat siapa yang datang," ucap Morgan.
Gina menurunkan bukunya. Lalu melepas kacamata baca. Dia memperhatikan perempuan yang datang bersama Morgan.
Wajah berseri seketika dikembangkan oleh Gina. Dia tentu dapat mengenali Ramanda dengan baik.
"Ya ampun, Ramanda?" ujar Gina antusias. Dia mengangkat dua tangannya ke depan.
Ramanda yang mengerti, segera memeluk Gina. Dia agak merasa sedih terhadap keadaan Gina sekarang.
"Sehat terus, Tante..." kata Ramanda. Dia tidak tahu harus berkata apa. Air matanya menetes begitu saja.
"Kamu kenapa nangis, sayang. Tante baik-baik aja... Apalagi pas melihat kamu datang ke sini bareng Morgan." Gina dan Ramanda berhenti berpelukan. Wanita paruh baya itu memegangi wajah Ramanda dengan lembut.
"Astaga... Cantiknya... Pantes Morgan nggak bisa lupain kamu bertahun-tahun," puji Gina sembari mengusapkan air mata di pipi Ramanda.
"Tante bisa aja." Ramanda tersipu malu akan pujian Gina.
"Iya, Mamah nih apa-apan sih. Siapa bilang aku nggak bisa lupain Ramanda," sahut Morgan. Membuat Gina dan Ramanda sontak menatapnya bersamaan.
__ADS_1
"Aku bukannya nggak bisa lupain Ramanda, Mah. Tapi udah kena sihir kecantikan dan cintanya..." Morgan mengeluarkan kalimat rayuan. Menyebabkan Gina maupun Ramanda melayangkan tatapan sebal.
"Ih! Masih sempat-sempatnya ya!" Ramanda segera memukul pundak Morgan. Wajahnya memerah bak tomat matang. Bagaimana tidak? Morgan terlalu nekat merayunya di depan calon mertua.